How Matcha Love You

How Matcha Love You
Akhirnya


__ADS_3

Salma sedang makan siang bersama Resya di kantin rumah sakit. sebelumnya, Salma tak pernah menceritakan Malik pada rekan kerjanya ini, namun beberapa saat yang lalu, dirinya sempat menunjukkan kalau dia sedang dekat dengan seseorang. Dengan begitu, Salma berharap kabar bahwa hari pernikahan sudah dekat tidak terlalu mengejutkan bagi Resya saat ini.


“Aku akan menikah” Ucap Salma setelah dia sudah menyelesaikan makannya.


“Menikah? Kamu serius? Dengan siapa?” Resya melihat Salma dengan penuh tanda tanya. Meski dirinya sempat berpikir kalau Salma sedang dekat dengan seseorang, namun dia tak pernah memikirkan kalau temannya ini akan menikah dalam waktu dekat, karena dia tahu betul Salma bukanlah seseorang yang mudah untuk menyukai seseorang apalagi memutuskan menikah.


“Maaf aku tidak pernah menceritakan tentangnya padamu.” Salma merasa bersalah karena tak menceritakan kisah percintaan pada salah satu teman dekatnya ini.


Salma menceritakan kisah percintaannya dengan Malik secara singkat pada Resya dari awal hingga sekarang.


“Aku ragu untuk menceritakannya padamu karena aku sempat berpikir kalau kami tidak akan bersamanya.” Salma tersenyum tipis mengingat betapa rumit kisah cintanya bersama Malik. Dalam hati dirinya sungguh berharap sudah cukup baginya dan Malik menghadapi segala rasa sakit dan kecewa, semoga kedepannya mereka dapat melangkah dengan lapang dan lebih kuat. Apapun yang dirinya dan Malik hadapi, semuanya akan mereka jalani bersama-sama.


Resya meraih tangan Salma saat melihat mata rekan kerjanya ini nampak berkaca-kaca. “Semoga kalian bahagia dan terus bersama sampai akhir aamiin.”


“Aamiin, terima kasih Res.” Salma tersenyum dan mengibas-ngibaskan tangan di depan matanya agar dirinya tak menangis.


“Tidak apa-apa, kalian hebat bisa bertahan sampai sekarang.” Ucap Resya memberi semangat.


‘’’’


Malik dan Salma akan menikah bulan depan. Dari kedua keluarga sepakat untuk menggelar pernikahan secepatnya, terlebih mereka sudah mengetahui kalau dua insan yang akan menikah ini sudah dari waktu yang lama menginginkannya.


Salma sedang termenung di ruang kerjanya. Bukan tanpa alasan dirinya begini, dia sedang memikirkan kariernya setelah menikah.


“Apa yang harus aku lakukan.” Pikirnya.


Meski sudah memikirkan beberapa kemungkinan yang akan dia pilih mengenai kariernya setelah menikah, namun nampaknya itu tak semudah yang dia pikirkan. Jika dirinya dan Malik terus bekerja, maka waktunya bersama dengan seseorang yang dia cintai itu sangatlah singkat. Selain itu, nampaknya dirinya juga tak akan bisa melakukan tugasnya sebagai seorang isteri sebagaimana yang seharusnya karena berada jauh dari sisi Malik dalam waktu yang cukup lama. “Huh.” Salma menghembuskan nafasnya merasa kesal dan tak bersemangat. Menurutnya dirinya tak bisa jika memilih kehidupan setelah pernikahan yang seperti itu.


Salma mulai memikirkan untuk berhenti dari pekerjaannya. Menurutnya jika dia meninggalkan pekerjaannya, itu akan mempermudah dan mendukung dirinya untuk bisa menjadi seorang isteri sepenuhnya. Tapi… dirinya tak semudah itu untuk melepaskan pekerjaannya, terlebih dirinya juga mencintai pekerjaannya saat ini. Sebagai dokter adalah impiannya sejak kecil. Dia baru bekerja sekitar 2 tahun, bukankah terlalu dini untuk berhenti? Salma dilanda delema.


“Pindah?” Gumam Salma.


Terdengar mudah, namun tak semudah itu dirinya meminta kepada atasan untuk pindah. Salma termasuk dokter baru, tak mudah untuknya berbicara dengan atasan rumah sakit.


Meski ini sulit untuk Salma putuskan, namun dia harus segera memutuskan karena hidup baru yang menantinya sebentar lagi akan datang. Dia tak bisa berlarut-larut dalam memutuskan karena mungkin saja keputusannya yang begitu mendadak akan berpengaruh pada keputusan rumah sakit tempatnya bekerja.


“Baiklah.” Salma memberanikan diri untuk menemui atasannya.


Setelah beberapa saat menunggu di depan ruang kerja atasannya karena di dalam sedang ada orang lain, Salma dipersilakan untuk masuk.

__ADS_1


“Maaf mengganggu waktunya bu, insya Allah saya akan menikah bulan. Saya ingin mengajukan cuti selama dua minggu.” Ucap Salma sembari menyerahkan surat permohonan cuti.


“Oh baiklah.” Balas atasannya tersebut.


“Maaf bu boleh saya bertanya perihal klinik yang baru buka di luar kota?” Tanya Salma.


Beberapa waktu yang lalu, rumah sakit tempat Salma bekerja membuka cabang berupa klinik di kota tempat paman Salma tinggal yang mana itu sama dengan di kota Malik mengajar. Salma berharap dia punya kesempatan untuk bekerja di sana.


