How Matcha Love You

How Matcha Love You
Berpegangan Tangan


__ADS_3

Salma menghembuskan nafasnya, dirinya sangat ingin mengirim pesan pada Malik untuk bertanya apakah dia pulang kampung dan akan menemui Salma besok seperti yang biasa dia lakukan dari beberapa minggu terakhir. Tapi Salma memilih mengurungkan niatnya mengingat perkataan Malik seminggu yang lalu, dia ingin menjemput Salma dengan cara terbaik tanpa melanggar sesuatu yang tidak diperkenankan agama, bertemu dan berduaan dengan seorang yang bukan mahram itu bukan lah hal baik terlebih itu dilakukan setiap minggu secara berkala, Salma membenarkan Malik, dia juga merasa apa yang dia lakukan dan Malik itu bukanlah tindakan yang paling tepat. Salma meletakkan ponselnya, dia menyakinkan hatinya untuk lebih bersabar menunggu hingga Malik datang ke rumahnya.


Salma memandang seisi kamarnya, dia sejenak merasa bahagia memikirkan kalau dia sebentar lagi akan meninggalkan kamar ini jika segera menikah. Salma tersenyum memikirkan hal itu.


Ponsel Salma berbunyi. Dia kembali meraih ponselnya.


“Halo, assalamu’alaikum Nan.” Ucap Salma setelah menerima telepon.


“Wa’alaikumussalam. Kamu sudah pulang dari rumah sakit?” Tanya Nanda.


“Iya, kenapa?” Balas Salma.


“Ada yang ingin aku ceritakan padamu. Bisa kita bertemu?”


“Ada apa? Apa tidak bisa diceritakan lewat telepon?” Tanya Salma kembali. Meski jarang bertemu karena kesibukan masing-masing, namun Salma dan Nanda masih sering berkomunikasi lewat sambungan telepon. Tapi kenapa Nanda memintanya bertemu untuk menceritakan sesuatu hari ini? Salma merasa khawatir, dia pun berpikir akan mengiyakan permintaan Nanda karena merasa sedikit khawatir kalau saja ada sesuatu yang ingin dikatakan temannya itu, sesuatu yang tidak biasa sehingga tidak bisa disampaikan melalui telepon.


Nanda menghembuskan nafasnya perlahan. “Aku juga merindukan mu, aku sebentar lagi akan menikah apakah kamu tak ingin menghabiskan waktu bersamaku sebelum aku melepas masa lajang?”


“Ah syukurlah.” Salma merasa lega karena alasan temannya itu hanya ingin menemuinya.


Mendengar Salma mengatakan hal itu, Nanda penasaran dengan apa yang baru dipikirkan oleh temannya itu.


“Ada apa?”


“Aku kira terjadi sesuatu, baiklah aku akan bersiap.”


“Oke akan ku kirim alamatnya.”


‘’’’


Dua hari yang lalu, Malik mencoba menghubungi Nanda. Mereka berteman dan memiliki nomor satu sama lain setelah acara lamaran Nanda beberapa minggu yang lalu. Ini kali pertama Malik menghubungi Nanda. Bukan tanpa alasan dia melakukan ini, Malik akan meminta bantuan Nanda untuk melancarkan rencananya bersama Tari.


Di lain tempat, Nanda telah menikmati makan siang bersama tunangannya. Di tengah menikmati makannya, ponsel Nanda berdering, dia pun mengambil ponsel dari jas dokternya. Nanda membelalakkan mata saat mengetahui kalau Malik yang meneleponnya.


“Siapa?” Tanya Fiki melihat ekspresi Nanda setelah melihat layar ponselnya.


“Malik.” Nanda melihat Fiki.


“Coba angkat.” Ucap Fiki.


Nanda menuruti apa yang Fiki katakan.


Sementara Malik meletakkan ponsel di telinganya, dia masih menunggu panggilannya diterima.


“Halo, Malik?” Terdengar seseorang yang menerima telepon.

__ADS_1


“Iya.” Balas Malik, meski merasa sedikit ragu karena mungkin Nanda akan sangat terkejut mendengar permintaannya, namun hanya ini yang bisa dia lakukan agar Salma bisa melihatnya seolah benar-benar telah berselingkuh dengan perempuan lain.


“Ada apa Malik?”


“Apa kamu bersama Salma?” Tanya Malik memastikan.


“Tidak, kenapa? Apa kamu tidak bisa menghubunginya?”


“Tidak bukan begitu. Aku ingin minta bantuanmu.”


Nanda mengernyitkan alisnya.


“Ada apa?” Tanya Fiki berbisik melihat Nanda yang nampak terkejut.


“Bantu? Apa yang bisa aku lakukan?”


Malik pun mengatakan kalau dirinya ingin meminta bantuan Nanda untuk mengajak Salma keluar di malam minggu. Dia dan Tari akan di sana, Salma harus melihatnya bersama Tari.


“Apa maksud mu?” Nanda belum mengerti apa maksud Malik meminta dia melakukan hal itu.


