How Matcha Love You

How Matcha Love You
Ada CCTV?


__ADS_3

Nanda membalikan badannya untuk melihat apa yang dilihat Fiki.


“Salma.” Panggil Nanda melihat temannya.


“Ayo gabung kesini.” Lanjutnya.


Nanda baru menyadari Fiki yang mungkin saja akan merasa tidak nyaman jika bersama Salma, dia pun melihat ke arah Fiki.


“Apa boleh?.” Ucap Nanda pelan.


“Tentu saja.”


Meski sekarang Fiki belum sepenuhnya melupakan Salma, dia ingin terbiasa dengan kondisi apapun. Siapa yang akan merasa nyaman bersama dengan seseorang yang telah menolak perasaannya? Terlebih semua itu baru terjadi beberapa bulan yang lalu. Fiki terkadang masih menata hatinya agar bisa mengendalikan perasaan kecewanya mengingat perjuangannya untuk mendapatkan hati Salma waktu itu cukup lama, dari perjuangannya yang diam-diam memperhatikan Salma sampai saat dia harus meminta bantuan Nanda untuk mendekatinya. Namun apa yang didapat? Semua usahanya itu sia-sia. Salma begitu kejam padanya, tidak bisa menerimanya setelah banyak hal yang dilakukan untuk mengusahakan perasaannya itu. Fiki berusaha untuk tidak membenci Salma karena Salma merupakan teman baik Nanda orang yang sudah lama dia kenal.


“Mari.” Fiki juga mengajak Salma dan Resya untuk bergabung bersama mereka.


Salma tidak ingin bertemu Fiki sekarang. Selain karena perasaan bersalah karena sudah menyia-nyiakannya, namun juga karena pikiran konyolnya yang menginginkan Fiki setelah menolak perasaannya. “Jika dia bisa membaca pikiranku, itu sangat memalukan.” Pikir Salma merasa malu sekaligus khawatir akan melakukan kesalahan lagi.


“Sebaiknya kita berdua saja karena ini perayaan kita ya kan?” Ucap Salma pada Resya.


“Ayo.” Resya menarik tangan Salma untuk menghampiri Fiki dan Nanda. Resya duduk bersama mereka tanpa meminta persetujuan dari Salma.


Meja restoran berbentuk persegi dengan satu kursi di setiap sisinya. Sebelumnya Nanda duduk berseberangan dengan Fiki, namun melihat Salma dan Resya yang ingin bergabung bersama mereka, Nanda segera berpindah duduk sedikit mendekati Fiki untuk memberikan ruang pada temannya yang ingin bergabung itu.


Salma merasa frustasi dengan kelakuan Resya. Bagaimana bisa dia akan makan bersama seseorang setelah terakhir kali bersama adalah disaat menolak perasaannya. Namun karena Resya sudah duduk, dengan menahan segala emosi yang dirasakan saat ini antara marah, malu, dan emosi yang sungguh membuatnya tidak nyaman, dengan terpaksa Salma juga ikut duduk bersama mereka. Resya terlebih dahulu duduk tepat di seberang Fiki, maka dari itu Salma tidak punya pilihan selain duduk di kursi di seberang Nanda atau tepatnya di sebelah kiri Fiki.


“Kalian belum pesan kan?” Tanya Nanda.


“Iya.” Jawab Resya.


Nanda memanggil pelayan restoran untuk membawakan daftar menu untuk Salma dan Resya pesan. Setelah beberapa saat pelayan itu pergi untuk menyiapkan menu yang mereka pilih.


“Salma kamu bersama siapa?” Ucap Nanda mencoba untuk membungkam Salma yang sedari tadi terlihat tidak bersemangat.

__ADS_1


“Oiya aku hampir lupa, perkenalkan dia Resya.”


Resya menjabat tangan Nanda dan Fiki bergantian untuk saling berkenalan.


“Dia dokter umum di rumah sakit tempat kami bekerja.” Lanjut Salma.


“Fiki apa kamu ingat aku?” Ucap Resya saat menjabat tangan Fiki.


“Resya?” Fiki nampak sedang mengingat-ingat.


“Aku memang tidak begitu terkenal haha.”


“Aku juga kuliah di universitas yang sama dengan kalian dan aku seangkatan denganmu.” Lanjut Resya melihat Fiki.


“Oh begitu. Maaf aku memang agak sulit mengingat orang hehe.”


