How Matcha Love You

How Matcha Love You
Bertepuk Sebelah Tangan


__ADS_3

Malik ingin segera menghentikan Salma dan mengatakan bahwa dia menjatuhkan sesuatu. Namun, Malik mengurungkan niatnya itu karena teringat keinginkannya yang tak mau lagi berhubungan dengan Salma. Malik mendekati bolpoin yang tergeletak di lantai dan mengambilnya. Dia melihat di sekeliling sedang Salma sudah hilang dari pandangannya.


“Maaf. Tadi saya melihat dokter Salma menjatuhkan ini, sekarang dia sudah jauh. Bisa saya minta tolong untuk mengembalikan ini padanya.” Ucap Malik pada perawat yang melewatinya sembari mengulurkan tangannya yang memegang bolpoin.


“Oh baiklah.”


Malik memilih meminta orang lain untuk mengembalikan bolpoin yang dijatuhkan Salma. Meski Malik menyadari bahwa dia merasa bahagia bisa melihat Salma seperti sekarang, namun dia tak ingin mengulangi hal yang sama seperti dulu. Dia hanya ingin melihat Salma tanpa diketahui siapapun.


Setelah meminta perawat itu, Malik kembali melanjutkan langkahnya untuk ke ruangan nenek Tari dirawat.


Malik sudah berada di depan ruangan. dia memilih untuk menghubungi Tari dan memintanya keluar. Namun Tari menolak dan malah kembali memintanya untuk langsung masuk ke ruang neneknya.


Malik merasa mulai jengkel dengan permintaan Tari. Dia takut neneknya akan salah paham atas kedatangannya. Meski begitu, Malik tak punya pilihan karena tadi dia sudah mencoba menolak, tapi Tari kembali meminta hal yang sama padanya. Malik menghembuskan napasnya dengan kasar lalu mengetuk pintu yang berada di depannya.


“Silakan masuk Malik.” Terdengar suara dari dalam ruangan tanpa membukakan pintu untuknya. Malik merasa dia benar-benar dipaksa untuk memasuki ruangan.


Meski hatinya tak senang, namun sebisa mungkin Malik menutupinya karena tak ingin nenek rekan kerjanya itu akan mengetahui perasaannya.


“Nenek ini Malik.” Ucap Tari memperkenalkan Malik pada neneknya.


“Wah dia tampan sekali.”


Mendengar itu, perasaan Malik menjadi semakin tak nyaman. Dia takut hal yang sudah dia pikirkan kalau nenek akan salah paham dengan posisinya akan mungkin benar adanya. Namun lagi-lagi mulutnya tak bisa mengatakan hal itu sekarang, Malik memilih diam dan tersenyum meski itu hanya paksaan.


“Tadi kebetulan ibu saya membuat bubur untuk paman saya yang rumahnya juga tak jauh dari sini. Saya menceritakan nenek sedang dirawat di rumah sakit, ibu meminta saya juga sekalian mengantarkannya ke sini.” Ucap Malik agar nenek tak salah paham.


“Dia memang begitu nek, tak mau menunjukkan kebaikannya.” Tari sepertinya memiliki maksud yang berlawanan dari Malik.


“Apa?” Malik membatin, sungguh tak suka dengan apa yang dikatakan Tari yang seolah sangat mengenalnya.


“Sungguh tidak begitu.” Malik berusaha tetap mengatakannya dengan ramah.


“Kalian sungguh membuatku iri.” Nenek merasa senang berpikir kalau cucunya benar-benar dekat dengan Malik.


Sementara Malik terus merasa tak nyaman dengan kondisinya sekarang.


“Saya pulang.” Malik ke sini hanya ingin mengantarkan bubur sesuai permintaan ibunya.

__ADS_1


“Kenapa sebentar sekali, kamu bisa duduk dulu. Tari tolong bawakan dia air.” Titah nenek.


“Tidak perlu nek, saya harus segera pulang.”


“Tapi..”


“Wassalamu’alaikum.” Malik menghentikan perkataan Tari sembari tersenyum lalu berbalik untuk keluar ruangan.


“Wa’alaikumussalam.”


Tari mengikuti Malik hingga keluar ruangan.


“Terima kasih atas buburnya.” Ucap Tari setelah mereka sudah sama-sama di luar ruangan.


Malik baru menyadari, Tari mengikutinya setelah mengatakan itu. Menurutnya, Tari sungguh melewati batas karena bersikap seolah sangat mengenalnya di depan nenek.


“Tari, bisa bicara sebentar.” Ucap Malik menghadap Tari yang mengikutinya.


