
“Benarkah?”
Nanda mengangguk yakin.
Salma kembali dibuat kecewa, seseorang yang diharapkan bisa menggantikan posisi Malik di hatinya ternyata sudah tidak mengharapkannya lagi seperti beberapa bulan yang lalu. Salma menyadari dia sungguh telah menyia-nyiakan orang baik yang ingin mendekatinya. Dia harus menerima kenyataan seseorang yang pernah memperjuangkannya tidak selamanya seperti itu. Cinta punya masa dan batas untuk menunggu balasan yang diinginkan, jika seseorang yang dituju nampak tak bisa memberi balasan seperti yang diharapkan maka cinta sudah sepantasnya telah mencapai batas itu. Batas yang menjadi jalan akhir yang mengisyaratkan siapapun untuk berhenti melanjutkan harapan atas perasaannya.
“Ada apa?” Nanda melihat Salma yang terdiam seperti tak bersemangat.
“Tidak apa-apa.” Salma memaksakan senyumnya, tak mau temannya tahu bahwa dia merasa kecewa mendengar Fiki sudah tidak menginginkannya lagi.
Nanda menceritakan betapa Fiki mengharapkan Salma waktu itu. Meski dia mengatakan bahwa Salma tidak akan mudah mencintai seseorang terlebih saat itu juga menyukai Malik, Nanda meminta Fiki untuk menyerah. Namun karena perasaannya yang tidak main-main, Fiki masih ingin berjuang.
“Aku sungguh merasa lega, saat kami kembali bertemu dia sama sekali tidak membicaran kamu, sedikit pun.” Nanda sungguh terlihat senang.
“Syukurlah.” Balas Salma menutupi rasa kecewanya.
Lagi-lagi Salma tidak menemukan seseorang yang tepat untuk menggantikan Malik.
‘’’’’
Setelah bel berbunyi yang menandakan bahwa pembelajaran hari ini berakhir, semua siswa bersiap untuk pulang. Gani ingin menyapa Sarah setelah beberapa hari menahan diri untuk melakukannya. Sekarang Gani mempunyai keberanian untuk melakukan apa yang dia biasa lakukan pada Sarah. Hal-hal kecil nan sederhana seperti menyapa, memberikan senyuman berharap mendapat balasan serupa serta berbicara mengenai hal ringan diselingi dengan candaan. Meski itu terdengar sederhana namun sungguh membuatnya bahagia dan rindu jika beberapa saat telah dilewatkan.
“Sarah” Panggil Gani yang sedari tadi mengikuti langkah Sarah yang ingin mengambil sepedanya di parkiran sekolah.
“Gani, ada apa?” Sarah membalikkan badannya dan mendapati Gani yang mengikutinya.
__ADS_1
“Tidak apa-apa.” Ucap Gani tersenyum.
Sarah juga tersenyum melihat tingkah temannya ini. Mereka pun terus berjalan beriringan.
‘’’’’
Hari ini, Malik berniat untuk mengembalikan wadah hidangan ketupat yang diberikan Tari padanya sekitar seminggu yang lalu. Menurutnya kalau mengembalikan dalam keadaan kosong itu kurang tepat, jadi dia berencana untuk mengisinya sebelum dikembalikan pada Tari.
Seperti biasa Malik berjalan kaki menuju sekolah karena jarak rumah yang dia tempati dengan sekolah tempatnya mengajar cukup dekat hanya sekitar 100 meter. Di tengah perjalan, Malik singgah di sebuah toko donat yang ada di pinggir jalan. Malik meminta penjual untuk memasukan donat yang dia beli ke dalam wadah milik Tari lalu memasukan wadah tersebut ke dalam tasnya.
‘’’’’
Tari merasa hatinya tidak dalam keadaan seperti biasanya. Ditambah dengan seseorang yang terus terngiang di kepalanya. Seseorang itu tidak lain adalah Malik rekan kerja barunya. Malik yang bukan hanya tampan, namun juga ramah dan memiliki sikap yang baik membuat Tari senyum-senyum sendiri ketika mengingatnya. Sepertinya Malik berhasil menggoyahkan dinding kokoh yang dibuat Tari untuk melindungi hatinya dari beberapa tahun yang lalu, setelah dia berhasil melepaskan diri dari mantan kekasihnya Aldi yang merupakan teman sekelasnya saat SMA.
