
Salma tak sengaja menjatuhkan bolpoin di tangannya. Mendengar sesuatu, sontak saja membuat Pratama dan beberapa rekan yang awalnya asyik berbincang menoleh ke sumber suara. Namun karena berada di dalam ruangan dan Salma di luar, mereka tak melihat Salma. Salma yang menyadari keberadaannya akan diketahui jika dia tetap berdiri di sini, memilih untuk melangkah mundur dan kembali masuk ke ruangannya.
Danil yang merupakan salah satu rekan Pratama keluar ruangan memeriksa sumber suara yang mengusik berbincangan mereka. Namun sesampainya di depan pintu, dia tak mendapati siapa pun.
“Siapa?” Tanya Pratama penasaran, meski merasa penasaran namun dia tetap di tempatnya, dia tak melangkah sedikit pun.
“Bukan siapa-siapa.” Jawab Danil sembari memperhatikan sekitar di luar ruangan.
Pandangan Danil berhenti pada sebuah bolpoin yang tergeletak di lantai tak jauh darinya. Danil mengambilnya dan membawanya kembali masuk ke ruangan.
“Sepertinya seseorang menjatuhkan ini.” Danil sembari meletakkan bolpoin itu di atas meja kerjanya.
Sekarang Pratama dan Diko sedang berada di ruang kerja Danil. Pratama memang tak mudah bergaul dengan sembarang orang, berbeda dengan Danil dan Diko, dia sudah lama mengenal rekan kerjanya ini dari bangku SMA. Namun kenyataan mereka teman sekolah tidak banyak orang yang tahu karena Pratama jarang memperlihatkan kebersamaannya dengan teman sekolahnya ini dan hanya sesekali bersama saat di jam kerja.
Di dalam ruang kerjanya yang tak lain berada tepat di sebelah ruangan Pratama berada, Salma berdiri mematung di balik pintu. Dia sungguh tak menyangka, Pratama yang selama ini dia anggap sebagai sosok lelaki yang menghargai dan menghormatinya berkata demikian. Ternyata selama ini dia sudah salah memandang kekasihnya itu. Pratama sungguh tak menghargainya dan bahkan merendahkannya di depan teman-temannya. “Apa-apaan.” Gumam Salma merasa kecewa dan tersenyum sinis sembari menghembuskan nafasnya dengan kasar. Meski sesaat dia merasa dikhianati oleh Pratama, namun semua itu nampak tak membuat hatinya sangat gundah, bahkan sekarang Salma tak menangis, dia malah merasa jengkel dengan kekasihnya itu.
Kembali ke ruang kerja Danil.
“Dia tidak di rumah sakit kan?” Tanya Danil sesaat setelah meletakkan bolpoin di atas mejanya.
“Salma?” Ucap Pratama.
“Iya.”
__ADS_1
“Dia masuk nanti malam.” Jawab Pratama cepat.
“Oh mungkin orang lain yang ada di ruangannya.” Ucap Danil gampang.
“Mungkin, eh kenapa kamu berkata begitu?” Pratama balik bertanya.
“Pintu ruangannya terbuka, aku bahkan sempat berpikir kalau Salma mungkin ada di ruangannya tapi…” Danil memilih tak melanjutkan setelah melihat Pratama keluar rungannya.
Pratama melangkah keluar berpikir ke ruangan Salma untuk memastikan itu bukanlah Salma. Sekarang pikirannya sedikit tak tenang, dia merasa takut kalau Salma mendengar apa yang barusan dia katakan pada Danil dan Diko, perkataan yang sungguh akan menyakiti Salma jika dia mendengarnya. “Ahh.” Pratama bergumam seraya mempertegas langkahnya menuju ruang kerja kekasihnya itu.
“Sayang.” Meski merasa bergetar, namun sebisa mungkin Pratama menutupinya karena berpikir keberadaan Salma di rumah sakit belum tentu mendengar apa yang dia katakan pada rekan kerjanya beberapa saat yang lalu.
Mendengar seseorang masuk ke rungannya, Salma sontak menoleh dan saat mendengar Pratama yang baru saja memanggilnya begitu membuatnya tersenyum sinis.
“Baik, aku tak ingin membuang waktumu dan waktuku. Aku akan langsung saja.” Salma melihat Pratama dengan tatapan datar. Meski sebenarnya dia merasa sangat kecewa namun dia tak ingin memperlihatkan itu. Salma tak ingin memperlihatkan sisi buruknya pada seseorang yang menurutnya tak pantas menjadi tempatnya bersandar dan berkeluh kesah.
“Ada apa? Kenapa kamu berkata begitu?” Pratama sekarang sangat takut, bahkan dahinya telah mengeluarkan keringat. Namun, lagi-lagi dia berusaha bersikap seolah tak mengerti dan tak tahu apa-apa.
“Kita memang tak sejalan, aku tidak pantas untukmu dan begitu pun aku…” Salma sempat terhenti lalu kembali. “Lebih baik kita sampai disini.” Salma memilih untuk mengalihkan pandangannya.
“Apa?”
“Aku ingin putus denganmu.”
__ADS_1
“Tapi kenapa?” Pratama mulai terpancing dan tak mengendalikan dirinya, dia mulai gusar.
“Aku berniat untuk tidak akan menyentuh seseorang yang bukan mahramku…” Salma sedikit tercekat.
“Kalau itu masalahnya, maka itu bukanlah masalah. Aku tak akan memaksamu.” Pratama menyakinkan.
“Masalahnya bukan kamu, tapi aku. Benar seperti apa yang kamu sangkakan mungkin aku yang memulai itu. Ini masalah waktu dan aku. Dan…kamu sepertinya bukan orang yang bisa mencegah itu terjadi.”
“Apa?”
Anehnya dalam keadaan seperti ini, Salma malah memikirkan orang lain. Salma mengingat Malik, hatinya merasa yakin Malik akan menjaganya, Malik mampu mengendalikan waktu dan dirinya yang mungkin akan melewati batas. Karena itu, Salma meneteskan air matanya, bukan karena kecewa seseorang yang sedang berada di hadapannya mengecewakan perasaannya, namun karena dia merindukan seseoarang.
“Salma, maafkan aku hanya bercanda berkata begitu pada Danil dan Diko.” Lanjut Pratama.
“Aku tak bisa melanjutkan ini, tolong bantu aku untuk melanjutkan niatku.”
“Terimakasih atas segalanya dan maaf.” Lanjut Salma dan keluar ruangan.
Sekarang hanya Pratama seorang diri, dia merasa bersalah dan ingin mengejar. Namun, dia merenungi apa yang baru dikatakan Salma, dia membenarkan itu. Dia mengakui pemikirannya tak sejalan dengan kekasihnya itu selama ini. Dia hanya mencintai Salma karena kecantikan dan kepintarannya, namun bukan karena pemikiran dan sikapnya. Pratama memilih untuk menerima keputusan Salma.
Salma menuju lahan kosong di atas rumah sakit. Sesampainya di sana, dia menghirup nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya.
“Apa begini caraku sedih?” Salma bergumam, merasa dirinya tak wajar. Bukannya menangisi nasibnya yang baru putus dengan kekasihnya, hatinya malah lebih merintih karena merindukan cinta pertamanya. “Malik.” Hatinya merasa kacau, terlebih mengingat pertemuan kali terakhirnya bersama Malik. “Aku mengatakan kalau aku bahagia? Bagaimana kalau dia masih sendiri?”, pikirnya mengingat saat itu. Salma merasa bersalah.
__ADS_1