How Matcha Love You

How Matcha Love You
Pulang untuk Kembali


__ADS_3

Salma diam tak menjawab mendengar apa yang diucapkan Malik. Hatinya bergetar, sepertinya dia tak akan bisa mengendalikan diri.


“Salma, maaf aku tak pantas mengatakan itu bukan? Itu sudah lama berlalu. Aku sangat senang jika kamu tak sepertiku.” Ucap Malik sembari menghela nafas.


Salma masih menahan diri, dia hanya mendengarkan tanpa menjawab sepatah kata pun.


Beberapa saat, dia telah memutuskan sesuatu yang sulit. Salma merintih, hatinya terasa perih mendengar pengakuan seseorang yang sudah dari lama dinanti.


“Salma, terima kasih atas segalanya.” Malik ingin hari ini sebagai akhir penderitaannya. Dia sungguh akan merelakan Salma setelah dia mengungkapkan perasaannya.


“Kenapa baru sekarang.” Salma akhirnya bungkam, dia benar-benar merasa kesal dengan dirinya sendiri.


“Kenapa, kenapa Malik.” Lanjutnya dengan suara bergetar.


“Maaf.” Kali ini Malik juga tak bisa menahan dirinya.


Salma mencoba menenangkan dirinya dan berpikir untuk melanjutkan keinginannya diawal. Salma menyerah atas keputusannya dan merubah tali pembatas yang membatasi dirinya. Kali ini dia berharap akan menjadi batasan terakhir, jika Malik tak bisa memenuhinya maka dia akan berhenti, tapi dia akan berjuang jika Malik bisa melakukannya.


“Aku ingin melihatmu.” Ucap Salma setelah beberapa saat.


“Apa?”


“Datanglah ke acara lamaran temanku minggu ini. Aku ingin pergi denganmu. Tapi kalau kamu sibuk dan tak bisa datang juga tidak apa-apa. Aku hanya akan menunggumu.” Salma memantapkan diri.


“Aku akan datang.” Jawab Malik bersemangat. Dia benar-benar telah melupakan keadaan yang tak sepenuhnya mendukungnya untuk kembali dengan Salma. Malik akan memperjuangkan perasaannya.


Mendengar jawaban Malik, Salma tak bisa menutupi rasa bahagianya. Seketika air matanya tumpah, dia sekuat tenaga menahannya agar tak diketahui Malik.


“Baiklah, aku akan mengirimkan alamatnya.” Salma sembari menahan air mata bahagianya. Hatinya kembali luluh, dia tak bisa mempertahankan keputusannya.


“Baiklah.”


“Aku tutup.”


“Iya”


Salma menutup teleponnya. Dia segera menuju tempat tidur dan beberapa kali menggulingkan diri. Dia sungguh merasa senang dan tak sabar menanti tibanya hari minggu.


Setelah beberapa saat Salma bangkit untuk mengirimkan alamat Nanda pada Malik. “Awas saja tak datang” Gumamnya. Tanpa disadari, Salma merasa dirinya lebih bersemangat dan kembali merebahkan tubuhnya.


Malik tersenyum melihat pesan yang baru diterimanya. “Akhirnya.” Malik merasa hatinya berbunga-bunga melihat nama Salma ada di daftar pesan masuk pada ponselnya. Dia terus memandangi pesan yang berisi alamat itu sembari terus menyunggingkan bibirnya. Dia merasa sangat bahagia, hingga melupakan rasa sakit yang mungkin akan dia rasakan karena telah bersikeras memperjuangkan cinta yang tak direstui.


‘’’’’


Hari Sabtu.


Salma sedang mencoba beberapa baju di kamarnya. Dia merasa bingung dengan dua pilihan. “Yang mana ya” gumamnya sembari menenteng dua baju di depan cermin.


Ibu berhenti, dia melihat putrinya di balik pintu kamar.


Salma baru menyadari keberadaan ibunya yang sudah cukup lama memperhatikannya.


“Buat besok?” Tanya ibu.

__ADS_1


Salma mengangguk sembari tersenyum melihat ibunya.


“Bagus yang mana menurut ibu?” Salma mencoba meminta pendapat ibunya.


“Hmmm” Ibu beberapa saat berpikir.


“Dua-duanya bagus.” Jawab Ibu dengan polosnya.


“Hem, itu lah yang membuatku bingung.” Salma kembali fokus memperhatikan diri di cermin.


“Kamu pergi dengan siapa?” Ibu penasaran karena hingga saat ini putrinya tak mengajaknya untuk pergi bersama.


“Apa tak apa jika aku berkata jujur?” Salma tetap memperhatikan dirinya di cermin.


Ibu merasa hatinya tak enak. “Apa dia akan pergi dengan laki-laki itu?” Pikir ibu, dia punya firasat anaknya akan pergi bersama Malik.


