
Salma dan Malik terus menjalani rutinitasnya, Salma yang bekerja sebagai dokter di rumah sakit dan Malik yang mengajar di sekolah dasar di luar kota. Malik sebisa mungkin pulang setiap akhir pekan. Dia akan menyempatkan waktunya untuk bertemu Salma. Mereka selalu bertemu di akhir pekan. Salma dan Malik merasa bahagia, mereka melupakan sakit yang mungkin menanti karena mereka seolah melawan takdir yang tidak mendukung mereka terus bersama.
Sepulang mengajar di hari sabtu, Malik bergegas untuk segera pulang ke kampung halamannya. Dia merasa sangat bersemangat hingga tak merasakan lelah karena langsung mengendarai motor setelah bekerja.
“Kamu pulang minggu ini?” Tulis Salma di layar ponselnya, dia akan mengirim pesan itu untuk Malik.
Di tengah Malik yang sibuk bersiap untuk pulang kampung, dia meraih ponselnya yang baru berdering yang menandakan ada pesan masuk. Senyumnya seketika terukir saat melihat pesan itu dari Salma. “Iya, aku akan pulang.” Balas Malik.
Setelah kurang lebih tiga jam menempuh perjalanan, Malik tiba di rumahnya.
“Assalamu’alaikum” Ucapnya di depan pintu.
“Wa’alaikumussalam.” Balas Bu Siti. Saat dia menyadari Malik yang datang padanya dia tak menyangka, akhir-akhir ini Malik jadi lebih sering pulang.
“Ibu, aku akan pulang setiap minggu.” Ucap Malik dengan semangat sembari tersenyum pada ibunya.
“Ada apa?” Ibu senang, namun dalam hatinya dia merasa sedikit kekhawatiran.
Sejenak Malik berpikir untuk mengatakan yang sebenarnya bahwa dia kembali bersama Salma, namun dia kembali memutuskan, dirinya belum siap untuk itu. dia memilih bersabar dan mengatakan alasan lain.
“Aku hanya merasa bosan hari libur sendirian. Biarkan aku ingin lebih sering melihat ibu dan Sarah.” Malik tersenyum pada ibunya, meski sebenarnya bukan itu tujuan utamanya.
“Oiya, Sarah mana bu?”Dia pergi.
‘’’’
Salma melihat jam di pergelangan tangannya, tak seperti biasanya Malik datang terlambat saat menemuinya. Tak begitu lama, Salma sudah sekitar 15 menit menunggu Malik dari janji di awal.
“Sini.” Salma melambaikan tangannya ketika melihat Malik datang dari kejauhan.
Malik segera menghampiri Salma.
“Maaf aku terlambat bukan?.” Malik merasa bersalah saat melihat jam di pergelangan tangannya.
__ADS_1
“Tak masalah.” Balas Salma tersenyum.
“Tapi ada apa? Tak biasanya kamu terlambat.” Tanya Salma penasaran.
“Tadi ..”
Sebelum pergi untuk menemui Salma, Malik sedang membantu ibunya membuat meja untuk meletakkan bahan dapur. Itu dia lakukan begitu saja saat Bu Siti memintanya. Saat itu Malik sadar, kalau dia melakukan itu dia akan datang terlambat untuk bertemu Salma, tapi karena dia belum mengatakan semuanya pada ibunya tentang hubungannya dengan Salma, menurutnya akan rumit kalau dia mengatakan dirinya ingin pergi. Pasti setelah itu Bu Siti akan bertanya anaknya pergi untuk apa dan menemui siapa.
“Maaf Salma, aku belum memberitahu ibu.” Ucap Malik setelah dia menceritakan alasannya datang terlambat.
Salma mengehembuskan nafasnya perlahan, dia juga tak berbeda dari Malik. Meski sempat memberitahu ibunya dia pergi bersama Malik ke acara lamaran Nanda beberapa waktu yang lalu, namun setelah itu kisahnya dan Malik seakan terkubur. Tak sekali pun ibunya pernah mengatakan tentang Malik. Dan Salma juga belum siap untuk kembali mengatakan tenatang hubungannya dengan Malik kembali pada kedua orang tuanya.
