
Sesampainya di rumah, Salma segera membersihkan diri lalu solat magrib bersama Ibu karena Bapa dan Gani solat di mushola.
Setelah selesai solat, Salma dan Ibu beranjak ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
“Tadi siang ada yang datang ingin melamar, dia tidak lulus kuliah karena memilih tak melanjutkan kuliahnya. Kami menolaknya.” Ucap Ibu.
Saat Salma masih di rumah sakit, seseorang datang ke rumah untuk menyampaikan niat baiknya yang ingin melamar Salma. Meski dia terlihat baik, punya pekerjaan dan bukan orang yang tinggal di kampung sini, namun karena dia bukan seorang sarjana, Bapa dan Ibu sepakat menolaknya. Selain menginginkan seseorang yang bukan berasal dari kampung yang sama dengan mereka, orang tua Salma juga punya standar tertentu untuk menjadi menantunya, diantaranya adalah harus menempuh pendidikan minimal sama dengan putrinya.
“Kenapa di tolak?” Salma akhirnya bungkam setelah terdiam sejenak.
“Dia tidak sarjana.”
Salma merasa hatinya merintih, mendengar ibunya yang mengatakan menolak seseorang karena dia tidak sarjana. Lalu bagaimana dengan Malik? Dia sarjana? Punya pekerjaan tetap, kenapa juga ditolak? Hanya karena dia satu kampung?. Hatinya melirih namun tak bisa mengatakan kata-kata yang dia rangkai dalam benaknya.
“Apa?” Seketika bibirnya berucap dengan terbata.
“Kenapa? Apa dia kenalanmu?” Tanya Ibu.
Bukan karena seseorang yang melamar itu adalah seseorang yang dikenalnya, namun Salma sudah merasa cukup lelah untuk mengikuti perasaannya. Salma ingin menerima orang lain meski sekarang dia belum melupakan Malik. Dia berpikir Malik sudah melupakannya, maka dia juga harus segera begitu. Mungkin dengan menikah lambat laun, dia akan melupakan cinta pertamanya itu. Namun mengapa orang tuanya malah merenggut kesempatan itu? Salma menghembuskan napasnya dengan kasar.
“Bukannya Ibu menyuruhku menikah? Kenapa di tolak?” Salma dengan putus asa tak berani menatap ibunya.
“Iya, tapi kita juga harus memilih.”
Salma sudah membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, namun terhenti karena mendengar seseorang mengucapkan salam dari luar.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam.”
Ibu beranjak membukakan pintu yang dia pikir itu adalah putra dan suaminya yang baru datang dari mushola, sementara Salma ditinggal sendiri dan tak berapa lama dia juga beranjak untuk ke kamarnya.
Tiba di kamarnya, Salma mendudukan diri di tepi ranjang. Sembari menatap tak berarah sekelilingnya, dia merasa hatinya sesak. Mengingat Malik yang mengabaikannya dan Tari yang mengatakan bahwa dia sedang dekat dengan seseorang yang hingga sampai saat masih membayanginya. “Apa yang harus aku lakukan.” Salma merintih.
Dia sama sekali tak ingin menikah dengan lelaki yang tak dicintainya terlebih tak dikenalnya. Namun sepertinya keinginan itu tak bisa selamanya dipegang, Salma menyadari dunia tidak semuanya berjalan sesuai kehendaknya. Dia kembali mengingatkan dirinya akan keyakinan yang pernah digenggam kuat, yaitu Tuhan pasti memberikan semua yang terbaik. “Aku pasti bisa, Malik aku pasti bahagia.” Salma membatin seolah didengar oleh Malik.
“Bapa mana?” Tanya Ibu saat membukakan pintu untuk Gani namun tak mendapat Bapa bersama anaknya.
“Bapa masih di jalan.”
“Oh.”
Gani masuk dan Ibu kembali menutup pintu. Bapa sudah biasa pulang terlambat karena berbincang dengan warga sini atau ada keperluan lain.
“De, bapa belum pulang?” Tanya Salma saat kembali ke dapur dan hanya melihat Gani dan Ibu.
__ADS_1
Gani mengangguk.
“Kalian makan saja duluan, bapa mungkin akan lama. Tahu sendirikan kalau bapamu ngobrol? Suka lupa waktu” Ucap Ibu.
“Ayo makan.” Lanjutnya memerintah kedua anaknya namun dia sendiri beranjak dari duduknya.
“Ibu mau kemana?” Tanya Gani.
“Ibu tak bisa makan tanpa bapamu. Kalian duluan saja.” Ibu berjalan menuju ruangan depan.
“Kita makan bareng ibu bapa aja kalau begitu.” Ucap Salma.
“Apa kamu tidak mengerti ibu menyuruh kalian makan duluan?” Ibu menghentikan langkahnya dan melihat kedua anaknya.
Salma dan Gani saling bertatapan.
“Oh baiklah kami makan duluan. Ayo dek.”
