How Matcha Love You

How Matcha Love You
Kelas Enam


__ADS_3

Salma terus berjalan melewati beberapa kelas. Sampai akhirnya tinggal satu ruang kelas lagi yang akan dia lewati untuk sampai ke toilet.


Salma melangkahkan kakinya dan hanya fokus pada jalan yang berada di depannya. Dia merasa kalau sesuatu yang dia tahan saat ini sudah berada di ujung, oleh karena itu dia mempercepat langkahnya. Saat Salma terus melangkahkan kakinya, dia melihat seseorang yang duduk di depan kelas yang akan dia lewati. Karena yang ada dipikirkannya saat ini hanya toilet, Salma tidak begitu memperhatikan dan berniat akan menyapanya dikala sudah cukup dekat dengannya nanti.


Saat sudah dirasa cukup dekat, Salma melihat seseorang yang dia pikir adalah salah satu guru yang mengajar di sekolah ini. Namun saat Salma melihatnya dengan lebih jelas, hatinya mulai merasakan sesuatu yang membuat detak jantungnya berubah.


“Salma.” Lirih seseorang itu di saat juga melihat Salma.


Salma menghentikan langkahnya saat seseorang itu melihat ke arahnya dan wajah seseorang itu telah dilihatnya dengan jelas. Pikirannya yang awalnya hanya ingin segera ke toilet tiba-tiba berganti menjadi sosok yang ada di hadapannya sekarang.


“Kamu sangat tampan Malik.” Salma membatin tanpa mengalihkan pandangannya. Meski sekarang dia berpacaran dengan Pratama yang merupakan seseorang yang juga sering dikatakan tampan oleh banyak rekan kerjanya, tapi itu tak bisa mengalahkan Malik. Menurutnya Malik tetap yang nomor satu.


Malik terlihat sangat berbeda di mata Salma, sudah dua tahun tak melihat cinta pertamanya ini, bagianya Malik tetap menawan meski dia merubah gaya rambutnya. Malik biasa memangkas rambutnya di saat musim mengajar, model rambutnya lebih pendek daripada seperti biasanya saat dia pulang kampung.


Malik merasa dirinya membatu. Meski sebelumnya dia bertekad untuk tidak seperti ini lagi jika akan bertemu Salma, namun kenyataannya dia tak bisa. Malik tak bisa mengalihkan pandangannya yang saat ini tertuju pada seseorang yang sungguh masih merupakan sesuatu yang istimewa di hatinya.


“Astagfirullah.” Salma akhirnya tersadar dan menundukkan pandangannya.


Sama halnya dengan Malik, dia juga beristigfar dalam hati dan akhirnya juga mampu mengalihkan tatapannya.


“Hai, Malik.” Balas Salma atas lirihan Malik yang didengarnya beberapa saat yang lalu.


“Ka…kamu apa kabar?” Meski sempat tergugu, namun Malik tetap meneruskan perkataannya yang sangat ingin mengetahui keadaan Salma sekarang. Yang dia harapkan saat ini adalah Salma dalam kondisi baik-baik saja dan bahagia.

__ADS_1


Mendengar Malik menanyakan kabarnya, Salma merasa lega Malik sudah bisa membuat keadaan di antara mereka saat ini menjadi lebih cair.


“Alhamdulillah baik.”


“Apa kamu bahagia?”


“Iya.” Salma mengangguk lalu tersenyum.


Malik merasa sangat bahagia, hari ini dia kembali melihat senyum yang sudah lama dia rindukan. Meski keadaannya tak seperti dulu, namun itu tetap dari Salma yang merupakan seseorang yang pernah dia cintai dan mungkin itu masih berlaku sampai saat ini.


Malik juga tersenyum dan merasa sedikit lebih lepas daripada beberapa saat yang lalu di saat pertama menyadari Salma seseorang yang berada di depannya saat ini.


“Maaf, aku harus ke toilet.” Salma melanjutkan langkahnya.


Salma kembali mempercepat langkahnya. Meski dia sempat sejenak tak memikirkan toilet saat melihat Malik, namun keinginannya untuk ke toilet itu tak menghilang. Saat menyadari keadaannya, Salma merasa kalau saat ini dia benar-benar membutuhkan toilet.