“Iya silahkan.”


“Calon suami saya sudah di kontrak untuk bekerja di sana. Sepertinya saya tidak bisa terus bekerja di sini setelah menikah. Maaf bu, apa di sana ada lowongan untuk saya?” Salma sudah mengambil keputusan kalau dirinya akan berhenti bekerja jika memang harus jauh dari Malik.


“Oh kebetulan di sana memerlukan tenaga medis dan di sini dokter bedah juga sudah cukup.”


Mendengar itu Salma sungguh bersyukur, dirinya kembali mendapatkan harapan untuk tetap melakukan aktivitasnya sebagai seorang dokter di tengah dirinya juga sebagai seorang isteri.


“Tapi kamu tidak bisa langsung bekerja di sana, setidaknya perlu waktu 2-3 bulan untuk menyelesaikan admisnistrasi dan harus tetap bekerja di sini dulu karena kamu sudah terdaftar sebagai dokter di rumah sakit ini.” Lanjut Bu Yanti atasan Salma.


“Iya, terima kasih bu, saya akan menyelesaikan proses itu dan bekerja di sana.”


Tak jauh berbeda dari Salma, Malik juga meminta cuti mengajar dan dia diberi izin untuk cuti selama seminggu.


‘’’’


Malik mencium tangan lalu memeluk ibunya dengan erat. Perasaannya mulai di ambang ketidaktenangan, perasaan bahagia, sedih, dan takut menjadi satu karena dirinya sebentar lagi akan mengucapkan akad di depan penghulu dan berikrar untuk menjadi pendamping hidup seorang perempuan di depan orang tua perempuan yang dia cintai itu.


“Ibu, mohon doakan Malik agar bisa bertanggung jawab atas pilihanku ini.” Ucap Malik dengan tetap memeluk ibunya.


Bu Siti mengusap pundak putranya dengan lembut.


“Tentu saja, lakukan semuanya dengan melibatkan Allah. Tenangkan dirimu kamu pasti bisa nak, apapun yang terjadi doa ibu akan terus mengiringi langkahmu.” Perasaan Bu Siti juga campur aduk, antara bahagia dan sedih karena akan membiarkan putranya untuk membagi hatinya pada perempuan lain.


“”


Salma di dampingi oleh beberapa temannya di dalam kamarnya, dirinya merasakan gugup yang luar biasa untuk menunggu kata SAH. Nanda yang ada di sampingnya memegang erat tangannya dan tersenyum. “Aku akan menyusulmu dua minggu lagi.” Ucap Nanda sedikit menggoda Salma agar temannya ini tak terlalu tegang.


“Aamiin.” Balas Salma tersenyum lalu kembali memejamkan matanya. Dia berharap dalam hati agar Malik diberi kemudahan untuk mengucapkan akad dan semua berjalan lancar.


“SAH.” Terdengar dari luar kamar.

__ADS_1


Mendengar itu, Salma tak bisa menahan air mata bahagianya. “Akhirnya.”


Salma diarahkan untuk keluar kamar dan menghampiri Malik. Untuk pertama kalinya Malik dan Salma bersentuhan, Salma mencium tangan cinta pertamanya yang sekarang sudah sah menjadi suaminya. Mereka saling menatap dengan bahagia.


‘’’’


Seminggu kemudian.


Salma di dapur sedang menyiapkan segelas kopi di pagi hari untuk suaminya. Saat ini Salma ikut bersama Malik ke luar kota di tempat Malik menginap saat mengajar.


Malik datang menghampiri Salma.


“Ini.” Ucap Salma tersenyum sembari meminta Malik duduk untuk menikmati kopi yang baru dia buat.


“Terima kasih.” Malik juga melakukan hal yang sama, dia tersenyum dan menatap isterinya dengan perasaan bahagia.


Setelah sedikit menyerap kopinya, Malik menggeser kursinya agar sedikit lebih dekat dengan Salma lalu meraih tangan isterinya ini.


“Salma terima kasih sudah menerimaku. Aku bahagia sekarang.” Ucap Malik menatap lekat Salma yang ada di hadapannya.


Salma mengangguk lalu memeluk seseorang yang sebelumnya hanya sering tiba dalam pikirannya. Salma merasa sangat bersyukur sekarang Malik adalah seseorang yang halal untuk dia cintai.


Setelah beberapa saat berada di pelukan Malik, dia teringat sesuatu lalu melepas rangkulannya.


“Ada apa?” Tanya Malik.


“Maaf, tapi ada sesuatu yang menggangguku.” Salma tiba-tiba terlihat kurang bersemangat.


“Apa yang mengganggu mu?”


“Apa kamu yang menginginkan untuk menggenggam tangan Tari waktu itu?” Ucap Salma terlihat kesal.


“Haha.” Malik menyunggingkan bibirnya.


“Dia yang meraih tanganku. Maaf, karena aku tidak terlalu berusaha untuk melepaskannya karena takut kamu curiga.” Malik merasa bersalah.


“Aku percaya kamu.” Salma kembali tersenyum melihat Malik.


Melihat ekspresi isterinya yang kembali bersemangat, Malik kembali memeluk Salma.

__ADS_1


“Betapa aku mencintaimu.” Ucap Malik sembari mempererat pelukannya.


Salma merasa sangat bahagia.


__ADS_2