How Matcha Love You

How Matcha Love You
Menyerahkan Keputusan


__ADS_3

Salma baru tiba di depan rumahnya. Dia menepikan motornya, lalu masuk ke rumah.


“Assalamu’alaikum.” Ucap Salma saat melangkahkan kakinya memasuki rumah.


Salma dikejutkan oleh keberadaan kedua orang tuanya yang duduk di kursi tamu dan sedang sama-sama melihat ke arahnya.


“Wa’laikumussalam.” Jawab orang tua Salma.


“Datang dari mana?” Tanya Bapak melihat Salma.


Seketika hati Salma bergetar, meski berniat untuk memberitahu hubungannya dengan Malik kembali pada bapak dan ibunya. Namun untuk sekarang, dia belum memiliki keberanian. Salma merasa dirinya belum siap untuk mengatakan hal itu karena mungkin saja orang tuanya masih sama, akan merasa kecewa ketika Salma mengatakan yang sejujurnya.


Salma mencoba memikirkan hal yang tepat untuk dijadikan jawaban atas pertanyaan Bapak. Yang mana itu merupakan jawaban yang tidak membuat orang tuanya kecewa, namun dia juga tidak berbohong. Salma terus memutar otak, di waktu yang singkat dan tak tertebak ini pikirannya terasa buntu, tidak bisa berpikir.


“Aku…” Salma mencoba membuka kata, meski sebenarnya dia belum juga menemukan jawaban yang dirasa tepat.


“Aduh.” Salma menjatuhkan kunci motornya.


Salma berhenti melanjutkan kata-katanya dan menunduk untuk mengambil kunci motornya yang terjatuh. Salma mencoba menenangkan dirinya di tengah waktu singkat saat mengambil kunci motornya itu. “Sudahlah.” Pikir Salma pasrah.


Salma akan mengatakan sesuatu secepatnya dan dia menyerah apa pun yang akan menjadi pertanyaan orang tuanya selanjutnya setelah mendengar jawabannya ini nanti, Salma hanya akan melakukan hal yang sama, mencoba memikirkan jawaban yang terbaik lagi.


“Aku pergi menemui seorang teman.” Jawab Salma tanpa ragu setelah dirinya sudah dalam posisi berdiri tegak.

__ADS_1


Bu Fatma yang mendengar jawaban singkat putrinya merasa tercekat. Raut wajahnya tiba-tiba berubah, dia terlihat khawatir sekaligus marah. Bu Fatma menunduk, rasa-rasanya hal yang dia takutkan akan benar terjadi. Dia sebenarnya telah mengetahui Salma kembali dengan Malik. namun dia tak pernah memberitahu Bapak karena masih berharap Salma hanya bertemu tanpa perasaan yang sama seperti dua tahun yang lalu dengan pemuda yang sebenarnya tak dia benci, namun dia membenci jika anaknya memilih untuk hidup bersama dengan pemuda itu. Bu Fatma tak puas dengan jawaban Salma, dia ingin bungkam dan menanyakan sesuatu lagi.


Saat Bu Fatma ingin mengatakan sesuatu, tiba-tiba Bapak meraih tangannya seolah memberikan tanda untuk membiarkan anaknya kali ini. Melihat Bapak yang nampak mencegahnya, Bu Fatma pun mengurungkan niatnya.


Tak berbeda dari Bu Fatma, Bapak juga merasa Salma sedang menyembunyikan sesuatu yang mungkin akan mengecewakan mereka. Dari beberapa minggu yang lalu, saat Bapak melewati jalan di depan rumah Malik, dia melihat Malik terus datang di hari sabtu. Meski tak begitu peduli dengan salah satu warga kampungnya ini, namun kenyataan Malik yang sebelumnya selalu pulang kampung tiap libur sekolah itu sudah hampir diketahui semua warga kampung. Bapak merasa tak nyaman, terlebih melihat putrinya akhir-akhir ini selalu keluar di hari liburnya bekerja.


Namun Bapak tak ingin memaksa Salma untuk mengatakan hal yang belum ingin dia katakan. Bapak percaya putrinya akan melakukan yang terbaik kali ini. Sejujurnya, Bapak tidak merasa keberatan jika memang Salma kembali ingin meminta restu untuk bersama Malik. Dia mengenal putrinya yang selama ini sudah mencoba untuk tak mengecewakan mereka sebagai orang tua. Meski dia tak pernah berniat untuk menikahkan anaknya dengan salah satu warga kampung sini, namun mengingat dia yang sudah mencoba mencegah tapi putrinya tetap belum bisa menemukan seseorang yang lain. Dia yakin pilihan putrinya adalah yang terbaik. Jika Salma begitu bersikeras untuk bersama Malik, dia pasti punya alasan yang membuat dirinya yakin atas pilihannya itu.