Setelah keluar dari toilet, Salma berhenti. Dia memikirkan Malik yang baru saja menyapa dan menanyakan kabarnya. “Maafkan aku Malik, sekarang aku sudah tidak sendiri. Semoga kamu juga seperti aku.” Salma membatin. Meski dia sudah memilik pacar, tapi tanpa disadari dalam beberapa waktu, dia bisa tiba-tiba teringat Malik. Dan ketika Salma menyadari itu, dia selalu berharap agar Malik juga menemukan seseorang yang menggantikannya.


Salma berniat akan menyapa Malik dan menanyakan kabar seperti yang Malik lakukan padanya. Dia menyadari sudah saatnya berdamai dengan kenyataan. Walaupun dia dan Malik tak bisa hidup bersama dan tak bisa saling mencintai, setidaknya mereka memiliki hubungan yang baik. “Bukankah seperti itu akan lebih baik.” Pikirnya menyadari bahwa saling sapa saat bertemu itu lebih baik daripada saling menatap namun membisu.


Saat berada di tempat saat terakhir kali melihat Malik, Salma tak melihat siapa pun. Salma berhenti dan melihat-lihat sekitar, berharap akan melihat Malik, namun dia tak menemukannya. Mengingat tugasnya memberi vaksin belum selesai, Salma memutuskan untuk kembali melakukan tugasnya itu.


Malik sengaja untuk menghindar, dia merasa sudah cukup bertemu Salma untuk hari ini. Dia tak ingin kembali bertemu Salma karena merasa takut hatinya ingin kembali mengaharapkan hal lebih pada cinta pertamanya itu. Malik sekarang berada di dalam kelas, dia bersandar di dinding kelas di samping pintu.

__ADS_1


Saat mendengar derap langkah Salma yang akan melewati kelasnya, Malik terus menyandarkan dirinya sembari memperhatikan derap langkah itu. Dia sempat berpikir saat mendengar langkah Salma berhenti di dekatnya. “Sepertinya Salma ingin menemuiku lagi.”. Meski berpikir begitu, Malik tetap kuat dengan tekadnya, dia tak ingin menemui Salma karena tak ingin kembali berharap lebih dan yang paling tak diinginnya adalah Salma juga akan mengharapkannya lagi. “Maafkan aku.” Malik membatin saat Salma berhenti di depan kelasnya.


Malik menoleh di balik pintu saat kembali mendengar langkah Salma. Dia diam-diam melihat Salma semakin menjauh darinya hingga memasuki kelas.


Di kelas, Salma kembali mengambil posisi untuk memberikan suntikan vaksin kepada siswa satu persatu.


Setelah selesai memberikan vaksin, Salma dan Ristia diminta salah satu guru untuk kembali ke ruang guru.


“Kalau bu dokter tidak buru-buru, mari ke ruang guru terlebih dahulu.” Ucap guru yang yang sedari tadi membantu membujuk siswa yang enggan diberi vaksin.


Karena Salma dan Ristia tidak ada kesibukkan di waktu dekat, mereka sepakat untuk mengikuti guru itu. Salma juga berpikir, dia harus bertemu Malik sebelum kembali.


Salma dan Ristia diberi hidangan untuk makan siang. Mereka pun menikmati makan siang itu bersama beberapa guru yang ada di sini.


Setelah beberapa saat, hingga selesai makan siang, Salma tak melihat Malik di ruang guru. Sebelumnya ada beberapa guru yang terlihat bergantian memasuki ruangan ini, tapi Malik bukan salah satu di antara mereka. “Kemana dia?” Salma membatin, dia khawatir kalau Malik merasa terganggu karena keberadaannya.


“Dok, bukankah dokter malam ini bertugas? Apa sebaiknya kita pulang sekarang?” Ristia berucap pelan di samping Salma.


Salma mengangguk. Meski hatinya berat untuk beranjak sebelum melihat Malik, namun mengingat dia harus segera kembali agar sempat bekerja membuatnya harus menyerah dengan keinginannya itu.


Salma dan Ristia berpamitan dengan para guru dan keluar ruangan untuk kembali.


Malik tetap di berada di kelas enam. Meski semua siswanya sudah beberapa saat yang lalu keluar kelas. Namun dia memilih untuk tetap di sini agar tak bertemu Salma. Sekarang Malik melihat Salma pergi dari pintu ruangan kelas, dia memperhatikan dari kejauhan.

__ADS_1


__ADS_2