How Matcha Love You

How Matcha Love You
Kembali


__ADS_3

Terdengar seseorang mengetuk pintu kamarnya, Salma segera mempersilakan masuk.


“Ibu, ada apa?” Melihat ibunya yang masuk mendekatinya, Salma menegakkan posisi duduknya.


“Kapan kamu menyusul Nanda.” Ibu tersenyum, tak seperti biasanya jika membahas masalah menikah dengan putri pertamanya ini biasanya Ibu nampak khawatir.


Salma memilih diam tak menjawab.


“Bukannya kamu punya pacar? Jangan lama-lama, umurmu sudah mencukupi untuk menikah..” Lanjut Ibu memecah diamnya Salma.


“Aku tidak punya pacar.” Jawab Salma singkat.


“Barusan Nanda bilang begitu. Kamu tak perlu menyembunyikan itu dari ibu.” Ibu terlihat tak percaya dengan apa yang dikatakan Salma.


Salma tersenyum pada Ibunya.


“Ibu, aku sudah putus dengannya. Kami tidak cocok.” Balas Salma lalu kembali menyandarkan tubuhnya.


“Tidak cocok bagaimana?”


Ibu tak menyangka dengan apa yang dikatakan anaknya. Dia sempat merasa senang setelah mendengar Salma akhirnya punya kekasih dan berharap penantiannya yang ingin melihat anaknya segera melepas masa lajang akan segera berakhir, namun lagi-lagi sepertinya dia harus kembali bersabar.


“Bu maafkan aku.” Ucap Salma menunduk.


“Kamu bisa ceritakan apapun ke Ibu, jangan dipendam sendiri kalau kamu punya masalah.” Ibu berusaha mengucapkan dengan tenang meski sebenarnya merasa kecewa karena anaknya kembali gagal menjalin hubungan dengan orang lain dan terlalu tertutup padanya. Selama ini Bu Fatma hanya tahu saat Salma menyukai Malik, selain itu, dia tak pernah mendengar kabar anaknya dekat dengan lelaki lain. Beberapa menit yang lalu adalah kali pertama, Ibu mendengar kabar Salma memiliki kekasih. Meski sadar berpacaran bukanlah hal yang sepenuhnya benar, namun mengingat usia anaknya yang menunjukan kemungkinan berpacaran untuk saling mengenal dan memiliki tujuan kejenjang pernikahan membuatnya merasa lega.


“Bu, “ Salma memberanikan menatap Ibunya. Dia ingin mengatakan sejujurnya apa yang sebenarnya dia rasakan. Salma ingin mengatakan kalau dia masih memikirkan Malik.

__ADS_1


“Ibu tak memaksa, katakan kalau kamu siap.” Ibu berdiri dan berjalan keluar kamar.


Ibu memiliki perasaan yang kurang mengenakan. Dari tatapan mata Salma dia merasa kalau apa yang dikatakan anaknya itu akan menambah rasa kecewanya. Ibu merasa tidak siap mendengar itu.


‘’’’’


Setelah berpamitan dengan Sumi, istri pamannya, Gani melajukan motornya untuk kembali ke kampung halamannya. Meski Gani pulang rutin setiap semester dan kalau sedang senggang setiap tiga bulan sekali, yang mana itu bisa dibilang tidak terlalu lama seperti mahasiswa perantauan yang lain. Namun, momen pulang kampung memiliki rasa tersendiri dan selalu menjadi momen yang menyenangkan baginya. Bagi Gani, suasana kampung halamannya selalu menjadi tempatnya melepas penat dari riuh piuk perkotaan tempatnya berkuliah.


Tak seperti mahasiswa perantauan lainnya pula, Gani bukan hanya bisa dibilang lebih sering pulang kampung, tapi juga dia tak sepenuhnya bebas. Kebanyakan mahasiswa perantauan hidup sendiri di kos atau rumah sendiri atau juga bisa tinggal dengan teman satu daerah. Berbeda dengan Gani, dia merasa tak jauh berbeda dengan di rumah, dia tetap punya batasan jam malam, makan makanan rumahan karena tinggal dengan keluarga pamannya yang memperlakukannya seperti anak sendiri. Gani kadang merasa terbebani dia tak seperti kebanyakan temannya yang bisa pulang kapan saja, namun dia menyadari bahwa di balik kebebasan temannya itu ada banyak hal yang harus mereka pikirkan seperti ‘malam ini makan apa?’. Sedangkan dia tak perlu memikirkan itu. Gani sadar, dia sepantasnya harus bersyukur bukan mengeluh.


Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya Gani memasuki perkampungan yang tak lain merupakan kampung halamannya. Senyumnya merekah saat melihat warga kampung itu menyapanya. Tak jauh berbeda dari kakaknya Salma, meski mereka anak kades yang terpandang dan berduit mereka sama-sama rendah hati dan tak pernah sombong dengan siapa pun. Gani terus menyapa orang-orang yang dikenalnya sepanjang melewati jalan di kampungnya.


Sementara Salma sedang bersiap untuk ke rumah sakit. Hari ini, dia mendapat giliran bekerja pada shift malam.


“Assalamu’alaikum” Ucap Salma setelah mencium tangan ibunya, lalu melangkah keluar rumah.


“Wa’alaikumussalam” Jawab Ibu sambil memandangi punggung anaknya yang semakin menjauh. Ibu kembali mengaduk masakannya.


“Sal.” Panggil Elsa yang sedang duduk di teras rumahnya sembari memomong anak keduanya.


“Iya, kenapa?” Salma sontak menoleh tetangganya itu.


“Tak apa, aku hanya ingin memanggilmu.” Elsa tersenyum pada Salma, dia tahu bahwa teman kecilnya itu sudah benar-benar sukses dan jauh berbeda darinya. Dia tak sepantasnya mengajaknya ngerumpi di hari kerja karena Salma tak seperti dirinya yang masih punya waktu untuk bergosip terlebih saat suaminya tak di rumah.


“Oh. “


“Zahra mana?” Tanya Salma saat tak melihat keberadaan anak tetangganya itu.

__ADS_1


“Dia ikut bapaknya.”


“Gani datang.” Lanjut Elsa saat melihat Gani dari kejauhan.


Gani memarkirkan motornya di sebelah Salma yang sudah ingin pergi.


“Kerja malam?” Tanya Gani melihat kakaknya.


“Iya.”


“Oiya.” Gani sembari merogoh tasnya.


Sementara Salma menunggu, melihat adiknya yang ingin menunjukkan sesuatu.


“Ini punya kakak kan?” Gani mengulurkan tangannya yang memegang bolpoin.


Gani menyerahkan bolpoin Salma yang diberikan Malik beberapa waktu yang lalu.


“Dari mana kamu menemukan ini?” Tanya Salma penasaran.


“Kak Malik yang memberikan ini padaku dan meminta mengembalikannya ke kakak. Jujur aku penasaran, kenapa ini ada padanya?” Ucap Gani dengan merendahkan suaranya karena tak ingin di dengar Elsa.


Bukan tanpa alasan Gani tak ingin Elsa mendengarnya menyebut Malik. Dia tahu Elsa mengetahui kakaknya yang pernah dekat dengan Malik. Gani tak ingin Elsa salah paham dan memikirkan hal yang jauh dari apa yang sebenarnya terjadi.


“Nanti aku beri tahu.” Jawab Salma setelah melihat jam di pergelangan tangannya dan memasukkan bolpoinnya dalam tas. Jika dia menceritakan sekarang pertemuannya dengan Malik, itu akan membuatnya terlambat bekerja.


Gani mengangguk.

__ADS_1


“Malik...” Ucap Elsa namun terpotong.


“Hah?” Gani segera memotong kalimat tetangganya itu. Benar saja, apa yang dikhawatirkannya nampaknya akan terjadi. Gani melihat Salma, begitu pula sebaliknya. Salma menyadari Gani yang merendahkan suaranya karena tak ingin ucapannya tentang Malik didengar oleh Elsa. Salma juga merasa takut dan melihat adiknya dengan tatapan yang sama.


__ADS_2