
Tari melihat nama Salma di layar ponsel Malik yang bergetar. Ada apa Salma meneleponnya? Bukannya mereka tak punya hubungan? Tari terdiam sembari melihat ponsel Malik yang terus bergetar.
Ponsel Malik berhenti bergetar, Tari kembali ke tempatnya.
“Bukannya dia juga bekerja.” Salma menghentikan panggilannya.
Salma meletakkan ponselnya, lalu bersandar di kursi kerjanya. Dia menghembuskan nafasnya dan mencoba menarik nafas lagi lalu kembali menghembuskannya dengan kasar. “Apakah aku telah mencapai batas” Pikirnya. Salma merasa ini adalah akhir dari perjuangannya untuk kembali berharap dengan Malik. Dia bahkan tak diizinkan untuk mendengar suara seseorang yang sampai ini selalu diharapkan. Salma memejamkan matanya, dia tak menyangka akan seperti ini.
Setelah berkecamuk beberapa saat, dua tangan Salma saling menggenggam. “Baiklah” Gumamnya sembari melepaskan genggaman tangannya. Salma berpikir untuk berhenti melakukan apapun untuk hubungannya dengan Malik. Pikirannya kosong, dia bahkan tak memikirkan sosok seorang pun yang akan menemaninya ke acara lamaran Nanda. Saat ini dia hanya memikirkan saat ini, akhir perjuangannya untuk memperjuangan cintanya. Salma berhenti sebelum mengatakan apa yang ingin dia katakan, dia berhenti sebelum meminta Malik untuk memenuhi apa yang dia inginkan untuk pergi menemuinya di acara lamaran teman baiknya itu.
“Maaf kalau kamu juga merasakan hal yang sama sepertiku.” Salma membatin. Dia meratapi apa yang selama ini membuatnya terluka. Di balik keinginannya untuk merelakan cinta pertamanya itu, Salma selalu berharap Malik menemuinya dan datang untuk memperjuangan cinta mereka. Namun, itu tak kunjung dia rasakan. Salma takut, Malik memikirkan hal yang sama, yang juga mengharapkan kedatangannya.
“Maaf.” Salma bergumam sembari menutup mata dengan kedua tangannya. Dia terbayang kenangan dua tahun yang lalu saat Malik melihat ke arahnya dan memberikan senyum manisnya. “Maaf” Salma merasa bersalah mengingat kata-kata orang tuanya yang mungkin sangat menyakitkan bagi Malik. “Maaf” pikirnya karena telah membuat Malik jatuh hati padanya dan mungkin juga merasakan sakit seperti yang dia rasakan hingga sekarang.
‘’’’
Setelah menutup pelajaran hari ini, siswa yang diajar oleh Malik bergantian keluar ruang kelas.
Saat ini hanya tersisa Malik seorang diri, dia meraih ponselnya.
Detak jantungnya tiba-tiba berubah, jantungnya menjadi berdetak lebih kencang saat melihat panggilan Salma yang tak terjawab olehnya beberapa waktu yang lalu. Malik memilih kembali duduk di kursi guru di kelasnya mengajar sembari berpikir dan menenangkan diri.
“Ada apa?” Pikir Malik.
Malik segera mengirim pesan pada Sarah, dia berpikir mungkin Salma meneleponnya karena kepentingan keluarganya.
Tak menunggu waktu lama, Sarah membalas pesannya yang menanyakan kabar ibunya.
“Ibu sehat kka, ada apa? Apa kami perlu menelepon?” Pesan balasan adiknya.
“Syukurlah, nanti akan kakaknya hubungi, sekarang kakak masih di sekolah.” Balas Malik lagi.
Malik memegang kepalanya, dia memikirkan alasan Salma meneleponnya.
“Baiklah.” Malik kembali mencari nomor Salma dan mencoba menghubunginya.
Malik meletakkan ponsel di telinganya, dia menunggu Salma mengangkat panggilannya.
Perasaan takut, senang, cemas, dan khawatir bercampur menjadi satu. Harap-harap cemas sedang Malik rasakan. Dia mendengarkan getaran demi getaran panggilannya yang tidak kunjung diterima.
Di lain tempat, Salma sedang menikmati makan siangnya di kantin rumah sakit. dia tak sengaja meninggalkan ponselnya di ruang kerjanya.
__ADS_1
“Kamu pergi dengan siapa ke lamaran Nanda?” Tanya Resya.
“Aku pikir aku akan pergi dengan seseorang.” Jawab Salma asal, dia tak mau Resya merasa tak nyaman karena tak bisa menemaninya.
“Siapa, apa jangan-jangan kamu sudah punya pacar?” Resya penasaran.
“Haha, seseorang tidak harus pacar kan?” Salma tetap fokus dengan makannya.
“Apa kamu yakin tak apa jika tak pergi denganku?.” Ucap Resya menyakinkan.
