
Setelah Malik kembali ke kota, tinggallah Sarah dan Bu Siti. Meski mereka sudah sering dan terbiasa ditinggal oleh satu-satunya sosok lelaki di keluarga mereka, namun kepergiaan Malik ke kota selalu membuat mereka merasa sepi.
Biasanya setiap dua atau tiga hari sekali, Malik selalu menghubungi adik dan Ibunya. Sarah memilih untuk tidak menghubungi terlebih dahulu karena takut akan menganggu kakaknya bekerja. Jadi seberat apapun rindunya, dia selalu sabar menunggu. Sampai hari ini sudah tiga hari Malik kembali ke kota, namun kali ini belum juga menghubungi keluarganya. Bu Siti mulai merasakan rindu, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan selain mendoakan untuk kebaikan anaknya itu.
Sarah dan Bu Siti makan malam bersama seperti biasanya.
“Kakakmu belum menelepon?” Tanya Bu Siti pada Sarah.
“Belum Bu.”
“Oh mungkin kakakmu sedang sibuk.”
Meski Bu Siti merasa khawatir, dia tidak ingin menunjukkannya pada Sarah. Dia harus tetap terlihat tenang agar anaknya tidak balik mengkhawatirkannya.
“Oh iya bu, kemarin Gani meminta nomor kakak, katanya juga ingin seperti kakak bekerja di luar kota.”
“Oh begitu.” Jawab Bu Siti singkat.
“Iya, sejujurnya aku ingin seperti kak Salma, kami menginginkan seperti kakak satu sama lain haha.”
“Kita sebaiknya jangan menyebut Salma di depan kakakmu.” Bu Siti merasa harus mengatakannya demi kebaikan Malik agar dia tidak terganggu dengan ocehan adiknya nanti.
“Kenapa Bu?.” Ekspresi Sarah tiba-tiba berubah.
Karena merasa anaknya sudah cukup besar untuk mengetahui hal semacam ini, Bu Siti pun memberitahu bahwa Malik di tolak saat ingin melamar Salma.
Mendengar hal itu, sontak saja membuat Sarah terkejut. Bukan terkejut di tolak, namun dia tidak pernah terpikir kalau kakaknya menyukai orang yang sering dia puji. Sarah merasa bersalah, berpikir Malik menyukai Salma karena ocehannya yang sering menceritakan hal baik tentang Salma. Dia pun bertanya pada Bu Siti, apakah Malik memiliki perasaan itu karenanya.
“Tentu saja tidak.” Jawab Bu Siti.
“Terus bagaimana dengan kakak?” Sarah kembali bertanya.
__ADS_1
“Dia harus melupakannya, jadi kita harus membantunya.” Balas Bu Siti.
Sarah yang mendengar jawaban Bu Siti merasa sedikit lega, namun bagaimana pun ini membuatnya merasa kasihan dengan kakaknya. Meski dia belum pernah jatuh cinta, tapi menurut perkiraaannya tidak mudah untuk melupakan orang yang dicintai. Sarah hanya bisa mendoakan agar kakaknya bisa mengendalikan perasaannya dan mendapat seseorang yang terbaik.
‘’’’’
Di kampus, setelah selesai kelas Salma tetap duduk di tempatnya, belum beranjak untuk keluar. Nanda yang melihatnya, segera menghampiri.
“Tetap di sini?”
“Iya ada yang ingin aku lihat.” Salma sembari memperhatikan catatannya.
“Baiklah” Nanda tetap di samping Salma.
“Oh iya Sal, boleh aku bertanya sesuatu?”. Lanjutnya.
“Ada apa?”
“Sepertinya aku akan mempertimbangkannya.” Balas Salma.
“Benarkah? Apa kamu akan melupakannya?”
“Seperti memang harus begitu.” Salma sedikit tercekat.
“Ada apa Sal?” Nanda melihat temannya yang nampak tidak baik-baik saja.
Salma memilih untuk tidak menceritakannya pada Nanda, dia merasa sudah terlalu banyak menceritakan tentang Malik, Salma takut itu membuatnya lebih kesulitan untuk melupakan Malik. Dia berpikir mungkin jika dia diam dari awal, tidak menceritakan Malik pada Nanda itu akan lebih baik. Nanda tidak mengkhawatirkannya karena lelaki yang disukai temannya adalah seseorang yang mungkin dianggapnya tidak memberi kepastian dan juga tidak akan mengungkitnya di saat seperti ini.
