How Matcha Love You

How Matcha Love You
Tampak Rumit


__ADS_3

Gani terdiam setelah mendengar apa yang diucapkan kakaknya. Dia mengalihkan pandangannya dan melihat ke bawah.


“Ada apa? Apa kamu sakit?” Tanya Salma setelah melihat adiknya nampak aneh dan tak menjawab ucapannya.


“Huh.” Gani menghembuskan nafasnya perlahan, lalu menyandarkan bahu ke sofa.


“Kenapa?” Salma mengernyitkan alisnya melihat Gani.


Salma merasa khawatir melihat adiknya yang tiba-tiba berubah. Salma memperhatikan Gani dari atas sampai bawah, lalu meletakkan tangannya di jidat adiknya ini.


“Tidak panas”. Salma melepaskan tangannya dari jidat Gani.


“Ada apa? Kamu membuat kakak takut” Lanjutnya.


“Ucapan kakak begitu mirip dengan yang diucapkan kak Malik waktu itu.” Gani mengatakan yang sebenarnya.


“Hah?”


Salma dan Gani terdiam. Pikiran Salma tiba-tiba kosong, dia tak punya kata-kata untuk diucapkan.


‘’’’


Setalah selesai mengajar, seperti biasa Malik ke ruang guru untuk mengambil tas dan merapikan meja kerjanya.


Saat melangkahkan kaki memasuki ruangan, Malik melihat Tari seorang diri di sana.


“Pak Malik.” Ucap Tari saat melihat Malik memasuki ruangan.


“Bu belum pulang?” Tanya Malik.


“Iya.”


Malik bergegas mengambil tas dan sedikit merapikan buku-buku siswa di mejanya. Setelah selesai, Malik beranjak dan berniat segera keluar ruangan.


“Pak Malik.” Terdengar Tari memanggilnya.


“Iya, kenapa bu?” Malik menoleh melihat Tari yang duduk di tempatnya.


Selama ini, Tari beberapa kali dihadapkan oleh keadaan canggung yang dia rasakan saat bersama Malik dan Salma. Dia tak tahu pasti perasaan canggung itu dibuat oleh siapa? Ada apa diantara mereka? Apa karena mereka saling suka? Atau saling membenci?


Banyak pertanyaan yang membuat Tari penasaran, terlebih suasana canggung itu tak sekali dia rasakan. Hampir setiap kali bersama Malik dan Salma dan terakhir beberapa waktu yang lalu, Tari merasakan Malik terlihat berbeda saat dia dan rekan kerjanya membahas tentang Salma.


Tari sengaja tak langsung pulang hari ini. Dia ingin menuntaskan, atau setidaknya sedikit mengurangi rasa penasarannya itu. Tari ingin menanyakan hubungan teman SMA dan rekan kerjanya ini.

__ADS_1


“Pak Malik apa hubunganmu dengan Salma?”


‘’’’’


Setelah beberapa saat terdiam, Gani telah memikirkan sesuatu. Dia memilih bungkam.


“Kak, apa kak Malik berarti bagi kakak?” Tanya Gani sembari melihat kakaknya.


“Apa maksudmu.” Salma tak pernah menyangka adiknya akan menanyakan hal seperti ini padanya.


“Apakah penting dia baik-baik saja atau tidak?” Gani sedikit meninggikan suaranya.


“Apa?” Salma berucap pelan, kali ini dia sungguh melihat adiknya berbeda, tak seperti biasanya. Dan yang tak kalah mengejutkannya adalah Gani mempertanyakan arti Malik dalam hidupnya.


Gani tersadar dan memilih tak melanjutkan ucapannya.


“Apa maksudmu? Mengapa kamu menanyakan itu?” Salma mencoba memahami maksud adiknya.


Selama ini Gani sungguh merasa kasihan dengan Salma dan Malik. Dari yang dia lihat kakaknya dan Malik masih sama-sama memiliki perasaan kepada satu sama lain, namun memilih diam dan seperti menyerah, itu yang membuatnya tidak nyaman. Terlebih sebenarnya dia sangat mendukung hubungan mereka.


