How Matcha Love You

How Matcha Love You
Salah


__ADS_3

Salma menjalani hari-harinya. Pada beberapa kesempatan dia bertemu dan berpapasan dengan Pratama yang sekarang telah menjadi mantan kekasihnya. Salma memilih untuk mengabaikannya.


Pratama sempat berpikir untuk meminta Salma agar kembali padanya, namun sikap Salma yang ditunjukkan padanya nampak tak mendukung kenginannya itu. Akhirnya, hingga sekarang sudah sepekan lamanya setelah kejadian hari itu, Pratama belum mengatakan apa pun pada Salma dan sepertinya akan terus begini. Dia mungkin mengurungkan niatnya yang meminta Salma untuk memulai kembali dari awal.


‘’’’’


Sesampainya di rumah, Salma melihat Nanda duduk di ruang tamu.


“Hai, kamu tak bekerja?” Tanya Salma saat melihat Nanda ada di rumahnya.


“Aku pulang lebih awal.” Balas Nanda, lalu menyerap minuman yang ada di tangannya. Rupanya Nanda sudah cukup lama di sini hingga Ibu sudah menyuguhkannya minuman dan cemilan.


“Memangnya boleh?.”


“Tentu saja, aku izin untuk mengurus keperluan menikah.”


“Hah? Kalau aku jadi atasanmu, aku tak akan menerima alasan seperti itu hehe canda.”


“Nanti kamu juga akan merasakan, mempersiapkan pernikahan bukan hal yang mudah.”


Salma hanya sedikit menyunggingkan bibirnya lalu duduk mendekati Nanda.


“Ada apa?” Tanya Salma, lalu mengambil cemilan yang disiapkan ibunya.


“Kamu tidak cuci tangan?” Nanda nampak terkejut melihat Salma yang baru pulang langsung mengambil cemilan dengan tangannya.


“Sudah, di luar.” Jawab Salma singkat, lalu kembali mengambil cemilan dan memakannya.


“Minggu depan kami akan mengadakan acara lamaran.”


“Wah, selamat.” Salma ikut merasa bahagia mendengar kabar bahagia sahabatnya ini.


“Datanglah dengan orang yang spesial.” Pinta Nanda. Nanda tidak mengetahui kalau sekarang Salma putus dengan Pratama. Dia pikir Salma akan datang di acara lamarannya nanti bersama Pratama.


“Oke, aku akan datang dengan ibuku, tak masalah kan?” Salma dengan wajah datar lalu menyeruput minuman milik Nanda.


“Hei, ini minumanku?”


“Oh maaf hehe.”


“Kenapa ingin pergi bersama ibumu?” Nanda terkejut setelah menyadari balasan Salma yang tak sesuai harapannya.


“Apa Pratama sibuk?” Lanjutnya.

__ADS_1


“Aku yang sibuk.” Balas Salma dengan sedikit tersenyum.


“Apa?”


“Maaf, aku sibuk hingga lupa memberitahumu kalau kami sudah putus.”


“Apa? Putus? Kenapa?” Nanda sungguh tak menyangka kalau hubungan sahabatnya ini kembali gagal. Sebelumnya dia merasa yakin, Salma yang dikenalnya sulit membuka hati untuk orang lain akhirnya luluh karena Pratama, tapi apa yang terjadi?


“Kami tak sepemikiran.” Jawab Salma singkat.


“Tak sepemikiran bagaimana, bukannya dia rekan kerjamu dan kamu sudah cukup atau bahkan mungkin sangat mengenalnya?” Nanda masih tak percaya.


“Ya begitulah, aku hanya bersamanya beberapa saat dalam sehari, itu pun sembari bekerja. Bagaimana aku bilang sangat mengenalnya sedang waktuku dengan hal lain itu lebih banyak jika dibandingkan saat aku bersamanya.”


“Hahaha, apa yang aku katakan? Kamu mengerti?” Lanjut Salma, saat menyadari akan rumit jika kisahnya dengan Pratama itu diceritakan.


“Entahlah” Nanda mencoba memahami, namun memilih untuk tak memperpanjang karena takut membuat Salma sakit hati.


“Sudah berapa lama kamu putus?”


“Seminggu.”


“Apa Pratama ada memintamu untuk kembali bersamanya?.”


“Tidak ada.”


Salma hanya tersenyum.


‘’’’’


Setelah selesai mengajar, seperti biasa Malik pulang menuju rumah dinasnya dengan berjalan kaki.


“Kak Malik.” Terdengar seseorang memanggilnya yang sontak saja membuatnya menoleh.


“Gani.” Ucap Malik saat melihat seseorang yang memanggilnya.


