
Setelah selesai makan Nanda dan Fiki ingin segera kembali ke rumah sakit karena mereka harus kembali bekerja. Sebelum pergi Nanda mengulurkan tangannya untuk berpamitan dengan Salma dan Resya.
“Kami duluan ya, terima kasih.” Ucap Nanda setelah menjabat tangan Salma dan Resya.
Melihat Nanda begitu, Fiki pun juga ikut mengulurkan tangannya pada Salma.
Salma mengangguk tanpa menerima uluran tangan Fiki yang ingin bersalaman dengannya.
Salma memang tidak pernah bersentuhan dengan lelaki yang bukan mahramnya secara sengaja. Meski dia tidak bersekolah di pondok pesantren atau sekolah agama, namun dia sudah terbiasa menolak uluran tangan seseorang yang ingin menjabat tangannya karena dia tahu agamanya tidak memperkenankan itu.
“Oh maaf.” Fiki segera mengalihkan tangannya pada Resya.
“Sampai jumpa.” Ucap Fiki lalu pergi mengikuti Nanda.
Fiki memikirkan sikap Salma yang barusan menolaknya untuk bersalaman. Memikirkan Resya yang juga mengenakan jilbab dalam kesehariannya, namun tidak masalah saat berjabat tangan dengannya. “Apa dia seperti itu karena tidak ingin menyentuh tanganku?” Pikir Fiki seraya tersenyum sinis.
“Oiya ka, Salma memang begitu. Dia tidak pernah bersalaman dengan laki-laki. Aku dulu tidak memberitahu kakak” Ucap Nanda yang berjalan di sampingnya.
“Oh.” Fiki mengangguk.
Fiki mengingat-ingat saat Salma bersamanya beberapa bulan yang lalu. Memang benar saat Fiki berada di sampingnya, dia selalu menjaga jarak dan tak pernah sekalipun menyentuhnya.
“Penampilannya nampak umum seperti kalian. Aku tidak berpikir dia seperti itu.”
“Orang juga banyak berpikir seperti itu saat mengulurkan tangan padanya. Mungkin itu juga alasannya selama ini tidak pernah pacaran.”
“Tapi dia pernah bilang menyukai orang lain.”
“Ya, dia mencintai dalam diam.”
Fiki menutup mulutnya dengan tangan kanannya, selama ini dia sungguh menganggap Salma sebagai perempuan biasa yang akan menerima untuk menggenggam tangannya jika saat itu menerima perasaannya. Fiki sudah salah dalam memandang Salma selama ini.
“Apa kakak masih menyukainya?” Tanya Nanda melihat Fiki yang nampak memikirkan sesuatu setelah mendengar perkataannya.
“Sudah tidak seperti dulu lagi, aku memang tidak pantas untuknya.” Fiki mengatakannya dengan yakin sembari tersenyum.
“Syukurlah.” Nanda merasa lega.
“Apa?”
“Aku rasa Salma sulit atau bahkan tidak bisa melupakan cintanya itu. Aku lega kakak tidak mengharapkannya lagi.”
“Terima kasih.”
“Untuk apa?”
“Karena sudah berpikir begitu.”
Mereka tersenyum satu sama lain dan terus berjalan menuju rumah sakit yang tidak jauh dari restoran tempat mereka makan siang.
‘’’’’
__ADS_1
Tari berencana untuk pergi ke rumah dinas yang ditempati Malik. Dia akan memberitahu Malik dengan mengirim pesan atau menelponnya jika nanti sudah berada di dekat rumahnya itu. Mungkin dengan begitu Malik tidak akan menolaknya. Tari meminta Malik untuk menemaninya membeli donat yang sama seperti diberinya beberapa waktu yang lalu.
Sesampainya di depan rumah dinas yang terlihat sepi, Tari segera menelpon Malik.
Di dalam rumah, Malik sedang melipat beberapa pakaiannya yang baru diambil dari jemuran. Malik orang yang rapi, meski di tengah kesibukannya bekerja, dia selalu menyempatkan diri untuk beberes. Saat melakukan aktifitasnya tersebut, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Malik segera meraih ponselnya dan melihat bahwa itu panggilan dari nomor yang tidak dikenal. Walau begitu, dia tetap mengangkatnya.
“Halo.”
“Halo, Assalamu’alaikum pak Malik, ini aku Tari.”
“Wa’alaikumussalam. Ada apa bu?”
Tari mengatakan bahwa dia sudah berada di depan rumah. Dia meminta Malik untuk membantunya. Mendengar itu, Malik segera keluar.
