How Matcha Love You

How Matcha Love You
Kemungkinan


__ADS_3

“Sungguh?” Ucap Malik tak menyangka dengan apa yang baru dia dengar.


“Iya.”


Malik memilih duduk di tepi tempat tidurnya. Dia tidak bisa mendefinisikan perasaan yang tengah dia rasakan. Ada perasaan bahagia dan lega, namun di balik itu juga ada perasaan yang menyesakkan. Restu orang tuanya sama pentingnya dengan restu dari orang tua seseorang yang dicintainya, restu orang tua Salma saja tidak cukup. Namun ini cukup untuk membuat dirinya kembali berharap.


“Maaf mengatakan ini sekarang. tapi keputusan ada di tangan mu, jika kamu lelah, mari kita hadapi kenyataan sama-sama. Biarkan aku juga berusaha melupakan dirimu yang selama ini selalu baik di mataku.” Ucap Salma.


“Bisa kita bertemu besok?” Pinta Malik.


“Apa?”


“Aku ingin bertemu denganmu.”


“…”


Di balik pintu kamar, Bu Siti berdiri sambil mendengar kata demi kata apa yang diucapkan putranya.


Rasa terenyuh mendengar putranya menangis karena keputusannya. Dirinya tahu betul Malik masih menginginkan Salma, namun menurutnya dia kembali bersedih dan terluka sementara seperti sekarang ini lebih baik daripada kembali direndahkan dan ditolak. Mengingat seorang perempuan yang putranya inginkan bukanlah seorang perempuan biasa, Salma bukan hanya cantik, pintar, dan punya karier yang lebih dari putranya, tapi juga punya orang tua yang lebih dari berkecukupan. Malik harus menderita seperti ini karena telah terlahir dari rahimnya, Bu Siti juga merasa sedih mengetahui keadaan putranya sekarang.


“Bu, apa..” Tanya Sarah saat melihat Bu Siti terlihat begitu fokus mendengarkan sesuatu dari balik pintu kamar Malik.


“Tsutt.” Bu Siti meminta Sarah untuk tidak melanjutkan ucapannya.


Sarah memilih untuk berlalu menjauh dari ibunya.


Setelah Salma selesai menelepon, dia kembali menghampiri Nanda dan Tari yang masih di tempatnya.


“Terima kasih.” Ucap Salma mengembalikan ponsel itu pada Nanda.


Nanda mengangguk.


“Apa yang akan kamu lakukan?” Tanya Nanda melihat Salma yang terlihat lebih baik dari sebelumnya.


“Kami akan bertemu.” Balas Salma.


“Baiklah.” Nanda sejenak merasa lega, meski sebenarnya dia masih mengkhawatirkan temannya ini mungkin akan kembali terluka.

__ADS_1


“Baiklah Sal, semoga berhasil. Aku duluan.” Ucap Tari, dia merasa lebih baik saat melihat Salma kembali dengan lebih bersemangat.


“Maaf Tari kami harus melibatkan kamu.” Salma menghentikan Tari yang baru saja ingin berbalik pergi.


“Tidak perlu minta maaf, kita juga berteman, begitu pun Malik dia jua rekan kerjaku.” Ucap Tari sembari tersenyum. Walau dia menyukai Malik, namun dia tak keberatan kalau Malik akan berakhir bersama Salma, karena dia tahu bahwa Salma mencintai Malik lebih dari dirinya, tidak ada yang perlu dia khawatirkan. Dia hanya perlu sedikit waktu untuk bisa benar-benar terlepas dari bayang-bayang rekan kerjanya itu.


“Iya, terima kasih sudah mengatakan itu.” Salma juga tersenyum melihat Tari.


‘’’’’


Malik sengaja datang lebih awal agar diriya bisa lebih tenang dan bisa bersiap untuk mengatakan sesuatu yang tepat sebelum Salma ada di hadapannya. Sudah sekitar 10 menit dari waktu yang dijanjikan, namun Salma tak juga terlihat.


Malik menghembuskan nafasnya perlahan, meski hal seperti ini sudah beberapa kali dia hadapi, bertemu Salma seperti beberapa minggu sebelumnya, namun tetap saja ini membuatnya gugup, terlebih ini bukan pertemuan seperti biasanya. Malik tetap tak ingin terlalu sering bertemu Salma, pertemuannya hari ini hanya untuk memastikan langkah apa yang harus dia dan Salma lakukan. Apakah bertahan? Atau sungguh harus menyerah? Walaupun dia tak menginginkan kata perpisahan yang dia dapatkan hari ini, tapi apapun itu, dia tak akan memaksa. Dia akan menerima apapun keputusan Salma.