Gani melajukan motornya sedikit mendekati Malik. Sekarang Gani tepat berada di samping Malik berdiri.


“Oh, bisakah kamu menunggu?” Tanya Malik.


“Bisa.”


Malik segera mempercepat langkahnya dan masuk ke rumah dinas tempatnya tinggal yang tak jauh darinya dan Gani sekarang. Sementara Gani menepikan motornya di depan rumah dinas tempat Malik menginap selama bekerja di kota ini.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, Malik keluar dan menyerahkan sebuah bolpoin pada Gani.


“Ini milik kakakmu.”


“Hah?” Gani merasa bingung, mengapa bolpoin kakaknya ada pada Malik? tapi mulutnya tak bisa menanyakan itu.


“Dia meninggalkannya saat memberikan vaksin pada anak-anak di sekolah.” Lanjut Malik setelah melihat raut wajah Gani yang terlihat bingung.


“Oh.” Gani sedikit tersenyum dan mengangguk.


“Apa kalian bertemu?” Lanjut Gani.


“Apa?” Malik merasa tak jelas dengan apa yang diucapkan Gani. Karena Gani memang sengaja berucap pelan.


“Bukan apa-apa hehe.”


“Oh.” Malik tersenyum.


“Ehm, apa kamu mau mampir?” Tanya Malik setelah melihat Gani yang tak melakukan dan mengatakan apa pun namun tetap di tempatnya, Gani tak beranjak.


“Oh, tidak” Gani sedikit kikuk, sebenarnya dia masih merasa penasaran bolpoin kakaknya ada pada Malik. Apa kakaknya bertemu Malik secara sengaja atau hanya kebetulan? Pikirnya, tapi tetap tak ingin bertanya pada Malik karena merasa sungkan dan tak berhak menanyakan hal itu.


“Apa ada yang ingin kamu katakan?” Malik kembali bertanya.


“Hmm, kebetulan aku juga akan pulang.”


“Oh.” Malik tersenyum. Ingin rasanya menitip salam untuk Salma yang selama ini masih membayanginya, namun itu tak mungkin. Dia sadar akan keadaannya yang tak merestui dirinya untuk bersama cinta pertamanya itu.


“Bagaimana kabar kakak? Sudah lama kita tidak bertemu.” Ucap Gani memecah keheningan yang sempat dirasa olehnya. Malik terlihat sedang memikirkan sesuatu.


“Iya, alhamdulillah baik, aku lihat kamu juga sehat, betulkan? Haha.” Balas Malik.


“Alhamdulillah.” Gani sembari mengangguk, meski masih merasa penasaran, namun dia memilih untuk tak ingin ikut campur mengenai hubungan kakaknya.


“Mari kak.” Gani pamit dan menghidupkan mesin motornya.


Malik mengangguk sembari tersenyum. Begitu pula dengan Gani dia juga mengakhiri pertemuannya bersama Malik hari ini dengan tersenyum.


Tak lama setelah Gani pergi, tinggallah Malik sendiri, dia tak langsung masuk ke rumah dan melihat kepergian Gani hingga hilang dari pandangannya. Malik memandangi telapak tangannya yang baru saja menggenggam bolpoin Salma sebelum akhirnya bolpoin itu telah berpindah tangan. Malik tersadar dan menghembuskan nafasnya dengan kasar, lalu melangkah masuk ke rumah dinasnya.


‘’’’’


Salma menyandarkan dirinya di atas tempat tidur sembari memainkan ponselnya. “Aku lebih bebas dan tenang bukan?” Pikirnya karena tak ada lagi seseorang yang menghubunginya seperti yang sebelumnya selalu Pratama lakukan.

__ADS_1


Saat berpacaran dengan Pratama, meski jarang bersama, Salma dan kekasihnya itu selalu memberi kabar untuk satu sama lain. Salma mengakui Pratama orang yang perhatian dan itulah yang dia sukai dari seseorang yang sekarang menjadi mantan kekasihnya itu. Namun, ada yang lebih penting di atas hal seperti itu, bukannya pasangan adalah dua insan yang menyatukan dua kepala? Menyatukan pandangan? Tepat jika dikatakan menyamakan persepsi dan pemikiran.


Salma sadar, dirinya tak sepenuhnya benar. Memegang prinsip untuk tidak membuka jilbab dan menyentuh seseorang yang dilarang agama untuk menyentuhnya. “Astagfirullah.” Salma menghembuskan nafasnya mengingat dia telah melakukan kesalahan, meski tahu tak boleh, dia tetap berpacaran. “Pratama tak salah, aku yang salah. semoga dia menemukan seseorang yang lebih baik.” Salma membatin.


__ADS_2