How Matcha Love You

How Matcha Love You
Pohon Harapan


__ADS_3

“Iya.” Jawab Tari.


Salma terdiam mendengar Tari yang mengatakan bahwa dia sungguh dekat dengan Malik. Hatinya merasa sesak, meski sudah tak bersama, namun sebuah harapan untuk kembali bersama Malik masih tumbuh subur. Salma merasa kecewa, tapi ini sudah biasa dia rasakan. Dia sudah terbiasa menyembunyikan perasaan kecewanya karena kisah percintaannya yang belum sekalipun berjalan sesuai harapan.


“Kalau kamu? Apa kamu banyak mengetahui tentangnya?” Tari kembali bertanya.


Salma mengangguk.


“Apa dia punya mantan?”


Salma menatap Tari, harapannya sepertinya masih bisa dipertahankan. “Tari tidak mengetahui itu?” Batin Salma senang, berpikir Tari tidak sedekat yang dia pikirkan dengan Malik karena tentang itu saja tak tahu. Salma merasa lega.


“Aku merasa tidak enak menanyakan hal seperti ini padanya.” Tari tersenyum dengan wajah sedikit memelas karena penasaran.


“Apa?” Salma kembali merasa kecewa, rupanya Tari dan Malik benar-benar sering bersama.


‘’’’’


Di lain tempat, Malik duduk di kamarnya memikirkan Salma. Ada dua perasaan yang dia rasakan saat mengingat Salma yaitu perasaan bahagia dan sakit. Bahagia saat mengingat betapa indahnya di saat-saat bersama Salma meski itu sudah lama berlalu namun kenangannya sungguh nyata dan saat Salma tersenyum padanya, itu bisa mengalihkan segala bentuk ketakutan dan kekhawatirannya. Seketika itu juga dia merasa bahagia. Lalu merasa sakit, saat menyadari kenyataan yang tak menginginkan mereka bersama.


Ibarat sebuah pohon harapan yang tertanam di hatinya, jika teringat rasa sakit itu tiba-tiba daunnya jatuh berguguran. Saat semua daunnya hampir habis berjatuhan, satu hal yang membuat itu terhenti. Yang membuat daun itu berhenti berjatuhan ialah ketulusan. Malik menyukai Salma bukan berkeinginan untuk memilikinya, namun di sini lah dia memaknai kalimat bahwa cinta tak harus memiliki. Malik mempunyai kesempatan untuk berdoa. Berdoa agar Salma mendapatkan kebahagian. Ketika Salma bahagia Malik juga merasa begitu. Dia tak ingin melupakan Salma, karena itu tak akan bisa dia lakukan. Merelakan lebih mudah daripada melupakan. Dari sekarang dia hanya akan mencoba untuk merelakan.


‘’’’’


Melihat ekspresi Salma yang seketika berubah saat ditanyakan sesuatu tentang Malik, membuat Tari berpikir memang ada sesuatu di antara Salma dan Malik.


“Kenapa Salma?”


“Hehe, tidak apa-apa aku hanya sedikit kaget mendengar seseorang yang dekat merasa sungkan menanyakan sesuatu.”


“Maksudku, aku tidak tahu karena aku tak pernah dekat dengan seseorang. Aku belajar itu hari ini denganmu.” Lanjut Salma.


“Oh.”


“Jadi? Apa kamu tahu Malik punya mantan atau tidak?” Tari mengulang pertanyaannya kembali.


“Hmm.” Salma seakan sedang mengingat-ingat.


Salma berpikir apakah dia bisa dikatakan sebagai mantannya Malik? “Ah konyol” Pikirnya. Meski Salma merasa yakin Malik juga menyukainya waktu itu, namun dia tak pernah mengungkapkannya secara langsung dan mereka juga tak pacaran. Jadi mana bisa dikatakan mantan.


“Setahuku tidak ada.” Jawab Salma sembari tersenyum seolah tak memikirkan hal lain.

__ADS_1


“Oh. Kalau hubunganmu dengannya?” Tari tak bisa menahan diri karena merasa yakin ada sesuatu antara Malik dan Salma, itu terlihat dari Salma yang seperti menyembunyikan sesuatu dan tatapan mereka satu sama lain saat bertemu tadi pagi.


“Aku…”


Salma menjawab namun terpotong oleh bunyi ponsel Tari yang berdering.


“Malik, menghubungiku.” Ucap Tari saat melihat layar ponselnya. Dia terlihat senang mengetahui itu panggilan dari Malik.


Salma hanya melihat dan memaksakan senyumnya. “Apa yang membuatnya menelpon Tari.” Pikirnya tak bersemangat.


“Halo, Assalamu’alaikum Malik.” Tari mengangkat telpon.


Sebelum menelpon Tari, Malik memberi tahu Bu Siti bahwa dia juga mengantar Tari ke rumah sakit untuk menjaga neneknya yang sedang dirawat di sana saat pulang tadi. Bu Siti kebetulan sedang membuat bubur untuk Pak Amin, saudaranya yang sakit. Dia berencana meminta Malik untuk mengantarkan bubur itu ke rumah pak Amin yang tak jauh dari rumah sakit. Mendengar nenek rekan kerja anaknya sakit. Bu Siti meminta Malik sekalian juga mengantarkan sebagian bubur yang dibuatnya untuk nenek Tari.