Senyum terlukis di wajah Malik saat melihat Salma yang juga tersenyum melihatnya. Setelah melihat keberadaan Malik, dia pun berjalan untuk menghampiri seseorang yang sudah cukup lama menunggunya.


“Maaf, aku membuatmu menunggu.” Ucap Salma sembari duduk di kursi tepat di hadapan Malik.


“Tidak masalah.”


“Kamu sudah memesan?” Tanya Salma saat melihat segelas minuman cokelat di hadapannya.


“Terima kasih.” Salma meraih gelas itu, lalu sedikit menyerap minumannya.


“Maaf Salma aku membuat keputusan sendiri.” Ucap Malik setelah menghembuskan nafasnya perlahan.


Salma melihat Malik yang sejenak melihat dirinya lalu memilih menunduk.


“Apa pendapat mu tentang hubungan kita? Apa yang sebaiknya kita lakukan?” Tanya Salma masih melihat Malik yang bahkan tak melihat dirinya.


Malik mengangkat kepalanya. Dia melihat sosok perempuan yang sungguh masih membuat jantungnya berdebar.


“Aku menyukaimu, aku ingin hidup bersamamu. Bagaimana denganmu?” Kali ini Malik menatap Salma.


“Aku juga begitu” Balas Salma dengan yakin.


Malik melepaskan senyumnya, dirinya tak bisa menyembunyikan perasaan bahagia setelah mendengar Salma yang juga memiliki perasaan yang sama seperti dirinya.

__ADS_1


Sama halnya dengan Malik, Salma juga tersenyum merasa lega.


“Bisa aku minta waktu untuk menyakinkan ibuku?” Pinta Malik.


Salma mengangguk.


“Terima kasih, aku akan berusaha.” Malik menyakinkan.


“Lakukanlah dan apapun jawaban ibumu tolong beritahu aku. Jangan terluka sendirian.” Salma juga meminta Malik untuk tak memendam sendiri kesedihan yang dirasakan.


“Iya.”


Mereka kembali bersemangat dan merasa lebih bahagia dari sebelumnya. Malik dan Salma menyerap minuman masing-masing.


“Salma.”


“Iya.”


“Apa kamu yakin mau hidup denganku?” Tanya Malik.


Salma mengangguk.


“Aku tidak akan datang ke sini kalau tidak menyakini itu.” Balas Salma lalu tersenyum melihat lelaki yang ada di depannya.


“Bagaimana kehidupan kita setelah menikah? Sepertinya itu juga penting untuk kita pikirkan sekarang.” Ucap Malik, meski sudah lama memikirkan ini, namun dia baru bisa mengatakannya pada Salma.


“Hem, ada beberapa pilihan yang mungkin bisa kita pilih.” Salma sembari mengaduk minumannya.


“Apa itu?”


Salma sudah memikirkan kemungkinan yang akan terjadi jika dia menikah dengan Malik. Kemungkinan pertama, dia dan Malik akan bersama saat akhir pekan dan hari libur saja karena pekerjaan mereka berjauhan. Mereka tetap bekerja masing-masing, tidak banyak yang berubah, mereka hanya bersama dalam satu rumah di saat mereka rehat dari pekerjaan. Kemungkinan kedua, salah satu diantara mereka ada yang pindah, sehingga mereka dapat bersama setiap hari setelah selesai bekerja. Dan kemungkinan ketiga, Salma harus merelakan pekerjaannya dan memilih untuk ikut bersama Malik ke luar kota.


“Aku belum bisa pindah karena aku masih ada kontrak di sana.” Ucap Malik menanggapi kemungkinan kedua yang dipikirkan Salma.


“Aku tidak keberatan dengan semua kemungkinan itu, aku akan mengikuti keputusanmu.” Ucap Salma dengan yakin.


“Wah masyaAllah.” Malik membatin melihat betapa Salma ingin hidup bersama dirinya.

__ADS_1


“Gajiku lebih kecil dari kamu. Apa tidak masalah jika keadaan kita nanti mengharuskan kita memilih kemungkinan terakhir?” Tanya Malik kembali ingin memastikan apakah Salma memang sungguh akan menerima keputusannya.


Salma menggeleng. “Kalau memang itu dirasa sebagai pilihan yang terbaik, maka tidak masalah bagiku.” Salma tersenyum melihat lelaki di hadapannya.


__ADS_2