How Matcha Love You

How Matcha Love You
Kepingan yang Tercerai Berai


__ADS_3

Setelah Salma selesai mengerjakan tugasnya di ruang operasi, dia kembali ke ruang kerjanya. Dia duduk di kursi dan menghadap layar komputer yang ada di atas meja kerjanya itu.


Perasaan Salma saat ini sangat berbeda dari yang dia rasakan sebelum kembali bersama Malik. Sebelum pertemuannya itu, ketika Salma mengingat Malik, perasaan senang hanya sesaat dia rasakan, selebihnya adalah rasa sakit. Saat ini, rasanya tidak ada yang perlu dia khawatirkan karena nampaknya yang menjadi masalah utama yang sempat menghalangi perasaannya telah hilang. Restu orang tuanya sudah ada dalam genggamannya.


Salma tersenyum mengingat hubungannya bersama Malik sudah tak ditentang orang tuanya lagi. Segala rasa sakit yang selama ini dia rasakan karena tak bisa melupakan seseorang yang terus dia perjuangan untuk tak memikirkannya lagi karena keadaan yang sempat tidak menginginkannya bersama Malik sepertinya akan berakhir. Mulai saat ini Salma tak perlu berusaha untuk seperti itu lagi, hanya saja dia perlu sedikit bersabar untuk menunggu seseorang yang selalu di hatinya itu datang ke rumahnya untuk melakukan hal yang pernah dilakukan, kembali datang meminta izin untuk melamarnya.


“Dokter Salma, dokter ada di dalam?” Terdengar seseorang sembari mengetuk pintu ruangan Salma yang tertutup.


Mendengar itu, Salma tersadar, dia kembali beranjak untuk membuka pintu.


“Iya, ada apa?” Jawab Salma saat membuka pintu ruangannya.


“Resya.” Ucap Salma saat menyadari temannya lah yang sekarang ada di hadapannya.


Resya mengernyitkan alisnya melihat perlakukan Salma yang nampak berbeda.


“Apa yang kamu pikirkan?” Tanya Resya masih melihat temannya yang berdiri tepat di depan pintu. Tak seperti biasanya, temannya ini beranjak sendiri membukakan pintu untuknya.


“Bukan apa-apa.” Balas Salma sembari tersenyum.


Resya tentu tak langsung percaya dengan apa yang Salma ucapkan, temannya ini terlihat lebih bersemangat dari biasanya.


“Apa kamu menyembunyikan sesuatu?” Ucap Resya sembari melewati Salma, dia memasuki ruang kerja temannya ini.

__ADS_1


Melihat Resya memasuki ruangannya, Salma memilih menyusul Resya dan menutup pintu ruangan.


Sebelumnya Salma tak pernah memberitahu mengenai Malik pada Resya, dia belum menceritakan kisah percintaannya bersama Malik pada teman yang sekaligus rekan kerjanya ini. Jika Salma memberitahu apa yang dia rasakan saat ini, bukankah itu terlalu mengejutkan bagi Resya. Terlebih Malik juga belum datang ke rumahnya yang kemungkinan itu berarti masih banyak waktu yang Salma perlukan untuk bersabar menunggu hari yang dinanti akan tiba atau dengan kata lain masih jauh dari kata pasti meski dia merasa yakin Malik akan melakukan sesuai dengan apa yang dia harapkan. Salma takut sesuatu yang belum pasti ini diungkapkan lebih dahulu.


“Aku akan memberitahumu nanti.” Balas Salma, lalu kembali duduk di kursinya.


Resya tak merasa cukup puas dengan jawaban Salma, dia mencoba kembali memastikan tebakannya yang berpikir temannya ini telah diberi tahu atasan terlebih dahulu kalau dia akan naik gaji atau ini tentang lelaki. Resya merasa sedikit kesulitan untuk mengatakan tebakannya yang pertama, dia memilih untuk memastikan tebakan keduanya terlebih dahulu.


“Apa kamu sudah menemukan pengganti Pratama ya?” Ucap Resya seperti sedang menggoda Salma agar mengatakan sejujurnya.


