How Matcha Love You

How Matcha Love You
Pelet?


__ADS_3

Ibu pergi ke rumah bu Ati untuk membeli sayur seperti biasa. Selain Ibu, di sana juga ada Bu Wati dan Bu Amah yang sedang duduk asyik mengobrol di depan rumah bu Ati itu.


“Eh bu Fatma. Mau beli sayur juga?” Ucap Bu Wati melihat Ibu yang baru datang.


“Iya bu.” Jawab Ibu sembari tersenyum.


“Bu Ati masih di kebun, kami diminta untuk menunggu dulu.”


“Oh begitu.”


Mendengar apa yang dikatakan Bu Wati, Ibu segera menghampiri Bu Wati dan Bu Amah untuk ikut menunggu.


“Ngomong-ngomong bu, apa Salma sudah bekerja?” Tanya Bu Amah.


“Iya dia bekerja di rumah sakit daerah.”


“Dokter?”


“Iya.” Ibu mengangguk.


“Wah luar biasa”. Bu Wati merasa kagum.


“Apa pacarnya juga seorang dokter?”


“Apa?”


“Mana mungkin Salma yang cantik tidak punya pacar ya kan bu?” Bu Amah melihat Bu Wati meminta persetujuan.


“Iya apa sudah pernah dikenalkan?” Tambah Bu Wati.


Ibu merasa bingung memberi jawaban yang tepat untuk pertanyaan ibu-ibu ini, dia hanya tersenyum menutupi kebingungannya yang sedang melandanya.


“Ibu-ibu mau beli sayur apa? Bu Ati datang dengan membawa beberapa sayur yang baru dipetiknya.


“Syukurlah.” Ibu membatin merasa lega, kedatangan Bu Ati sangat membantunya.


Sekarang Ibu mulai dicecar pertanyaan “Kapan Salma menikah? Apa Salma sudah punya calon? Dia pacaran?”. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sungguh mengganggunya, pasalnya dia belum memiliki jawaban yang diharapkan atas semua pertanyaan itu.


Ibu menginginkan Salma segera menikah. Meski usianya tergolong muda untuk menikah, namun jika dibandingkan dengan teman seumurannya di kampung, teman-temannya sudah banyak menikah bahkan sudah punya anak. Ibu mulai merasa terbebani dengan status Salma sekarang.


“Nak, ibu dengar Elsa hamil lagi anak kedua.”


“Wah Alhamdulillah.” Jawab Salma merasa senang mendengar teman sekaligus tetangganya itu telah diberi kepercayaan lagi untuk memiliki anak.


“Kamu gimana? Apa kamu punya calon?” Ibu sedikit ragu-ragu mengatakannya, takut akan mendengar jawaban yang tak sesuai dengan harapannya.

__ADS_1


“Nggak ada.” Salma menggeleng.


“Sebaiknya kamu mulai membuka diri untuk menerima seseorang. Jujur saja ibu menginginkan kamu segera menikah” Ibu terlihat kecewa.


“Aku sudah mencoba memikirkan beberapa orang, namun belum ada yang cocok.” Salma mencoba menjelaskan situasinya yang sudah mencoba memikirkan orang lain namun belum menemukan seseorang seperti Malik apalagi lebih dari cinta pertamanya itu.


“Aku akan terus mencoba bu.” Meski sebenarnya Salma sekarang tidak memikirkan siapapun selain Malik, namun dia tidak ingin mengatakan pada Ibu karena itu mungkin akan membuat ibu lebih kecewa.


“Kalau belum waktunya aku bisa apa? Lagian aku sekarang sangat menikmati pekerjaanku.” Salma tersenyum tak mau membuat ibunya merasa khawatir.


“Baiklah.” Ibu juga tersenyum pada putrinya.


‘’’’’


Malik sedang bersiap untuk pulang. Dia berencana akan memulai perjalanan setelah selesai beberes rumah sebelum ditinggalkan agar nanti saat kembali dia tidak begitu repot. Saat Malik merapikan susunan alat makannya di lemari, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Terlihat di layar ponselnya bahwa Tari yang menghubunginya.


“Halo, Assalamu’alaikum.” Ucap Malik saat menerima telpon.


“Wa’alaikumussalam Malik, maaf menelpon pagi-pagi, apa kamu sudah berangkat untuk pulang?”


“Belum, aku masih di rumah.”


“Ternyata kakakku masih bekerja hari ini sampai tiga atau empat hari ke depan. Bisa aku ikut kamu untuk ke rumah sakit. Kalau aku tidak ke sana sekarang pamanku akan menjaga nenek sendirian. Apa bisa aku ikut kamu?” Tari dengan sedikit memohon.


Malik merasa terbebani dengan permintaan Tari padanya. Dia tidak pernah membawa seorang perempuan di motornya selain Sarah dan Ibunya selama ini. Namun di lain sisi, dia juga merasa harus membantu Tari. Malik terdiam sejenak untuk berpikir.


