How Matcha Love You

How Matcha Love You
Masih Di Sini


__ADS_3

“Hah?” Tari merasa yakin Malik mengatakan sesuatu, namun tak bisa dia dengar dengan jelas.


Malik hanya bergumam, dia sengaja mengatakan sesuatu yang tak ingin didengar oleh lawan bicaranya.


“Aku hanya menanyakan kabarnya.” Balas Malik.


“Oh.” Tari sembari mengangguk tanda mengerti.


‘’’’’


Salma dan Sumi terus berbincang mengenai kabar masing-masing dan juga keluarga yang dekat dengan mereka. Mereka memilih untuk berbincang di dapur karena di ruang keluarga sedang tertidur putri kecil pamannya dengan pulas. Mereka memilih menjauh agar tak membangunkan Alika.


“Assalamualaikum.” Ucap Gani dari depan sembari mengetuk-ngetuk pintu.


Selang sejenak, tak terdengar jawaban dari dalam rumah, Gani kembali mengucapkan salam dan kali ini dia mengucapkannya dengan lebih lantang.


“Apa itu Gani?” Ucap Salma setelah mendengar samar suara adiknya.


Rumah pamannya cukup besar, meski seseorang di depan memanggil dengan cukup lantang, jika didengar dari dapur itu akan terdengar samar. Itu juga yang menjadi alasan Gani mengucapkan salam harus dengan suara yang nyaring, agar jika orang yang di rumah tidak berada di ruangan depan bisa setidaknya sedikit mendengarnya.


Salma beranjak untuk membukakan pintu.


Saat berjalan di ruang keluarga, Salma melihat sepupu kecilnya sedang duduk sembari mengusap-ngusap mata dengan tangannya.


“Alika kamu sudah bangun?” Salma menghampiri Alika.


“Assalamualaikum.” Lagi-lagi Gani mengucapkan salam dengan lantang.


“Ini pasti kak Gani yang membangunkan kamu kan? Dasar.” Salma merasa sedikit geram karena adiknya terlalu berisik hingga membangunkan sepupunya yang tertidur pulas.


“Waalaikumussalam.” Salma mempercepat langkahnya untuk membukakan pintu.


“Kenapa kamu sangat berisik?” Ucap Salma saat membuka pintu dan melihat Gani berdiri di depannya.


“Agar kalian bisa mendengar suaraku.” Jawab Gani enteng.


“Tapi kamu membangunkan Alika.” Salma melihat adiknya dengan tatapan kesal.


“Sungguh? Maaf, tapi kalau aku pelan sedari tadi sampai sekarang tidak ada yang membukakan aku pintu.”


“Apa tidak ada bel?” Salma sembari melihat-lihat di sekitar pintu rumah pamannya ini.


Gani menggeleng.


“Kakak sejak kapan di sini? Kenapa..?” Tanya Gani di tengah-tengah kakaknya masih melihat-lihat dinding rumah pamannya seakan tidak begitu mempercayai perkataan adiknya yang mengatakan kalau rumah pamannya tidak punya bel.


“Tadi kakak ada tugas memberikan vaksin ke siswa SD.”


“SD di mana?” Gani merasa penasaran meski dia bukan tipe yang begitu peduli dengan kakaknya.


“Di..” Salma mencoba mengingat.

__ADS_1


“SDN Aggrek 5.”


“Di sana?” Gani menunjuk salah satu arah.


Salma mengangguk. “Sepertinya iya.”


“Kenapa?” Lanjutnya.


Gani merasa yakin kalau Malik juga mengajar di SDN Anggrek 5. Dia sejenak melihat ekspresi kakaknya, namun dia tak menemukan apa pun yang berbeda.


“Apa tidak ada apa-apa di sana?” Tanya Gani.


“Maksudmu?”


“Kak Salma.” Alika datang menghampiri lalu memeluk Salma.


“Hai.” Salma menjongkok lalu balas memeluk sepupu kecilnya itu.


‘’’’’


Malik kembali ke ruangan guru, dia segera menuju kursi kerjanya untuk memasukan beberapa buku ke tasnya yang akan dibawa pulang.