“Baiklah kukira aku sungguh tidak terkenal haha maaf bercanda.”


“Haha.”


‘’’’’


Tari melihat papan data diri guru-guru yang mengajar di sekolah itu menempel di salah satu dinding ruangan. Dengan semangat, dia segera memperhatikan data diri Malik. “Ternyata dia setahun lebih tua dariku.” Pikirnya sembari tersenyum.


Di papan itu juga bertuliskan nomor ponsel setiap guru. “Wah.” Tari segera mengetikan nomor Malik di layar ponselnya lalu menyimpan di daftar kontaknya. “Haruskah aku memberinya nama calon masa depanku.” Gumamnya sambil cekikikan menertawakan kekonyolannya.


“Bagaimana jika ada CCTV di sini.” Pikir Tari sembari melihat langit-langit ruangan. dia segera memperbaiki posisinya kalau saja benar ada CCTV di ruangan ini. Setelah Tari menyimpan nomor Malik, dia segera mengambil tasnya dan keluar ruangan untuk pulang.


‘’’’’


Setelah beberapa saat, pelayan restoran membawa menu sesuai dengan yang Salma dan Resya pesan.


“Terima kasih.” Ucap Salma dan Resya pada pelayan yang mengantarkan makanan.

__ADS_1


Saat Salma ingin memulai makannya, tidak sengaja tangan kanannya menggeser sendok yang ada di sampingnya hingga jatuh ke lantai. Sebenarnya Salma merasa tambah kesal dengan kecerobohannya itu, namun dia tetap berusaha untuk menutupi kekesalannya. Salma meraih sendok yang dia jatuhkan dan…


“Maaf.” Ucap Fiki karena kepalanya hampir saja terbentur dengan kepala Salma.


Fiki terlebih dahulu meraih sendok itu.


“Terima kasih.”


“Sama-sama.” Balas Fiki tanpa menoleh ke arahnya.


Salma merasa bahwa Fiki sungguh akan atau bahkan sudah melupakannya. Sikapnya yang dahulu ramah dan baik pada Salma sepertinya sekarang tak terlihat lagi. Dia hanya membantu Salma mengambil sendok itu karena memang wataknya yang baik, dia lakukan hanya karena murni ingin menolong tidak lebih dari itu.


Uhuk uhuk. Nanda tiba-tiba tersedak. Dengan sigap Fiki segera menyodorkan segelas air padanya.


“Minum perlahan.” Ucap Fiki melihat Nanda yang menerima gelas darinya.


Nanda mengikuti apa yang dikatakan Fiki, dia minum dengan perlahan.


Melihat Fiki yang nampak sangat peduli dengan Nanda, Resya melihat ke arah Salma seakan memberikan kode, apakah kita mengganggu mereka? Salma hanya membalasnya dengan tatapan sinis.


“Terima kasih kak.” Ucap Nanda setelah merasa lebih baik.


“Oke.” Fiki terlihat membalas Nanda dengan senang hati.


“Maafkan aku teman-teman kalau aku tadi mengganggu kalian.” Nanda merasa tidak nyaman terlebih pada Salma karena melihat perlakuan baik Fiki padanya.


“Sama sekali tidak.” Jawab Resya.


“Tidak masalah.” Salma tersenyum meski sebenarnya merasa tidak nyaman melihat perlakuan baik Fiki yang dulu pernah diterimanya sekarang dia lakukan untuk orang lain terlebih itu untuk temannya baiknya. Tapi itu bukanlah masalah baginya karena dia tidak menyukai Fiki, sekarang dia hanya merasa tidak nyaman.


Mereka terus menikmati makan diselingi beberapa obrolan mengenai perkuliahan dan pekerjaan karena mereka berasal dari universitas dan bidang yang sama. Salma berusaha menutupi ketidaknyamanannya dan mencoba menikmati kebersamaan ini.


‘’’’’

__ADS_1


Sesampainya di rumah, Tari kembali bersiap untuk menemui Malik. Malik? Apa sebelumnya mereka membuat janji untuk bertemu? Tidak. Tari ingin langsung pergi tanpa memberitahu sebelumnya karena takut Malik menolak keinginannya. Tari menyadari Malik selama ini adalah seseorang yang hanya fokus pada pekerjaan. “Maafkan aku, tapi aku ingin bersamamu.” Pikirnya merasa bersalah atas rencana yang akan dia lakukan pada Malik.


__ADS_2