“Kamu tak ingin memberitahu ibu?” Ibu mencoba mengulur waktu. Dia sudah siap mendengar Malik dari mulut anaknya, namun sebisa mungkin setidaknya dia bisa sedikit memperlambat hal itu terjadi.


“Aku…” Ibu tiba-tiba memotong ucapan Salma.


“Ibu juga mau pergi.” Ucap Ibu.


“Pergi kemana?” Tanya Salma, kali ini dia berhenti memperhatikan diri di cermin dan melihat ibu.


“Ke acara Nanda.” Jawab ibu singkat, dia tak mau Salma pergi dengan Malik, meski itu hanya perasaannya saja. Ibu mencoba mencegah hal yang dia takutkan.


“Ibu tidak diundang. Itu alasan aku tak mengajak ibu.”


“Sungguh?” Ibu memastikan.


Di lain tempat, Malik telah selesai mengajar. Dia bergegas pulang karena ingin segera pulang kampung untuk menunaikan keinginannya besok bertemu dengan seseorang yang selalu membayanginya. Malik tersenyum mengingat Salma yang mengajaknya untuk bertemu. Dia mengambil tasnya di ruang guru dan melangkah ingin keluar ruangan.


“Pak Malik.” Terdengar seseorang dari dalam ruangan memanggilnya, sontak itu membuat langkah Malik berhenti.


“Iya.” Malik berbalik.


“Besok sepupu saya ada acara, datanglah kalau bapak tidak ada kesibukkan.” Ucap Bu Sari.


“Oh maaf, sepertinya saya tak bisa datang.” Balas Malik.


“Oh baiklah, kebetulan rumahnya tak jauh dari kampung halaman bapak. Kalau saja bapak pulang, bisa sekalian ke sana.”


“Oh, maaf saya juga ada undangan.” Malik tersenyum, lalu kembali melanjutkan langkahnya.


Malik merasa dirinya sangat bersemangat, dia pun dengan sigap melangkah, lalu bersiap untuk kembali ke kampung halamannya.


Ibu masih berdiri melihat putrinya.


“Apa kamu pergi dengan Malik.” Ucap Ibu memberanikan diri, dia tak mau dibayangi oleh ketakutan yang tak tentu kebenarannya.


“Bagaimana ibu tahu.” Salma melihat ibunya.


Ibu menghembuskan nafasnya dengan kasar, Ibu berbalik dan meninggalkan kamar Salma.

__ADS_1


“Ibu.” Salma menyusul ibunya.


Ibu berhenti.


“Maaf bu, aku belum bisa seperti yang ibu harapkan.” Salma menunduk.


Ibu berbalik, melihat Salma.


‘’’’


Malik telah tiba di depan rumahnya. Dia merasa hatinya lebih bahagia dari biasanya.


“Assalamu’alaikum.” Malik mengetuk pintu.


Tak ada jawaban, Malik kembali mengetuk pintu.


Di dapur, Bu Siti dan Sarah sedang membersihkan kecambah.


“Apa ada seseorang di depan?” Bu Siti melihat putrinya.


“Sepertinya.” Sarah beranjak untuk memeriksa.


Kali ini, Malik tak memberitahu kalau dia akan pulang kampung, jadi wajar saja Ibu dan adiknya tak menyambut kepulangannya.


“Kak Malik.” Ucap Sarah saat melihat sosok yang ada di balik pintu.


Malik tersenyum.


“Ibu mana?”


“Ada di dalam.”


Malik segera masuk untuk menghampiri ibunya.


“Hei kenapa pulang?” Ucap Bu Siti melihat anaknya datang tanpa memberitahu terlebih dahulu.


Malik hanya tersenyum dan meraih tangan ibunya.


Keesokkan harinya, setelah sarapan bersama keluarganya, Malik bersiap untuk pergi.


“Mau kemana?” Tanya Bu Siti melihat anaknya tampak lebih rapi.


“Aku mau ke undangan.” Jawab Malik singkat, dia belum siap untuk memberitahu yang sebenarnya bahwa dia akan pergi untuk menemui Salma.


“Oh baiklah, hati-hati.” Ucap Bu Siti.


Malik mencium tangan ibunya dan pamit pergi.


Setelah tiba di depan jalan kampungnya, Malik menepikan motornya. Dia berniat menunggu Salma di sini.


Sementara Salma, setelah dia selesai merapikan jilbabnya, dia keluar rumah dan melajukan motornya. Salma berpikir dia akan bertemu Malik di tempat acara.


Salma keluar jalan kampungnya.

__ADS_1


“Salma.” terdengar seseorang memanggilnya.


Salma berhenti dan melihat Malik yang ternyata memanggilnya.


__ADS_2