
Melihat Salma yang tiba-tiba menghentikan langkahnya, Malik ingin segera mengalihkan pandangannya untuk berhenti menatap Salma. Dia berpikir Salma mungkin berbalik untuk mengambil sesuatu yang terlupa. Namun sebelum Malik mengalihkan arah tatapannya itu, terdengar suara samar Salma menyebut namanya.
“Malik.” Seketika Salma menghentikan langkahnya saat menyadari Malik menatapnya. Bahkan saat dia berhenti pun, Malik masih tetap melihatnya, hingga Salma merasa yakin bahwa memang benar Malik sedang memperhatikannya dari belakang. Tak terasa mulutnya menyebut seseorang yang sudah cukup lama tak disebutnya itu.
Salma berbalik melihat Malik. Sementara Malik setelah mendengar Salma menyebut namanya, dia tak bisa mengalihkan pandangannya, dia tetap melihat Salma. sekarang mereka saling menatap. Meski tak terdengar sepatah katapun dari keduanya, namun mereka terus menatap satu sama lain seolah melepaskan rindu yang selama ini mereka rasakan.
Hatinya merintih, ingin sekali rasanya Malik melangkah, setidaknya sedikit mendekati seseorang yang sekarang ini di tatapnya, namun akal sehat menghentikan itu. Malik tak bisa melangkahkan kakinya untuk mendekat dan begitupun dengan mulutnya, dia membisu. Entah perasaan apa yang dia rasakan saat ini, yang pasti hatinya sedang dalam kondisi tak biasa. Terdapat rasa bahagia karena bisa bertatap dengan seseorang yang selama ini dia rindukan, namun juga ada rasa sakit, menyadari Malik tak bisa menyunggingkan senyum terbaiknya untuk Salma saat ini walaupun dia sangat ingin melakukannya.
Salma merasa bergetar, air matanya mulai mengumpul di pelipis matanya. Dia terus melihat Malik yang juga menatapnya. Dari tatapannya, Salma merasakan perasaan rindu yang tak tersampaikan dengan kata-kata. Salma menyadari, Malik juga sama seperti dirinya, sama-sama belum melupakan perasaan untuk satu sama lain.
“Maafkan aku.” Malik membatin. Dia merasakan Salma tak berubah sedikitpun, Salma adalah orang yang sama, seseorang yang mencintainya dulu dan dari tatapan sendunya itu, Malik menyadari Salma masih menyimpan perasaan untuknya.
Setelah mengambil wadah bubur yang diberikan Malik untuk neneknya kemarin, Tari bergegas kembali untuk menjumpai Malik. Dia tak ingin Malik menunggunya terlalu lama, maka dari itu dia mempercepat langkahnya, sedikit berlarian di lorong rumah sakit yang tidak terlalu banyak orang yang melewatinya.
Sesampaianya di tempat dia bertemu Malik terakhir kali, Malik tak ada di sana. Tari pun berjalan sembari melihat sekitar berharap Malik masih di rumah sakit dan menunggunya.
Tari memasuki lorong yang tak jauh dari situ. Setelah berjalan beberapa saat, dia melihat Malik berdiri dari kejauhan. Tari melangkah untuk mendekati seseorang yang sedari tadi dari ingin dijumpainya itu.
Terlihat Malik sedang menatap seseorang yang berdiri cukup jauh darinya. Tari pun mengikuti arah pandang Malik dan mendapati seseorang yang ternyata juga melakukan hal yang sama. Tari membelalakan matanya saat menyadari seseorang yang sedang ditatap dan menatap Malik adalah Salma.
“Malik.”
Mendengar seseorang memanggilnya seketika Malik menoleh dan melihat Tari berdiri tak jauh darinya.
__ADS_1
“Itu Salma.” Ucap Tari setelah lebih dekat menghampiri Malik.
Melihat Tari menghampiri Malik, tanpa meninggalkan sepatah katapun Salma kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya.
Malik dan Tari melihat Salma pergi hingga menghilang dari pandangan mereka.
“Apa kamu ingin mengembalikan itu?” Tanya Malik sembari melihat wadah yang dipegang Tari.
Mendengar perkataan Malik, Tari segera mengalihkan arah pandangnya yang sedari tadi juga melihat Salma sampai Salma tak terlihat lagi.
“Oh iya.” Tari mengulurkan tangannya untuk mengembalikan wadah milik rekan kerjanya itu.
Setelah menerima wadahnya, Malik bergegas untuk meninggalkan Tari. Melihat Malik langsung pergi, Tari pun berterima kasih.
