How Matcha Love You

How Matcha Love You
Tak Lagi Sama


__ADS_3

Mendengar apa yang dikatakan Tari, seketika jantungnya berdetak lebih kencang, diiringi oleh rasa sakit karena goresan yang telah melukai hatinya. Malik tersadar, dia pun segera melepaskan tangannya dari genggaman Tari lalu menunduk. Dirinya merasa tak bisa melakukan hal ini, tak sanggup rasanya membayangkan Salma merasakan sakit karena kecewa atas dirinya.


“Hei, apa yang kamu lakukan?” Ucap Tari setengah berbisik, menyadarkan Malik harus tetap melanjutkan ini sesuai rencana.


Tersadar akan keingianannya pergi ke sini, Malik kembali melihat Tari. Dia mencoba melakukan yang terbaik, dia melihat Tari sembari tersenyum agar Salma lebih menyakini dirinya sungguh telah berselingkuh.


Posisi Tari membelakangi Salma dan Malik tepat duduk di hadapannya. Saat ini, Salma tak menyadari kalau Tari lah perempuan yang bersama Malik. Sekarang Salma tidak memikirkan itu, dia hanya merasa sesuatu sedang menimpa hatinya, meski dia tak tahu persis perasaan apa yang sekarang sedang dia rasakan.


Setelah mengakui seseorang yang dia lihat adalah Malik, Salma segera mengalihkan pandangannya. Dia menunduk sembari menggenggam kedua tangannya.


Melihat temannya tak melakukan dan mengatakan apapun, membuat Nanda menjadi lebih khawatir. Tergambar jelas raut kebingungan di wajah Salma saat ini. Dia tak nampak kecewa, tapi dia juga tak terlihat bahagia. Nanda melihat Salma dengan khawatir, dia juga merasa bingung tindakan apa yang tepat untuk dia lakukan pada temannya ini.


Setelah beberapa saat dalam kebingungan, Salma memberanikan diri untuk kembali melihat seseorang yang baru dia lihat. Kali ini, hatinya terasa telah tertusuk belati, rasa sakit yang awalnya hanya terasa samar, kini sungguh telah dirasa. Salma menutup mulut dengan kedua tangannya.


Malik mengalihkan tatapannya, saat ini dia juga melihat Salma yang sedang melihat ke arahnya.


Menyadari Malik saling menatap dengan Salma, Tari segera menyadarkan Malik agar rekan kerjanya ini tak lemah dan menyerah. “Oke, sekarang bertindak lah sebagai bereng**k.” Ucap Tari setengah berbisik pada Malik.


“Salma.” Ucap Nanda melihat Salma yang nampak merasa sangat kecewa melihat Malik. Terlihat jelas rasa kekecewaaannya karena telah dikhianati seseorang yang sungguh dia cintai.


“Maaf.” Salma beranjak. Dia menuju pintu keluar kafe.


Melihat Salma keluar kafe, Malik juga beranjak, dia ingin mengejar Salma.


“Apa yang kamu lakukan?” Ucap Tari yang ingin menghentikan Malik, dia takut kalau saja apa yang telah mereka rencanakan akan berakhir gagal.


“Aku ingin mengakirinya di sini.” Malik melanjutkan langkahnya mengejar Salma.


Melihat Malik pergi mengejar Salma, Nanda pun memilih juga mengikuti langkah Malik. Dia mempercepat langkahnya keluar kafe.


‘’’’’


~Tadi sore


Gani masih di kampung halamannya. Dia sedang berjalan di pinggir jalan perkampungan sembari melihat dan menyapa orang-orang yang dia temui.

__ADS_1


Sekarang Gani berada di pinggir jalan di depan pos biasa anak muda berkumpul di sini. Namun pemandangan seperti itu sudah sangat jarang ditemui, anak muda sekarang lebih banyak menghabiskan waktu untuk sekolah, bekerja, atau melakukan pertemuan di sebuah kafe atau tempat makan. Sesama anak muda di kampung ini sudah tak banyak menghabiskan waktu bersama karena lebih banyak bergaul dengan teman sekolah atau rekan kerja yang bukan warga kampung sini.


Gani berhenti, dia segera menuju pos itu dan memilih duduk di sana.


