How Matcha Love You

How Matcha Love You
Move On


__ADS_3

Sudah beberapa hari, libur sekolah berakhir. Seperti biasa, saat Gani memasuki kelas, hanya ada satu atau dua orang temannya. Dia hampir selalu datang lebih cepat dari yang lain.


Sarah memasuki kelas, sudah beberapa hari Gani melihatnya namun tidak menyapa. Dia takut Sarah akan mengabaikannya karena Malik memberitahu perasaannya dan mungkin meminta Sarah untuk menjauhinya.


Setelah kemarin saat terakhir bersama Sarah, Gani hanya bisa memperhatikan Sarah dari kejauhan. Dia tidak menghampiri apalagi menyatakan perasaannya. Selama ini, Gani juga tidak menemukan tanda bahwa Sarah juga memiliki perasaan yang sama dengannya. “Mana mungkin dia menyukaiku” Pikirnya merasa dirinya tidak pantas menerima balasan positif dari orang yang dia sukai itu.


“Hai” Sarah menyapa Gani lalu duduk di kursinya.


Sapaan Sarah cukup membuat hatinya senang, tak menyangka ternyata Sarah tidak mengabaikannya.


“Hai, bagaimana sepedamu waktu itu? Apa rantainya sudah bisa diperbaiki?” Gani segera menanyakan pertanyaan yang sangat ingin dia tanyakan dari hari pertama mulai sekolah, meski dia sudah mengetahui jawabannya karena diam-diam selalu memperhatikan Sarah.


“Sudah, di hari itu juga langsung bisa diperbaiki.”


“Syukurlah.” Gani tersenyum senang karena Sarah tidak menjauhinya seperti yang dia kira.


‘’’’’


Sembari merebahkan diri di tempat tidurnya, Salma merasa menyesal karena telah mengabaikan perasaan Fiki beberapa bulan yang lalu. Sekarang dia baru menyadari, Fiki adalah orang yang baik dan sangat perhatian padanya. Jika waktu itu Salma tidak sedang jatuh cinta dengan Malik, mungkin saja dia juga akan menyukai Fiki karena perlakuan baiknya. Salma menghembuskan napasnya dengan kasar meluapkan rasa kecewanya terhadap dirinya sendiri yang sudah menyia-nyiakan seseorang yang memperjuangkannya.


Sekarang Salma memikirkan siapa seseorang yang akan menjadi pengganti Malik. Dia harus segera memutuskan agar juga bisa segera melupakan cinta pertamanya itu. “Apakah dokter Pratama?” Pikirnya mengenai salah satu rekan kerjanya di rumah sakit.


Pratama adalah salah satu dokter di rumah sakit tempat Salma bekerja. Dia merupakan dokter psikologi yang sudah bekerja sekitar dua tahun yang lalu. Dia berparas tampan, berkulit putih, rapi, dan terlihat cukup disiplin. Namun dia kurang ramah dengan rekan kerjanya. Beberapa dokter mengatakan bahwa dia jarang bergaul dengan sesama rekan kerja dan hanya berbicara untuk kepentingan pekerjaan saja. “Aku sudah cukup pendiam.” Gumam Salma. Salma memutuskan untuk tidak memilih Pratama sebagai pengganti Malik.


Salma kembali memikirkan Agung yang akan menjadi kandidat berikutnya untuk menggantikan Malik. Agung juga salah satu rekan kerjanya di rumah sakit. Dia merupakan dokter gigi. Meski Agung tidak sepopuler Pratama karena ketampanannya, namun dia terkenal ramah dan humoris. “Aku cukup setres dengan pekerjaan.” Salma sejenak berpikir akan memilih Agung karena mungkin dia bisa membuat Salma bahagia karena lawakannya. “Tapi..” Salma tidak bisa menyangkal dirinya yang juga menginginkan seseorang yang tampan. “Tidak ada yang sesempurna Malik.” Pikirnya kembali menolak seseorang yang ingin dipilih.


“Fiki” Salma berpikir mungkin saja Fiki belum sepenuhnya melupakannya. Salma merasa Fiki adalah orang yang cukup untuk diterima sebagai pengganti Malik. Bukan hanya karena parasnya yang juga tampan meski tak setampan Malik, tapi sikap perhatiannya yang selama ini dia berikan. Salma berharap dia masih mempunyai kesempatan dan ingin meminta Nanda untuk mempertemukannya kembali dengan Fiki.


‘’’’’


Tari yang mengajar kelas 5 sudah menyelesaikan kelasnya. Setelah keluar kelas, dia melihat ke arah kelas 6 yang mana Malik sebagai pengajarnya. Terlihat Malik masih mengajar di kelas tersebut. Tari berniat, hari ini dia tidak langsung pulang setelah mengajar dan menunggu Malik keluar kelas. Dia memutuskan untuk menunggu di kursi di depan kelas yang baru dia ajar.


