How Matcha Love You

How Matcha Love You
Sepasang Manusia


__ADS_3

Nanda melihat Tari, sepertinya apa yang baru saja dia pikirkan kalau Tari memiliki perasaan pada seseorang yang juga dicintai oleh teman baiknya adalah benar. Nanda mengernyitkan alisnya sembari mengaduk minumannya.


“Memperhatikan?” Tanya Nanda sembari memainkan sedotan minumannya, dia tak begitu mengharapkan jawaban serius dari Tari karena mengingat situasi yang baru mereka hadapi sudah cukup menguras tenaga dan pikirannya.


Tari tak langsung menjawab.


Menyadari Tari nampak sedang mengkhawatirkan sesuatu, Nanda kembali melihat Tari, meski memilih untuk tidak mengatakan apapun.


“Aku sangat terkejut mendengar cerita Malik waktu itu, saat dia mengatakan bahwa hubungannya dan Salma tidak direstui dua tahun lalu. Sudah dua tahun? Bukankah itu… agak gila? Aku melihat Malik begitu tersakiti beberapa waktu yang lalu saat dia mengetahui kalau kali ini hubungannya kembali tidak direstui oleh ibunya. Haha.” Ucap Tari lalu tersenyum sinis.


“Dia sudah tahu dari waktu yang lama kalau perasaannya itu tak akan mudah untuk diperjuangkan. Tapi kenapa dia tetap begitu?” Lanjutnya.


Mendengar apa yang dikatakan Tari, Nanda hanya mendengarkan dan menunduk. Nampaknya selama ini Salma tak sendiri, temannya itu selalu mengharapkan lelaki yang merupakan cinta pertamanya, ternyata juga seperti dirinya. Malik tak berbeda dari Salma. Nanda yang hampir muak mendengar Salma yang sering menceritakan Malik, menolak lelaki lain, dan memilih untuk menjaga hatinya demi Malik. Nampaknya seseorang yang selama ini selalu dijaga dalam hati Salma juga melakukan hal yang serupa. Nanda tak tahu harus mengatakan apa, saat ini dia merasa sangat bingung antara tetap menutup rapat apa yang telah mereka lakukan atau mengatakan sejujurnya. Di antara dua hal ini dia menyadari sama-sama akan memiliki sisi baik dan buruk bagi Salma. Jika Nanda memilih diam, Salma mungkin akan lebih mudah untuk merelakan Malik, tapi ini adalah kebohongan yang mungkin suatu hari nanti akan terbongkar dan akan sangat mengecewakan bagi temannya itu. Untuk kedua, jika Nanda memilih mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, Salma mungkin akan merasa lega dan kembali dengan penuh harap atas cintanya, dia yakin Salma dan Malik adalah sepasang manusia yang saling mencintai dengan tulus, tapi itu tak mudah karena kenyataannya mereka akan lebih berjuang untuk mendapatkan restu atau akan melakukan hal sulit lainnya demi memperjuangkan perasaan mereka atau juga mungkin mereka berpisah dalam perasaan yang sangat menyakitkan bagi keduanya. Nanda memandang jauh kendaraan yang berlalu lalang dari dinding kaca kafe.


“Apa Salma juga mencintai Malik sebesar itu? Apakah dia mencintai sebenar cinta yang dia terima?” Tanya Tari lagi melihat Nanda, lalu juga menatap kosong jalan di luar kafe.


Salma mengangguk.


“Awalnya aku berpikir kalau Salma yang terlalu gila.” Nanda menghembuskan nafasnya perlahan.


“Dari kuliah, sebelum dia benar-benar dekat dengan Malik, dia sering bercerita tentangnya. Dia begitu bersemangat waktu itu, padahal tidak ada hubungan di antara mereka.”

__ADS_1


“Lalu setelah dia tahu hubungannya tak diinginkan orang tuanya, dia begitu bersedih, banyak lelaki yang menyukainya tapi dia tak pernah menerima. Dia seperti menutup diri untuk lelaki lain. Aku merasa sangat khawatir saat itu.”


“Benarkah?” Tari melihat Nanda dengan serius, meski ini bukan hal yang begitu mengejutkan baginya terlebih mengingat saat-saat Salma bertemu Malik. Perasaan di antara mereka terlihat begitu jelas. Namun dia tak berpikir kalau Salma telah mengharapkan Malik dari waktu yang lama.


“Iya.”


“Apa selama ini dia tak pernah bersama orang lain?” Tari penasaran.


