How Matcha Love You

How Matcha Love You
Batasan


__ADS_3

Tari menghentikan langkahnya, dia berbalik dan kembali melihat Malik.


“Apa?” Tari tak menyangka bahwa kenyataan hubungan Malik dan Salma seperti ini.


“Tolong jangan katakan apapun.” Lanjut Malik.


Tari mengangguk. Dia masih berdiri di tempatnya sembari mencerna apa yang baru diucapkan Malik.


Setelah beberapa saat mereka terdiam, Tari mencoba kembali bungkam.


“Sejak kapan kalian tahu kalau kalian tak direstui.” Tanya Tari memantapkan diri, dia tak mau masih ada rasa penasaran menyelimutinya. Sebenarnya meski Tari sudah merelakan Malik, namun dia masih memperdulikan rekan kerjanya ini. Bagaimana pun Malik hingga sekarang tetap ada di hatinya, walau bibirnya berkata tidak. Tidak mudah baginya untuk melupakan, tapi dia berusaha merelakan karena menyadari ada orang lain yang telah mengisi hati Malik.


“Dua tahun yang lalu.” Malik memilih mengatakan yang sejujurnya.


“Dua tahun?” Kali ini Tari tak kalah terkejutnya dengan yang sebelumnya.


“Ya.” Balas Malik.


Tari memegang kepalanya yang entah mengapa terasa berat. Dua tahun? Menurutnya itu bukan waktu yang sebentar. Menurutnya, tak sewajarnya Malik sangat menderita seperti ini. Mengapa Malik terlihat masih sangat begitu kasmaran terhadap Salma padahal itu sudah cukup lama berlalu dan… terhalang restu, itu bukanlah hal yang mudah. Sudah seharusnya Malik merelakan itu.


“Huh, apa yang ingin kamu lakukan sekarang? apa kamu akan tetap menyukainya meski keadaan terus seperti ini?” Tari bertanya sembari memperlihatkan sedikit senyuman sinis.


Malik memilih tak menjawab.


“Mungkin kamu sedang berusaha meski aku tak tahu pasti apa yang kamu usahakan. Aku hanya berharap apapun itu kamu akan berhasil. Seandainya kamu memerlukan bantuan aku kamu jangan sungkan, itu hanya karena aku peduli pada Salma.” Ucap Tari, dia tidak begitu mengerti apa yang dirasakan Malik, namun mencoba untuk memberi semangat.


Malik sedikit menyunggingkan bibirnya melihat Tari. Ingin rasanya dia mengeluarkan segala isi hatinya, bukan untuk dikasihani atau dimengerti, dia hanya ingin mengeluarkan apa yang selama ini berkecamuk dalam dadanya. Namun menurutnya menceritakan terlalu banyak pada Tari tak begitu tepat. Malik tak bisa begitu dan memilih untuk memendam sendiri.


Tak ada yang salah dengan apa yang dikatakan Tari. Selama dua tahun memang seharusnya dia tak seperti ini, tak seharusnya dia masih merasa sakit saat memikirkan Salma. “Aku mungkin hanya perlu lebih banyak waktu.” Pikirnya. Dia tak menyerah, dia akan tetap berusaha menjalani rutinitasnya dan sesedikit mungkin memikirkan Salma. Malik selama ini selalu menyibukkan diri agar dia tak terlena dalam pikirannya yang selalu ingin memikirkan cinta pertamanya itu.


“Baiklah, aku duluan.” Ucap Tari lalu pergi meninggalkan Malik.


Malik kembali ke ruang guru untuk mengambil tas lalu pulang.


‘’’’’


Salma duduk termenung di kamarnya, sesekali dia membuka buku tentang kesehatan yang entah berapa kali telah dia baca. Membuka lembar demi lembar untuk membaca sekilas, lalu bangkit dari duduknya. Menengok keluar dari jendela kamarnya, menghembuskan nafasnya dengan kasar. Lalu kembali duduk, kali ini Salma sedang memainkan ponselnya.


Salma melihat insta story Nanda yang sibuk dengan persiapan lamarannya yang tinggal beberapa hari lagi. Salma membalas insta story teman kuliahnya itu dengan memberi doa agar acara yang akan dilaksanakan itu berjalan dengan lancar.

__ADS_1


Selang beberapa menit setelah Salma mengirimkan pesan itu, dia belum saja mendapat pesan balasan. “Haha kamu pasti sibuk” Salma bergumam, kali ini tak seperti biasanya Nanda yang hampir selalu membalas pesannya dengan cepat.


“Haruskan aku pergi dengan ibu?”


“Atau…..apa lebih baik sendiri.” Pikir Salma tentang acara lamaran temannya itu.


