How Matcha Love You

How Matcha Love You
Kamu Tak Salah


__ADS_3

Sarah berbalik dan tersenyum pada Gani yang menatapnya. Dia berpikir Gani tak akan serius dengan yang baru saja dikatakannya.


“Kenapa tersenyum. Apa kamu senang?” Tanya Gani dengan tatapan sedih.


“Kamu jangan berlebihan…”


“Kamu pikir aku bercanda?” Gani memotong.


“Apa maksudmu?” Sarah mulai merasa takut kalau saja yang dikatakan Gani bukan sebuah candaan.


“Aku menyukaimu.”


“Apa?” Hatinya terasa tertusuk, pikirannya seketika terhenti tak tahu apa jawaban yang tepat untuk menanggapi pernyataan Gani ini. “Bagaimana ini?” Pikirnya belum menemukan jawaban.


“Aku menyarankan dua pilihan yang bisa kamu pilih karena sudah mengetahui perasaanku.” Ucap Gani.


“Yang pertama, mari tetap bersama seperti sekarang meski kamu tak akan tenang dan kedua mari akhiri kebersamaan kita.” Lanjut Gani menatap Sarah.


Sarah terdiam tak menjawab. Pikirannya sedang kalut, memikirkan bagaimana mungkin selama ini dia tak menyadari sikap baik Gani padanya yang mungkin itu karena sebuah perasaan. Dan sebenarnya Sarah juga merasa nyaman saat bersama Gani, jadi dia juga tak terima kalau mereka harus mengakhiri kebersamaan mereka selama ini.


“Sarah kalau kamu tak menjawab, maka aku yang akan membuat pilihan.”


“Maaf dan terima kasih, semoga kamu bisa meraih semua keinginanmu dan selalu bahagia.” Gani berbalik melangkah pergi.


“Gani.”


Mendengar Sarah memanggilnya, Gani menghentikan langkah kakinya.


“Aku tak pantas untuk bilang kalau aku mengerti perasaanmu karena aku bukan kamu.”


“Gani, menurutku kamu maupun aku itu tidak salah, perasaan itu bisa muncul dengan sendirinya, tidak selamanya itu kehendak kita. Karena kita tak salah, lantas mengapa kita tak tenang? Tak tenang itu bukannya seperti hukuman? Hukuman untuk orang-orang yang berbuat salah?” Lanjut Sarah.


“Perasaanku yang salah. Maaf aku harus melibatkanmu atas kesalahan perasaanku.”


“Bukan begitu maksudku, kita bisa tetap bersama bedanya mungkin kamu harus mengendalikan perasaanmu mulai sekarang karena kita tahu, kita tak akan berakhir bersama.”


“Kakak kita sudah membuat gambaran jelas apa yang akan terjadi jika kamu mengikuti perasaanmu itu.” Lanjut Sarah dengan menahan perasaan kalut yang menerpanya, dia berusaha terlihat tenang.


“Aku sudah memikirkan itu, namun perasaanku tetap sama seperti sekarang. Aku sudah dari lama menyukaimu.” Gani tak bersemangat.


“Baiklah, mari akhiri pertemanan kita. Kalau tidak bisa untukku setidaknya kau lakukan untuk kakakmu.”


Gani berbalik ingin meninggalkan Sarah.


“Oiya, kakakmu tadi bertanya kamu ingin kuliah di mana, aku jawab seperti yang pernah kamu katakan padaku. Kamu tak berpikir untuk kuliah.”


“Terima kasih.”


“Untuk apa?”


“Mengatakan itu pada kakakku.”


Gani berlalu pergi, sementara masih di tempatnya menatap kepergian Gani.


“Aduh.” Guman Sarah teringat garam di tangannya, Sarah berlari untuk pulang

__ADS_1


Di lain tempat, Bu Siti sedang memasak di dapur. “Malik.” Bu Siti memanggi anaknya.


“Iya bu.”


“Sarah belum pulang?”


“Iya belum bu.” Jawab Malik.


“Bagaimana ini, sayurnya keburu dingin.”


“…..”


‘’’’’


Salma dan Resya sedang menikmati makan siang mereka di kantin rumah sakit.


“Sepertinya apa yang kamu pikirkan tentang Nanda dan Fiki waktu itu benar adanya.” Ucap Salma di tengah makannya.


“Apa mereka pacaran?”


“Aku nggak tau pasti sih, tapi tadi saat aku menelpon Nanda yang ngangkat Fiki. Katanya Nanda masih di ruang operasi, bagaimana mungkin Nanda menitipkan ponselnya pada sembarang orang, ya kan?” Salma mengungkapkan rasa penasarannya pada Resya.


“Menurutku juga begitu.” Resya sembari mengangguk memberi penguatan atas tanggapannya.


Salma sekarang merasa sedikit kesal, jika memang benar Nanda memiliki hubungan dengan Fiki, mengapa Nanda tak memberitahunya?. Meski sudah jarang untuk bertemu secara langsung, namun mereka sering berbalas pesan dan menghubungi satu sama lain lewat sambungan telpon. Apa Nanda lupa? Atau ingin menjalin hubungan diam-diam tanpa memberitahunya?. “Tetap saja ini tidak benar.” Gumamnya.