“Kakak tahu aku menyukai kak Malik?” Gani melihat kakaknya.


“Mana kakak tahu.” Jawab Salma singkat, dia sembari memahami apa yang dikatakan adiknya ini.


“Dia terlihat sederhana, tapi cerdas dan mandiri. Aku menyukai kepribadian baiknya.”


“Aku sangat mengerti kalau seorang perempuan tak bisa melupakannya.” Lanjut Gani sembari melihat kakaknya.


Salma sedikit menyunggingkan bibirnya dan beranjak, Salma ingin melangkah masuk ke kamarnya.


“Kak.” Gani menghentikan langkah Salma.


Sementara Salma berbalik melihat Gani.


“Aku mendukung kakak, aku rasa kak Malik masih sama seperti dulu, tak ada yang berubah. Semangat kak, aku yakin kalau kalian berusaha ibu bapak akan mengerti suatu hari nanti.” Gani memberanikan diri untuk mengatakannya.


“Apa yang kamu bicarakan.” Bibir Salma bergetar.


“Lihatlah, kakak bahkan tak bisa menahan tangis.” Gani mencoba menggoda.


Salma tak bisa mengendalikan dirinya, Salma kembali duduk dan menyeka air matanya. Kali ini dia tak bisa menyembunyikan perasaannya.


“Aku tak menangis, kalau memang aku menangis itu bukan karena dia, tapi karena mulutmu itu. Mengapa bisa mengatakan hal seperti itu, haha.” Salma mencoba menghentikan tangisnya.

__ADS_1


“Baiklah.” Gani mengangguk sambil menepuk pundak kakaknya.


“Aduk sakit.” Salma memegang pundaknya yang baru dipukul Gani.


Gani iseng kembali memukul pundak yang sama.


“Hei” Salma membalas pukulan tersebut.


‘’’’’


“Maaf?” Ucap Malik mendengar Tari mempertanyakan hubungannya dengan Salma.


“Apa kalian mempunyai hubungan? Atau hanya kamu yang menyukai Salma?”


Malik memilih tak langsung menjawab, namun akhirnya dia memilih untuk berkata jujur karena menurutnya Tari berhak mengetahui ini karena dia juga teman Salma.


“Iya, aku menyukainya.” Jawab Malik singkat, dia ingin berbalik dan melanjutkan langkahnya.


“Oh, tapi apa kamu sudah pernah mengatakan itu padanya?” Tari beranjak dari tempat duduk dan memilih berdiri di depan pintu menghadap Malik. dia berdiri seolah menghalangi Malik keluar ruangan.


“Maaf bu, aku rasa kamu punya hak untuk menanyakan hal itu tapi aku juga berhak untuk tidak menjawab.” Malik memilih kembali menuju meja kerjanya.


“Kenapa semua tampak rumit?”


“Kamu tahu aku pernah menyukaimu dan sekarang jujur aku mendukungmu dengan perempuan lain. Aku mendukung kamu kalau kamu memang menyukai Salma.” Lanjut Tari terlihat frustasi.


“Kamu tahu, setiap kamu bertemu Salma dan bahkan tadi saat kami membicarakan tentang Salma, ada apa dengan kamu? Kamu terlihat canggung. Maaf aku hanya ingin membantu. Aku akan mengatakan ini pada Salma.” Tari keluar ruangan.


Malik sejenak terdiam. Dia menghembuskan nafasnya dengan kasar dan memilih menyusul Tari.


“Bu.” Malik menghentikan langkah Tari.


Tari berbalik.


“Maaf, tolong jangan lakukan itu.” Pinta Malik pada Tari.


“Kenapa?”


“Tolong jangan lakukan itu.” Pinta Malik lagi.


“Aku perlu alasan, kalau kamu tak mengatakan apapun aku akan tetap mengatakannya.” Tari dengan semangat.


Karena tak mendengar jawaban, Tari melanjutkan langkahnya menuju motor yang terparkir di halaman sekolah.

__ADS_1


“Kami tak direstui.” Ucap Malik.


__ADS_2