How Matcha Love You

How Matcha Love You
Bismillah


__ADS_3

Malik telah kembali ke rumahnya.


Melihat Malik sudah kembali, Bu Siti beranjak dan keluar kamarnya untuk menghampiri putranya. Bu Siti ingin mengatakan sesuatu pada putranya ini.


“Nak.” Ucap Bu Siti menghentikan langkah anaknya yang nampak ingin memasuki kamarnya.


“Iya bu.” Malik berhenti dan melihat ibunya.


Bu Siti mengatakan apa yang ingin dia katakan pada putranya. Dia kembali memastikan apakah Malik sungguh yakin untuk memilih Salma sebagai pendamping hidupnya. Meski dirinya masih belum sepenuhnya menerima keinginan Malik yang ingin kembali melamar Salma, namun mengingat kejadian tadi malam, di saat putranya terdengar menahan kepedihan karena keputusannya, Bu Siti rela menyerah jika memang putranya menyakini akan keinginannya itu.


“Iya.” Balas Malik tak bisa membohongi dirinya dan ibunya.


Jawaban Malik sesuai dengan apa yang telah Bu Siti perkirakan. Dia menghembuskan nafasnya perlahan dan mengalihkan pandangannya sejenak dari menatap Malik yang berdiri tak jauh darinya. Meski dengan berat hati menanyakan ini paa Malik karena takut anaknya kembali ditolak, namun dia tak ingin menjadi penghalang putranya untuk meneruskan niat baik melakukan ibadah terpanjang, terlebih dia menyadari sosok perempuan yang dipilih anaknya ini bukanlah seseorang yang layak untuk dirinya perdebatkan, dia juga menyakini Salma adalah perempuan yang baik.


“Bu.”Ucap Malik setelah melihat Bu Siti tak juga bungkam setelah pernyataannya.


Bu Siti kembali melihat Malik.


“Menurut ibu Salma perempuan seperti apa?” Tanya Malik mencoba meminta pendapat ibunya mengenai perempuan yang dia cintai itu.


“Hem, dia baik, cantik, solehah, ramah..” Bu Siti mengucapkan semua pendapatnya tentang Salma tanpa kebohongan. Di matanya Salma merupakan sosok perempuan yang hampir sempurna, dia bahkan tak bisa memikirkan satu kata yang menggambarkan kekurangan Salma. Bu Siti tercekat mengatakan ini karena lagi-lagi dia menyadari tidak ada hal buruk tentang Salma yang membuat dirinya pantas untuk menolak Salma sebagai menantunya.

__ADS_1


“Menurut Malik juga begitu bu, dia sosok perempuan yang cerdas, tapi tak pernah menggurui, dia hampir punya segalanya, dia cantik, juga cerdas, lebih dari berkecukupan tapi dia tak pernah membanggakan itu. Dia bahkan bersedia untuk berhenti dari pekerjaannya jika kami berjodoh dan keadaan mengharuskan dia begitu.”


“Bu aku bukan hanya menyukainya karena melihatnya dari jauh seperti yang aku lakukan sejak beberapa tahun yang lalu. Aku semakin menyukainya setelah aku sering bersama dengannya, sering berbicara padanya. Dia juga memiliki perasaan yang sama denganku dan dia menghargai ku.” Lanjut Malik.


“Itu menurut pandangan mu dan ibu juga setuju begitu. Tapi agar kita lebih yakin dan ingin kehidupan kita berkah, maka sebaiknya kamu libatkan Allah dalam apapun termasuk hal ini. Pilihlah dia bukan hanya karena dia pilihanmu dengan dasar karena perasaan saja dan segala yang ada padanya, tapi pilihlah dia karena kamu yakin dia jodoh yang terbaik dari Allah. Sebaiknya kamu istikharah dulu.” Ucap Bu Siti agar putranya tidak gegabah dan mendapatkan yang terbaik.


Malik melihat ibunya dengan mata berkaca-kaca. Malik merasa tertampar atas keyakinannya saat ini yang begitu yakin memilih Salma hanya karena perasaan dan pemikirannya saja, dia lupa untuk menyerahkan keputusannya ini melalui istikharah.


“Jika setelah itu kamu tetap merasa yakin, ibu tak akan menghalangi mu.” Bu Siti tersenyum pada putranya.