“Ada apa? Apa kamu kesal temanmu itu bersama Fiki?” Tanya Resya.


“Bukan begitu.”


“Lalu?”


“Mungkin itu ranah privasinya.” Jawab Resya enteng.


“Hahaha.” Salma tak percaya Nanda yang merupakan sahabatnya selama ini mempunyai hal yang ingin dirahasiakan darinya.


“Salma.” Terdengar seseorang memanggil.


Mendengar ada yang memanggilnya, Salma segera menoleh.


“Tari.”


Ternyata Tari lah seseorang yang memanggilnya. Setelah bertemu beberapa saat yang lalu, mereka kembali dipertemukan di kantin rumah sakit. Sepertinya Tari juga ingin makan siang di sini.


“Apa kamu juga ingin makan siang?” Tanya Salma padanya.


“Iya.” Jawab Tari sembari tersenyum.


“Mari bergabung.”


Tari sebenarnya masih merasa penasaran tentang hubungan Malik dan Salma, mengingat tatapan Malik pada Salma yang nampak menyiratkan sesuatu yang tidak biasa. Meski awalnya Tari memilih tak ingin memikirkan itu, namun karena Malik seseorang yang istimewa di hatinya, tentu saja dia tak ingin ada sesuatu yang tidak dia ketahui tentang pujaan hatinya itu.


Mendengar Salma yang memintanya untuk makan bersama, Tari merasa senang dan berharap memiliki kesempatan untuk mengetahui Malik lebih jauh.


Tari pun segera memesan menu makan siang untuknya dan menghampiri Salma dan Resya.

__ADS_1


“Tari, perkenalkan ini Resya, dia dokter umum di sini dan Resya ini Tari dia teman SMA ku dulu neneknya sedang di rawat di sini” Ucap Salma saling mengenalkan kedua temannya ini.


Tari dan Resya pun saling berjabat tangan dan kembali mengenalkan diri masing-masing.


“Oh jadi itu nenekmu?” Ucap Resya pada Tari.


“Iya.” Tari mengangguk sembari tersenyum.


“Apa kalian sudah bertemu sebelumnya.”


Resya bertugas untuk merawat nenek Tari. Saat Tari menemani neneknya, Resya datang untuk memeriksa. Mereka sudah bertemu sebelumnya di ruangan tempat nenek Tari dirawat.


“Apa menurutmu nenekku baik-baik saja?” Tanya Tari.


“Iya, aku rasa begitu. Kamu tak perlu khawatir nenekmu akan baik-baik saja.” Jawab Resya.


“Syukurlah.”


“Alhamdulillah.” Salma juga ikut merasa lega.


Resya harus segera kembali karena dia masih memiliki pasien yang harus dia periksa. Setelah dia menyelesaikan makannya, Resya pergi untuk kembali bekerja.


“Baiklah, semangat.” Ucap Salma.


“Terima kasih.” Resya pergi.


Salma tetap menikmati makannya, meski masih di tempat kerja, namun jadwalnya kerjanya sekitar dua jam lagi. Dia memilih untuk bersantai di kantin, terlebih ada Tari yang menemaninya.


“Apa kamu tidak harus segera kembali bekerja?” Tanya Tari melihat Salma berleha-leha menyuap makanannya.


“Jadwalku sekitar dua jam lagi. Aku ingin tetap di sini.” Salma tersenyum pada Tari.


“Jadwal?” Tari merasa bingung karena selama ini yang dia ketahui dokter akan terus bekerja selama jam kerjanya untuk memeriksa ataupun mengobati pasien.


“Aku dokter bedah, jadwalku sedikit longgar dibandingkan Resya hehe.”


“Oh.” Tari mengerti.


Tari teringat rasa penasarannya yang ingin mengetahui hubungan Malik dan Salma. Mumpung berdua, Tari berpikir ini sebuah kesempatan untuk mengetahui banyak hal tentang Malik pada Salma.


“Oiya, apa hubunganmu dengan Malik?” Tanya Salma.


Sebenarnya Salma juga penasaran mengapa Malik datang bersama Tari.


Mendengar Salma terlebih dahulu membahas Malik, Tari sedikit terperanga “Mengapa dia duluan?” Pikirnya.


“Maksudku kalian kenal di mana?” Lanjut Salma menyadari pertanyaannya yang sebelumnya sangat tidak tepat. “Mengapa aku langsung menanyakan hubungannya.” Pikir Salma merasa malu.


“Kami mengajar di sekolah yang sama.”


“Oh,”


“Kalian sudah lama kenal?” Salma kembali bertanya.


“Sekitar setahun, dan kami cukup dekat.”

__ADS_1


Mendengar Tari mengatakan bahwa dia dekat dengan Malik tentu saja hati Salma tak terima, dia merasa telah dikhianati karena selama ini dia belum bisa melupakan, sedang Malik sudah memiliki orang lain.


“Dekat?”


__ADS_2