
Nanda masuk ke ruangan Fiki.
“Eh.”
“Apa aku mengejutkanmu?”
Fiki mengangguk sembari tersenyum melihat Nanda datang ke ruangannya.
Fiki teringat Salma menghubungi Nanda, kemarin dia lupa mengatakan itu.
“Benarkah?”
“Iya, dia memintamu untuk menghubungi balik.”
“Ah dia bisa mengamuk kalau begini.” Ucap Nanda merasa khawatir jika Salma menghubunginya karena sesuatu yang penting. Dia segera merogoh kantong jasnya untuk mengambil ponsel.
“Halo, Assalamu’alaikum.” Terdengar Salma menerima telponnya.
“Wa’alaikumussalam.” Nanda sembari memberikan kode kepada Fiki kalau dia harus segera menjauh karena tak ingin didengar saat mengobrol dengan temannya itu.
Melihat Nanda memberikan kode seperti itu, Fiki mengibaskan tangannya seakan mengusir Nanda untuk pergi meninggalkannya. Nanda memilih kembali ke ruangannya.
“Ada apa Salma, maaf Fiki baru memberitahuku kalau kemarin kamu menelpon.”
“Hmm, sekarang kamu sibuk ya, sudah beberapa hari kau tak menghubungi ku.” Salma dengan nada kecewa.
“Bukankah kamu juga begitu. Baru kemarin kamu yang menghubungiku.”
“Haha bisa aja kamu menghindar untuk disalahkan.”
“Kenapa harus menerima? Haha”
“Hmm.”
Salma teringat Fiki yang menerima telponnya kemarin. Meski tak begitu peduli namun sebagai teman tentunya dia merasa penasaran kenapa ponselnya temannya itu bisa ada di tangan lelaki.
“Oiya, kenapa ponselmu kemarin ada di Fiki?“
“Aku menitipkannya.”
“Kenapa dengannya? Jangan bilang karena dia satu-satunya orang kamu kenal di sana?” Salma setengah mengintrogasi.
“Apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui?” Lanjutnya.
Nanda menggigit bibir bawahnya saat mendengar temannya sedang mencecarnya dengan pertanyaan. Dia bingung harus menjawab pertanyaan yang mana terlebih dahulu.
“Aku pacaran dengan Fiki.”
Sebenarnya sudah dari sekitar dua bulan yang lalu, Fiki menyatakan perasaanya pada Nanda. Dia meminta Nanda untuk menjalin hubungan dengannya. Karena Nanda juga merasa bahagia saat bersama Fiki, dia pun dengan senang hati menerima ajakan itu.
“Apa? Kenapa tak memberitahuku” Salma terdengar jengkel meski sebenarnya dia tak begitu karena sudah menduga ini.
“Maafkan aku karena baru sekarang memberitahumu.”
“Semoga kalian langgeng ya, sebenarnya aku sudah sedikit curiga.”
__ADS_1
“Benarkah?”
“Haha, kamu sungguh tak pandai untuk menyembunyikan apapun dariku.”
“Tak apa haha.”
“Oiya kemarin kamu ada perlu apa menelponku?” Lanjut Nanda.
Salma pun menceritakan bahwa dia kembali bertemu Malik dan mengatakan Malik sedang dekat dengan Tari yang tak lain adalah teman SMA nya.
“Malik bahkan tak melihat ke arahku.” Ucap Salma saat tengah bercerita, dia teringat Malik tak sedikit pun melihat ke arahnya saat berpapasan pertama kali saat bertemu kemarin.
“Aku yakin kamu pasti menemukan seseorang yang terbaik. Kita tak tahu mungkin dia juga sedang berusaha.” Nanda mencoba menenangkan.
“Permisi dokter Salma.” Ketuk seseorang di balik pintu ruangan Salma.
“Sepertinya ada yang memanggilku, sudah dulu ya, see you. Wassalamu’alaikum.”
“Oke Wa’alaikumussalam.”
Salma menutup telpon.
“Iya silakan masuk.”
Seorang perawat masuk ke ruangannya dan meletakan bolpoin di mejanya.
“Ini, kemarin dokter menjatuhkannya.”
“Oh terima kasih Ristia.” Ucap Salma pada perawat yang juga dikenalnya itu.
“Aku diminta oleh seorang lelaki untuk mengembalikannya pada dokter karena dokter sudah jauh.”
“Iya dok.”
Salma berpikir tidak mungkin lelaki yang menemukan bolpoinnya itu adalah seseorang yang bekerja di rumah sakit karena jika begitu, pasti mereka sendiri yang akan mengembalikannya dan kemungkinan besar perawat ini juga mengenalnya. Dan tidak mungkin juga kalau lelaki itu orang lain yang tak mengenalnya karena tahu namanya saat meminta perawat mengembalikan padanya.
Salma teringat kemarin dia berpapasan dengan Malik. “Apa itu dia?” Gumam Salma.
