How Matcha Love You

How Matcha Love You
Sebuah Cermin


__ADS_3

“Tapi ini tidak akan terjadi kalau aku tak egois.” Ucap Salma menundukan kepalanya karena merasa bersalah.


Fadil menggeleng juga menundukkan kepalanya, meski dia sebenarnya tidak sedikitpun menyalahkan nasibnya karena Salma, namun dia juga merasa bersalah mengungkit hal ini karena akan membuat Salma merasa bersalah seperti sekarang.


“Aku tak menyalahkanmu, ini memang takdir kita, aku harap kau tak menyalahkan dirimu sendiri.” Fadil kembali melihat Salma.


“Terima kasih sudah mengatakan itu.”


Lagi-lagi Salma melihat Fadil sebagai seseorang yang sangat baik. Meski keadaan yang tidak diinginkan sedang menimpanya, dia tak direstui oleh orang tuanya bersama kekasihnya yang mana semua itu berawal setelah Salma memintanya untuk menghentikan perjodohan mereka, namun Fadil tak menyalahkannya. Dia sebenarnya lebih merasa bersalah ketika seseorang tidak menyalahkannya. Salma berpikir sudah membuat orang baik menderita karena kesalahan yang dibuatnya. Kesalahan? Entah keputusannya waktu itu dapat dikatakan sebuah kesalahan. Yang terpenting nampaknya keputusan waktu itu tidak berpihak padanya untuk keadaan sekarang. Salma tidak bersama apalagi bahagia bersama Malik yang merupakan inti dari alasan keputusannya waktu itu.


“Terima kasih juga karena mau meluangkan waktumu untuk bercerita denganku dan melakukan yang terbaik untuk operasi ayahku” Balas Fadil yang ingin beranjak.


“Aku pergi.” Lanjutnya.


“Tunggu.” Salma menghentikan Fadil.


Fadil kembali melihat Salma.


“Boleh aku menanyakan sesuatu mengenai hubunganmu dengan pacarmu itu?.”


Sementara Malik berjalan di lorong rumah sakit. Sejenak dia merasa bahagia saat melihat Salma bahagia, namun hatinya merasa kembali sesak, menyadari itu bukan sesungguhnya yang hatinya inginkan. Samar-samar senyum Salma yang baru dilihatnya tadi membuat benaknya mengingat senyum Salma untuknya dulu. Senyum yang indah, yang bisa menenangkan sekaligus menyenangkan, yang dulu untuk dan hanya untuknya, apakah sang penerimanya sudah beralih?. Walaupun sudah bertekad untuk merelakan, untuk bahagia jika dia bahagia dan akan melepaskannya dengan lapang dada, itu hanya sebuah tekad yang mudah diucapkan namun tidak dengan realisasinya.


Malik belum bisa berlapang dada. “Salma.” Batinnya merintih tak terasa langkahnya memperlambat dengan sendirinya. Di lorong rumah sakit yang nampak sepi dan tak ada seseorang yang melewati selain dirinya sendiri saat ini, Malik sejenak menghentikan langkahnya sembari melihat langit-langit rumah sakit. “Astagfirullah Ya Allah, kuatkan aku.” Batinnya untuk kembali menguatkan langkahnya. Malik mencoba menarik napasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya. Malik kembali meneruskan langkahnya.


Salma tiba-tiba terpikir untuk mengetahui rencana Fadil untuk hubungannya bersama pacaranya itu kedepannya. Menurutnya Fadil adalah orang yang bijak yang mungkin dia bisa belajar dari mantan tunangannya ini.


“Maaf sebelumnya apakah kamu sibuk?” Lanjut Salma menyadari Fadil yang merupakan seorang menejer perusahaan, bukan seseorang yang memiliki banyak waktu luang.


“Tidak, aku ambil cuti.” Jawab Fadil.


“Boleh, kamu boleh bertanya.” Fadil kembali duduk.

__ADS_1


“Apa kamu memilih untuk tetap bersama pacarmu?”


“Kamu boleh tidak menjawab jika kamu rasa itu privasimu yang tidak boleh aku ketahui. Aku hanya ingin tahu dan ingin belajar agar aku bisa membuat pertimbangan yang tepat untuk hubungan aku dan dia.”


“Untuk sekarang aku tidak bisa meninggalkannya karena aku bersamanya.”