Meski dari jarak yang cukup jauh, Malik melihat tatapan mata Salma nampak berkaca-kaca. Sembari berjalan dengan langkah yang cepat, dia menutup mulut dengan satu tangannya. Setelah cukup jauh berjalan, Malik berhenti, menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya.
Sementara Salma berjalan menuju ruangannya. bulir bening yang sedari tadi ditahan akhirnya tumpah saat dia berbalik meninggalkan Malik. Salma merasa hatinya jauh lebih sakit saat menyadari Malik juga memiliki perasaan yang sama dengannya. “Dia masih sama.” Batinnya merintih sembari mempercepat langkahnya.
“Apa yang membuat Salma berhenti?” Pikir Malik yang masih tak mengerti, mengingat Salma ada menyebut namanya. Karena penasaran, Malik pun kembali ke tempat dia melihat Salma terakhir kali.
Langkahnya tiba-tiba terkaku, bibirnya berdeyut ingin berkata sesuatu namun tak bisa dan dengan siapa dia berucap. Malik menutup kedua matanya, menyadari betapa cerobohnya dia yang ingin memperhatikan Salma diam-diam ternyata sudah diketahui oleh seseorang yang paling tak ingin menyadari itu. Malik berdiri di depan pintu kaca yang jelas menampakan wujudnya sendiri. lagi-lagi dia menghembuskan napasnya dengan kasar lalu berbalik untuk segera pulang.
Sedikit Malik merasa malu karena sudah dipergoki oleh Salma karena ketahuan memperhatikannya diam-diam. Namun ada rasa yang jauh lebih besar. Rasa takut. Malik takut Salma kembali mengharapkannya dengan kondisi yang seperti sekarang. Semua tak berubah, orang tua Salma yang baru menemuinya masih sama, masih tak menunjukkan restu padanya untuk bersama Salma. Semua masih sama, perasaannya dan dia melihat tatapan Salma yang nampaknya juga masih memiliki perasaanya yang sama untuknya seperti setahun yang lalu dan restu yang belum kunjung memihak perasaan yang sama dari dua insan ini.
__ADS_1
Malik berpikir lebih baik untuk tak menemui Salma lagi. Dia tak ingin semua kembali rumit seperti dulu. Dia sudah merasa terbiasa melihat Salma dan merasakan hatinya sakit, namun mungkin tidak dengan orang yang dicintanya itu, Malik tak ingin Salma merasakan hal yang sama sepertinya. Dia berkeinginan untuk tetap di rumah selama masa liburnya ini, tak kemana-mana agar tak bertemu dengan cinta pertamanya itu.
Setelah jam kerjanya habis, Salma mengambil tasnya dan bergegas untuk pulang. Di luar ruangannya terlihat Resya menyapanya, Salma pun membalas sapaan itu dan tetap melanjutkan langkahnya.
“Langsung pulang?” Tanya Resya.
“Iya, dah aku duluan.” Balas Salma yang semakin menjauh dari rekan kerjanya itu.
Salma sedang mengendarai motornya. Meski gajinya sudah lumayan dan mungkin sudah cukup untuk membayar cicilan mobil, namun dia tetap memilih menaiki sepeda motor. Mengingat dia masih tinggal di kampung, menurutnya kalau dia mengendarai mobil pasti itu akan membuat heboh ibu-ibu di kampungnya. Dia tak mau seperti itu dan sudah sangat menikmati kehidupan sederhananya sekarang.
“Baiklah Malik, aku dan kamu masih sama. Aku yakin tatapanmu itu.” Sejenak batin Salma berhenti bicara. “Tapi keadaan kita juga masih sama.” Lanjutnya lagi. Salma menyadari kalau orang tuanya juga tak berubah, masih nampak tak merestui hubungannya dengan Malik. “Baiklah, aku akan membantumu. Aku akan menjauhimu.” Batin Salma sembari terus melajukan motornya.
“Nak.” Panggil Bu Siti.
“Iya bu.” Jawab Malik.
“Tolong ambilkan kayu bakar di halaman.”
“Baik bu.”
Malik pun bergegas menuju halaman rumahnya untuk melakukan perintah ibunya.
Sementara Salma, sebentar lagi akan melewati jalan di depan rumah Malik. “Jika dia ada aku tak akan melihatnya.” Pikir Salma bertekat untuk mengabaikan Malik. Dan saat dia sudah mulai melihat halaman rumah Malik, dia merasa lega karena nampak tak ada seseorang di sana, namun.. Malik keluar rumah dan melihatnya.
__ADS_1