Selang sekitar setengah jam, terlihat siswa kelas 6 berhamburan keluar kelas. Beberapa saat setelah itu nampak Malik yang juga meninggalkan kelas.


“Pak Malik.” Sapa Tari saat Malik lewat di depannya.


“Iya bu, ada apa?”

__ADS_1


Tari yang awalnya hanya ingin menyapa, harus berpikir apa yang akan dia katakan untuk menjawab pertanyaan Malik. Kalau dia mengatakan yang sejujurnya hanya ingin menyapa bukankah terdengar aneh?.


“Aku ingin bertanya bagaimana mengisi lembar penilaian siswa?” Jawab Tari tanpa berpikir panjang.


“Oiya tadi aku tidak sempat bertanya pada guru yang lain karena semua guru sudah pulang.” Lanjutnya agar Malik tidak berpikir dia hanya ingin bertanya padanya.


Malik pun menjelaskan cara mengisi lembar penilaian siswa yang ditanyakan Tari.


‘’’’’


Salma akan menghubungi Nanda. Dia ingin mengajak temannya itu untuk bertemu, sembari ingin menanyakan keadaan Fiki sekarang. Menurutnya mungkin Nanda masih dekat dengan Fiki dan mengetahui sedikit banyak tentang keadaannya. Salma sengaja mengajak Nanda untuk bertemu dan mengobrol tentang beberapa hal nantinya sebelum dia menanyakan mengenai Fiki. Meski dia sudah memutuskan untuk memilih Fiki sebagai pengganti Malik, namun dia tidak ingin itu terlihat jelas oleh siapapun termasuk teman baiknya ini.


“Halo, assalamu’alikum Salma.” Ucap Nanda dalam sambungan telpon.


“Wa’alaikumussalam.”


“Apa besok kamu sibuk?” Tanya Salma.


“Aku kerja malam, siang kosong kok. Ada apa?”


“Aku ingin mengajak bertemu hehe.”


“Baiklah, nanti aku kabari lagi ya sekarang aku masih di rumah sakit.”


“….”


‘’’’’


Malik menjelaskan cara mengisi lembar penilaian siswa pada Tari.


“Begitu bu.” Ucap Malik setelah menjelaskan beberapa saat.


“Oh begitu.” Tari nampak sedikit kikuk, sebenarnya sedari tadi dia tidak begitu fokus dengan apa yang dijelaskan Malik, dia hanya memperhatikan Malik bukan apa yang dia katakan.


“Iya.”


“Saya duluan bu.” Malik setelah merasa Tari sudah mengerti dengan yang dia jelaskan,

__ADS_1


“Terima kasih.”


“Sama-sama” Malik melangkah menuju ruang guru.


Tari mengikuti langkah Malik. Malik yang menyadari Tari ada di belakangnya segera memperlambat langkahnya, dia memilih untuk berjalan berdampingan sebagai bentuk bersikap pada rekan kerjanya. Malik berpikir Tari juga ingin ke ruang guru untuk mengambil sesuatu.


Sesampainya di ruang guru, Bu Lina menyapa Malik dan Tari.


“Eh bu Tari juga belum pulang?” Tanya bu Lina yang mengetahui kalau kelas yang di ajar Tari sudah cukup lama pulang.


“Iya bu.” Jawab Tari merasa malu pada Malik karena dia mengatakan semua guru sudah pulang.


“Aku kira ibu sudah pulang, tadi aku bertanya mengenai cara pengisian lembar penilaian siswa pada pak Malik.” Lanjutnya agar tidak nampak aneh di mata Malik.


“…..”


Sementara Malik sedang merapikan buku ajarnya dan memasukannya dalam tas bersiap untuk pulang.


‘’’’’


Hari ini, Salma akan bertemu Nanda. Setelah beberapa saat Salma menunggu, Nanda terlihat memasuki sebuah kafe tempat mereka bertemu dan menghampiri Salma.


Mereka menanyakan kabar satu sama lain, meski Salma dan Nanda masih sering berhubungan lewat telpon, namun karena sudah cukup lama tidak bertemu mereka merasa rindu untuk mengobrol secara langsung. Mereka saling bercerita mengenai banyak hal.


“Eh ka Fiki pindah ke tempat kerjaku?” Akhirnya Nanda menceritakan seseorang yang sedari tadi ditunggu Salma.


“Sungguh? Sejak kapan?”


“Iya kurang lebih sudah seminggu.”


“Oh.”


“Oiya Sal, aku merasa lega.” Ucap Nanda terlihat senang.


“Hmm” Salma melihat Nanda penasaran.


“Sepertinya ka Fiki sudah move on darimu.”

__ADS_1


Salma melihat Nanda.


__ADS_2