“Ada apa dok?” Tanya perawat itu yang masih berdiri di depannya.
“Ah tidak apa-apa.”
“Saya permisi dok.”
Salma mengangguk sembari berdiri mengantarkannya ke depan pintu. “Terima kasih.”
“Sama-sama.” Balas perawat itu lalu pergi.
Saat Salma ingin kembali menutup pintu ruangannya terdengar seseorang memanggilnya dan membuatnya menoleh ke sumber suara.
“Fadil.”
Fadil menghampiri Salma, dia ingin mengajaknya bicara.
“Apa kamu sibuk?”
__ADS_1
Salma diam tak menjawab.
“Bisa bicara sebentar?” Tanyanya lagi.
“Bisa.”
Fadil meminta Salma untuk mengikutinya menuju kantin yang ada di lantai dasar rumah sakit.
“Apa aku mengganggumu?” Ucap Fadil saat berada di dalam lift.
“Tidak.” Salma terdengar sedikit terbata.
Salma tak punya tebakan apa yang membuat Fadil ingin berbicara padanya. Meski mereka mantan tunangan, namun Salma tahu Fadil baik padanya, terlebih mengetahui alasan Fadil meminta ayahnya membatalkan pertunangan mereka waktu itu. Dia mengatakan alasan mereka ingin berpisah karena tak cocok sama lain bukan semata-mata karena Salma yang sebenarnya menyukai orang lain.
Sesampainya di kantin, Salma dan Fadil duduk berhadapan. Fadil memesankan minuman untuk Salma. Dan setelah beberapa saat menunggu, dia datang membawa minuman di kedua tangannya.
“Ini.” Fadil mengulurkan tangannya yang memegang gelas berisi minuman.
“Terima kasih.” Salma menerimanya.
Ini adalah kali kedua Salma dan Fadil berada satu meja setelah mereka bertunangan kemarin. Rasanya kali ini mereka lebih canggung dari pertama kali bersama. Mareka sama-sama menyerap minuman sembari melihat pemandangan jalan dari dinding kaca kantin rumah sakit.
“Ada apa?” Tanya Salma setelah menyerap minumannya dan menunggu Fadil yang tak kunjung memulai.
“Bagaimana hubunganmu dengannya?”
Fadil merasa penasaran bagaimana hubungan Salma dengan orang yang disukainya waktu itu yang menjadi alasan mereka tak bersama. Bukan untuk menyesali, dia hanya ingin tahu.
“Hah?”
“Bukannya dulu kamu bilang menyukai orang lain?”
Salma memejamkan matanya, mengingat keyakinannya waktu itu atas perasaanya pada Malik. Dia menghembuskan napasnya dengan kasar menyadari kenyataan sekarang yang tak memihaknya sedikitpun atas perasaanya saat itu dan mungkin sampai sekarang.
“Aku tak bersamanya.” Ucap Salma sembari mengaduk minumannya, dia merasa tak bersemangat.
“Maafkan aku. Aku pun sepertinya akan begitu.” Fadil terlihat sama, juga nampak tak bersemangat.
“Kenapa? Apa yang terjadi padamu” Salma melihat Fadil.
Fadil menceritakan bahwa setelah pertunangannya dengan Salma batal, dia kembali bersama mantan pacarnya. Mereka menjadi lebih baik saat kembali bersama dan hingga beberapa bulan mereka mantap memutuskan untuk menikah. Namun, Fadil tak mendapat restu dari orang tuanya karena memiliki masalah di masa lalu dengan orang tua pacarnya itu.
Mendengar itu, Salma terperanjat tak menyangka. Tak pernah membayangkan sebelumnya mereka memiliki masalah yang serupa. Salma dan Fadil sama-sama tak mendapat restu dari orang tuanya untuk bersama seseorang yang mereka pilih.
“Aku juga seperti itu.” Ucap Salma sembari menutup mulutnya.
“Apa?” Fadil juga sama tak pernah mengira mereka memiliki masalah yang sama.
“Maafkan aku, gara-gara aku kamu juga begini.” Salma merasa bersalah karena keegoisannya.
“Tak apa-apa, mungkin ini sudah jalan kita.” Fadil menatap Salma tersenyum. Awalnya dia tak ingin menceritakan ini pada Salma apalagi menyalahkannya. Dia hanya ingin mengetahui kabar Salma.
Melihat Fadil yang tak seperti menyalahkannya, Salma juga tersenyum dan mencoba menyemangati diri sendiri dan orang yang berada di depannya ini.
“Kita pasti menemukan kebahagiaan kita nanti.” Ucapnya tersenyum pada Fadil.
__ADS_1
Fadil juga tersenyum.
Di kejauhan, Malik melihat Salma bersama Fadil yang nampak tersenyum satu sama lain. “Dia sudah bahagia.” Batinnya, lalu melanjutkan langkahnya memasuki rumah sakit.