Waktu itu, setelah mereka hampir berpacaran dua tahun lamanya, Tari baru menyadari bahwa Aldi telah memanfaatkannya. Bukan hanya Aldi yang selalu meminta jawaban tugas padanya, tapi juga sering meminta uang jajan yang dimilikinya. Dengan pasrah Tari menyerahkan uang jajannya pada pacarnya waktu itu ketika diminta. Dia tidak pernah menolak apalagi memberontak. Semua itu dilakukannya dalam waktu yang cukup lama. Beberapa kali Aldi juga ketahuan telah menghianatinya bersama perempuan lain. Namun karena Aldi yang segera meminta maaf padanya dan terlihat dilakukannya dengan tulus, Tari kembali menerimanya. Tari tidak mengerti jelas dengan perasaannya mengapa dia mau melakukan semua itu. Yang jelas rasa trauma masih dirasakannya, setelah memberanikan diri untuk melepas Aldi dari kehidupannya. Meski setelah mereka putus Aldi beberapa kali meminta Tari untuk kembali bersama, namun karena tekadnya sudah bulat Tari tetap berusaha untuk menjauh. Hingga sampai sekarang baru kali ini Tari merasakan hatinya bergetar karena seseorang setelah terakhir kali dia rasakan saat bersama mantannya itu.
“Bu Tari tinggal dimana?” Tanya Bu Lina.
“Saya tinggal di jalan anggrek bu.” Jawab Tari.
“Ngekos bu?.”
Tari mengatakan bahwa dia tinggal di rumah bersama orang tuanya.
“Berarti sekarang hanya pak Malik dan pak Duan yang menempati rumah dinas ya.” Bu Lina melihat Bu Santi.
__ADS_1
“Iya, dulu pak Ferdi juga tapi sekarang beliau sudah beli rumah di sekitaran sini.”
Bu Lina mengangguk setuju.
“Assalamu’alaikum.” Ucap Malik yang baru datang.
Semua guru yang ada di ruangan membalas salamnya.
Saat Malik membuka tasnya, dia mendapati wadah milik Tari yang terisi dengan donat yang baru dibelinya. Awalnya Malik ingin segera mengembalikan wadah tersebut, namun melihat juga ada guru lain yang akan melihatnya, dia mengurungkan niatnya. Malik tidak ingin ini menjadi fitnah baginya dan juga Tari.
‘’’’’
Salma tidak terlalu memikirkan tentang perasaannya saat ini, dia ingin mengikuti alur sesuai rencana tuhan dan tidak ingin terlalu mengusahakan karena takut kembali dikecewakan oleh ekspektasinya sendiri. Jujur saja, dia orang yang cukup pemilih terlebih dia lebih dahulu menyukai Malik yang menurutnya merupakan lelaki tertampan dan terbaik yang pernah dia temui. Akan perlu waktu dan pertimbangan untuk memutuskan memilih orang lain terlebih jika menurutnya seseorang itu memiliki standar yang kurang dari Malik baik dari segi sikap, perilaku maupun ketampanan. Saat dia mulai memikirkan seseorang, Salma selalu membandingkannya dengan Malik hingga sampai sekarang dia belum juga menemukan yang tepat.
Sekarang Salma cukup dekat dengan Resya, bahkan mereka sering menghabiskan waktu istirahat kerja dan makan di kantin bersama. Watak Resya yang sedikit mirip dengan Nanda membuat Salma merasa mudah menerimanya. Resya sering memanggilnya terlebih dahulu saat jam istirahat kerja.
“Permisi, dok.” Resya sembari mengetuk pintu ruang kerja Salma yang tertutup.
“Silakan.” Salma sudah menebak itu merupakan Resya.
‘’’’’
Setelah semua siswa keluar kelas, Tari merapikan bukunya dan berjalan untuk melangkah ke luar ruangan. Tari menuju ruang guru.
“Bu Tari.”
__ADS_1
Tari membalikan badannya dan mendapati Malik yang ternyata orang yang memanggilnya.