How Matcha Love You

How Matcha Love You
Orang Baik untuk Orang yang Baik Pula


__ADS_3

Malik bersama ibu dan adiknya sedang makan malam bersama. Malik merasa bahagia karena bisa makan bersama dengan orang yang disayanginya dan sekaligus dia juga merasa gugup karena dia berniat akan meminta restu pada ibunya kembali untuk melamar Salma setelah makan malam.


Setelah semua telah menyelesaikan makannya, Malik dan Sarah bergegas untuk membereskan peralatan makan. Seperti biasa, Sarah bertugas mencuci piring sedang Malik mengangkat piring-piring kotor dan mengelap sisa makanan yang tersisa di meja makan sederhana mereka.


Malik sudah selesai melakukan pekerjaannya, dia segera menyusul ibunya yang sedang duduk di dalam kamar sembari melipat beberapa pakaian.


Perlahan Malik melangkahkan kakinya, meski dia berpikir ibunya tidak akan memberi keputusan yang sulit baginya seperti dua tahun yang lalu, namun tetap saja Malik merasa hatinya terus berdetak kencang.


Malik segera duduk di hadapan ibunya. Sesekali dia mengambil pakaian dan membantu ibunya. Dia sedikit mengulur waktu untuk lebih mempersiapkan diri.


Bu Siti tersenyum melihat putranya yang sedikit pun tak mau melihatnya bersusah payah. Melihat anaknya yang sigap melipat pakaiannya, dia sangat bersyukur memiliki seorang putra yang sangat memperhatikannya.


Semua pakaian yang awalnya menumpuk di depan Bu Siti, sekarang sudah tersusun rapi dengan cepat berkat bantuan putranya. Setelah selesai melipat pakaian, Malik kembali beranjak untuk menyusun pakaian itu dalam lemari ibunya. Bu Siti yang melihat itu, tak henti-hentinya tersenyum, dia merasa sangat beruntung.


Setelah selesai, Malik kembali duduk di hadapan ibunya. Perlahan Malik menarik nafasnya, lalu menghembuskannya. Malik mencoba kembali dan memberanikan diri.


“Bu.” Ucap Malik.


Bu Siti yang melihat anaknya nampak serius, tiba-tiba dia merasa sedikit khawatir terlebih mengingat ekspresi putranya saat ini sama dengan yang pernah dia lihat saat anaknya meminta restu untuk melamar Salma. Meski itu sudah cukup lama berlalu, namun karena waktu itu adalah kali pertama dan satu-satunya Malik meminta izin untuk melamar seorang perempuan, wajar saja Bu Siti terus mengingat hampir semua detail apa yang dilakukan dan diucapkan putranya saat itu.

__ADS_1


Bu Siti hanya melihat putranya, tanpa menjawab sepatah kata pun.


“Aku ingin kembali melamar Salma.” Ucap Malik dengan yakin sembari melihat wajah ibunya.


‘’’’’


Di dalam kamar, Salma tak henti-hentinya tersenyum. Dia merasa sangat bahagia setelah mendengar orang tuanya sudah tidak menentang hubungannya bersama Malik.


“Tak sia-sia Malik kita mempertahankannya selama ini.” Salma membatin. Ingin rasanya dia segera menghubungi Malik dan mengatakan kabar bahagia ini, namun dia teringat Malik yang sedang memperjuangkan jalan terbaik. Salma tak ingin mengganggu Malik yang ingin menjemputnya dengan cara terbaik. Seperti yang Malik katakan sebelumnya, dia tak ingin melakukan hal yang tidak diperkenankan agama. Mengingat itu, Salma mengurungkan niatnya untuk menghubungi Malik.


Salma membaringkan dirinya di atas tempat tidur “nyaman sekali.” Gumamnya sembari menggenggam ponselnya. Dia berpikir, dia dan Malik hanya perlu sedikit bersabar untuk akhir bahagia mereka. Salma terus menyakinkan dirinya untuk mempercayai takdir indah yang mungkin sedang menanti mereka. Meski pikiran jahatnya terus mencoba mengusik dan memintanya untuk terus menghubungi dan menemui Malik. Salma harus tetap menahan diri demi hal indah yang sedang menanti di ujung jalan penantian indah dirinya dan cinta pertamanya itu.