“Iya bu, aku akan melakukannya.” Malik merasa senang karena akhirnya ibunya mengizinkan dirinya untuk meneruskan niatnya melamar Salma. Dia mengampiri Bu Siti lalu memeluk erat ibunya ini. Malik merasa bahagia.


Dua minggu kemudian.


Salma sedikit menggeser vas bunga di ruang tamu rumahnya. Dia melakukan itu agar rumahnya terlihat lebih rapi dan tertata. Setelah melakukan beberapa aktivitas ringan untuk manata ruang tamu, Salma memilih duduk di sofa di ruangan ini. Dia menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Salma melakukan ini agar dirinya dapat menjadi lebih tenang karena saat ini dia merasa sangat gugup.


“Malik jam berapa ke sini?” Tanya Bu Fatma melihat putrinya.


“Setelah solat asar bu.” Balas Salma dengan semangat, di balik rasa gugupnya, dia merasa sangat bahagia karena nampaknya saat yang ditunggu-tunggu akan segera tiba.


Malik telah melakukan beberapa kali solat istikharah untuk meminta petunjuk dan kemantapan hati untuk tetap meneruskan niatnya melamar Salma. Bukan ketakutan, keraguan, atau pun kekhawatiran yang dia dapat rasakan setelah itu, Malik merasa lebih yakin kalau Salma adalah seseorang yang pantas dia perjuangkan. Mengetahui itu, Bu Siti juga menjadi lebih yakin untuk kembali merestui Malik melamar Salma meski untuk kedua kalinya.

__ADS_1


Hari ini, sesuai dengan hari yang telah disepakati, Malik beserta ibu dan pamannya akan datang ke rumah Salma untuk menyampaikan niat baiknya secara resmi. Sebelumnya, seminggu yang lalu, Malik sudah meminta izin kepada Pak Kades bapak Salma untuk membawa ibu dan pamannya ke rumah. Semua berjalan baik, bapak menerima kedatangan Malik dan memberinya izin.


“Assalamu’alaikum.” Terdengar beberapa orang dari balik pintu.


Dengan tangan terbuka, Bu Fatma dan Pak Kades menerima tamu yang tak lain adalah Malik beserta keluarganya.


Mendengar itu dari balik pintu kamarnya, Salma merasa sangat bahagia sekaligus menjadi lebih gugup, jantungnya berdebar lebih cepat. Meski tahu orang tuanya tidak akan menolak Malik, tapi tetap saja dia takut. Takut kalau semua ini tak berjalan sesuai keinginannya.


Setelah beberapa saat Ibu dan Bapak Salma menerima tamu, terdengar seseorang mengetuk pintu kamar Salma. Mendengar itu, Salma segera membuka pintu kamarnya perlahan.


“Ayo keluar temui mereka.” Pinta Bu Fatma pada putrinya.


Mendengar permintaan ibunya, Salma bergegas untuk berdiri di depan meja cermin di dalam kamarnya. Dia sedikit menyentuh kain yang menutupi kepalanya untuk merapikan jilbabnya. Setelah dirasa sudah cukup siap, Salma menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan. Dia berharap dirinya dan Malik akan sungguh berjodoh serta langkahnya kedepan bersama sosok lelaki ini akan dipermudah. Dengan bismillah Salma melangahkan kakinya untuk mengiringi ibunya menuju ruang tamu yang tak jauh dari kamarnya.


Salma duduk tepat di seberang Malik dan diapit oleh kedua orang tuanya. Meski dia dan Malik sudah sempat beberapa kali bersama dan duduk semeja sebelumnya seperti sekarang, namun mereka tak berani saling menatap pada satu sama lain. Mereka sesekali tersenyum karena tak bisa menutupi rasa bahagia yang sama-sama mereka rasakan.


“Ini Malik datang bersama keluarganya untuk melamar kamu nak, apakah kamu menerimanya?” Tanya Bapak tak berapa lama setelah Salma duduk di tempatnya sekarang.


Meski dirinya menyukai dan bahkan sangat mencintai Malik yang tak mungkin membuat dirinya berkata tidak, namun dia tidak ingin terlihat gegabah. Salma menatap ibu dan bapaknya bergantian lalu berucap bismillah di dalam hati.


“Aku menerimanya.”

__ADS_1


__ADS_2