Di lain tempat, Ibu sedang memainkan ponselnya, tak kalah dengan anak zaman sekarang, Ibu juga punya instagram dan mengikuti akun Nanda. “Kapan Salma begini.” Pikirnya melihat Nanda yang menunjukkan persiapan lamarannya.


‘’’’


Di rumah sakit.


Setelah Salma berada di dalam ruang operasi sekitar dua jam lamanya, dia segera membersihkan diri dan kembali ke ruangannya. Salma sesekali melakukan peregangan pada otot-ototnya lalu kembali duduk di kursi kerjanya. “Huh.” Salma menyandarkan pundaknya sembari melihat ponselnya.


“Aamiin, thank u bestiii” Terlihat pesan balasan kemarin dari Nanda.


Salma tersenyum melihat pesannya baru dibalas hari ini. “Dasar” Gumamnya.


“Oh” Salma menemukan ide. Dia baru terpikir setelah beberapa saat terdiam, dia memikirkan Resya. “Ya, aku bisa pergi dengannya.” Salma sedikit merasa lega memikirkan dia tak harus pergi dengan ibunya ke lamaran Nanda. Salma tak ingin pergi dengan ibunya bukan karena malu, atau hal miring lainnya. Dia hanya tak ingin ibunya merasa tak nyaman karena mungkin sebagian besar tamu akan datang dengan pasangan masing-masing. Menurutnya itu akan mengganggu ibunya dan mungkin juga akan membuatnya lebih di desak untuk memiliki pasangan juga. Itu akan merepotkannya.


“Baiklah” Salma mencoba mengirim pesan pada Resya.


Tak sampai 5 menit, masuk pesan balasan dari Resya.


“Sekarang tidak” Pesan balasan Resya.


“Aku akan ke ruangan mu.”


Salma beranjak menuju ruang kerja Resya.


Saat Salma keluar ruangannya, dia melihat Pratama di depannya yang juga melihatnya. Salma memilih untuk kembali melanjutkan langkahnya.


Pratama masih di tempatnya. Dia terus melihat Salma hingga hilang dari pandangannya. Pratama memejamkan matanya sejenak, dia menyesal karena telah menyia-nyikan Salma dalam hidupnya.


Sesampainya di ruangan Resya.


“Hai.” Salma duduk di kursi pasien di depan Resya.


“Bagaimana operasi tadi, berjalan lancar?” Tanya Resya.

__ADS_1


“Alhamdulillah.” Salma merasa bersyukur telah diberi kesempatan lagi untuk menyelesaikan operasi dengan sukses.


“Alhamdulillah.”


“Ada apa? Aku masih ada beberapa pasien sebelum istirahat?” Lanjut Resya.


“Minggu ini kamu sibuk?” Ucap Salma.


“Aku berencana akan mengunjungi tanteku dengan ibuku. Kenapa?” Balas Resya, namun juga penasaran maksud Salma menanyakan kesibukannya di hari minggu.


“Aku hanya ingin mengajakmu ke tempat temanku.”


“Apa kamu harus pergi denganku? Aku bisa menunda ke rumah tanteku.” Jawab Resya sedikit ragu.


“Haha tidak perlu, aku bisa pergi dengan yang lain.” Salma tak mau membuat rencana Resya batal.


“Sungguh?” Resya menyakinkan.


“Permisi.” Terdengar seseorang di balik pintu.


“Sepertinya itu pasien, dah aku bisa pergi dengan siapa pun.” Salma tersenyum lalu pergi kembali ke ruangannya.


Salam duduk di kursinya. Dia teringat perkataan Gani beberapa waktu yang lalu yang mengatakan bahwa adiknya itu mendukung hubungannya dengan Malik. Salma menghembuskan nafasnya dengan kasar.


Salma berpikir untuk memberi dirinya batasan. Suatu batasan yang mana jika dia telah mencapai batasan itu maka dia harus benar-benar merelakan cinta pertamanya itu.


“Haruskan dia?” Pikir Salma.


Salma memikirkan keputusan Malik yang akan menjadi batas terakhirnya untuk berharap. Salma akan meminta Malik datang ke lamaran Nanda, namun jika dia tak datang, Salma berjanji pada dirinya untuk bersikeras menghilangkan Malik dari hatinya.


“Aku tak takut.” Salma meraih ponselnya.


Di lain tempat, Tari berdiri di depan meja Bu Linda, mereka baru saja membahas suatu pelajaran siswa. Setelah selesai, Tari ingin kembali ke tempatnya.


“Bu maaf, sekalian bisa tolong letakkan ini di meja pak Malik.” Ucap Bu Linda pada Tari sembari mengulurkan tangannya yang memegang sebuah buku.


“Iya bu.” Tari mengambil buku itu dan segera meletakkannya di meja Malik.


Ponsel Malik bergetar.

__ADS_1


“Salma”


__ADS_2