How Matcha Love You

How Matcha Love You
Yang Selalu Ada


__ADS_3

“Tolong bantu aku.” Malik kembali meminta Tari agar bisa membantunya.


Tari merasa sangat khawatir melihat rekan kerjanya yang berada di hadapannya saat ini terlihat begitu bersedih. Malik tak lagi menyembunyikan kegundahan dalam hatinya, dia berucap untuk mencoba meminta agar Tari bisa membantunya di tengah tangisnya yang belum juga usai. Tari menghela nafasnya, dia tak tahu apa yang harus dia lakukan agar bisa membantu Malik.


Tari menarik nafas, lalu menghembuskannya secara perlahan. Dia sejenak mengalihkan pandangannya untuk melihat sekeliling langit-langit kelas. Tari merasa lega karena dia tak melihat CCTV di ruangan ini. Dia sempat merasa takut kalau saja Malik dalam keadaan seperti ini akan dilihat oleh orang lain melalui CCTV kelas yang umumnya ada di dalam ruang kelas, menurutnya itu akan membuat rekan kerjanya dalam posisi yang lebih sulit. Meski ini masalah pribadi, tapi mungkin saja akan membuatnya terganggu, mungkin terganggu karena ada orang lain yang membericarakan kelemahan dirinya atau mungkin salah paham walau pun orang yang membicarakannya itu tidak tahu masalah sebenarnya yang sedang menimpa Malik.


Tari mencoba menenangkan diri agar dia bisa mengatakan sesuatu tanpa terpengaruh dengan perasaannya.


“Baik. Apa yang bisa aku lakukan?” Ucap Tari setelah beberapa saat.


Malik memeras rambut dengan satu tangannya, kepalanya benar-benar terasa pusing, bukan karena sakit kepala tapi karena pikirannya yang begitu kalut saat ini. Malik sedang memikirkan sesuatu yang bisa membuat Salma membencinya hingga dia tak pernah berpikir untuk bisa hidup bersama dengan cinta pertamanya ini.


Malik tahu betul Salma juga memiliki perasaannya yang sama seperti dia rasakan, tidak ada sedikit pun keraguan untuk menyakini hal itu. Namun, lagi-lagi dia dihadapkan oleh kenyataan yang membuatnya harus melakukan sesuatu yang bertentangan dengan perasaanyan. Ucapan selamat tinggal atau mengatakan sejujurnya mengenai apa yang sedang dia hadapi pada Salma, menurutnya hanya membuang waktu. Itu hanya membuat perempuan yang dia sayangi terluka, entah itu Salma atau pun juga ibunya. Kalau hanya mengucapkan perpisahan dengan alasan apa pun, Salma mungkin tidak akan menerima itu dan jika memang dia menerima itu, itu akan meninggalkan luka yang mendalam baginya. Malik tak mau Salma seperti itu, terus mengharapkan dan tak bisa melupakan dirinya dengan alasan Salma yang berpikir kalau Malik adalah lelaki baik yang pantas untuk dia harapkan.


Satu hal yang Malik pikirkan saat ini agar Salma bisa segera terlepas dari dirinya yaitu membuat Salma membencinya karena perbuatan buruk yang dia lakukan. Malik melihat Tari, dia terpikir untuk menjadikan Tari sebagai seseorang yang bisa membantunya untuk menjalankan keinginannya itu.


“Jadi selingkuhanku.” Balas Malik sembari memejamkan matanya.


“Apa?”

__ADS_1


Jawaban Malik sungguh di luar perkiraan Tari. Bagaimana bisa dia akan menjadi selingkuhan dari seorang kekasih temannya sendiri? Menurutnya jika dia melakukan apa yang Malik katakan, Salma bukan hanya akan membenci Malik, tapi juga membenci dirinya. Membayangkannya saja sudah membuat dirinya merinding. Tari berbalik untuk melihat keadaan di luar kelas apakah masih ada seseorang di sekolah, setelah memastikan dia tak melihat siapa pun, Tari menuju kursi siswa dan duduk di sana.


Tari tak langsung menjawab, dia berpikir sembari melihat Malik yang terlihat begitu mengiba dan mengharapkan bantuannya. Tari menghela nafasnya.


“Akan terlihat gila sih ini?” Tari mengepal kedua tangannya.


“Maaf, tapi aku tidak mengerti mengapa kamu mau Salma membencimu?” Lanjut Tari.


Malik dan Tari sudah beberapa saat di ruang kelas. Meski Malik sudah tak menyembunyikan kesedihannya pada rekan kerjanya ini, namun dia belum mengatakan apa yang sebenarnya terjadi yang membuatnya seperti sekarang dan ingin meminta bantuan Tari seperti saat ini.


Malik pun menceritakan semuanya pada Tari, walau dulu dia pernah berpikir untuk tak mengungkapkan kisah percintaannya yang menyedihkan ini pada siapa pun, tapi karena sekarang dia membutuhkan bantuan Tari, dia harus mengatakan semuanya. Itu dia lakukan juga karena Tari menginginkan ceritanya.


“Maaf, aku harus melibatkan kamu dalam keadaan seperti ini.” Ucap Malik merasa bersalah karena melibatkan orang lain yang tak seharusnya dalam hubungan bersama Salma.


Meski sempat merasa khawatir, Salma akan membencinya karena dianggap sebagai selingkuhan dari orang yang dia cintai, setelah mendengar kisah Malik, Tari merasa dirinya harus membantu rekan kerjanya ini juga demi kebaikan Salma. Jika dia tak melakukan ini, rasanya juga sangat menyakitkan untuk Salma untuk berusaha melepaskan seseorang yang baik seperti Malik.


“Kenapa aku? Kenapa kamu meminta aku untuk menjadi selingkuhanmu?” Meski Tari merasa dirinya harus membantu, namun dia ingin memastikan alasan Malik memilihnya.


“Aku juga baru kepikiran.” Balas Malik, lalu duduk di kursi guru yang berjarak sekitar 2 meter dari posisi Tari.

__ADS_1


“Maaf. Menurutku cukup masuk akal kalau kita berselingkuh” Malik dengan berat hati mengatakannya.


Malik berpikir dia akan punya cukup alasan jika memilih untuk berselingkuh dengan Tari karena Salma juga mengetahui kalau mereka bekerja di tempat yang sama. Selain itu, dia juga tak punya teman perempuan selain Tari. Dia hanya bisa mengandalkan Tari agar bisa membantunya.


Tari mengiyakan apa yang dikatakan Malik, cukup sempurna kalau dia yang akan menjadi selingkuhan Malik karena bertemu setiap hari di tempat kerja, terlebih dia juga mengingat ada sepatah kata yang mengatakan ‘yang lama akan kalah dengan yang selalu ada’. Anggap saja, dirinya dan Malik selalu bersama dan banyak menghabiskan waktu berdua di sekolah.


“Aku akan menyakinkan Salma, kalau aku yang bersalah dalam hubungan palsu kita.” Malik menyakinkan.


“Oiya, apa Salma pernah memberitahumu tentang hubungan kami atau perasaannya padaku?” Lanjut Malik.


Beberapa saat Tari mencoba mengingat, dia rasa sebelumnya hanya dirinya yang sering berpikir kalau Salma memiliki perasaan dengan Malik, itu bukan Salma yang mengatakan padanya. Salma tidak pernah mengatakan perihal hubungannya bersama Malik.


Tari menggeleng. “Tidak pernah dia mengatakan hal semacam itu.”


Malik bertepuk tangan, dia merasa cukup puas dengan alasannya jika dia memang berselingkuh bersama Tari, menurutnya Salma akan lebih mudah percaya jika Tari yang membantunya.


“Anggap saja kamu tidak tahu apapun tentang kami. Salma hanya berhak membenciku dan setelah kejadian itu bisa saja kamu juga seakan pergi meninggalkanku.”


Tari menyadari meski Malik meninggalkan Salma, dia juga tak akan punya tempat di hati rekan kerja ini. Tari menatap Malik lekat-lekat, ada sedikit goresan yang baru saja menggores hatinya.

__ADS_1


__ADS_2