
Salma memarkirkan motornya, lalu berjalan menghampiri Malik yang masih duduk di motornya.
“Malik.” Ucap Salma tak bisa menutupi ekspresi bahagianya karena bisa bertemu seseorang yang sangat dia temui.
Tak berbeda dengan Salma, Malik juga merasakan hal yang sama.
“Kamu mau ke mana?” Tanya Malik.
“Aku mau menemuimu.”
“Apa kamu tidak berpikir untuk menemuiku dulu sebelum pergi.” Lanjut Salma.
Malik tersadar akan keadaannya saat ini. Dia sudah bertekad untuk tidak memberi harapan lagi pada Salma.
“Tidak ada yang ingin aku katakan. Maaf, sekarang aku harus pergi.” Balas Malik setelah terdiam beberapa saat. Meski hatinya merasa bahagia saat berada di dekat Salma dan ingin barang sejenak lebih lama bersama dengan seseorang yang ada di depan matanya saat ini, namun mengingat kenyataan yang tak menginginkan dia untuk melanjutkan perasaannya membuatnya sadar, lebih baik untuk segera pergi dan tak menemui Salma lagi.
Salma menyadari dia tidak seharusnya seperti ini, dia seolah sedang mengemis cinta Malik, walau memang kenyataannya begitu.
“Baiklah. Kamu jaga diri ya.” Salma sedikit menjauh.
Malik diam tak membalas dan tak melihat Salma.
“Salma.” Malik kembali melihat Salma.
“Iya.”
“Aku tidak sungguh-sungguh mengenai rencanaku untuk melamar calon dokter.” Malik kembali mengalihkan pandangannya dan segera melajukan motornya.
Sekarang Salma tetap berdiri di tempatnya sembari melihat Malik yang semakin menjauh hingga hilang dari pandangannya. “Kenapa? Aku salah apa?” Batinnya merasa sakit karena sudah berharap pada seseorang yang selalu ada di hatinya sampai saat ini, namun ternyata itu hanya sebatas angan-angannya saja. Akhir-akhir ini Salma merasa bahagia karena sikap Malik menunjukan kalau dia jua memiliki perasaan yang sama pada Salma. Namun apa yang sekarang terjadi? Nampaknya Salma kehilangan harapan tanpa alasan yang dia ketahui. Salma merasa hatinya sakit, tak terasa air mata pun menetes.
Malik yang terus melajukan motornya, juga merasakan hal yang sama seperti Salma. hatinya bagai teriris, terasa begitu pedih. Senyum yang awalnya merekah saat melihat Salma datang menghampirinya seketika sirna ketika mengingat kenyataan, dia tak diberi restu atas perasaannya. “Maaf” Batinnya, juga tak kuat menahan air mata.
‘’’’’
Hari ini Malik kembali ke sekolah untuk mengajar, begitu pun dengan anak-anak sekolah, mereka juga kembali belajar setelah seminggu libur hari raya.
Sesampainya di kelas, Gani tersenyum melihat Sarah yang sudah duduk di kursinya. Sarah duduk di barisan kedua, sedang Gani tepat di belakangnya.
“Aku dengar kamu kecelakaan apa sudah membaik?” Tanya Sarah saat menyadari kedatangan Gani.
“Apa kamu khawatir?”
“Tentu saja, kamu kan teman sekelasku.” Sarah berbalik untuk melihat Gani yang sudah duduk di kusinya sekarang.
“Kenapa tidak menjenguk?” Tanya Gani lagi.
“Ah terserah, aku rasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Sarah kembali membelakangi Gani.
‘’’’’
Salma duduk termenung di kursi yang berada di halaman kampus. Nanda yang melihat temannya terlihat memikirkan sesuatu, segera datang menghampiri.
“Hei, ada apa?” Tanya Nanda.
“Bukan apa-apa.” Jawab Salma seraya menunjukan senyumnya.
“Sungguh?”
Salma mengangguk, namun sepertinya Nanda tak begitu puas dengan jawabannya.
__ADS_1
“Bagaimana kakak kelasmu itu? Apa kamu bertemu dia?.”
“Iya” Balas Salma singkat.
“Apa terjadi sesuatu?”
“Entahlah” Jawab Salma sekenanya.
“Apa semuanya masih sama? Dia tidak melakukan dan tidak memberikan apapun?”
Salma hanya menghempuskan nafasnya dengan kasar.
“Sudah lah Salma, sebaiknya segera lupakan dia.”
“Belum bisa sekarang.”
“Kenapa?”
“Perasaanku masih sama, eh sepertinya malah bertambah.” Kali ini Salma akhirnya jujur dengan apa yang dia rasakan saat ini. Dia kembali menghembuskan nafasnya dengan kasar.
“Tapi dia? Dia bagaimana?” Nanda merasa putus asa. Hanya Malik seorang lelaki yang pernah Salma ceritakan padanya, meski sebelumnya dia juga sudah pernah untuk meminta Salma mencoba untuk menerima orang lain yang menurutnya lebih pasti, namun Salma tetap mempertahankan perasaannya itu. Nanda merasa frustasi karena mendengar Malik tak pernah sekali pun memberikan sesuatu atau pun tanggapan untuk temannya ini, dia takut cinta Salma berjalan sepihak atau dengan kata lain bertepuk sebelah tangan.