Salma bangun untuk meletakkan ponsel di atas meja belajarnya dan kembali membaringkan diri, berharap kantuknya bisa segera menjemputnya untuk membawanya ke dalam mimpi indah nan tenang. “Oiya.” Salma teringat bahwa dirinya belum berdoa. Salma membaca doa sebelum tidur dan juga berdoa agar dia bisa membahagiakan orang tuanya serta bisa hidup bahagia bersama orang yang dicintainya, lalu kembali memejamkan mata.


‘’’’’


Malik yang melihat ibunya nampak khawatir, kembali mencoba menyakinkan ibunya.


“Bu aku tidak bisa melupakan Salma dan Salma juga begitu. Dia juga masih menyukaiku.” Ucap Malik dengan perasaan sedikit khawatir.

__ADS_1


Melihat putranya yang kembali mengiba dengan permintaan yang sama membuat rasa khawatir Bu Siti berlipat ganda. Meski dulu dia merasa sangat bahagia mendengar putranya ingin melamar Salma yang merupakan seorang gadis yang juga dia sukai, namun kali ini berbeda. Walau Malik ingin melamar seseorang yang sama, tapi keputusan Bu Siti sudah berubah. Dia tak lagi menginginkan Salma untuk menjadi menantunya. Dirinya sudah sangat kecewa mengingat betapa menderitanya Malik karena penolakan yang orang tua Salma lakukan. Bu Siti mengalihkan pandangannya, dia tak lagi melihat putranya.


Perasaan penuh harap yang sebelumnya Malik rasakan seketika pudar saat melihat raut wajah ibunya yang terlihat tidak mendukung keputusannya. Malik memejamkan matanya, dia mengalihkan pikirannya yang terus memikirkan hal yang menakutkan baginya. Dia berpikir kali ini ibunya telah berbeda yang mungkin akan memberikan jawaban yang berbanding terbalik seperti saat dia meminta hal yang sama dua tahun lalu, namun dengan penuh keyakinan Malik tetap ingin terus berharap karena dia belum mengetahui pasti alasan ibunya seperti ini.


“Apa ibu memberi izin?” Meski dirinya merasa khawatir Malik tetap memberanikan diri untuk memastikan izin orang tuanya.


“Nak.” Ibu kembali melihat Malik setelah menghembuskan nafasnya perlahan. Bu Siti mencoba mengatakannya setenang mungkin, meski hatinya benar-benar merasa tercabik melihat putranya yang tak juga melepaskan seseorang yang telah melukai harga dirinya.


“Iya bu.” Jawab Malik dengan penuh pengharapan.


Tak sanggup rasanya Bu Siti untuk mengungkapkan sesuatu yang akan mengecewakan putranya. Namun, semua ini dia katakan tidak bukan demi kebaikan putranya. Dia tak ingin putranya kembali ditolak, dia tak ingin melihat putranya kembali merasa terluka. Bu Siti ingin Malik tak mengharapkan Salma lagi.


“Begini nak.” Ucap Bu Siti dengan berat hati.


“Salma itu orang yang berada, orang tuanya merupakan orang yang terpandang, punya segalanya, Salma juga dia cantik, seorang dokter, mungkin juga banyak lelaki yang lebih mapan menyukainya. Maafkan ibu, tapi tidakkah kamu berpikir kalian itu sangat berbeda?” Lanjut Bu Siti, dia menyakinkan diri untuk terus mengucapkannya.


Seketika harapan yang dibangun Malik, bergetar dengan hebatnya. Harapan itu terasa sebentar lagi akan roboh. Hatinya terasa sakit mendengar apa yang diucapkan ibunya. Tak pernah terpikir sebelumnya, kalau kali ini Malik akan menerima kenyataan yang lebih sulit. Dia tak mendapatkan restu ibunya sebelum datang untuk meminta restu pada orang tua Salma.


Malik menutup mulut dengan tangannya, hatinya terasa telah tertimpa sesuatu yang membuatnya merintih kesakitan. Pikirannya tiba-tiba terasa hampa, dia tak mampu memikirkan apapun untuk diucapkan pada ibunya.

__ADS_1


“Bu” Ucap Malik seakan memohon agar permintaannya dikabulkan.


“Nak, carilah perempuan lain. Kamu lelaki baik, ibu yakin kamu akan mudah menemukan seorang perempuan yang baik pula.” Ucap Bu Siti lagi. Dia sungguh merasa hatinya teriris melihat putranya yang nampak belum menerima keputusannya.


__ADS_2