“Assalamualaikum.” Bu Linda masuk ke ruangan. Beberapa guru yang ada di sana menjawab salam.


Bu Linda mendudukan dirinya di kursi tamu.


“Bukankah hari ini ada dokter dari luar kota yang ingin memberikan vaksin untuk anak-anak?” Tanya Bu Linda.


“Iya bu, dokternya sudah pulang.”


Bu Linda merupakan salah satu guru dan juga wakil kepala sekolah. Beliau biasa memperhatikan para tamu yang datang ke sekolah termasuk dokter yang memberikan fasilitas kesehatan kepada siswanya.


“Tidak bu, mereka makan siang di sini tadi.” Jawab staf tata usaha.


“Oh begitu.”


“Aduh.” Bu Linda melihat ada bolpoin yang didudukinya.


‘’’’’


Salma berserta adik dan sepupunya duduk di ruang keluarga sembari menonton tv, sedang Sumi berada di dapur. Alika tak lepas dari Salma hingga sekarang dia terus berada di pangkuan kakak sepupunya.


“Kita jajan yuk?” Ajak Salma pada Alika.


“Ayok.” Balas Alika dengan semangat sembari melihat Salma.


“Kakak tidak terlalu ingat jajan apa saja yang ada di sekitar sini.”


Meski Salma dulu pernah bersekolah di sini, namun sekarang semua banyak yang berubah. Dia merasa tak begitu yakin jajanan favoritnya dulu masih ada di jual di sekitar sini.


“Hmm” Alika terlihat sedang berpikir.

__ADS_1


“Aku mau donat.” Lanjtnya setelah beberapa saat.


“Donat?”


Alika mengangguk. ”Aku mau donat cokelat.”


“Di mana orang jual donat?” Salma melihat Gani.


“Alika suka donat di dekat SD itu kak, sering banget beli di situ.” Jawab Sumi yang datang menghampiri mereka.


“SD?”


‘’’’’


Setelah Malik membereskan beberapa bukunya, dia beranjak untuk pulang. Malik berdiri lalu melangkah ingin keluar ruangan.


Sebelum itu, Malik melewati meja tamu dan tak sengaja pandangannya tertuju pada bolpoin yang tergeletak di atas meja.


“Bolpoin siapa bu?” Tanya Malik pada Bu Linda yang sedang memainkan ponselnya.


“Oh itu, tadi saya menemukannya di sini.” Bu Linda menunjuk sofa yang dia duduki.


“Sepertinya bolpoin salah satu dokter tadi. Sebelumnya saya tidak pernah melihat bolpoin itu.” Sambung staf tata usaha yang duduk tak jauh dari mereka.


“Tadi siapa yang duduk di sini?” Tanya Malik.


“Dokter yang berjilbab.”


Malik merasa yakin, bolpoin ini milik Salma karena sama persis dengan bolpoin yang dia ambil di lantai rumah sakit dua tahun yang lalu.


“Aku sekampung dengan Salma. Apa aku boleh mengambilnya?”


“Iya, silahkan. Meski ini benda kecil, tapi kalau kita bisa mengembalikannya kenapa tidak?” Balas Bu Linda.


“Baik.” Malik segera mengambil bolpoin itu dan memasukannya ke dalam tas.


‘’’’’


Salma sedang mengendarai motor bersama Alika. Mereka ingin membeli donat yang diinginkan Alika.


Sesampainya di toko donat, Alika sangat antusias memilih donat yang dia inginkan. Bukan hanya memilih rasa cokelat, namun dia juga memilih donat dengan rasa lainnya.


“Bukannya kamu suka cokelat?” Tanya Salma saat melihat Alika memilih donat rasa keju.


“Rasa keju aku juga suka.”


“Apa? Hahaha.”


Setelah membayar, Salma dan Alika keluar toko.


Seketika langkah Salma terhenti saat melihat seseorang yang sangat tidak asing baginya berlalu di depannya.

__ADS_1


“Malik.”


Malik berjalan pulang.


__ADS_2