“Aku lagi banyak pikiran. Sekarang aku harus fokus dan banyak membaca. Juga hanya merasa sedikit lelah.” Salma beralasan.
“Oh maaf, semangat.” Nanda memilih untuk tidak melanjutkan.
__ADS_1
Sesuai dengan permintaan Fiki, Nanda ingin mulai sedikit menceritakan tentang hal-hal baik tentangnya pada Salma. Namun karena Salma yang tidak bisa diganggu saat ini, Nanda memilih mengurungkan niatnya untuk beberapa waktu ke depan.
Fiki yang mengetahui Salma sedang tidak bisa diganggu karena persiapan sidang skripsi merasa harus lebih bersabar. Dia berpikir bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang besar juga harus mengorbankan sesuatu yang besar pula. Dalam hal ini kesabaran lah yang harus dia korbankan. Meski begitu, Fiki tetap menghubungi Nanda untuk menanyakan keadaan Salma di saat dia sedikit longgar dari pekerjaannya.
‘’’’’
Hari ini, Gani ingin berbicara dengan Sarah karena kemarin gagal menemuinya. Sepulang sekolah, setelah keluar kelas, Gani mengikuti Sarah yang menuju parkiran untuk mengambil sepedanya.
“Sarah” Panggil Gani.
Sarah mengatakan bahwa memang benar Malik menyukai Salma, maka dari itu Gani segera mengatakan keinginannya untuk membantu memperbaiki hubungan diantara kakak mereka.
“Aku tidak ingin ikut campur, itu urusan mereka.” Tegas Sarah.
“Kamu mengatakan itu karena kamu tidak tahu bagaimana keadaan kakakmu, aku melihat kakakku begitu terluka, aku tidak tega jika tidak melakukan apa-apa.”
“Kamu bisa kok melakukan sesuatu tanpa ikut campur.” Jawab Sarah enteng.
“Bagaimana?”
“Doa, doakan saja yang terbaik untuk kak Salma, maaf aku tidak bisa membantu keinginanmu.” Sarah segera meraih sepedanya dan berlalu pergi.
Sarah tidak ingin memperkeruh suasana. Meski dia mengakui niat Gani baik, namun itu menurutnya bukan jalan yang terbaik. Dia menyadari kakaknya dan Salma memang berbeda, meski mengakui bahwa Malik lelaki yang hampir sempurna di matanya, namun Salma lebih dari itu. Kakaknya pantas mundur dan merelakan perasaannya. Sarah berkeinginan akan membantu kakaknya untuk terbebas dari perasaannya dan kembali tenang seperti dulu.
‘’’’’
Di tengah kesibukannya belajar mempersiapkan sidang skripsi yang tidak lama lagi, sebisa mungkin Salma harus bisa mengatur emosinya. Meski perasaan kecewa belum bisa hilang karena cintanya sekarang tidak baik-baik saja dan juga belum memutuskan apakah akan merelakan atau mempertahankan cintanya pada Malik. Yang terpenting baginya sekarang adalah melewati sidang yang sudah lama dinantinya demi mendapatkan gelar yang dia impikan yaitu menjadi seorang sarjana kedokteran.
Terkadang Salma harus berhenti sejenak dari kesibukannya. Teringat beberapa kenangan manis yang dia lewati bersama Malik, meski tidak banyak tapi itu sungguh membuatnya bahagia dikala itu. Salma tidak pernah berpikir semua akan seperti ini. Mengapa masalahnya ada pada restu orang tuanya? Orang tuanya yang sebelumnya tidak pernah melarang tentang apapun, mengapa harus menentang perasaannya?. Namun begitu, sekarang dia tidak bisa melakukan apa-apa. Sebesar apapun rasa cintanya terhadap Malik, dia tidak bisa menentang orang tuanya.
Salma bukan menyerah, dia yakin orang tuanya tidak sekeras itu padanya. Mungkin orang tuanya seperti ini karena mengkhawatirkan tentang masa depannya. Kemarin Salma menghubungi Malik, ingin mengatakan untuk tidak mengkhawatirkan hal itu karena dia mengenal orang tuanya yang tidak pernah melarangnya sebelumnya. Salma ingin bersama Malik, mereka sama-sama bersabar dan berdoa agar mendapat restu. Namun nyatanya masalah lain menimpanya, Malik ingin mereka berhenti dan melupakan satu sama lain.
__ADS_1