How Matcha Love You

How Matcha Love You
Bagaimana Bisa?


__ADS_3

Elsa melihat gelagat aneh dari kedua tetangganya itu. Dia memilih tak melanjutkan ucapannya.


Salma merasa tak enak atas sikapnya dan Gani kepada tetangganya itu, dia memilih mengalah dan pasrah dengan apapun yang dikatakan Elsa.


“Kenapa El?” Tanya Salma.


“Maaf, tapi aku dengar Malik tinggal di kota pamanmu, benar begitu?” Meski merasa tak enak karena harus membahas Malik dan mungkin ini membuat Salma teringat akan cinta masa kecilnya itu, Elsa tetap ingin memastikan kabar yang di dengarnya.


“Oh, iya.” Gani sembari mengangguk, dia merasa lega Elsa tak mendengar ucapannya sebelumnya.


“Kakak pergi.”


“Assalamu’alaikum” Lanjut Salma.


“Wa’alaikumussalam, hati-hati” Balas Gani.


“Aku pergi El, dadah Zaidan…” Salma melambaikan tangannya pada Zaidan, anak kedua Elsa.


Salma teringat kali terakhirnya melihat Malik. Malik yang juga melihat ke arahnya di depan toko donat waktu itu. Salma menghembuskan nafasnya dengan kasar sembari melajukan motornya. Hatinya kembali terasa perih mengingat kenangan manisnya bersama Malik beberapa tahun yang lalu. Mengingat betapa senangnya saat Malik melewati jalan di depan rumahnya, melihatnya, dan tersenyum untuknya. Tak ada kekhawatiran apapun yang dipikirkan saat itu. Salma hanya senang melihat Malik dan mengetahui semua tentangnya. Betapa senangnya saat itu, di saat dia belum mengetahui kalau hubungan nya dengan cinta pertamanya itu akan ditentang orang tuanya.


Dulu melihat Malik adalah satu hal yang paling Salma harapkan. Dan mungkin sekarang pun begitu, meski keadaan sudah jauh berbeda. Kehadiran Pratama beberapa bulan yang lalu hampir membuatnya melupakan Malik, meski terkadang dia sekilas mengingat Malik. Salma yakin bisa melupakan Malik, dia hanya perlu waktu dan seorang pengganti yang tepat.


“Semangat”. Terbersit pikiran, usahanya untuk melupakan Malik selama ini selalu sia-sia. Namun dia tersadar dan mencoba mengambil pelajaran, mungkin semua yang dia lalui akan menjadikan dia menjadi pribadi yang lebih baik. “Aku tidak perlu buru-buru.” Pikirnya lagi setelah mengingat ucapan Pratama yang menurutnya sungguh merendahkan harga dirinya. Itu tidak akan terjadi kalau Salma tidak gegabah.


‘’’’’


Jam dinding menunjukkan pukul setengah 10 pagi. Malik menutup buku pelajaran dan beranjak dari duduknya.


“Oke tugasnya silakan dilanjutkan setelah istirahat.” Ucap Malik di depan siswanya.


“Baik pak.” Balas siswa serentak.


“Baik, assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”


“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.”


Malik melangkah keluar kelas menuju ruang guru.


Di dalam ruang guru, Tari dan Bu Linda sedang membicarakan Salma. Tak begitu serius, mereka hanya membahas sambil mengerjakan hal lain.

__ADS_1


“Dia sebenarnya dokter bedah bu.” Ucap Tari dan kebetulan Malik memasuki ruang guru.


“Oh, saya kira dia dokter umum atau dokter anak.” Balas Bu Linda.


“Oh, saya juga berpikir begitu” Guru lain juga ikut membalas saat mengetahui sebenarnya Salma seorang dokter bedah.


“Iya bu. Dulu dia kuliah jurusan bedah saya kurang tahu apa nama jurusan pastinya, tapi kalau tidak salah dia pun bekerja memang sebagai dokter bedah” Tari mencoba menjelaskan apa yang dia ketahui tentang pekerjaan Salma.


“Tapi yang namanya dokter pasti diajari juga cara menyuntik pasien kan?.” Ucap Bu Linda.


Guru lain pun membenarkan.


Malik membuka lembar demi lembar buku yang ada di tangannya. Sebenarnya tak ada yang dibaca di buku itu, dia mendengarkan percakapan rekan kerjanya yang sedang membicarakan Salma, namun tak ingin diketahui orang lain.


“Apa dia sudah berkeluarga?” Bu Linda melihat Malik.


Malik tersentak menyadari Bu Linda sedang melihat ke arahnya, dia merasa seperti telah ketahuan menyembunyikan sesuatu. Namun dia segera tersadar, Malik berusaha merubah ekspresinya secepat mungkin dan berusaha tetap terlihat tenang.