“Bu Tari.” Sapa Malik saat melihat Tari.
“Iya, Pak Malik.” Tari tersenyum.
‘’’’’
Salma dan Resya masih di restoran, menikmati makanan penutup yang baru mereka pesan. Resya merasa penasaran dengan hubungan Fiki dan Nanda, melihat perlakuan Fiki tadi yang nampak sigap membantu dan terlihat lega setelah Nanda lebih baik, dia merasa yakin itu bukan sikap seseorang kepada teman biasa.
“Apa mereka pacaran?” Tanya Resya tiba-tiba.
“Siapa?”
“Fiki dan temanmu itu.”
“Mereka sudah lama kenal, mereka memang begitu.”
“Mereka tidak berteman.”
“Lalu?”
Salma menceritakan awal pertemuan Fiki dan Nanda. Mereka berasal dari SMA yang sama. Fiki merupakan kakak kelas yang banyak membantunya saat ingin masuk kuliah dulu.
“Aku pikir mereka memang dekat dari dulu.” Salma merasa yakin.
Resya masih merasa ragu dengan pendapat Salma yang mengatakan Fiki dan Nanda hanya dekat karena hubungan kakak dan adik kelas di masa lalu, ya kurang lebih juga lah seperti berteman. Mengingat Fiki yang nampak begitu tulus membantu Nanda saat tersedak tadi.
“Apa dia begitu manis pada semua orang?”
“Apa?”
“Hehe, maafkan aku.” Resya merasa bersalah karena membuat Salma bingung padanya
“Kamu sepertinya sangat memikirkan Fiki. bukankah begitu?”
Resya tersenyum.
“Sebelumnya aku pernah bilang kan akan mengatakan sesuatu?”
__ADS_1
“Iya, apa?”
“Ah sepertinya kamu tidak penasaran.”
“Siapa bilang, aku sangat penasaran. Ayo cepat katakan apa itu?”
“Dulu aku menyukai Fiki haha”
“…..”
‘’’’’’
Malik menghampiri Tari dan membuka pagar.
“Ada apa?”
“Bisa bantu temani aku membeli donat yang kamu berikan beberapa hari yang lalu.”
“Aku membeli di pinggir jalan ini, lurus saja nanti ada toko donat.” Malik sembari menunjuk arah jalan.
“Maaf, sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu.”
Malik merasa terkejut dengan apa yang diinginkan Tari padanya. Bagaimana mereka akan pergi bersama. “Bagaimana ini?” Pikirnya. Malik sebelumnya tidak pernah bersama perempuan selain bersama Salma beberapa bulan yang lalu dan itu pun suatu kebetulan yang tidak dia rencanakan.
“Maaf sebenarnya sekarang aku sedang sibuk.” Malik mencoba untuk menolak.
“Baiklah, kapan kamu tidak sibuk. Aku akan menunggu.”
“Aku rasa kita bisa bertemu di sekolah.” Malik memaksa senyumnya karena sekarang dia sungguh merasa tidak nyaman ditambah lagi takut kalau pak Duan yang menempati rumah di sebelahnya melihatnya dengan Tari.
“Maafkan aku, aku harus masuk.”
Tari hanya mengangguk sembari memaksakan senyumnya juga kecewa karena ini tidak berjalan sesuai rencananya.
Malik segera masuk ke rumah. Sedang Tari masih menatap Malik hingga menghilang dari pandangannya.
“Malik hampir sempurna hingga butuh perjuangan untuk menggapainya.” Tari membatin lalu pergi.
‘’’’’
Keesokan harinya, setelah Malik keluar kelas seusai mengajar, terlihat Tari duduk di kursi di depan kelas. Sebenarnya Malik juga merasa bersalah karena kemarin tidak bisa membantunya. Saat ingin melalui Tari, Malik menyapa.
“Bu Tari.”
“Iya.” Tari berdiri menghadap Malik dengan jarak sekitar tiga meter.
“Apa yang ingin Ibu katakan kemarin.”
“Aku rasa kita seumuran, jadi tidak apa-apa kalau kita bicara santai terlebih saat tidak ada siswa.”
“Baiklah.”
__ADS_1
Sebenarnya kemarin saat dia berkata akan mengatakan sesuatu pada Malik itu hanyalah alasan agar Malik mau keluar bersamanya. Dia tidak ingin mengatakan apapun selain ingin berbicara banyak hal mengenai cerita masing-masing. Tari ingin mengetahui banyak hal tentang Malik karena sekarang dia sungguh merasa tertarik dengan rekan kerjanya ini.
“Aku ingin tahu banyak tentangmu.”