“Perlahan. Kita tak perlu buru-buru.” Salma melihat Malik yang tak jauh dari hadapannya.
Malik merasa hatinya tenang, dia tersenyum untuk cinta pertamanya yang sekarang sudah tak sekedar bayangan lagi. Salma sekarang sungguh nyata, mereka berjuang sama-sama untuk memperjuangkan perasaan mereka.
“Rasa apa ini?” Tanya Malik sembari memegang gelas yaang ada di hadapannya.
“Oiya, aku memesan rasa baru. Coba tebak.” Pinta Salma.
Salma menggeleng.
Tak seperti biasanya, pada pertemuan sebelumnya, Salma terus memesan minuman rasa cokelat karena dia menyukai cokelat. Dengan senang hati, Malik terus mengikuti Salma hingga dia juga ikut menyukai cokelat. Bukan rasa minumannya, mungkin Malik menjadi lebih menyukainya karena bersama dengan seseorang yang dia sukai.
“Yakin ini enak?” Malik kembali menyakinkan, dia tak begitu percaya Salma tak memilih rasa minuman yang sebelumnya selalu dipilih.
Salma mengangguk.
“Kamu bisa mencobanya.”
Malik mencoba menyeruput minuman di tangannya.
“Menurutmu ini lebih enak dari cokelat?” Ucap Malik setelah menyerap minuman itu.
__ADS_1
Kali ini Salma menggeleng.
“Cokelat masih nomor satu.” Balas Salma dengan yakin.
Malik segera melepaskan gelas dari genggamannya. Malik menyandarkan bahunya dan melipat kedua tangan di dadanya.
“Ada apa?” Salma melihat Malik tiba-tiba berubah, wajahnya tak seceria beberapa detik yang lalu.
“Mungkin kamu lebih suka cokelat daripada aku ya?” Malik menunjukkan wajah tak senang.
“Haha, tentu saja.”
“Apa?” Malik menyipitkan matanya.
“Haha, kamu bahkan takut dengan cokelat sekarang, takut kalah saing? Haha” Salma merasa senang Malik bahkan marah hanya karena dia lebih menyukai cokelat.
Malik tersenyum.” Apa kamu senang?”
Salma mengangguk.
Di lain tempat, Bu Siti tidak mendapati putranya di kamar dan di depan rumah. “Kemana dia?” Guman Bu Siti saat menyadari motor Malik juga tak ada di halaman rumah.
Malik sengaja pergi tanpa pamit, dia tak mau berbohong dan belum siap mengatakan sejujurnya kalau dia kembali bersama Salma pada ibunya. Dia yakin, kalau dia izin pada ibunya untuk pergi, dia pasti ditanyai alasan. Malik tak menginginkan itu.
Bu Siti baru menyadari, Malik selalu pergi di hari minggu. “Pergi kemana anakku.” Pikirnya. Tiba-tiba hatinya merasa tak enak, dia takut sesuatu yang tak dia inginkan terjadi. Bu Siti menghembuskan nafasnya khawatir, dia takut Malik memilih jalan yang akan melukainya pada akhirnya.
Sementara di rumah Salma, Bapak membuka pintu kamar Salma, namun seperti di hari minggu biasanya yang sering anak gadisnys selalu ada di rumah akhir-akhir ini Salma selalu pergi.
“Salma pergi?” Tanya Bapak pada Bu Fatma.
Bu Fatma mengangguk.” Iya.”
“Pergi kemana dia, bukankah akhir-akhir ini dia selalu pergi di hari minggu?” Bapak memastikan kalau ingatannya benar.
__ADS_1
“Iya ya.” Bu Fatma baru menyadari putrinya selalu pergi di hari minggu padahal dia libur bekerja.
“Apa dia punya pacar?” Bu Fatma melihat suaminya.