
Malik terus melangkahkan kakinya sembari hanya melihat apa yang ada di depannya. “Bagaimana aku bisa mengembalikannya?” Pikirnya tentang bolpoin yang dia bawa dari ruang guru. Sebelumnya, dia berniat akan mengembalikan bolpoin itu pada Salma saat dia kembali ke kampung, namun setelah berpikir sepertinya tidak sesederhana itu. Dia tak bisa mengembalikannya langsung karena tak ingin menemui Salma lagi. Dia takut hatinya kembali berharap dan akan terluka karena harapannya itu akan tetap menjadi harapan, tak akan bisa dia gapai. “Mungkin nanti aku akan minta bantuan Gani atau Sarah” Pikirnya lagi.
Setelah membeli donat, Salma dan Alika keluar toko. Namun ada sesuatu yang membuat langkah Salma tiba-tiba terhenti. “Malik” Batinnya saat melihat seseorang itu berjalan di depannya sedang tak melihat ke arahnya.
“Kenapa kak? Apa kakak juga mau donat rasa keju?” Tanya Alika saat menyadari Salma menghentikan langkahnya yang secara tiba-tiba setelah keluar toko.
“Tidak.” Salma melihat sepupunya sembari tersenyum.
Malik tak menyadari Salma melihatnya, saat dia melewati di depan toko donat, dia terus berjalan tanpa melihat sekitarnya. Namun, setelah beberapa langkah dari situ, Malik tiba-tiba menoleh saat mendengar suara seseorang yang menarik perhatiannya. “Tidak.” Suara seseorang itu membuatnya menoleh setelah dia sudah berada beberapa langkah dari depan toko.
“Salma.” Malik membatin sembari mencoba memperjelas pandangannya.
Malik merasa yakin kalau seseorang yang berdiri tak jauh darinya sekarang adalah Salma. Dia menarik nafasnya dalam-dalam untuk menenangkan hatinya, dia ingin bersikap layaknya seperti apa adanya, tak ada sesuatu diantara mereka, tak wajar jika dia terus merasa gugup saat di dekat Salma. Malik ingin mengembalikan bolpoin Salma yang ada padanya sekarang.
Di lain tempat, setelah Pratama memberikan resep kepada pasien, beberapa saat yang lalu, Mita memberitahunya kalau Salma hari ini libur bekerja. Karena dari tadi dia sibuk melayani pasien, dia ingin menelepon pacarnya setelah longgar dari tugas kerjanya. Pratama mengambil ponsel yang tak jauh darinya dan mencoba menghubungi Salma.
“Kenapa berhenti?” Tanya Alika penasaran dan melihat kakak sepupunya.
Sebelum Salma ingin mengatakan alasannya berhenti dari hasil karangannya karena tak mungkin dia mengatakan itu karena dia melihat Malik, ponselnya berbunyi. Dia segera mengangkat telepon.
“Tunggu ya, ada telepon.” Salma melihat Alika.
Sementara Malik menggenggam bolpoin Salma, berniat untuk menghampiri Salma untuk mengembalikan yang ada dalam genggamannya sekarang, namun dia mematung melihat Salma nampak bahagia saat melihat layar ponselnya.
Senyum Salma seketika tersungging saat mengetahui Pratama yang menghubunginya.
“Halo, assalamualaikum.” Ucap Salma saat menerima telepon. Dia sejenak melupakan seseorang yang baru dia lihat, meski itu sempat membuat hatinya bergetar tak biasa.
“Waalaikumussalam, kamu di mana sayang?”
__ADS_1
Salma tak bisa menutupi ekpresi bahagianya, senyumnya terus tergambar di wajah cantiknya.
“Siapa yang meneleponnya.” Batin Malik, dia masih mematung melihat Salma yang kali ini tak menyadari kalau Malik sekarang sedang melihatnya.
“Aku di kota pamanku, sepertinya aku di sini dulu.” Salma tak henti-hentinya tersenyum.
“Apa nanti perlu aku yang jemput?”
“Haha tidak perlu aku akan pulang sen..” Tiba-tiba Salma menghentikan ucapannya saat menyadari Malik sedang melihatnya.
Malik terperanjat saat menyadari kalau Salma telah menyadari keberadaan dirinya. Dia sempat merasa bingung apa yang akan dia lakukan. Namun akhirnya, dia memutuskan untuk tersenyum pada Salma lalu berbalik melanjutkan langkahnya. Malik mengurungkan niatnya untuk mengembalikan bolpoin Salma sekarang.
