How Matcha Love You

How Matcha Love You
Bertemu Lagi


__ADS_3

“Salma.” Ucap Malik.


Tak terasa Malik berucap menyebut nama Salma. Meski tidak diucapkan dengan lantang, namun itu dapat didengar oleh Tari yang berada di sampingnya. Malik yang selama ini selalu merindukan seseorang yang berdiri di depannya ini dalam diam yang tak bisa melakukan apapun untuk perasaan rindunya selama ini, selain hanya memperhatikan dari media sosial. Dia kembali merasakan denyut jantungnya berdetak lebih kencang karena bertemu dengan seseorang yang sungguh dirindukannya. Namun karena keadaan mereka yang memaksa membuat keputusan untuk melupakan saling melupakan, Malik harus bisa menahan emosinya. Dia hanya menatap Salma dengan perasaan rindu yang sebisa mungkin ditahan. Malik tak ingin mempersulit Salma lagi.


Sementara Salma, hatinya sungguh terenyuh melihat Malik menatapnya. Ingin rasanya dia segera menghampiri walau sekedar untuk bertanya, apa kabar? Apa kamu akan pulang? Berapa lama kamu di kampung?. Semua pertanyaan itu hanya bisa diucapkan di pikirannya. Salma ingin tersenyum dan memanggil dengan lantang seseorang yang istimewa dihatinya yang sekarang berada di depannya ini, namun lagi-lagi dia hanya bisa melakukannya dalam fantasi. Salma hanya bisa menatap Malik.


Tari melihat Malik yang sedang menatap Salma. Tatapannya terlihat berbeda hingga dia yang melihatnya tak bisa berkata apa-apa. Tari mengalihkan pandangan untuk melihat Salma yang nampaknya juga menatap Malik.


“Tari. Kamu sedang apa di sini?” Tanya Salma membuyarkan pikiran Tari yang memikirkan Malik yang belum pernah dia lihat sebelumnya menatap orang seperti ini. Tatapan seperti rindu namun juga kekecewaan.


“Nenekku sedang dirawat. Kamu? Oh kamu dokter di sini?”


“Iya aku bekerja di sini.”


“Wah kamu ternyata seorang seorang dokter, luar biasa.” Puji Tari.


Sementara Malik memilih untuk mengalihkan pandangannya tanpa mengatakan apapun. Meski dia ingin sekali menanyakan kabar Salma yang selama ini selalu ingin dia ketahui, namun dia memilih tak melakukannya. Dia harus merelakan Salma dan ingin membiasakan diri berada di dekat Salma hingga tak merasakan hal apapun. “Aku pasti bisa.” Batinnya menyemangati diri sendiri.


“Oiya apa kalian saling mengenal?” Tanya Tari penasaran karena tadi sekilas mendengar Malik menyebut Salma.


“Iya, kami sekampung.” Salma mengangguk.


“Oh begitu.”


“Hmm baiklah Salma aku ke ruangan nenekku dulu. Sepertinya nanti kita akan sering bertemu.” Tari melanjutkan langkahnya.


Salma mengangguk sembari tersenyum.


Malik berjalan di belakang mengiringi langkah Tari. Sementara Salma masih berdiri, sedikit menepikan diri untuk memberi jalan.


Salma tak bisa menahan dirinya untuk tak melihat Malik. Saat tepat berpapasan dengannya, dia melihat Malik yang ternyata tak melihat ke arahnya. “Dia sepertinya sudah melupakanku.” Pikirnya.


Ini bukan kali pertama Malik nampak mengacuhkannya. Bahkan beberapa kali setelah cinta mereka mulai bersemi setahun yang lalu, Salma yang ingin meminta Malik untuk sama-sama memperjuangan perasaan mereka, namun Malik tak pernah memberinya kesempatan. Dari semua itu, satu hal yang Salma sadari dan masih dia rasakan hingga saat ini, tatapan, senyuman dan mungkin cinta yang tak tersampaikan dengan kata-kata waktu itu sungguh tulus. Itu mampu menghangatkan hatinya yang dingin, mewarnai lembaran harinya dan menenangkan kekhawatirannya. Salma masih mengharapkan akhir bersama Malik, walau tahu itu mungkin hanya akan selalu menjadi harapan.


Malik kembali merasakan luka yang belum pulih, hatinya merintih karena tak bisa melakukan apapun pada seseorang yang dia rindukan meski mendapat kesempatan untuk bertemu. Jika tak bisa melakukan dan mengatakan apapun, angannya menginginkan untuk tetap berdiri menatap Salma. Namun karena itu hanya angan-angannya saja, Malik harus menerima setiap arus yang membawanya. Dia tak ingin memberikan Salma harapan lagi.

