How Matcha Love You

How Matcha Love You
Cinta yang Rumit


__ADS_3

Malik mencoba bertindak seolah dia lebih merasa bersalah pada Tari atas apa yang telah terjadi. Malik ingin Salma menyakini bahwa dirinya sungguh telah berselingkuh dan lebih memilih Tari daripada cinta pertamanya ini.


“Maaf Salma.” Balas Malik sekenanya, dia tetap melihat Tari untuk memperlihatkan pada Salma bahwa dia lebih mengkhawatirkan perasaan Tari.


Mendengar dan melihat tingkah Malik yang seperti ini tentu saja sangat menyakitkan bagi Salma. Bukan rasa sakit seperti yang pernah dia rasakan karena harus merelakan Malik, namun rasa sakit yang lebih besar yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.


Di tengah kesedihan Salma yang tak memperhatikan dirinya dan Malik, Tari memberikan kode pada Malik untuk segera mengakhiri rencana mereka ini dengan baik. Tari memberikan kode pada Malik agar Malik mengikuti dirinya nanti.


“Apa? Sejak kapan kalian..” Ucap Salma bergetar.


Tari tak menjawab, dia kembali memasang ekspresi kecewa lalu berbalik dan pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun.


“Tari..” Ucap Salma menghentikan Tari.


Entah apa yang akan dikatakan Salma padanya, Tari yang sejenak merasa lebih lega karena berhasil berbalik dan akan mengakhiri perannya kembali merasa terpanggil. Apakah perannya belum selesai? Apa yang harus dia lakukan lagi?


Tari berbalik seolah dirinya merasa sangat kecewa dengan apa yang telah terjadi. Tari menatap kosong tanpa melihat seorang pun yang ada di dekatnya.


“Maaf. Maaf aku tidak tahu.” Seketika tangis Salma pecah, dia sudah tak mampu membendung tangis dan emosinya. Salma berucap sembari menunduk.


Melihat Salma seperti ini, Malik berbalik dia merasa tak sanggup melihat perempuan yang dia cintai begitu merintih karena dirinya.


“Maaf.” Salma berbalik dan pergi meninggalkan Malik dan Tari yang masih berdiri di tempatnya. Sementara Nanda berjalan mengikuti Salma.


“Apa kamu baik-baik saja jika pulang sendiri?” Tanya Nanda dengan khawatir.

__ADS_1


Salma mengangguk menandakan dirinya mampu untuk berkendara sendiri.


“Baiklah.” Ucap Nanda.


Sementara Malik dan Tari terus melihat Salma yang semakin menjauh. Tergambar jelas perasaan kecewa dan cinta yang tulus dari wajah Salma untuk dirinya, saat ini sembari melihat Salma yang semakin menjauh, Malik sudah tak mampu membendung air matanya yang sedari tadi ditahan. Malik menyeka tangisnya sembari menarik nafasnya lalu menghembuskannya perlahan untuk lebih menenangkan diri. Dirinya merasa begitu tersiksa melihat buah dari kesalahan yang telah dia perbuat, dirinya yang terlalu memaksa diri untuk tetap mengikuti perasaannya tanpa menyadari apakah dirinya pantas atau tidak untuk memperjuangkan perasaannya itu. Malik menyadari dirinya begitu egois, hanya mementingkan kebahagiaanya tanpa memikirkan kemungkinan buruk semacam seperti sekarang yang akan terjadi di masa depannya bersama Salma.


Selain memperhatikan Salma yang terus melangkah meninggalkan dirinya, Tari juga melihat Malik. terlihat jelas perasaan cinta di antara dua temannya ini. Meski bisa dikatakan dirinya masih menyukai Malik, namun setelah melihat semua ini rasanya Tari tak bisa mengakui perasaannya itu. Dibanding dengan perasaan cintanya, menurutnya perasaan Salma jauh lebih besar. Salma bahkan masih mengharapkan situasi ini tidak benar setelah Malik yang seolah telah mengkhianatinya. Mungkin kalau Malik mengatakan sejujurnya, Salma pasti akan memercayai itu meski apa yang telah dia lihat sudah cukup sebagai sebuah bukti yang tak terbantahkan. Salma sangat memercayai Malik, cintanya tulus. Tak berbeda dengan Malik, dia terlihat begitu terluka karena telah menyakiti Salma. Sebelumnya, Tari melihat Malik sebagai lelaki kuat dan bijaksana, namun Malik seketika tak berdaya karena Salma. Saat ini bukan kali pertama Tari melihat Malik begini, seorang lelaki yang dia kira kuat dan tenang terhadap situasi apapun nyatanya sosok seperti itu seketika berubah karena cinta. Cinta membuat semua yang tak mungkin nampak mungkin, cinta membuat yang lemah menjadi kuat, begitu pun sebaliknya. Malik dan Salma memiliki perasaan tulus untuk satu sama lain. Namun, keadaan dan takdir mereka sulit untuk terus mempertahankan semua perasaan itu.