“Wa’alaikumussalam, apa kamu masih di rumah sakit?” Tanya Malik pada Tari lewat sambungan telpon.


“Iya aku masih di rumah sakit. Kenapa?”


“Aku akan ke sana.”


“Oke aku tutup, wassalamu’alaikum.” Lanjut Malik menutup telpon.


“Wa’alaikumussalam.”


“Oh, maaf aku harus kembali.” Salma beranjak pergi ke ruangannya.


Sementara Tari masih di tempatnya, merasa tak sabar Malik akan kembali bersamanya.


‘’’’’


“Sudahlah.” Salma bergumam sembari berjalan di lorong rumah sakit untuk menyemangati hatinya yang sedang meradang. Dia berpikir sekarang sungguh tak ada harapan lagi untuk bisa bersama Malik. Dia tak sedikit pun menyalahkan Malik apalagi Tari, dia hanya menyayangkan hatinya yang begitu bodoh berharap pada seseorang yang bahkan sudah mengabaikannya.


Meski hatinya sekarang masih merintih, namun sebisa mungkin dia tetap berjalan tenang tak menunjukannya. Dia ingin mempersiapkan diri untuk melakukan operasi yang sebentar lagi akan dilaksanakan.


Setelah beberapa saat menunggu sembari berdiskusi dan membaca beberapa bahan untuk keberhasilan operasi yang akan dilakukan, Salma beranjak menuju ruang operasi.


“Salma.”


“Fadil”


Fadil berada di depan ruang operasi.

__ADS_1


“Kenapa di sini?”


“Ayahku. Tolong lakukan yang terbaik.” Ucap Fadil dengan nada memohon.


Salma mengangguk mengisyaratkan semua akan baik-baik saja. Dia memantapkan langkahnya memasuki ruang operasi.


Ternyata seseorang yang akan dioperasi oleh Salma kali ini adalah orang tua Fadil yang merupakan mantan tunangannya dulu. Dulu Salma menolak Fadil karena mengatakan bahwa dia sedang menyukai orang lain yaitu Malik.


‘’’’


Tak lama setelah Salma pergi ke ruangannya, Tari juga ke ruangan tempat neneknya dirawat. Sekarang Tari sedang duduk di kursi di samping ranjang tempat neneknya menyandarkan diri.


“Nenek akan baik-baik saja, hanya kelelahan.” Ucap Tari menenangkan nenek.


“Sungguh dokter bilang begitu?” Nenek merasa sedikit tak percaya, pasalnya dia masih merasa kepalanya sedikit pusing.


Tari mengangguk dan tersenyum.


“Tadi aku bertemu dokter Resya, dia bilang begitu.”


“Syukurlah.”


“Nenek harus istirahat dan jangan malas untuk makan.”


Nenek tersenyum pada cucunya dan memilih untuk kembali merebahkan tubuhnya.


Tari memeriksa ponselnya dan mendapati pesan dari Malik. Dia segera membuka pesan tersebut.


Malik memberitahunya bahwa sekarang di luar masih hujan. Dia akan ke rumah sakit setelah hujannya reda.


“Oiya, hujan.” Tari melihat jendela ruangan.


Meski merasa sedikit kecewa karena dia akan menunggu Malik sedikit lebih lama, namun Tari tetap merasa senang karena Malik mengabarinya.


Malik masih di rumah pamannya, dia mengirimi Tari pesan karena takut Tari sudah tidak ada di rumah sakit saat dia tiba. Dia bermaksud mengirimi Tari pesan agar dia menunggunya.


‘’’’’


Setelah beberapa jam di dalam ruang operasi akhirnya operasi selesai dan berhasil. Mendengar operasi ayahnya berhasil tentu saja membuat Fadil dan keluarganya bersyukur dan mengucapkan banyak terima kasih kepada para dokter. Melihat Fadil dan keluarganya bahagia, Salma tersenyum “Alhamdulillah.” Ucapnya.


Setelah selesai melakukan operasi, Salma langsung pulang. Sekarang dia berjalan di lorong rumah sakit. Dari jarak yang tak begitu jauh, Salma melihat Malik yang juga melihat ke arahnya. Mereka akan berpapasan. Melihat Malik juga sedang menatapnya, Salma segera mengalihkan pandangannya. Kali ini dia akan benar-benar mengabaikan Malik karena berpikir Malik juga akan begitu padanya.

__ADS_1


Sama halnya dengan Salma, menyadari keberadaannya diketahui Salma, Malik segera mengalihkan pandangannya. Dia juga akan mengabaikan Salma.


Saat mereka mulai mendekat hingga berpapasan, Malik dan Salma sama-sama tak melihat satu sama lain. Kali ini mereka saling mengabaikan. Seketika langkah Malik terhenti setelah beberapa saat melalui Salma. dia segera berbalik dan melihat Salma melangkah semakin menjauh darinya. Tek...Malik melihat Salma menjatuhkan sesuatu, namun Salma terus berjalan tidak menyadari itu.


__ADS_2