
Salma menatap Pratama dengan ekspresi datar.
Perasaan bahagia yang awalnya dirasakan Salma seketika luntur mendegar Pratama mengatakan itu, dia merasa kecewa. Bukan kecewa pada pacarnya, Salma merasa kecewa pada dirinya sendiri yang mungkin sekarang terlihat oleh Pratama sebagai seseorang yang akan mau melakukan hal itu.
“Maaf.” Lanjut Pratama.
Salma merasa lega Pratama memahaminya.
‘’’’’
Hari ini Salma akan masuk bekerja pada shift malam. Sebelum bekerja, dia memilih untuk tetap di rumah.
Setelah selesai sarapan dan membereskan alat makan sekaligus mencucinya, Salma beranjak menuju ruang tamu untuk sekedar duduk di sofa sembari memainkan ponselnya.
“Sayang, kamu sudah selesai sarapan?” Terlihat isi pesan masuk dari Pratama yang tak lain merupakan pacarnya.
“Iya sudah.” Balas Salma singkat sembari tersenyum merasa bahagia karena pacarnya selalu menghubunginya yang mana menurutnya itu berarti Pratama sangat memperhatikannya.
“Begini ya rasanya pacaran.” Pikir Salma sembari menyandarkan kepalanya di sofa.
Salma mengakui bahwa dirinya saat ini merasa bahagia, dia bahkan sekarang sudah tak memikirkan Malik lagi seperti saat sebelum dia memutuskan untuk menerima Pratama sebagai pacarnya. Memikirkan hal ini, membuat Salma kembali mengingat Malik, hanya sekedar mengingatnya bukan masih berharap, Salma hanya merenungi betapa dulu dia sangat mengharapkan untuk hidup bersama cinta pertamanya itu.
Ponselnya tiba-tiba berdering, Salma melihat nama Resya tertulis di layar ponselnya itu.
“Halo, assalamualaikum Resya.” Ucap Salma setelah mengangkat telepon.
“Waalaikumussalam Salma. Apa kamu sedang sibuk?” Tanya Resya terdengar terburu-buru.
“Tidak juga. Kenapa Res?”
Hari ini Resya ditugaskan untuk memberikan vaksin kepada anak-anak di salah satu sekolah yang ada di luar kota. Namun karena ada suatu masalah, dia tidak bisa pergi bekerja hari ini terlebih ke luar kota. Resya berniat meminta bantuan Salma untuk menggantikannya menjalankan tugas itu, mengingat bahwa Salma siang ini sedang kosong dari jadwal bekerja.
“Ibuku tiba-tiba pingsan dan sekarang aku ingin segera membawanya ke puskesmas terdekat.”
Mendengar itu, Salma beranjak dan ingin segera ke rumah Resya.
“Apa kamu masih di rumah?”
“Iya, sebentar lagi aku berangkat.”
“Aku akan ke sana.”
__ADS_1
“Tidak perlu.”
“Sebenarnya hari ini aku ada tugas untuk memberikan vaksin kepada anak-anak di sekolah yang tempatnya cukup jauh di luar kota. Bisa kamu menolongku untuk menggantikan aku melaksanakan tugas itu?”
“Hah?”
“…..”
Meski Salma bukan dokter umum yang terbiasa untuk memberikan suntikan kepada pasien, namun karena dia juga seorang dokter, dia juga mendapatkan pengajaran untuk memberikan suntikan dan sebelumnya pun dia juga beberapa kali melakukan itu kepada pasiennya.
Salma segera bersiap untuk pergi.
“Bukannya kamu masuk kerja jam malam?” Tanya Ibu melihat Salma merapikan jilbabnya dari depan pintu kamar.
“Aku menggantikan Resya bu. Ibunya pingsan, jadi aku akan menggantikan tugasnya.” Balas Salma sembari memasukan jaket ke dalam tasnya.
“Apa kamu pergi jauh?” Tanya Ibu melihat putrinya akan membawa jaket tak seperti biasanya.
“Aku pergi ke kota paman. Di sana aku akan ke sekolah untuk memberikan vaksin.”
“Oh.” Ibu menepikan diri untuk memberikan jalan kepada putrinya.
Sebelum pergi ke tempat tujuan pemberian vaksin, Salma terlebih dahulu ke rumah sakit untuk mengambil beberapa perlengkapan yang harus dia bawa. Setelah mengambil perlengkapan tersebut sesuai arahan Resya, dia segera beranjak untuk keluar rumah sakit.
Sejenak langkahnya terhenti di salah satu lorong rumah sakit tempatnya bekerja. Salma teringat, di sini lah dia menatap Malik terakhir kali.
Salma juga berbalik dan melihat dirinya sendiri di pintu kaca. Dia mengingat saat mengetahui bahwa Malik diam-diam menatapnya dari pantulan bayangan di pintu kaca ini. “Aku harap kamu juga sudah bahagia.” Gumam Salma, lalu kembali melanjutkan langkahnya.