__ADS_1


Setelah berpapasan, Malik membalikkan tubuhnya untuk melihat Salma. Namun tak seperti saat mereka berada di tengah jalan setahun yang lalu, saat dia berbalik dan mendapati Salma menatapnya dari kejauhan, lalu mereka tersenyum satu sama lain. Kali ini Salma berjalan ke arah yang berlawanan tanpa menoleh. “Aku harap dia tak sepertiku.” Batinnya tak ingin Salma merasakan sakit yang dirasakannya.


“Malik.”


Tari memanggil karena Malik terdiam dan sepertinya sedang menatap Salma yang semakin menjauh.


“Iya.” Malik segera mengalihkan pandangannya dan melanjutkan untuk mengikuti Tari.


“Ada apa?” Tari penasaran karena sedari tadi Malik nampak berbeda saat bertemu Salma.


“Bukan apa-apa.”


Tari memilih untuk tak melanjutkan pertanyaannya dan tak memikirkan itu.


“Oiya, aku baru ingat ternyata Salma yang mengatakan bahwa dia dari desa Cipta Murni padaku dulu.”


“Kalian kenal dimana?” Malik balik bertanya.


“Dia teman SMA ku.”


‘’’’’


“Assalamu’alaikum.” Malik mengetuk pintu rumahnya.


“Wa’alaikumussalam.” Terdengar jawaban dari dalam.


Sarah segera membukakan pintu.


“Kakak.” Sarah senang melihat kakaknya kembali.


“De, ibu mana?”


“Ibu lagi mencuci beras di dalam.”


“Nak.” Terdengar suara Bu Siti memanggil Malik.

__ADS_1


“Iya bu.”


“Kok bukan kamu yang melakukannya?” Malik melihat Sarah dengan tatapan mengintrogasi.


“Aku baru datang dari warung.”


“Benarkah.” Malik segera menghampiri ibunya.


“Beneran.” Sarah mengangguk untuk menyakinkan. Malik tersenyum pada adiknya.


‘’’’’


Nanda sedang berada di dalam ruang operasi bersama beberapa rekannya. Hari ini dia akan melakukan operasi tanpa Fiki. Tadi pagi, Fiki sudah berhasil melakukan operasi besar terhadap pasien penyakit jantung. Dia diberi hak istimewa oleh atasan rumah sakit untuk beristirahat dan tak melakukan pekerjaan lagi hari ini. Mendengar itu, Fiki merasa senang, dia tidak segera pulang dan memilih untuk tetap berada di rumah sakit.


Sekitar satu jam sebelum Nanda memasuki ruang operasi, dia mendatangi Fiki ke ruangannya yang baru menyelesaikan operasi.


“Selamat.” Ucap Nanda di depan pintu.


Fiki merasakan rasa lelah yang dirasakan setelah berada di ruang operasi beberapa jam seketika luntur melihat senyum yang terpancar di wajah manis seseorang yang berdiri di depan pintu ruangannya itu.


“Terima kasih.” Fiki terlihat sumringah.


Nanda menghampiri Fiki. Mereka duduk berhadapan dipisahkan sebuah meja kerja dengan layar komputer yang sebagian menutupi pandangan mereka saat melihat satu sama lain.


“Jujur saja aku sedikit takut.” Ucap Nanda terlihat khawatir.


“Sebelum aku pindah ke sini, kamu juga melakukannya tanpa aku. Itu tak mempengaruhi apapun. Kamu pasti berhasil.” Fiki menyemangati.


Mendengar itu, Nanda tersenyum dan berusaha menyingkirkan kekhawatirannya.


Di lain tempat Salma sudah selesai melakukan tugasnya hari ini, berbeda dengan Resya yang masih terlihat sibuk untuk melayani pasien. Salma sedang duduk di ruangannya sembari menatap kosong, dia merasa cukup lelah terlebih memikirkan Malik yang nampaknya tak menginginkannya lagi. “Aku memerlukan seorang teman.” Gumamnya. Salma segera mengambil ponsel untuk menghubungi Nanda.


“Halo, Assalamu’alaikum Salma.” Terdengar suara lelaki yang mengangkat telpon.


“Wa’alaikumussalam”

__ADS_1


“Maaf, ini siapa?” Lanjut Salma.


__ADS_2