Ibu beralasan meminta anaknya makan terlebih dahulu agar dia makan bersama bapa tanpa diganggu oleh siapapun.
“Kak.” Gani bungkam di tengah makannya.
“Iya?” Salma melihat adiknya.
“Aku akan kuliah di luar kota, aku mungkin menginap di rumah paman atau ngekos.”
Gani mengangguk.
“Kampus tempat kuliah kakak dulu cukup bagus dan bahkan lebih bagus dari kampus yang ingin kamu pilih itu. Apa ada jurusan yang ingin kamu ambil yang nggak ada di kampus dekat sini?”
“Bukan begitu, aku hanya ingin suasana baru.”
Gani memilih untuk berkuliah di kampus yang jauh agar dia tak sering bertemu Sarah. Dia sudah memutuskan dan berpikir itu adalah keputusan yang terbaik agar dia bisa menjauhi Sarah.
“Apa kamu sudah bicara sama bapa ibu?”
“Sudah, mereka mengijinkan.”
“Baiklah, meski kakak sedikit merasa berat. Namun kakak selalu mendukungmu.” Salma tersenyum pada Gani.
“Oiya, sebenarnya tadi kami bertemu Malik.” Gani merendahkan suaranya.
“Oh.” Salma tak begitu terkejut karena sudah mengatahui Malik pulang kampung.
“Bapa mengajaknya bicara.” Lanjut Gani.
__ADS_1
“Apa yang bapa bicarakan?”
“Aku diminta untuk pulang duluan. Mungkin sekarang bapa masih bersamanya.”
“Apa?”
Seketika hatinya berdetak lebih kencang. Pikirannya melayang, memikirkan apa yang dikatakan Bapa pada Malik. Bapa yang belum pulang sampai sekarang dan sudah cukup lama membuatnya takut. “Apa bapa membicarakan yang tidak-tidak?” Pikirnya. Salma khawatir bapa mengatakan bahwa dia belum bisa melupakan Malik atau…malah memarahi Malik karena membuatnya tak bisa melupakan. “Ah ada apa lagi?” Pikirnya kalut.
“Assalamu’alaikum.” Terdengar suara bapa mengetuk pintu.
Ibu terdengar beranjak membukakan Bapa pintu.
Bapa pergi ke dapur dan disusul oleh Ibu. “Tadi dari mana?” Tanya Ibu sesampainya mereka di meja makan.
“Aku mampir ke rumah pak sobirin.” Jawab Bapa.
Mendengar itu Salma melihat Gani, namun dia tak mendapat balasan. Gani tak melihat ke arahnya. “Syukurlah.” Batinnya merasa sedikit lega.
‘’’’’
Malik sedang merapikan tempat tidurnya. Dia menarik-narik sprei kasurnya agar terlihat lebih rapi. Dia selalu merapikan tempatnya terlebih kamarnya agar dia bisa beristirahat dengan nyaman. Setelah selesai merapikan tempat tidur, dia memilih untuk mendudukan diri di bawah di samping ranjangnya. Dia duduk sembari melihat sekeliling kamarnya melihat-lihat kalau ada sesuatu yang belum tertata rapi, namun dia tak menemukannya. Semua sudah terlihat begitu selaras.
Malik teringat saat bertemu pak kades yang tak lain adalah orang tua Salma sepulang dari mushola tadi.
Dia tak sengaja bertemu saat keluar musholla, melihat pak kades dan Gani, Malik menyapa.
“Pak, Gani.” Sapa Malik, lalu berbalik untuk pulang.
Namun seketika langkahnya terhenti, jantungnya berdetak tak karuan mendengar orang tua Salma memanggilnya. Sejak setahun kemarin, Bapa tak pernah sekalipun mengajaknya bicara seperti sebelumnya. Maka dari itu wajar saja dia merasa tak biasa saat kembali dipanggil.
Malik kembali melihat Bapa.
Bapa meminta Gani untuk pergi lebih dahulu. Mendengar perintah Bapa, Gani segera menurut. Sekarang hanya ada Malik dan Bapa.
“Kapan kamu pulang?” Tanya Bapa seperi dahulu, pertanyaan itu terdengar ramah di telinga Malik.
“Pagi tadi pak.”
“Oh. Mari bicara santai seperti dulu. Jujur saja meski tak menginginkanmu jadi menantu tapi bapa menyukaimu. Jangan merasa sungkan apalagi menjauh.” Bapa tersenyum melihat Malik.
Malik tak menjawab, namun dia juga melihat Bapa dan tersenyum.
“Baiklah bapa duluan.” Bapa menepuk pundak Malik sebelum melajukan langkahnya.
“Iya pak.” Malik menunjukkan rasa hormatnya.
__ADS_1
Malik berpikir, Bapa seperti itu hanya ingin kembali berhubungan baik dengannya. Ini tak merubah apapun mengenai hubungannya dengan Salma. Dia tetap tak mendapat restu.