How Matcha Love You

How Matcha Love You
Tangis dan Egois


__ADS_3

Mendengar apa yang baru dikatakan Tari, Nanda melihat Tari dengan putus asa, sejenak dia menyayangkan dengan apa yang baru dia dengar. Namun setelah dipikir, Nanda menyadari bahwa itu tidak sepenuhnya salah. Dia menunduk sembari memejamkan mata, dia belum siap melihat reaksi Salma setelah dibohongi oleh temannya sendiri. Nanda merasa cemas sekaligus khawatir.


“Apa semua ini sudah direncanakan?” Salma melihat kedua temannya secara bergantian. Dia mengharapkan Nanda dan Tari berkata iya, membenarkan apa yang dia pikirkan.


“Iya Salma, tapi..” Ucap Nanda, meski Salma mengetahui yang sebenarnya, namun menurutnya lebih baik Salma menyerah dan segera melupakan Malik karena jika temannya ini tetap mencoba memaksakan menurutnya itu hanya membuang waktu, tenaga, dan perasaan. Semua itu akan sulit.


“Tidak masalah.” Salma memangkas ucapan Nanda, dia merasa sangat lega mengetahui kalau Malik masih seperti seseorang yang dia kenal, dia tak percaya Malik berbuat sesuatu seburuk itu.


Salma merogoh ponsel di tasnya, dia akan menghubungi seseorang.


“Apa yang kamu lakukan?” Tanya Nanda dengan khawatir.


“Meneleponnya.” Ucap Salma sembari tersenyum.


“Sal.” Nanda menghampiri lalu memegang tangan Salma.


Sementara Salma melihat Nanda dan menghentikan aktivitasnya mencari nomor Malik di layar ponselnya.


Nanda menarik Salma keluar kafe. Tari yang melihat itu memilih untuk mengikuti mereka.


“Salma kamu tahu alasan Malik meminta kami melakukan semua ini?” Tanya Nanda saat menghentikan langkahnya beberapa meter dari kafe.


Salma mengangguk.


“Apa?” Nanda melihat Salma dengan tatapan tak percaya.


“Lalu apa yang kamu lakukan?”


“Kamu ingin kembali padanya meski tahu apa yang sebenarnya terjadi?” Lanjut Nanda mulai jengkel, namun di sisi lain dia juga merasa khawatir.


“Apa maksud mu?” Tanya Salma dengan nada yang sedikit bergetar melihat Nanda yang juga menatap dirinya.


“Hah?” Nanda merasa tak habis pikir dengan sikap Salma.


“Mungkin sejenak kita berpikir jika semua ini berjalan sesuai rencana sampai akhir. Aku kecewa dengan Malik hingga aku membencinya dan mudah untuk melupakannya. Itu keinginan kalian, yang menyayangiku.”


“Tapi… bagaimana dengan aku? Aku yang menyayangi Malik? Akan sangat mengesalkan dan menyesakkan mengetahui orang yang dicintai tersakiti, terlebih dia sendirian.” Lanjut Salma.


Nanda tak menyalahkan apa yang dikatakan Salma, dia mengerti temannya ini sangat mencintai Malik dan begitu pun sebaliknya. Jika memang Salma ingin kembali bersama dengan orang yang dicintainya, maka tak sepantasnya dirinya sebagai teman untuk menghalangi itu. Nanda melepaskan tangan Salma perlahan.

__ADS_1


“Maaf.” Ucap Nanda.


Salma tersenyum, dia tidak merasa kecewa dengan Nanda, dia menyadari apa yang dilakukan teman-temannya ini tidak lain untuk kebaikan dirinya, hanya saja mereka sedikit melupakan kalau Malik seseorang yang dicintainya itu juga bagian penting dalam hidupnya. Salma tak bisa berbahagia, jika tahu di balik kebahagiannya ada Malik yang menderita sendirian. Dia ingin selalu menghadapi keadaan apapun bersama seseorang yang dicintainya itu.


Salma kembali mencari nomor Malik di layar ponselnya. Setelah nama Malik ditemukan di daftar kontak, Salma tanpa ragu segera menghubungi nomor itu.


“Apa?” Gumam Salma terlihat kecewa.


“Ada apa?” Tanya Tari.


“Apa Malik ganti nomor?”


“Tidak,.” Balas Nanda singkat karena dihentikan oleh getar ponselnya. Dia pun merogoh kantong kemejanya dan mendapati ponselnya.


“Dia mengirim pesan padaku.” Ucap Nanda saat melihat bahwa Malik lah yang baru saja mengirim pesan padanya.


“Dia bilang apa?” Tanya Salma.


“Terima kasih.”


“Oh.”