‘’’’’
Seperti biasa, sebelum Malik berangkat ke sekolah, dia menikmati kopinya saat menunggu nasi yang dibuatnya matang. Malik juga bermain ponsel, membuka sosial medianya. “Bukannya terakhir kali dia terlihat bersama lelaki.” Pikirnya mengingat dia pernah melihat Salma bersama seseorang di kantin rumah sakit dua tahun yang lalu. Namun hingga saat ini, tak terdengar kabar Salma akan menikah atau pun memperlihatkan dirinya bersama seorang lelaki di sosial medianya. “Mungkin dia bukan orang seperti itu.” Malik berpikir Salma tak mengumbar kisah asmaranya.
Sejak dua tahun yang lalu, Malik selalu berusaha untuk menjauh dari Salma. Di suatu ketika, saat dia di kampung, dia yang menyadari keberadaan Salma dari kejauhan segera menjauh agar Salma tak melihatnya. Malik tak ingin kejadian yang sama terulang ketika Salma menyadari Malik memperhatikannya. Malik berusaha untuk menjauh dan mengabaikan seseorang yang sungguh belum tergantikan di hatinya sampai saat ini.
‘’’’’
Setelah menempuh perjalanan yang panjang, akhirnya Salma dan salah satu rekannya sampai di sekolah yang mereka tuju. Salma tak sendiri, dia pergi bersama Ristia yang merupakan seorang perawat yang bekerja di rumah sakit yang sama dengannya.
Salma dan Ristia disambut baik oleh beberapa guru di sini. Karena salah satu guru yang mengajar di sana mengetahui kalau mereka berasal dari rumah sakit yang cukup jauh, mereka diminta untuk menyerap minuman yang mereka siapkan terlebih dahulu.
“Minum dulu. Bu dokter pasti lelah karena sudah menempuh perjalanan panjang.” Ucap guru yang membawakan minuman untuk Salma dan Ristia.
__ADS_1
“Terima kasih bu.” Balas Salma dan Ristia lalu menyerap minuman yang disiapkan.
Setelah beberapa saat di ruang guru sembari berbincang santai dengan beberapa guru yang ada di sini, Salma dan Ristia beranjak ke ruang kelas siswa untuk memberikan vaksin.
Vaksin diberikan untuk tiga kelas, yaitu kelas empat sampai kelas enam. Salma dan Ristia memilih untuk memberikan vaksin kepada kelas terendah terlebih dahulu. Mereka sedang berada di kelas empat.
Setelah beberapa saat, Salma dan Ristia selesai menyuntikan vaksin untuk seluruh siswa kelas empat. Meski pun terdapat beberapa anak yang awalnya tak mau disuntik, namun karena bantuan guru yang juga membujuk mereka, akhirnya mereka mau walaupun ada beberapa siswa yang tak bisa menahan tangisnya.
Salma dan Ristia berdiri dari duduknya, berniat untuk pergi ke kelas selanjutnya namun dihentikan oleh salah satu guru.
“Biar mereka saja yang ke sini bu.”
“Oh baik bu.”
Siswa kelas lima dan enam pun masuk bergantian untuk mendapatkan suntikan vaksin.
Di tengah-tengah saat menyuntikan vaksin kepada siswa kelas enam, Salma merasa ingin buang air kecil. Meski bisa ditahan, namun dia memilih untuk tak menahannya karena mungkin itu akan membuatnya kurang fokus saat menyuntik siswa.
“Ristia, aku tinggal dulu ya, mau ke toilet.” Ucap Salma menghampiri Ristia yang sedang sibuk memberikan suntikan vaksin untuk para siswa.
Ristia mengangguk.
Karena Salma tidak tahu letak toilet sekolah ini, dia menghampiri salah satu guru yang berada di kelas untuk menayakan itu.
“Yang terdekat ada di ujung bu, Ibu dari sini lurus. Toilet ada di samping kelas enam bu.”
Salma pun berjalan keluar kelas mengikuti arahan guru kelas empat.
Beberapa menit sebelumnya.
“Permisi pak, siswa kelas enam mau diberikan vaksin sekarang harap segera ke kelas empat.” Ucap salah satu guru dari depan pintu.
“Baik, terima kasih bu.”
“Silahkan anak-anak kalian keluar untuk menerima vaksin.” Malik memberikan instruksi kepada siswa yang diajarnya.
Setelah semua siswanya keluar kelas, Malik duduk di kursi yang ada di depan kelasnya. Karena di sekitarnya terlihat sunyi, Malik memilih menunggu sembari memainkan ponsel.
Selang beberapa saat berada di luar, Malik mendengar derap langkah yang tak jauh darinya. Mendengar itu, dia pun mengalihkan pandangannya dan mendapati seseorang yang sangat tidak asing baginya yang juga menatapnya.
“Salma.”
__ADS_1