“Beberapa waktu yang lalu dia baru putus dengan rekan kerjanya di rumah sakit. Awalnya aku merasa sangat lega mendengar dia punya kekasih, tapi itu tak bertahan lama.” Balas Nanda.


“Apa kamu tahu alasannya putus dengan mantannya itu?”


“Apa?” Ucap Tari mengernyitkan alisnya.


“Kamu tahu? Aku bahkan tidak melihat wajah sedih sedikit pun setelah dia putus waktu itu. Jauh berbeda saat dia mengetahui kalau hubungannya tak direstui bersama Malik dan hari ini.” Ucap Nanda dengan putus asa.


“Dan… yang terjadi saat dia kembali bersama Malik, dia terlihat begitu bahagia.” Lanjut Nanda sembari memegang kepala dengan kedua tangannya. Dia sungguh merasa bimbang dengan apa yang telah dia lakukan.


“Haaaa maksud mu apa mungkin selama ini Salma juga hanya mencintai Malik meski bersama orang lain?” Tari menyandarkan diri di kursi. Dia juga merasakan hal yang sama dengan orang yang ada di hadapannya.


“Apa yang telah kita lakukan?” Lanjutnya, dia merasa buruk karena telah berbuat sesuatu yang bahkan dia tidak tahu pasti apakah memberikan dampak yang baik atau buruk untuk hubungan percintaan rekan kerjanya itu.

__ADS_1


‘’’’


Malik memilih pulang tak lama setelah Salma pergi meninggalkan dirinya di kafe beberapa waktu yang lalu. Saat ini Malik telah memasuki jalan kampungnya. Dari kejauhan, meski lampu jalan tak membuat penglihatannya begitu jelas, namun Malik menyadari kalau dirinya melihat seseorang nampak berhenti di tepi jalan. Setelah lebih dekat, jantungnya seketika berdebar lebih cepat. Rasa perih yang baru beberapa saat mampu sedikit dia tawarkan, kembali dirasa. Dia menyadari seseorang yang tak jauh darinya itu adalah Salma. Meski sempat terbersit pikiran untuk menghampiri Salma dan menenangkannya yang nampak terus menyeka wajahnya dengan kedua tangannya. Namun, Malik sadar, dirinya tak punya kewajiban dan tak berhak untuk melakukan itu. Dengan sedikit keraguan dan berat hati, Malik tetap melanjutkan motornya dan ketika tepat di dekat Salma dia menguatkan diri untuk tidak menoleh. Malik melajukan motornya tanpa melihat seorang perempuan yang hingga saat ini masih mengisi hatinya.


Sementara Salma kembali menghembuskan nafasnya. Saat menyadari seseorang akan melalui jalan di sampingnya Salma segera mengeringkan air matanya. Dia terus menyeka tangisnya dan hingga seseorang yang melewati dirinya sudah melaluinya, Salma melihat kedepan. “Apa?” Guman Salma saat menyadari kalau seseoarang yang baru melaluinya adalah Malik.


Salma tak ambil pusing, dia sudah cukup banyak menangis. Meski rasa sakitnya masih dia rasakan. Salma berkeinginan jika dirinya masih merasa sesak di hatinya, dia kembali akan melanjutkan untuk menumpahkan itu nanti saat dia sudah sendiri di kamarnya. “Ayo.” Salma menguatkan diri lalu kembali melajukan motornya.


Sesampainya di rumah, Salma membuka pintu yang tak terkunci secara perlahan. Dia merasa lega saat memasuki rumah dan tak melihat orang tuanya di ruang tamu. Salma segera menuju kamarnya.


“Hei.” Salma dikagetkan dengan keberadaan Gani yang hampir menabrak dirinya saat menuju kamarnya.


Gani yang melihat kakaknya nampak terburu-buru membuat dirinya lebih memperhatikan kakaknya itu.


“Ada apa dengan mata kakak?” Tanya Gani saat melihat mata Salma nampak sembab.


Salma takut apa yang dikatakan Gani akan didengar oleh orang tuanya, dia pun segera menarik Gani untuk masuk ke kamarnya. Sesudah berada di kamar, Salma menutup pintu.


“Tsutt.” Pinta Salma agar Gani tak mengatakan keadaan dirinya pada orang tuanya.


“Kakak menangis?” Tanya Gani khawatir tanpa menghiraukan permintaan Salma.

__ADS_1


__ADS_2