Gani menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan. Sudah sekitar dua tahun dia pulang pergi keluar kampung untuk berkuliah, jika dibandingkan dengan keadaan sebelum dia meninggalkan kampung ini sudah banyak yang terlihat berbeda. Bukan hanya jalan kampung yang lebih nyaman dilalui karena adanya perbaikan dari pemerintah, namun juga kondisi lingkungan dan juga masyarakatnya. Dulu di sore hari seperti ini dia sangat banyak melihat anak-anak berlalu lalang sedang bermain bersama. Sekarang, meski hal seperti itu masih bisa dia temui, namun sudah tak sebanyak dulu. Hanya sedikit anak yang bermain di luar rumah.


Gani duduk sembari melihat dan menyapa orang-orang yang melihatnya. Meski telah banyak berubah, namun keramahan orang-orang di sini masih sama. Budaya saling sapa dan senyum masih kental bagi masyarakat di kampung ini.


Saat berada di pos ini, Gani bisa melihat bagian depan rumah Malik. Gani sedikit menyunggingkan senyumnya mengingat dulu dia pernah menunggu Sarah di sini. “Aku pernah begitu.” Gumam Gani sembari menunduk.


Terlihat Sarah baru datang dengan sepedanya. Gani terus memperhatikan Sarah dari kejauhan. “Rupanya dia masih bekerja.” Pikir Gani, lalu merogoh kantong celananya untuk mengambil ponsel. Dia cukup luang hari ini, Gani memilih tak segera pulang dan memainkan ponselnya di sini.


Setelah beberapa saat memainkan ponsel sembari menyandarkan kepala di dinding pos, Gani di kagetkan oleh seseorang yang memanggilnya.


“Gani.” Ucap Sarah saat menyadari Gani ada di hadapannya saat ini.


“Hei Sarah” Gani membenarkan posisinya.


“Maaf, kamu kenapa di sini? Bukannya sekarang belum musim libur semester?” Tanya Sarah.


“Iya, aku hanya ingin pulang, senin pagi atau besok malam aku akan kembali hehe.” Jawab Gani.


Sarah berbalik dan ingin melanjutkan langkahnya.


“Oiya, apa kamu buru-buru?” Tanya Gani yang seketika menghentikan langkah Sarah.


“Kenapa?” Tanya Sarah setelah kembali berbalik menghadap Gani.


“Apa kak Malik ada di rumah?” Ucap Gani.


“Sekarang tidak ada.” Jawab Sarah.


Gani tiba-tiba teringat sesuatu dan ingin memastikan apakah selama ini Salma sungguh menemui Malik setiap minggu seperti yang dia dan orang tuanya sangkakan.


“Oh.”

__ADS_1


“Apa akhir-akhir ini kakakmu sering pulang?” Tanya Gani kembali.


“Iya, kenapa bertanya?” Ucap Sarah, rasa penasarannya muncul mendengar Gani yang begitu ingin mengetahui sesuatu mengenai kakaknya.


“Aku rasa kakak kita kembali lagi.” Ucap Gani.


“Kembali lagi? Maksud mu?”


Meski sebenarnya Sarah mengerti apa yang dikatakan Gani, namun dia memilih seolah tak mengerti.


“Kak Malik sepertinya pulang karena kakakku.” Gani sembari melihat Sarah.


“Bagaimana menurut mu? Apa kamu juga berpikir begitu?” Lanjutnya.


Sarah mengangguk.


Gani tersenyum, dia merasa senang dugaannya selama ini benar. Dari awal Gani memang mendukung hubungan kakaknya dan Malik. dia merasa lega jika Salma kembali untuk memperjuangkan cintanya.


“Aku senang mereka kembali bersama.” Ucap Gani.


Sarah melihat Gani dengan tatapan tak bersemangat.


“Bagaimana dengan mu?” Lanjut Gani.


Sarah menggeleng. Dia menunduk mengingat apa yang dia dengar minggu lalu ketika Malik meminta restu pada ibunya. Dia mendengar betul kalau kali ini ibunya lah yang akan menjadi penghalang Malik kembali bersama Salma.


“Ada apa?” Tanya Gani melihat Sarah yang nampak tak sebahagia dirinya.


“Mereka tak bisa bersama.” Ucap Sarah.


“Kenapa? Mereka pasangan yang cocok, sama-sama pintar, punya karier yang bagus.” Sanggah Gani.


“Kali ini, ibuku yang tidak merestui.” Sarah melihat Gani.


‘’’’

__ADS_1


Salma tak bisa menutupi rasa kecewanya, dia mempercepat langkahnya dan sekuatnya menahan tangis. Seketika langkahnya terhenti mendengar suara seseorang yang sungguh tak asing di telinganya.


“Salma.” Ucap Malik menghentikan Salma yang berdiri tak jauh di hadapannya.


__ADS_2