“Oh.” Bapak menganggu mendengar jawaban putrinya.


Salma yang sebenarnya sudah siap untuk memikirkan jawaban atas pertanyaan orang tuanya selanjutnya, tiba-tiba dikejutkan oleh jawaban singkat Bapaknya ini. Dia merasa sedikit tenang dan memilih untuk segera masuk ke kamarnya.


“Syukurlah.” Pikirnya, sembari melangkah menuju kamarnya.


“Pak, kamu yakin tidak apa-apa untuk mendiamkannya seperti ini?” Tanya Bu Fatma dengan khawatir. Dia merasa khawatir atas tindakan yang baru Bapak lakukan karena telah membiarkan putrinya dan tidak menanyakan lebih mendetail terhadap apa yang sebenarnya putrinya itu lakukan saat pergi di hari minggu.


“Dia sudah dewasa, dia akan mengatakan sendiri saat merasa sudah siap.” Jawab Bapak. Dia mempercayai putrinya akan bisa memilih tindakan yang tepat.


Bu Fatma merasa dirinya tak mampu menahan kekhawatiran yang selama ini dia tahan. Dia tak ingin semuanya berlarut-larut. Dia ingin Bapak bertindak lebih awal agar Salma tak terus berharap pada Malik yang sampai saat ini terus tak dia inginkan.


“Sepertinya dia bersama Malik.” Ucap Bu Fatma.


Mendengar ucapan istrinya, perasaan kecewa masih dia rasakan. Meski dia berpikir untuk menyerahkan semua keputusan pada putrinya, namun sepertinya hatinya belum bisa sepenuhnya menerima itu. Bapak menghembuskan nafasnya perlahan.

__ADS_1


“Sepertinya? Itu hanya tebakan kita.” Bapak mencoba mengelak, dan masih berharap itu bukanlah kenyataan yang sebenarnya terjadi.


“Aku melihat di instagram kalau mereka pergi bersama ke lamaran Nanda” Ucap Bu Fatma nampak gusar.


“Bukankah itu sudah sebulan yang lalu?” Bapak memastikan.


“Iya.” Jawab ibu menunduk.


Apakah itu berarti putrinya sudah bersama Malik dari sebulan yang lalu? Bapak merasa gundah, namun dia tetap pada pendiriannya. Jika memang nanti putrinya akan meminta izin untuk kembali bersama Malik, dia akan melapangkan hatinya dan memilih mengalah atas keputusan putrinya.


“Apa yang akan kita lakukan kalau … Malik kembali ke sini?” Bu Fatma melihat Bapak dengan serius.


Bapak menarik nafasnya perlahan, lalu menghembuskannya. Dia tahu kalau keputusannya mungkin akan membuat istrinya kecewa, namun bagaimana pun menurutnya ini adalah keputusan yang terbaik untuk putrinya.


“Kita akan mengizinkannya.”


“Apa?” Bu Fatma terlihat tak percaya.


“Jika dia kembali ke sini, itu berarti dia punya keberanian lebih daripada yang pertama dia lakukan. Itu juga berarti dia punya alasan yang lebih sehingga mengambil keputusan itu.” Jawab Bapak.


“Setidaknya dia masih menghormati kita, meski dia sangat menginginkan Salma dan tahu kita menentangnya, dia terus membutuhkan restu kita. Kalau dia bukan orang baik, bisa aja kan tanpa restu kita dia tetap bersikeras? Terlebih anak kita Salma juga nampak sangat menyukainya.” Lanjut Bapak memantapkan hatinya. Dia mencoba mengatakan sesuatu yang mungkin akan bisa membuka hati istrinya untuk menyerahkan segala keputusan Salma untuk hidup bersama siapa pun.


Di balik pintu kamarnya, Salma terus memperhatikan ucapan orang tuanya. “Alhamdulillah.” Salma bersyukur dan merasa lega mendengar ucapan orang tuanya yang tak akan menentang keputusan lagi.

__ADS_1


__ADS_2