Salma segera menuju motornya yang terparkir dan berlalu. Dia menjadi orang yang pertama pergi.


Setelah Nanda memastikan Salma telah pergi, dia kembali menghampiri Malik dan Tari yang masih berdiri di tempatnya.


“Apa kita kembali masuk?” Tanya Nanda saat menghampiri Malik dan Tari.


Saat ini Malik terlihat kacau, dirinya berusaha untuk tetap tegar agar tak begitu disadari oleh orang lain yang juga berada di sekitar sini.


“Untuk bayar minum.” Lanjutnya.


Tari menerima uluran Malik.


Malik pergi meninggalkan Nanda dan Tari.


Tari terus melihat Malik hingga hilang dari pandangannya. Sementara Nanda juga melakukan hal yang sama, namun dia juga melihat Tari yang tak melepaskan pandangannya dari melihat Malik.


“Ayok.” Ucap Nanda mengajak Tari untuk segera kembali ke kafe.

__ADS_1


Nanda dan Tari kembali ke kafe.


‘’’’’


Di tengah perjalanan sembari melajukan motornya dengan kecepatan sedang, Salma terus menyeka air matanya yang belum bisa berhenti. Air matanya terus mengalir meski dia berusaha untuk mengalihkan pikirannya. Saat memasuki jalan kampungnya, ada bagian jalan yang cukup sepi dan hanya ada rumah yang cukup jauh sini. Salma menepikan motornya di sini. Dia menarik nafasnya dalam-dalam, dia berharap dirinya bisa menjadi lebih tenang. Namun setelah beberapa saat, Salma kembali merasakan sakit dari lubuk hatinya, mengingat dirinya harus merelakan mimpinya untuk hidup bersama seseorang yang dia harapkan untuk menjadi pendamping sekaligus imam dalam hidupnya. Salma menutup mulutnya, agar dirinya tak mengeluarkan suara. Meski di sini sepi, namun dia takut akan ada orang lain yang juga melewati jalan ini dan menyadari keadaan dirinya yang seperti ini. Ingin rasanya Salma langsung ada di kamarnya untuk menumpahkan segala rintihannya ini, namun itu tak mungkin. Dia harus bisa menenangkan dirinya sebelum sampai rumah karena mungkin orang tuanya telah menunggu kedatangannya. Dia akan menemui orang tuanya sebelum Salma sampai ke kamarnya. Salma mencoba hal yang sama kembali, dia menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan perlahan.


Sementara di kafe, Nanda memesan minuman, lalu duduk di hadapan Tari. Ini kali pertama dirinya melihat Tari secara langsung. Nanda diam-diam memperhatikan Tari yang sedang memainkan ponselnya.


“Apa kamu teman dekat Salma?” Tanya Tari saat menyadari Nanda telah ada di hadapannya.


“Iya.”


“Oh, teman kerja?”


“Bukan, kami teman kuliah.” Balas Nanda.


“Oh, aku teman satu SMA, meski dulu kami tak begitu dekat, kami menjadi lebih dekat dan pernah mengobrol berdua karena Malik?”


“Malik?”


Tari mengangguk.


“Aku baru sekitar dua bulan yang lalu mengetahui pasti perasaan Malik yang menyukai Salma, sebelumnya aku sudah menyadari ada sesuatu di antara mereka. Setiap mereka bertemu, ada sesuatu yang berbeda dari mereka berdua. Aku tak menyangka kisah mereka ternyata serumit ini.” Ucap Tari.


“Apa kamu melihat mereka begitu secara tak sengaja?”

__ADS_1


Tari menggeleng.


“Aku memperhatikan Malik.”


__ADS_2