“Maaf aku harus melibatkan kamu, tapi ini ku lakukan untuk kebaikan Salma, dia akan lebih sulit untuk melepaskan ku jika aku terus baik di matanya.”


“Kenapa kamu ingin Salma membenci mu?” Tanya Nanda, dia mulai merasa gusar dan berpikir Malik bukan lelaki yang bertanggung jawab setelah membuat temannya tergila-gila padanya.


“Kami tak direstui.”


“Apa kamu takut sebelum mencoba?” Lanjutnya.


“Kali ini, ibuku yang tidak mengizinkanku dan aku juga sadar kalau Salma terlalu sempurna untukku.” Ucap Malik, dia merasa dirinya sangat buruk mengatakan hal ini sekarang, dia sudah sangat terlambat mengatakan ini setelah dia menyadari betul kalau Salma juga mencintainya.


“Apa?” Nanda melepas sendok makannya, dia sekarang merasa sangat kesal mendengar apa yang Malik katakan. Menurutnya Malik sungguh telah melakukan kesalahan.


“Bagaimana kamu bisa mengatakan hal ini sekarang hah?” Nanda meninggikan suaranya.


“Tenanglah.” Fiki menyadarkan Nanda yang telah menarik perhatian semua orang yang juga makan di tempat mereka saat ini.


Nanda mencoba menenangkan diri, dia menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan.


“Maaf, tapi..”


“Aku harus membuatnya membenciku agar dia lebih mudah melepaskan ku. Kamu… tahu kan meski kami sudah lama tak bersama, tapi Salma tetap mengharapkan ku. Aku pikir ini merupakan cara satu-satunya, maaf aku mohon.” Lanjut Malik, dengan segala kerendahan hati dia benar-benar meminta bantuan dari teman seseorang yang dia cintai.


“Bagaimana aku menghadapi Salma.” Ucap Nanda frustasi.


“Maaf,..” Ucap Malik sembari menunduk, dia sadar ini juga sulit bagi Nanda, namun dia tak bisa melakukan hal selain daripada ini.

__ADS_1


Nanda tak langsung menjawab permintaan Malik. Dia meminta waktu pada Malik untuk memikirkan apakah dia akan membantu atau tidak.


“Bisa beri aku waktu?” Ucap Nanda.


Malik tak bisa menolak.


“Iya.”


“Aku percaya kamu tapi.. jika kamu berubah pikiran, kamu bisa memberitahuku.” Ucap Nanda.


‘’’’’


Salma bergegas memasuki kafe yang telah dijanjikan Nanda untuk menemuinya. Terlihat Nanda melambaikan tangan kearahnya.


“Maaf, tadi aku terjebak macet.” Ucap Salma sembari duduk di depan Nanda.


Nanda hanya tersenyum, meski merasa lega karena telah berhasil membawa Salma ke sini sesuai permintaan Malik, namun dalam hatinya ada perasaanya khawatir yang lebih besar. Dia sungguh belum siap melihat temannya ini kembali merasakan sakit karena seolah telah dikhianati oleh kekasihnya. Nanda menunduk sembari memainkan ponselnya.


“Ada apa? Apa Fiki juga ke sini?” Tanya Salma melihat temannya memainkan ponsel nampak sedang menunggu seseorang.


“Tidak, aku hanya mengabarinya kalau kamu sudah ada di hadapanku hehe.” Nanda berusaha agar dia tak terlihat berbeda.


“Oh.”


“Apa kamu sudah memesan?” Ucap Salma sembari melihat buku menu.


“Belum, tolong buat pesanan yang sama denganmu untukku .” Pinta Nanda sembari tersenyum.


“Oke.” Salma fokus membaca daftar menu.


Di sisi lain, Malik telah bersama Tari. Namun, Salma belum menyadari keberadaan mereka.


“Saatnya.” Malik mengirim pesan pada Nanda.


Dari kejauhan Nanda melihat Malik sembari mengangguk perlahan, sementara Salma masih memilih menu.


Malik meminta Tari untuk melakukan hal sebaik-baiknya, mereka harus terlihat seperti sepasang kekasih sungguhan.


Malik menatap Tari dengan manis, meski hatinya terasa berat untuk melakukan hal ini. Sementara Tari juga melakukan hal yang sama padanya, dia seolah sedang menunjukkan sesuatu di ponselnya.


“Malik..” Ucap Nanda sembari melihat Malik dari kejauhan.


“Apa?” Salma pun mengikuti arah pandangan Nanda.


Tari menyadari Salma telah melihatnya bersama Malik, dia mencoba melakukan sesuatu yang menguatkan perannya. Tari memegang tangan Malik, lalu menggenggamnya.

__ADS_1


Malik berusaha melepaskan genggaman Tari, Namun Tari mengeratkan genggamannya. “Salma sedang melihat kita.” Ucap Tari perlahan.


Salma mematung melihat Malik bersama Tari saling berpegangan tangan dari kejauhan.


__ADS_2