Malik terus memantapkan kakinya melangkah pulang. Meski berusaha untuk tenang dan tak memikirkan apa pun tentang Salma, namun hatinya terasa terus bergemuruh, jika ibarat alam, itu seakan pertanda akan datang hujan lebat. “Kenapa aku begini lagi?” Batinnya. Malik merasa hatinya sedang tak baik-baik saja saat melihat Salma menerima telepon seseorang terlihat sangat bahagia. Meski Malik berusaha mengendalikan pikirannya agar juga berpikir mungkin seseorang itu adalah teman atau keluarga Salma, atau jika memang itu pacarnya, lalu apa hubungan itu dengannya sekarang? Dia mengarahkan pikirannya untuk begitu, namun hatinya tak bisa menerima. Meski berkata dalam hati dia sudah merelakan cinta pertamanya itu, namun sepertinya itu hanya sebuah kata-kata yang tak sesuai dengan kenyataan yang dia rasakan sekarang. Malik melangkah sembari menghembuskan nafasnya dengan kasar.
“Kenapa dia terus menarik perhatianku.” Salma membatin, meski merasa sedikit tak rela Malik pergi meninggalkannya, namun mengingat kenyataannya sekarang kalau dia sudah punya kekasih. Salma hanya menatap Malik semakin menjauh darinya.
“Ada apa sayang?” Tanya Pratama mendengar ucapan Salma tiba-tiba berhenti.
“…”
‘’’’’
Hubungan Fiki dan Nanda terus berlanjut hingga sekarang, meski sempat beberapa kali putus, namun mereka kembali dan sekarang Fiki berniat untuk membawa hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius.
Beberapa waktu yang lalu, Fiki meminta restu pada orang tuanya untuk melamar pacarnya. Selama dia berpacaran dengan Nanda, beberapa kali dia membawa pacarnya itu ke rumah, baik untuk menghadiri suatu acara keluarga atau pun hanya sekedar makan bersama. Mendengar anaknya meminta izin untuk menikahi seseorang yang sudah dia kenal dan mereka sukai, membuat orang tua Fiki tak sedikit pun ingin menghalangi niat baik anaknya itu. Fiki dengan mudah mendapatkan restu orang tuanya untuk melamar Nanda.
Setelah mendapat restu orang tuanya, Fiki mencoba meminta izin kepada orang tua Nanda untuk meneruskan niatnya. Meski sebelumnya dia tak pernah menemui orang tua Nanda karena Nanda tak berani membawa pacar ke rumah. Namun ternyata, orang tua kekasihnya ini tak berbeda dari orang tuanya sendiri. Dengan senang hati, orang tua Nanda memberikan izin untuk Fiki.
Di lain tempat, Salma bersiap-siap untuk kembali ke rumahnya.
__ADS_1
“Sebentar lagi pamanmu pulang.” Ucap Sumi saat menjabat tangan Salma yang ingin berpamitan.
“Tapi takutnya pamanmu akan pulang terlambat, nanti kamu akan sampai terlalu malam. Kalian bisa bertemu nanti.” Lanjutnya sembari tersenyum melihat keponakannya.
“Iya bi.” Salma mengangguk.
Salma juga memeluk Alika dan Gani.
“Kamu jangan terlalu berkeliaran.” Pinta Salma saat memeluk adiknya.
“Oke, tolong lepaskan.” Gani memncoba melepaskan rangkulan Salma.
“Baiklah.”
“Assalamualaikum.” Terdengar paman setelah keluar dari mobilnya.
“Waalaikumussalam.” Salma merasa senang karena dia sempat bertemu pamannya.
Tak lama berbincang dengan pamannya, Salma pun berpamintan lalu pergi.
‘’’’’
Sesampainya di rumah, Salma segera membersihkan diri lalu makan malam sendiri karena Bapak dan Ibu sudah makan terlebih dahulu. Setelah makan Salma kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
“Untung saja aku libur.” Batinnya sembari menyandarkan diri di atas tempat tidur, Salma merasa lelah karena baru menempuh perjalanan yang cukup jauh.
Tiba-tiba ponselnya bergetar, Salma segera mengambil ponselnya dan melihat ada sebuah pesan masuk. Ternyata pesan itu dari Nanda yang mengatakan kalau dia dan Fiki sudah diberi restu untuk menikah.
“Wah selamat.” Kirim Salma sebagai balasan.
__ADS_1
“Apa aku perlu memintanya?” Pikir Salma sembari tersenyum membayangkan jika Pratama juga akan segera memintanya untuk membawa hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius.