
Saat Salma menikmati makan siang di dalam ruangan guru, Tari masuk ke ruangan.
“Tari.”
“Salma.” Tari segera menghampiri Salma.
“Oh iya, aku baru ingat kalau kamu juga mengajar di sini.” Ucap Salma.
“Juga?. Oh apa kamu sudah bertemu Malik?”
Salma mengangguk. “Iya.”
“Oh.”
“Apa kalian saling mengenal?” Tanya salah satu guru yang juga berada tak jauh dari mereka.
Salma dan Tari sepakat untuk mengiyakan dan menceritakan sedikit mengenai awal perkenalan mereka yang bertemu di saat mereka duduk di bangku SMA.
“Mari makan.” Salma mengajak Tari untuk ikut makan siang bersama mereka.
“Tidak. Jujur saja ini belum jam makan siangku hehe.”
“Oh begitu hehe.”
Tari memilih untuk duduk di kursi kerjanya, sedang Salma dan Ristia duduk di kursi tamu yang juga berada di ruangan yang sama dengan kursi kerja para guru.
Selang beberapa saat, Tari beranjak keluar ruangan. Salma yang melihat itu, segera menghentikannya.
“Tari mau ke mana?”
“Aku mau ke toilet.”
Salma dan Ristia sepakat untuk segera pulang, mengingat kalau Salma harus segera kembali agar dia sempat untuk bekerja malam ini.
“Oh, sepertinya kami akan segera pulang. Sampai jumpa.” Ucap Salma sembari tersenyum.
Tari menghampiri Salma, begitu pun dengan Salma dia juga melangkahkan kakinya untuk menghampiri teman sekolahnya itu untuk berjabat tangan.
“Baiklah, kita akan bertemu lagi nanti.”
Salma mengangguk. Tari melepaskan cengkraman tangan Salma dan kembali melanjutkan langkahnya untuk ke toilet.
“Maaf, aku tak bisa melihatmu pulang.” Tari berlalu pergi.
“Tidak apa-apa. Ayo cepat haha.”
Beberapa langkah setelah keluar dari toilet, Tari melihat Malik berdiri di depan pintu kelas enam, terlihat sedang memperhatikan sesuatu. “Apa yang dia lihat.” Gumam Tari, lalu mencoba mengikuti arah pandang Malik. “Salma.” Batinnya. Ternyata Malik sedang memperhatikan Salma yang akan segera pergi dari kejauhan.
__ADS_1
Meski dulu Tari pernah memiliki perasaan terhadap Malik, namun saat dia mulai menyadari kalau perasaannya tak berbalas dia segera berusaha untuk menjaga jarak dengan rekan kerjanya ini. Awalnya memang tak mudah, dia pernah merasakan patah, kecewa dan kesal terlebih saat itu dia juga pernah berpikir kalau memang Salma yang merupakan temannya saat SMA inilah yang membuat Malik tak menerimannya. Namun sampai sekarang, sudah lebih dari dua tahun, Tari tak melihat apa pun yang terjadi pada teman dan rekan kerjanya ini. Kalau mengingat beberapa kali di saat Malik bertemu Salma, mereka terlihat berbeda, tapi kenyataannya sampai saat ini mereka tak terdengar dekat apalagi menjalin hubungan. “Apa mereka menyukai dalam diam? Apa mungkin bisa bertahan selama ini?” Pikirnya.
Setelah Salma hilang dari pandangannya, Malik baru menyadari Tari berdiri tak jauh darinya.
“Bu Tari.” Malik melihat Tari yang masih memandang ke arah gerbang sekolah.
Mendengar itu, Tari melihat Malik.
“Hai pak.” Balas Tari.
“Pak Malik belum pulang?” Lanjutnya.
“Iya.”
“Bukannya kelas enam sudah cukup lama pulang? Apa kamu di sini saja dari tadi?” Tari baru menyadari kalau sedari tadi saat dia berada di ruangan guru, dia tak melihat Malik berada di sana.
“Ada yang aku lakukan di sini.” Balas Malik.
“Oh begitu.”
Tari berjalan sedikit menghampiri Malik.
“Apa kamu menyukainya?” Ucap Tari. Meski dia tak mengharapkan apu pun lagi pada Malik, namun dia hanya ingin memastikan apakah mamang benar kalau Malik memiliki perasaan terhadap Salma seperti yang dia pikirkan.
“Hah?”
‘’’’’
Salma sedang melajukan motornya seorang diri. Walaupun pergi bersama Ristia, tapi mereka pergi mengendari sepeda motor masing-masing.
Tak lama setelah Salma meinggalkan sekolah, dia mendengar ponselnya berbunyi. Dia pun segera menepi untuk mengangkat telepon.
“Halo, assalamualaikum bu Mita.” Ucap Salma saat menerima telepon yang ternyata dari salah satu staf rumah sakit.
“Waalaikumusalam Salma, saya diberitahu oleh atasan kalau kamu hari ini diliburkan bekerja.”
“Saya menghubungimu sekarang karena takut kamu akan bergegas kembali untuk menyempatkan waktu.” Lanjut Mita.
“Kenapa diliburkan?” Salma merasa khawatir kalau alasan dia diliburkan karena telah melakukan kesalahan.
“Karena kamu sudah pergi keluar kota, kamu diberi bonus hari libur hehe.”
“Oh baik, terima kasih atas informasinya.” Salma merasa lega sekaligus senang.
“Sama-sama.”
Setelah mengucapkan salam, Mita menutup telepon.
__ADS_1
Karena masih berada tak jauh dari sekolah, Salma berpikir untuk tak segera pulang dan ingin berkunjung ke rumah pamannya terlebih dahulu. Selain untuk menemui paman beserta keluarganya, Salma juga ingin bertemu adiknya. Gani hanya pulang saat libur kuliah, terhitung dari dia bertemu terakhir kali, sudah sekitar tiga bulan lamanya dia tak melihat adiknya itu secara langsung.
Sebelum Salma berbalik arah menuju rumah pamannya, dia terlebih dahulu mengirimkan pesan pada Ristia untuk memberi tahu kalau dia tak langsung kembali ke rumah sakit.
Setelah menempuh perjalanan sekitar lima belas menit, Salma sampai di rumah pamannya. Dia disambut hangat oleh Sumi yang tak lain merupakan istri dari adik ibunya itu.
“Salma.” Sumi mengampiri dan memeluk Salma.
Salma juga membalas pelukan dari bibinya itu.
“Pamanmu masih bekerja. Mari masuk.” Sumi mempersilakan Salma untuk masuk ke rumah.
“Gani, apa dia juga tidak ada di rumah bi?”
Sumi mengangguk. “Dia bilang sedang ada kegiatan organisasi di kampus.”
“Oh.”
“Alika mana bi?” Tanya Salma karena dia tak melihat keberadaan anak kedua pamannya itu.
“Dia tertidur setelah pulang sekolah haha.”
“Oh iya, sekarang dia sudah sekolah haha.”
“Tidak terasa ya bi, dia sudah mulai besar.” Lanjut Salma.
‘’’’’
Malik memilih untuk tak menjawab pertanyaan Tari. “Apa aku masih menyukainya.” Pikirnya tak mengerti apa yang sekarang dia rasakan pada cinta pertamanya itu. Malik menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Melihat Malik tak kunjung menjawab pertanyaannya, Tari kembali mengatakan sesuatu.
“Malik, aku temannya dan juga rekan kerjamu. Aku pikir kalau salah satu di antara kalian memerlukan bantuanku, aku pasti akan membantu sebisaku.” Tari melihat Malik.
Lagi-lagi Malik diam tak menjawab, dia hanya tersenyum.
“Baiklah, kalau kamu tak ingin berkata jujur padaku.” Tari berguman sembari melihat sekitarnya, namun itu didengar oleh Malik.
“Terima kasih karena ingin membantuku. Mungkin nanti aku akan memerlukan bantuanmu.” Malik akhirnya bungkam setelah beberapa kali hanya menjawab pertayaan Tari dengan tatapan dan senyuman.
“Oh iya, tadi kamu ada bertemu dia kan?”
Malik mengangguk. “Iya.”
“Apa dia mengatakan sesuatu.”
Malik kembali mengingat saat tadi bertemu dengan Salma. tatapannya, senyumannya masih sama. Malik pun juga begitu, masih seperti dulu. Dia merasa bahagia, hatinya yang dingin terasa lebih hangat di saat melihat senyum yang tersungging di bibir Salma untuknya.
__ADS_1
“Dia sudah bahagia.”