
Malik berniat akan memberitau ibunya mengenai hubungannya dengan Salma secepatnya. Karena bagaimana pun semua ini tak bisa terus disembunyikan, Malik harus meminta restu pada orang tuanya, lalu meminta izin pada orang tua Salma seperti yang pernah dia lakukan beberapa tahun yang lalu.
Malik tak keberatan dengan hal itu, meski kali ini mungkin dia akan memohon pada orang tua Salma, dia akan tetap melakukannya. Malik tak akan menyerah, dan dia siap menerima apa pun yang orang tua Salma katakan.
“Mari kita menikah.” Ucap Malik, dia melihat Salma dengan tatapan serius dan tulus.
Mendengar apa yang Malik ucapkan, seketika hati Salma berdetak. Meski saat ini dia merasa senang, namun ada secuil rasa sakit yang saat ini juga dia rasakan. Salma meletakkan satu tangan di dadanya.
“Ada apa?” Tanya Malik merasa khawatir melihat Salma yang tak kunjung menjawab ucapannya.
Bukan karena Salma tak senang mendengar Malik yang ingin menikah dengannya. Dia hanya takut kejadian seperti dua tahun yang lalu kembali terulang, Salma takut Malik tak bisa menghadapi itu dan kembali menjauhinya.
Rasa sakit yang pernah Salma rasakan berawal saat mengetahui orang tuanya tak memberikan restu untuk Malik melamarnya. Itu sudah sangat menyakitkan bagi Salma, hingga rasanya dia merasa tak berdaya. Namun ada secercah harapan saat itu yang membuatnya kuat untuk bangkit, ya itu adalah Malik. Salma berharap saat itu dia bisa berjuang dan memikirkan solusi dari masalah itu sama-sama dengan seseorang yang juga merasakan sakit yang sama. Dia sangat menginginkan Malik ada di sampingnya, untuk memberikan semangat, dan untuk memberikannya kekuatan. Tapi apa? Harapan itu hanya sebuah kenyataan yang menambah rasa sakitnya. Malik memilih pergi dan tak mau memperjuangkan perasaannya.
Mengingat hal itu saja sudah membuatnya sakit, Salma tak mau kembali merasakan sakit yang sama. Dia berpikir tak apa-apa untuk tetap seperti ini beberapa saat lagi hingga dia melihat orang tuanya nampak menerima Malik sebagai pendamping hidupnya.
“Maaf, aku tak ingin kita gegabah. Tetap lah seperti ini untuk sementara.” Balas Salma. Dia merasa bahagia dengan apa yang mereka lakukan sekarang. Bertemu setiap akhir pekan dengan perasaan tenang menurutnya bukan lah hal buruk, dia tak keberatan kalau tetap seperti ini dalam waktu yang lama.
“Salma, aku merasa bukan diriku seperti ini.” Malik menatap Salma.
Sebelumnya, Malik tak pernah menjalin hubungan dengan siapa pun. Bahkan dia hanya pernah mencintai Salma selain keluarganya. Dia tak pernah seperti ini, dia tak pernah datang menghampiri seorang wanita, lalu duduk berdua menghabiskan akhir pekan seperti sekarang. Meski dia merasa bahagia, namun ada rasa yang membuatnya merasa tak nyaman, dia merasa bersalah karena telah melakukan hal yang tidak dibenarkan oleh agama.
__ADS_1
“Aku mencintaimu, aku ingin menjagamu.” Lanjut Malik, dia sudah merasakan hal ini sejak beberapa minggu yang lalu. Tapi melihat Salma yang nampak bahagia saat bersamanya, membuatnya terus mengurungkan niatnya. Kali ini Malik mencoba memberanikan diri.
“Maaf, aku membuatmu seperti ini.” Salma menyadari Malik adalah seorang lelaki yang sholeh. Dia merasa malu karena begitu lancang meminta Malik terus datang untuk menemuinya.
“Tidak, ini keputusanku juga.” Malik tak mau Salma merasa bersalah karena dirinya.