‘’’’’
Setelah selesai mengajar di kelas, Malik pergi ke ruang guru. Saat ini, hanya dia seorang diri berada di dalam ruangan guru. Sebelum pulang, dia duduk di tempatnya sembari memasukan beberapa buku ajar yang akan dia bawa pulang. Di tengah-tengah itu, Malik tiba-tiba berhenti karena kembali mengingat Salma. Dia merasa dirinya juga melukai Salma, dia baru mengatakan niatnya, tapi sekarang memilih pergi untuk menjauh dari seseorang yang dicintainya itu. lagi-lagi Malik merintih bukan hanya merasa sakit karena perasaanya tak direstui, tapi juga karena sudah meninggalkan Salma setelah memberikannya harapan. Malik menunduk sembari mengepalkan tangannya dengan kuat.
Namun Malik teringat akan perkataan Salma beberapa waktu yang lalu bahwa dia akan menyerahkan semua keputusan tentang pernikahan pada orang tuanya. Itu yang membuat Malik sedikit merasa lebih baik, dia yakin Salma akan segera menerima keputusannya dan tidak terpuruk dalam patah hati.
‘’’’’
Fiki menghubungi Nanda untuk menanyakan keadaan dan keberadaan Salma saat ini. Nanda mengatakan bahwa Salma sekarang berada di kampus bersamanya. Fiki yang mengetahu itu, meminta Nanda untuk membawa Salma keluar.
Meski awalnya Nanda sedikit ragu untuk menerima permintaan Fiki, namun akhirnya dia menyerah dan bersedia melakukannya. Dia mengajak Salma untuk membeli minuman di luar kampus.
Sekarang Salma dan Nanda sedang duduk di suatu warung tempat mereka membeli minuman. Warung ini berada di pinggir jalan yang sebenarnya tak jauh dari kampus mereka.
“Salma, aku harus pergi?” Nanda berdiri dan bergegas menuju motornya.
“Ke mana? Aku ikut”
“Tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Aku akan menemui ibunya Indra.” Nanda beralasan orang tua pacarnya yang memintanya untuk segera bertemu.
“Hah?”
“Indra sudah menunggu.”
“Lalu aku bagaimana? Aku ke sini sama kamu.”
“Maafkan aku.” Nanda melajukan motornya.
“Dasar, kalau tahu begini aku tetap di kampus.” Gumam Salma tanpa didengar oleh Nanda.
Salma kembali duduk seraya menikmati minumnya. Berharap ada teman sekampusnya datang membeli minuman di sini agar bisa membawanya kembali ke kampus. Meski sekarang dia berada tak jauh dari kampus, namun karena kampusnya cukup besar, untuk berjalan kaki dari gerbang kampus ke gedung kelasnya saja dia memerlukan banyak energi.
“Kak Fiki.”
__ADS_1
“Kamu sendirian?” Fiki segera berpindah dari motor ke samping Salma.
“Iya, tadi sama Nanda, tapi dia pergi karena ada urusan mendadak.”
“Oh.”
“Kapan sidang skripsimu?”
“Insya Allah bulan depan.”
“Wah semoga lancar dan dimudahkan ya amin.”
“Amin.” Balas Salma sembari tersenyum.
“Oh iya kak, kemarin kakak mau bicara apa?”
“Oh waktu itu, aku ingin menawarkan jika kamu ingin melakukan penelitian di tempat aku bekerja. Tapi kemarin aku sudah mendengar dari Nanda kalau kamu tinggal menunggu sidang hehe” Fiki sedikit kikuk, dia mengarang jawaban yang sebelumnya tak dia pikirkan.
“Oh begitu, mungkin lain kali aku akan menghubungi kakak.”
“Tentu saja.”
‘’’’’
Sesampainya di depan rumah, setelah balik dari kampus, Salma melihat Elsa sedang menimang Zahra di seberang rumahnya.
“Zahra.” Salma menghampiri Elsa.
“Pulang kuliah Sal?” Tanya Elsa.
“Iya.”
“Malik sepertinya sudah kembali ke kota kan?”
Salma hanya mengangguk dan melihat Zahra sembari menepukan kedua tangannya di depan Zahra.
“Kapan?”
“Dua hari yang lalu.”
“Malik ada keperluan apa ke rumahmu?”
“Kapan? Hari raya? Ya bertamu lah”
“Bukan hari raya.”
“Kalau tidak salah sehari setelah itu.” Lanjut Elsa.
“Sungguh?.”
“Kamu tidak tahu? Oh mungkin kamu tidak di rumah, ya aku yakin motormu tidak terlihat saat itu.”
“Orang di rumah tidak ada yang memberitahumu?”
‘’’’’
Salma masuk ke rumahnya. Dari depan pintu, terdengar Ibu dan Bapak sedang membicarakn sesuatu.
“Dia kira aku akan menerimanya jadi menantu karena berbicara banyak padanya.” Ibu tersenyum sinis.
__ADS_1
“Aku memang menyukainya tapi tidak untuk anak kita” Lanjut Ibu.
“Malik anak yang baik, tapi tidak kah dia memikirkan Salma, dia hanya seorang guru.” Bapak melihat Salma.