“Dia sudah jauh lebih baik dan aku juga lebih baik karenanya. Meski kami sempat putus, namun saat kembali bersama aku melihat perbaikan dari diri kami masing-masing. Kami sama-sama mengevaluasi diri. Aku rasa dia akan selalu ada di hatiku. Apa aku terdengar begitu berlebihan? Haha” Fadil tersadar dia sudah mengatakan banyak hal yang dia rasakan pada seseorang yang tidak begitu dia kenal dan bahkan merupakan mantan tunangannya.


“Maaf.” Lanjutnya lagi.


Salma menggeleng.


“Aku juga merasakan hal yang berlebihan. Aku pikir melupakan itu mudah, aku pikir mengikuti pilihan orang tua itu mudah. Aku sudah setahun yang lalu bersamanya dan menyatakan bahwa diriku benar-benar jatuh cinta padanya. Dan saat kami tak direstui kami berpisah, namun hatiku selalu diisi olehnya.”


“Mungkin jika yang mendengarkan kita tak seperti kita, ini akan terdengar sangat berlebihan haha.” Lanjut Salma.


Fadil juga menyunggingkan bibirnya.


Salma mengangguk dan menghembuskan napasnya dengan kasar.


“Ternyata sesulit ini.” Salma tersenyum.


‘’’’’


Saat Malik berjalan menuju loket pengambilan resep obat, tiba-tiba terdengar seseorang yang memanggilnya. Mendengar itu Malikpun menoleh.


“Aku pikir kamu tak ke sini lagi.” Ucap seseorang itu yang ternyata adalah Tari. Dia berpikir Malik kembali ke rumah sakit untuk mengunjunginya.


Malik melihat Tari tanpa menjawab sepatah katapun dan tersenyum.


Melihat Malik tak menjawabnya, Tari merasa harus bertanya lagi untuk memastikan apa yang dipikirkannya itu benar atau mungkin sebaliknya.

__ADS_1


“Kamu ngapain?”


“Aku membeli obat untuk pamanku.” Jawab Malik dengan ramah seperti biasanya. Meski kejadian kemarin yang mengatakan dia tak memiliki perasaan dan merasa jengkel pada sikap Tari, namun Malik tak berubah sedikitpun, dia tetap seperti Malik yang dikenal Tari sebelumnya.


“Oh.” Meski Tari merasa kecewa karena perkiraannya tak tepat, dia tetap memperlihatkan senyumnya seakan tak merasakan apapun.


“Bagaimana keadaan nenekmu?” Tanya Malik yang membuat Tari kembali merasa terpincut, “Dia masih mempedulikan nenekku” Pikir Tari merasa senang.


“Alhamdulillah sudah lebih baik.”


“Syukurlah.”


“Aku harus mengambil obat.” Lanjut Malik ingin memulai langkahnya yang sempat terhenti.


“Oiya wadah bubur kemarin. Tunggu aku, aku akan mengambilnya.”


“Baik.”


Tari meninggalkan Malik untuk kembali ke ruangan neneknya mengambil wadah bubur punya rekan kerjanya ini. Dia mempercepat langkahnya agar Malik tak menunggunya, “Nanti dia tak suka.” Pikir Tari sembari tersenyum.


Setelah mengambil obat, Malik duduk pada kursi yang bersandar di dinding lorong rumah sakit untuk menunggu Tari.


Terdengar derap langkah dari kejauhan. Malik berpikir itu Tari atau orang lain yang berkunjung atau bekerja di rumah sakit ini. Dia pun menoleh dan melihat ternyata itu adalah Salma.


Menyadari itu Salma, Malik segera mengalihkan pandangannya. Dia segera menunduk. Namun dia juga tak bisa menapikan hatinya yang ingin memperhatikannya meski secara diam-diam.


Tak jauh berbeda dengan Salma, saat dia menyadari Malik yang berada di depannya, dia juga segera mengalihkan pandangannya dan hanya fokus melihat ke depan. Salma tak akan melihat cinta pertamanya itu.


Seperti sebelumnya, setelah Salma melewatinya, Malik menoleh melihat Salma yang semakin menjauh darinya. Dia terus melihat, berharap akan tetap seperti itu hingga Salma menghilang dari pandangannya.


Di depan Salma terdapat sebuah pintu kaca yang dapat memperlihatkan apa yang ada di depannya seperti cermin. Salma yang terus fokus melihat ke depan tak sengaja melihat dirinya sendiri sedang berjalan mendekati pintu itu dan selain itu ada hal lain yang juga dilihatnya. Saat menyadari itu, seketika langkahnya terhenti. “Malik” Salma menyadari Malik sedang melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2