Meski Malik merasa tak nyaman saat menemui Salma dengan keadaan seperti ini, namun rasa tak nyaman itu tidak sebanding dengan rasa bahagianya. Rasa bahagia yang Malik rasakan jauh lebih besar. Duduk bersama sesorang yang dia cintai seperti ini adalah sebuah angan yang selalu dia pikirkan saat tak bersama dengan Salma.
Salma melihat Malik dengan perasaan malu, dia melupakan tentang apa yang baik dan kurang baik. Dia hanya memikirkan kebahagiaan sesaatnya.
“Kita sekarang menyadari, apa yang kita lakukan ini bukanlah yang paling tepat.” Malik menundukkan pandangannya.
“Mari kita perbaiki. Aku ingin menjemputmu dengan cara yang terbaik. Semoga Allah mempermudah jalan kita dan kita selalu diberi kekuatan untuk terus melangkah di jalan benar.” Ucap Malik.
Salma merasa dirinya sangat beruntung karena mencintai Malik yang merupakan seseorang yang sangat menjaganya. “Aku memerlukan orang sepertimu.” Salma membatin.
Setelah beberapa saat, Salma mengingat satu hal yang membuat dirinya penasaran mengenai pendapat Malik mengenai satu hal. Dia pun memberanikan diri untuk bertanya.
“Malik, bolehkan aku bertanya sebelum aku pergi.” Salma sejenak melihat Malik, lalu kembali menundukan pandangannya.
Melihat tingkah Salma yang tiba-tiba berubah, membuat Malik tersenyum. Dia merasa Salma sungguh merupakan tipe wanita idamannya, Salma sepemikiran dengannya sehingga dia tak perlu mengatakan hal banyak untuk membuat Salma mengerti dengan apa yang dia maksud.
__ADS_1
“Boleh.” Jawab Malik singkat.
“Jika kita menikah, apa kamu memperbolehkan aku tetap bekerja?” Tanya Salma, dia sudah dari lama penasaran dengan ini.
“Kalau kamu menginginkannya, aku tak akan melarang.” Jawab Malik.
“Benarkah?” Salma mencoba menyakinkan.
“Tentu saja. Kamu sudah bekerja keras untuk meraih cita-citamu itu, aku tak mau membuatmu harus cepat kehilangannya.” Malik lalu tersenyum
“Yeah.” Salma tak bisa menutupi rasa senangnya. Salma menutup mulutnya untuk sedikit menutupi ekspresi bahagia yang tak bisa dia sembunyikan.
“Baiklah.” Salma beranjak.
Meski dengan berat hati Salma pergi meninggalkan Malik yang merupakan salah satu sumber rasa bahagianya, namun dia menyadari mungkin ini adalah hal yang terbaik yang bisa dia lakukan. Dia percaya Malik adalah seseorang yang tulus. Dia percaya, Malik akan datang dengan cara terbaik.
Dalam langkah Salma yang berlalu meninggalkan cinta pertamanya itu, dia berdoa. “Ya Allah, tolong bantu kami, tolong biarkan kami bersama dalam satu ikatan yang kau ridhoi.” Salma menatap matahari yang menyilaukan pandangannya, dalam hati dia berharap, kehidupannya akan secerah matahari yang menyilaukannya ini. Salma tersenyum menyadari dia mencintai seseorang yang tepat, seseorang yang tulus, seseorang yang dia yakini bisa menuntunnya menjadi seseorang yang lebih baik lagi.
Malik baru menoleh untuk melihat Salma setelah Salma dirasa sudah cukup jauh darinya. Sesaat ingin rasanya dia menghentikan Salma dan berkata ‘mari bersama sebentar lagi’, namun dia tersadar. Apa yang dia katakan dan apa yang baru Salma lakukan yang pergi meninggalkannya adalah hal yang terbaik yang bisa mereka lakukan. “Aku harus bersabar untuk mendapatkan sesuatu yang besar dan aku harus berusaha lebih keras untuk sesuatu yang luar biasa.” Pikirnya. Setelah menghabiskan minumannya, Malik juga beranjak untuk pulang.
Sembari melajukan motornya, Malik berpikir tindakan apa yang akan dia lakukan. Dia berpikir untuk kembali meminta izin pada ibunya terlebih dahulu. “Bismilah.” Gumamnya dengan semangat.
__ADS_1