Salma mengangguk, lalu tersenyum “Tentu saja.”
“Baiklah.”
Mereka melanjutkan makan siang mereka.
~Malik masih di dalam ruang kelas. Dia melepaskan ponsel dari genggamannya.
Malik berpikir mungkin Salma sedang sibuk hingga tak mengangkat panggilannya. Dia beranjak keluar ruangan.
‘’’’
Setelah selesai makan siang, di ruang kerjanya Salma melihat ponselnya. “Hah.” Salma awalnya tak menyadari dia telah meninggalkan ponselnya.
Sentuhan jari pada layar ponselnya berhenti saat melihat panggilan Malik yang tak terjawab olehnya. Salma berpikir beberapa saat. Dua hal yang akan dilakukan sedang diperdebatkan dalam pikirannya. Apakah harus menelepon balik?
Salma dengan berani menyunggingkan bibirnya. Meski dengan berat hati, dia mengakui dirinya telah memutuskan. Salma memutuskan dia telah mencapai batasan, dia tak mau berjuang. “Maaf Malik.” Salma membatin dan mengapresiasi dirinya karena telah berani memutuskan yang menurutnya itu sudah sangat sulit dia putuskan.
“Permisi.” Terdengar seseorang di balik pintu ruang kerja Salma.
“Semangat.” Salma menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya.
“Iya, silahkan masuk.” Salma mempersilakan pasien masuk ke ruangannya.
‘’’’
Malik terus memeriksa ponselnya, dia menunggu kalau saja Salma kembali memanggilnya.
Dia telah selesai memeriksa semua tugas siswanya, Malik kembali meraih ponselnya, namun hal yang dia tunggu tak juga menghampirinya. Malik merasa dirinya tak bersemangat.
Sementara Salma, setelah hampir seharian bekerja, dia berbaring di kamarnya untuk membuat dirinya terhanyut dalam lelap.
__ADS_1
Setelah berbaring beberapa saat, Salma membalikkan tubuhnya. Entah mengapa dia merasa kesulitan untuk tidur.
Salma memilih bangun dari tempat tidur dan duduk di depan meja belajar. Dia membuka lembaran buku dan sengaja membacanya dengan tujuan agar rasa kantuknya kembali. Dia pernah merasakan dirinya sangat mengantuk ketika belajar dan setelah membaca banyak buku, maka dari itu dia ingin melakukannya lagi saat ini agar dia bisa cepat terlelap.
Di lain tempat, Malik merasa gelisah karena sesuatu yang dia tunggu tak kunjung tiba.
Malik meraih ponselnya dan kembali mencoba menghubungi Salma.
Di depan buku yang dibaca, Salma mulai merasakan kantuk. Ponselnya tiba-tiba berdering. Salma meraih ponselnya dan seketika rasa kantuknya hilang saat melihat Malik menghubunginya.
Meski sempat ragu untuk menerima panggilan itu, Salma akhirnya mengangkatnya lalu meletakkan ponsel di telinganya.
“Halo.” Ucap Salma pelan. Dia berusaha berucap setenang mungkin.
“Halo assalamu’alaikum” Terdengar suara seseorang yang membuat hati Salma bergetar.
Salma memilih kembali duduk. “Wa’alaikumussalam.” Salma merasa hatinya berdegup kencang setelah mendengar suara seseorang yang sudah lama ingin dia dengar.
“Salma, bagaimana kabarmu?” Tak berbeda dari Salma, Malik sepertinya juga kehilangan arah. Dia merindukan seseorang yang saat ini menerima panggilannya hingga menanyakan hal yang sebelumnya tidak dipikirkan.
Awalnya Malik berniat menelepon Salma hanya untuk menanyakan alasannya menelepon tadi pagi. Tapi itu tak bisa langsung diucapkan, Malik ingin mengetahui keadaan Salma terlebih dahulu.
“Baik. Kamu? Bagaimana denganmu?” Ucap Salma.
“Aku juga baik.” Malik merasa tenang.
Mereka menikmati nafas demi nafas mereka masing-masing berhembus, beberapa saat terdiam, tanpa disadari mereka merasa nyaman.
Malik tersadar, dia ingat keinginannya untuk menghubungi Salma.
“Kenapa kamu menghubungiku tadi pagi? Apa ada yang ingin kamu katakan?” Ucap Malik memberanikan diri.
Salma tak langsung menjawab. Dia teringat dirinya yang telah mencapai batasan akhir untuk memperjuangkan cintanya.
“Salma.”
“Tak ada yang penting? Aku hanya gegabah, aku seharusnya tak menelepon mu.” Salma menguatkan diri.
“Oh.” Malik merasa kecewa karena Salma tak mengatakan sesuatu sesuai harapannya.
“Salma.” Ucap Malik.
__ADS_1
“Iya”
“Aku selalu memikirkan mu.”