Malik memutuskan untuk membantu Tari karena dia juga akan melewati rumah sakit tempat nenek rekan kerjanya itu dirawat. “Ini tidak menyusahkanku sama sekali.” Pikirnya.


‘’’’’


Salma hari ini akan masuk shift pagi. Seperti biasa sebelum berangkat kerja, dia sarapan terlebih dahulu di rumah bersama keluarganya.


“Gani mana bu? Dia gak masuk sekolah?” Tanya Salma karena tidak melihat Gani ikut sarapan bersama mereka.


“Dia libur. Sudah selesai sekolah tinggal kelulusan” Jawab Ibu.


“Wah tidak terasa aku sudah hampir setahun bekerja.”


“Nak, Apa kamu sedang dekat dengan seseorang.” Ucap Bapa melihat Salma.


Salma kembali mendapat pertanyaan yang serupa setelah ibunya kemarin yang juga menanyakan hal semacam ini. Meski sekarang dia sudah terbiasa dengan kesendiriannya, namun jujur saja terkadang Salma memikirkan satu orang yang masih sama yaitu Malik. Perasaan yang sungguh mengesalkan, sudah beberapa saat berlalu tapi masih membekas, tapi mau bagaimana lagi itu lah yang sampai saat ini Salma rasakan. Sepertinya dia belum berhasil untuk melupakan Malik yang mungkin karena dia belum menemukan penggantinya.


“Kalau kamu yakin dia orang baik, coba kenalkan ke kami segera. Rekan bapa sudah banyak yang menikahkan anak mereka” Lanjut Bapa karena tak mendapat jawaban dari putrinya.


“Apakah Bapa mengijinkan?” Salma berharap mungkin orang tuanya sudah melunak untuk bisa menerima Malik.

__ADS_1


“Tentu saja.”


“Iya, asalkan jangan orang kampung sini ya pa?” Ibu melihat Bapa.


Bapa mengangguk.


“Itu lah masalahnya.” Salma menundukan pandangannya dan menghembuskan napasnya dengan kasar.


“Kamu masih memikirkannya? Malik?” Ibu terkejut mendengar jawaban Salma.


“Apa benar yang dikatakan Ibumu?” Bapa meminta kepastian, terlihat juga tak habis pikir jika apa yang dikatakan Ibu itu benar adanya.


Salma diam tak menjawab.


“Apa yang kalian lakukan selama ini, apa kalian pacaran?” Tanya Ibu.


“Tidak.” Jawab Salma.


“Apa kamu kena pelet atau bagaimana?.”


“Pantas saja tidak menemukan orang yang cocok. Kamu harus melupakannya agar bisa menerima orang lain.” Lanjut Ibu terlihat frustasi.


“Aku malah berpikir sebaliknya, aku harus menemukan orang lain agar bisa melupakannya.” Salma membatin, namun tak bisa mengatakan apa-apa.


‘’’’’


Setelah kurang lebih tiga jam menempuh perjalanan akhirnya Malik dan Tari sampai di rumah sakit. Setelah berterimakasih pada Malik karena sudah mau mengantarnya, Tari ingin segera pergi untuk melihat kondisi neneknya. Dia berjalan sembari membawa beberapa barang yang dia bawa dari rumah.


Malik yang melihat Tari sedikit kesulitan membawa barang yang cukup banyak merasa harus membantu. Dia memanggil Tari dan menawarkan bantuannya.


“Sini aku bantu membawa sebagian.”


Mendengar seseorang yang disukai menawarkan bantuannya wajar saja membuat Tari merasa senang. Namun karena merasa sudah banyak merepotkan, dia menolak bantuan tersebut.


“Sepertinya keluargamu sudah menunggu sebaiknya kamu pulang saja.” Ucap Tari sembari tersenyum.


“Baiklah.” Malik tidak ingin memaksa Tari dan ingin berbalik untuk pulang.


“Aduh.” Tari tak sengaja menjatuhkan barang bawaannya.


Melihat itu, Malik segera menghampiri untuk mengambil barang tersebut dan memutuskan untuk membantu Tari membawanya sampai ke ruangan neneknya.


“Terima kasih.” Ucap Tari melihat Malik yang berjalan mengiringinya.


Tari merasa senang Malik bersamanya. “Malik sangat baik dan perhatian” Tari membatin. Mereka terus berjalan bersama menuju ruangan tempat nenek Tari dirawat yang ternyata cukup jauh dari pintu depan.

__ADS_1


“Salma.” Ucap Tari melihat Salma yang duduk di depan ruangan pasien sembari menyerap kopinya.


Mendengar itu, Salma segera melihat ke arah seseorang yang memanggilnya. Dia melihat Tari dan Malik yang menatapnya.


__ADS_2