Mendengar itu tentu saja Tari setuju dan merasa senang karena waktu bersama seseorang yang disukainya menjadi lebih lama. Tari mangangguk setuju dan tersenyum


Setelah dirasa sudah cukup jauh dari ruangan nenek Tari, Malik menghentikan langkahnya dan menghadap Tari.


“Apa maksudmu?” Seketika ekspresi Tari yang semula terlihat bahagia berubah seperti menjadi merasa takut atau khawatir.


Mendengar Tari yang seolah tak mengerti dengan apa yang dia katakan membuatnya semakin resah. Malik mencengkram pinggangnya dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya mengempal di depan mulutnya.


“Aku tak punya perasaan apapun padamu. Aku takut nenekmu berpikir kita dekat dan memiliki hubungan.” Malik membenarkan posisinya dan kembali menatap Tari.


Tari menatap Malik lekat-lekat seolah berkata “Apa? Lantas aku yang menyukaimu? Apa kamu sungguh tak memiliki perasaan sedikitpun untukku?” Hatinya merasa sesak namun tak bisa mengatakan apa-apa.


“Kita hanya rekan kerja tak lebih dari itu. Kita saling membantu karena kita rekan kerja, kita tahu itu, aku hanya tak ingin orang lain berpikir berbeda dan mungkin jauh dari kenyataannya.” Lanjut Malik tanpa melihat Tari.


“Haha, itu hanya pemikiran kamu. Orang tak akan berpikir begitu.” Tari mencoba memaksakan senyumnya.


“Syukurlah kalau itu hanya pemikiranku saja. Aku minta tolong kamu turuti permintaanku. Aku sungguh tak suka kau menolak permintaannku dan meminta apa yang tak kuinginkan.” Malik berpikir akan lebih baik mengatakan apa yang membuatnya kesal agar Tari tak mengulangi hal serupa.


“Benarkah?” Tari sedikit tercekat merasa hatinya kembali tertusuk, mendengar sesuatu yang dia suka lakukan selama ini ternyata adalah hal yang tak disukai Malik pujaan hatinya.

__ADS_1


Malik mengangguk.


“Ini demi kebaikan kita. Maaf jika ada hal yang kukatakan menyakiti hatimu.”


“Tidak. Tidak sama sekali.” Tari mengatakan hal yang berbalik dari apa yang sebenarnya dia rasakan.


Malik juga tersenyum lalu meninggalkan Tari. Sedang Tari menatap Malik yang semakin menjauh darinya dengan perasaan kecewa, dia menyadari cintanya bertepuk sebelah tangan.


Setelah beberapa saat terdiam manatap kosong Malik yang pergi meninggalkannya, Tari berbalik untuk kembali ke ruangan tempat neneknya dirawat.


“Apa dia sibuk jadi buru-buru?” Tanya nenek saat melihat Tari datang memasuki ruangan.


“Sepertinya.” Tari menjawab seadanya.


“Apa kalian bertengkar?”


Nenek sungguh berpikir cucunya memiliki hubungan dengan Malik. Nenek menelisik ekspresi Tari saat Malik ada bersama mereka tadi, dia terlihat berbeda, nampak bahagia.


Tari merasa terjambak mendengar pertanyaan neneknya ini. Dia menyadari memang benar apa yang dikatakan Malik bahwa sikapnya sungguh bisa membuat orang salah paham. Sekarang dia sendiri yang terjebak atas perangkap yang dibuatnya sendiri.


“Apa maksud nenek?”


“Dia sangat tampan dan sepertinya juga baik. Kamu tak mungkin tak menyukainya.” Nenek menggoda cucunya.


“Malik hanya rekan kerjaku. Lagian aku tak menyukainya.” Tari sedikit tercekat namun berusaha terlihat santai.


“Kenapa? Apa ada sikapnya yang buruk?”


“Bukan begitu, aku hanya tak menyukainya.”


“Seleramu yang nampaknya sangat tinggi hmm.”


“Hahaha akhirnya nenek paham.” Tari memaksa dirinya agar terlihat baik-baik saja meski sekarang hatinya sungguh merasa terluka terlebih mendengar neneknya juga menyukai Malik.


Setelah beberapa saat berbincang dengan neneknya, sekarang Tari sedang menatap neneknya yang terlelap. “Maafkan aku nek” Batinnya merasa bersalah karena sudah berbohong mengatakan dia tak menyukai Malik.


Tari melamun, menyadari semua yang dia lakukan selama ini untuk Malik itu semua sia-sia. “Apa aku sungguh tak menarik baginya.” Tari kembali membatin. Dia merasa patah hati, cinta yang selama ini diperjuangkan harus berakhir seperti ini.

__ADS_1


“Apa dia menyukai orang lain?” Pikir Tari teringat saat Malik menatap Salma. “Salma”.


__ADS_2