“Apa nomorku diblokir?” Salma tersenyum sinis, dia berpikir rupanya Malik sungguh ingin melupakan dirinya setelah melakukan kebohongan. Meski terbersit rasa kecewa, namun dia kembali menyadari kalau Malik begini juga karena dirinya, Malik tak ingin berbagi luka yang lebih dalam dengan dirinya.


“Boleh aku meminjam ponsel mu?” Pinta Salma pada Nanda.


“Apa?”


“Oh tentu saja.” Meski sempat merasa tak begitu yakin, akhirnya Nanda mengulurkan tangannya yang memegang ponsel pada Salma. Salma menerima ponselnya dan menelepon Malik melalui ponsel Nanda.


Di lain tempat, Malik sudah merasa sedikit tenang walau perih di hatinya belum sepenuhnya hilang. Dia beranjak ingin keluar kamar, namun langkahnya terhenti saat mendengar ponselnya berdering.


“Halo?” Ucap Malik saat menerima panggilan.


“Assalamualaikum.”


Seketika jantungnya berdetak lebih kencang, rasa tenang yang baru menghampirinya, rasa-rasanya kembali menjauh. Malik merasa bergetar saat mendengar suara seseorang yang sangat tidak asing di telinganya dari ponselnya.


Malik terdiam. Begitu pun dengan Salma, mereka mematung dan tidak mengatakan apapun.

__ADS_1


“Kenapa?” Tanya Tari setengah berbisik melihat Salma yang nampak tak melanjutkan kata-katanya.


Salma sedikit menjauhkan ponsel Nanda dari telinganya.


“Maaf, aku ke sana dulu.” Salma menjauh dari Nanda dan Tari. Sementara dua temannya ini hanya melihat Salma semakin menjauh dari mereka.


“Malik.” Ucap Salma.


“Kenapa meneleponku? Nanda di mana?” Tanya Malik, dia mencoba agar tetap terdengar tenang dan tak mengharapkan Salma kembali padanya.


“Apa kamu sungguh ingin menyerah?”


“Apa? Apa maksud mu?”


“Kenapa kamu tak jujur padaku? Apa aku sangat menakutkan bagimu? Apa aku terlihat begitu? Tak bisa menerima untuk menderita bersama mu? Kamu tak percaya aku? Apa begitu?” Salma sedikit meninggikan suaranya. Dia mengatakan segala hal yang selama ini cukup mengganggu dirinya saat bersama Malik. Malik yang tak ingin berjuang bersama dirinya dalam keadaan menyedihkan.


“Salma.” Tanpa sadar Malik juga terbawa perasaan, dia juga meninggikan suaranya. Hingga tanpa sadar itu mungkin akan didengar oleh ibu dan adiknya.


Saat menyadari dirinya tak sendiri, Malik menghembuskan nafasnya dengan kasar sembari menatap langit-langit kamarnya. Dengan begitu, dia berharap bisa menjadi sedikit lebih tenang.


“Iya apa?” Balas Salma yang tak sabar mendengar jawaban Malik.


“Apa kamu tahu semuanya?” Ucap Malik, dia sudah bisa mengendalikan dirinya.


“Ibu mu.” Jawab Salma singkat.


“Iya, aku tak bisa melawannya apalagi menentang. Maaf Sal sudahlah. Jika kamu tak mempercayai diriku berselingkuh. Setidaknya percayalah diriku sebagai pengecut yang tak bisa memperjuangkan cintanya sampai akhir. Maaf aku terlalu lelah dengan semua ini. Sungguh ini sangat melelahkan” Ucap Malik di tengah tangis yang tak terasa kembali.


Salma juga menyadari Malik saat ini terdengar menangis.


“Apa kamu menangis? Lakukan dan ucapkan semua ini dengan lebih tegas dan menyakinkan. Aku tak bisa meninggalkan diri mu sendirian dalam keadaan menyedihkan seperti sekarang.” Balas Salma.


“Aku menangis karena begitu lelah dengan semua ini.” Malik sudah tak memperdulikan dirinya yang terdengar begitu menyedihkan.


“Kamu yakin?” Meski juga tak mampu membendung air matanya, namun Salma tetap berusaha agar terdengar tak menangis.


Tak terdengar jawaban dari Malik.


Malik menutup mulut dengan satu tangannya, kalau dia mengatakan sesuatu, suara tangisnya akan terdengar lebih jelas dan mungkin akan disadari oleh ibu dan adiknya yang juga ada di rumahnya.

__ADS_1


“Orang tuaku sudah tidak menentang hubungan kita lagi. Maaf mengatakannya sekarang.”


“Aku egois bukan?” Lanjut Salma.


__ADS_2