“Ada apa pak Malik?” Tanya Bu Linda melihat Malik nampak terkejut dan tak segera menjawab pertanyaannya.


“Salma sepertinya belum menikah.” Ucap Tari memecah kecanggungan. Dia rasa Malik merasa terganggu dengan pertanyaan Bu Linda, maka dari itu dia tak ingin itu disadari oleh yang lain.


“Dia belum menikah, iya kan pak Malik?.” Lanjutnya lagi sembari tersenyum, Tari berusaha mencairkan suasana aneh dan nampak canggung ini.


“Wah pak Malik sungguh beruntung dikelilingi wanita cantik Bu Tari dan bu Dokter haha bercanda bu.” Bu Linda mencoba menggoda dan melihat Tari.


“Haha,, Kalau saya harus bersaing dengan bu dokter, maaf saya mundur, ndak mampu saya.” Tari membalas godaan Bu Linda.


Malik sedikit menyungingkan bibirnya, meski hatinya tak sepenuhnya senang mendengar celotehan rekan kerjanya ini. “Aku memang memilih Salma dan itu memberiku bahagia sekaligus luka hingga saat ini” Malik membatin. Malik merasa senang saat mengingat Salma, namun dibalik rasa senang itu dia juga merasakan perih di hatinya.


‘’’’’


Salma pergi ke dapur, lalu ke kamar orang tuanya, dan ke depan pintu menengok teras rumahnya, namun dia tak melihat Ibu. Salma kembali masuk dan duduk tak jauh dari Gani yang sedang memainkan ponselnya.


“Ibu mana?” Salma bertanya pada adiknya.


“Sepertinya tadi pergi.” Balas Gani tanpa melihat Salma, dia tetap fokus dengan ponsel di tangannya.


“Naik motor?” Salma bertanya lagi.

__ADS_1


“Iya.” Gani sembari mengangguk.


“Oh..” Salma merogoh kantong piyamanya dan menemukan ponselnya. Sekarang dua kakak beradik ini sama-sama sibuk dengan ponsel masing-masing.


Gani teringat rasa penasarannya kemarin. Dia masih ingin mengetahui apa yang terjadi antara kakaknya dan Malik, kenapa bolpoin kakaknya ada pada Malik?


“Oiya kak, kenapa bolpoin kakak bisa ada pada kak Malik?” Tanya Gani, kali ini fokusnya teralihkan meski dia tetap memegang ponselnya.


“Kakak juga tidak tahu.” Jawab Salma singkat.


“Kenapa ada di dia ya?” Lanjut Salma juga merasa penasaran. Dia ingat betul saat dia ke sekolah memberi vaksin siswa beberapa waktu yang lalu. Meski sempat bertemu, namun itu tidak ada kaitannya dengan bolpoin. Salma tak mengelurkan bolpoin saat bersama Malik.


“Kakak tak bertemu dia saat di sekolah?” Gani sekarang melihat Salma.


“Ada, tapi kakak tidak mengeluarkan bolpoin saat itu.” Salma mencoba sedikit menjelaskan.


“Ah mungkin bolpoinnya keluar sendiri saat kakak di ruang guru, ntahlah.” Lanjutnya.


“Hish..” Gani menggeleng.


“Apa kakak ada berbicara sesuatu dengan Malik?” Gani ingin menuntaskan rasa penasarannya.


“Biasa aja. Tak ada yang spesial” Salma tak ingin terlalu jujur dengan adiknya karena menurutnya tak begitu pantas kalau harus menceritakan kisah percintaannya kepada adiknya terlebih adiknya lelaki. “Untuk apa dia tahu semuanya” Pikirnya.


“Kapan kamu bertemu dia?” Salma bertanya kapan Malik meminta adiknya mengembalikan bolpoin miliknya.


“Dua hari yang lalu.”


“Apa dia terlihat baik-baik saja?” Salma tak begitu menyadari ucapannya.


Gani tak menduga kakaknya akan menanyakan hal ini. Namun memilih tetap tenang dan menjawab sewajarnya.


“Dia baik-baik saja.” Gani sembari melihat kakaknya.


Salma tersenyum, rasa senangnya mendengar jawaban Gani tak bisa disembunyikan.


“ Oh, kakak lihat kamu juga baik-baik saja, betulkan? Haha.” Ucapnya.


~Gani teringat ucapan Malik dua hari yang lalu:

__ADS_1


“Iya, Alhamdulillah baik, aku lihat kamu juga sehat, betulkan? Haha.”~


Gani menatap kakaknya lekat-lekat, Bagaimana bisa kata-kata Salma ini sungguh mirip dengan apa yang pernah Malik katakan padanya?


__ADS_2