“Ya semacam itu lah.” Salma memperlihatkan ekspresi bahagianya.


“Kamu punya pacar lagi?” Ucap Resya sembari menutup mulut dengan satu tangannya seolah sedikit merendahkan suaranya.


Meski dia duduk dengan tegak, berusaha melakukan semuanya seperti yang biasa dia lakukan, dalam hatinya Malik sedang merintih. Kepingan kebahagian yang dengan susah payahnya dia susun dan dirasa hampir selesai kembali rusak, kepingan-kepingan itu kembali tercerai berai. Air matanya bahkan sudah terasa kering, semua telah dia luapkan di malam panjangnya. Malik tak bisa tidur nyenyak di malam hari. Hatinya sungguh terasa perih. Tapi Malik tetap menjadikan dirinya terlihat sebagai seorang lelaki pengecut, dia tak bisa melakukan apapun untuk memperjuangkan perasaannya.


Sesekali Malik menghembuskan nafasnya perlahan dan memejamkan matanya. Perasaan senang dan penuh harap yang sempat dia rasakan sekarang telah sirna. Sesungguhnya Malik masih sama, dia tak bisa merelakan Salma, namun dia juga tak bisa melawan ibunya. Bu Siti tak memberinya restu untuk kembali melamar Salma, seseorang yang masih terus membayanginya.


Di depan pintu ruang guru, dari kejauhan Tari memperhatikan Malik yang terlihat menyendiri dan tak seperti biasanya saat waktu istirahat tiba dia selalu ke ruang guru. Dia melihat Malik, Tari memilih hanya melihat rekan kerjanya itu dari kejauhan.


Tak terasa bel tanda masuk kelas pun berbunyi, Malik tersadar dari lamunannya. Dia beranjak masuk kelas untuk kembali melakukan tugasnya.


‘’’’’

__ADS_1


Sudah hampir sepuluh menit setelah waktu belajar kelas 6 hari ini berakhir, namun Malik tak juga kembali ke ruang guru. Mengingat apa yang dia lihat saat jam istirahat, Tari merasa khawatir. Dia pun memilih untuk memastikan apa yang terjadi dengan rekan kerjanya itu, dia berjalan menuju ruangan kelas 6 tempat Malik mengajar.


Langkah Tari terhenti saat melihat Malik masih duduk di kursi guru sembari menunduk memegang kepala dengan kedua tangannya.


“Pak Malik.” Ucap Tari melihat Malik nampak sedang tidak baik-baik saja.


Mendengar seseorang ada di dekatnya, Malik menghembuskan nafasnya mencoba untuk tetap terlihat tidak ada yang terjadi pada dirinya. Namun, sepertinya kali ini dia telah tertangkap basah, dia tak bisa menyembunyikan rasa sakitnya.


Tari menatap Malik dengan perasaan khawatir, Malik nampak bersedih meski berusaha tak menunjukkan itu. Tari melihat jelas Malik baru saja menyeka air mata yang jatuh di pelupuk matanya.


Malik sadar dia tak bisa menyembunyikan rasa gundahnya, dia memilih menyerah dan memejamkan matanya.


“Maaf.” Tari memilih untuk kembali ke ruang guru. Menurutnya dia tak berhak untuk mengetahui apa yang sedang rekan kerjanya rasakan dan dia juga tidak perlu untuk menghiburnya. Tari berbalik dan melangkah untuk meninggalkan Malik. Namun, langkahnya kembali terhenti, saat terdengar Malik memanggilnya.


“Tari.” Ucap Malik.


“Bolehkah aku minta tolong padamu?” Lanjutnya, dia berusaha mengucapkan di tengah tangisnya.


Tari kembali sedikit menghampiri Malik, sebenarnya dia merasa khawatir dengan seseorang yang sekarang berdiri di depannya ini.


“Bukankah kamu pernah bilang akan membantuku demi kebaikan Salma?” Ucap Malik mencoba dengan lebih tenang.


Tari mengangguk. Pikirannya terasa seketika hampa, saat ini hanya perasaan khawatir yang menyelimutinya.

__ADS_1


“Bantu aku agar Salma membenciku.”


__ADS_2