
Seseorang yang hampir setiap saat memenuhi pikirannya memanggilnya “Malik” Tari membatin merasakan jantungnya berdetak tak seperti biasanya.
“Ini.” Malik menyerahkan wadah milik Tari yang sudah dipersiapkannya sedari pagi. Menurutnya hanya sekarang merupakan saat yang paling tepat untuk mengembalikan ini pada Tari berharap tidak ada guru lain yang melihat. Ini bukan kesalahan, hanya saja Malik menjaga agar rumor yang tak diinginkan dan berbalik dengan kebenaran tidak muncul. Terlebih sebelumnya sudah ada beberapa guru yang mengatakan kalau dia dan Tari merupakan pasangan yang serasi meski itu hanya candaan dan diucapkan tanpa pikir panjang, namun jika mereka melihatnya nampak dekat dengan Tari bukankah ada kemungkinan omongan seperti itu akan kembali tumbuh? Atau bahkan lebih berkembang? Malik tidak ingin itu terjadi.
Tari menerima wadah yang diserahkan Malik padanya.
“Terima kasih.” Ucap Malik dan berbalik ingin kembali ke kelasnya untuk mengajar. Kelas yang diajar Malik belum selesai.
“Apa ini?” Tari merasakan wadahnya berisi sesuatu.
“Tadi aku sekalian beli donat.” Malik kembali berbalik.
“Oh terima kasih.” Tari sembari tersenyum senang.
Malik juga membalas “Terima kasih kembali.” Juga dengan senyumannya lalu segera pergi kembali ke kelasnya.
Sedang Tari masih melihat Malik melangkah menjauh darinya.
“Donat?” Tari bergumam sembari menutup ekspresi bahagianya dengan tangan kiri yang memegang buku ajarnya.
‘’’’’
Gani sedang berjalan-jalan sore di kampungnya. Dia berencana untuk melewati rumah Sarah terlebih dahulu, lalu kembali ke pos yang sebenarnya jika dari rumahnya tidak melewati rumah Sarah.
Gani berjalan sendirian, di tengah-tengah perjalanan dia menyapa beberapa warga yang berpapasan dengannya atau berada di depan rumah mereka.
Dari kejauhan terlihat Sarah berada di depan rumahnya sedang menyapu teras. Melihat itu Gani merasa senang. Meski begitu, dia tidak ingin Sarah tahu bahwa dia yang terlebih dahulu menyadari keberadaannya. Gani terus berjalan seolah tidak menyadari keberadaan Sarah.
“Hey.” Sarah memanggilnya.
“Sarah.”
Mereka terlihat akrab dan melemparkan senyum pada satu sama lain.
Setelah Gani, cukup jauh. Mendengar anaknya baru menyapa seseorang dengan kata yang terdengar begitu akrab, Bu Siti keluar untuk melihat. Namun setelah dia keluar, tidak mendapati siapapun yang di depan rumahnya selain Sarah yang masih menyapu.
“Siapa?” Tanya Bu Siti penasaran.
“Oh tadi baru saja Gani lewat bu.”
“Kamu terdengar akrab dengannya.” Bu Siti menampakan wajahnya yang kecewa.
“Iya bu kami cukup dekat di sekolah karena kami sekelas.” Jawab Sarah santai tidak peka dengan apa yang dirasakan ibunya.
“Apa?”
“Kami berteman bu, semua orang yang satu kelas akan berteman.” Sarah menjawab enteng.
“Tapi mungkin orang yang mendengar akan salah paham.” Bu Siti mempertegas bicaranya sembari menatap anaknya itu.
“Salah paham? Semua orang di sini tahu kalau kami satu sekolah.”
__ADS_1
“Bu, aku akan lebih berhati-hati jika ada kak Malik. Ibu jangan khawatir.” Sarah tersenyum pada Ibunya.
“Maksud Ibu bukan begitu…”
Gani kembali melewati rumah Sarah. Bu Siti menghentikan perkataannya saat melihat keberadaan Gani.
“Bu, Sarah.” Gani menyapa dengan ramah.
Bu Siti membalasnya dengan senyuman yang sebenarnya dipaksa karena dia sedang merasa kesal dengan anaknya yang belum mengerti dengan apa yang dia maksud.
“Kamu sudah mau pulang?” Tanya Sarah penasaran karena Gani baru saja melewatinya rumahnya.
“Ternyata Riki ada di pos aku akan mendatanginya hehe.”
“Bukannya rumah Riki di sana dan pos di situ.” Sarah berpikir sembari menunjuk ke arah yang baru di datangi Gani dan ke arah sebaliknya yaitu pos.
“Hah?” Gani menyadari kebohongannya yang terdengar jelas.
Jika Gani ke rumah Riki maka dia akan melalui jalan di depan rumah Sarah. Dan jika dia dari rumahnya menuju ke pos itu tidak melewati rumah Sarah. Secara logika kalau Riki sudah ada di pos sedari tadi seharusnya Gani sudah terlebih dahulu melihatnya sebelum melewati rumah Sarah. “Aduh” Gani membatin menyadari alasan yang dia katakan sungguh tidak masuk akal.
“Kamu memang tidak jeli, tadi kamu hanya memperhatikan jalan di depanmu kan?” Sarah meledeknya.
“Haha” Gani merasa lega Sarah berpikir begitu dan terlihat tidak curiga kalau dirinya sebenarnya hanya modus untuk melihat Sarah. Gani melanjutkan langkahnya sembari tertawa sama dengan temannya itu.
Sedang Bu Siti hanya terdiam menatap anaknya sedang asik bersama orang lain.
“Nak, kamu tidak seharusnya begitu. Kamu bisa membuat orang yang melihat salah paham.” Ucap lagi Bu Siti setelah Gani dirasa tidak akan mendengar apa yang mereka katakan.
Bu Siti mengangguk.
“Baiklah bu, aku akan lebih hati-hati.” Ucap Sarah tersenyum pada ibunya.
‘’’’’
“Permisi.”
Nanda sedang di balik pintu ruangan Fiki. dia berniat untuk mengajak kakak kelasnya yang sekarang menjadi rekan kerjanya itu untuk makan siang bersama. Ini Nanda lakukan untuk membalas Fiki yang sebelumnya sudah beberapa kali mentraktirnya makan.
“Silakan Masuk.” Jawab Fiki lalu tersenyum melihat seseorang yang sebenarnya juga ingin dia temui.
“Apa ka Fiki sibuk?”
“Tidak, mari makan bersama. Dimana?” Fiki terlihat bersemangat.
“Aku tidak mau.”
“Kenapa?, pekerjaanmu masih ada yang harus segera di selesaikan?”
“Hmm.”
“Kalau masih ada pekerjaan ya kamu harus tetap makan. Ayo kalau begitu kita harus lebih cepat.”
__ADS_1
“Tidak perlu haha.”
“Hah?”
“Maafkan aku, sebenarnya aku hanya ingin yang mengajakmu hari ini.”
“Apa?” Fiki menatapnya tajam.
“Hmm karena aku sudah lebih dahulu berarti kamu kalah.” Lanjut Fiki.
“Apa?”
“Besok aku mengalahkanmu lagi hehe.”
“Aku akan menang.” Ucap Nanda yakin.
“Tidak akan haha”
“Aku akan berusaha haha.”
Mereka pergi menuju restoran terdekat untuk makan siang bersama.
‘’’’’
Salma telah berhasil melakukan operasi yang cukup besar. Resya yang mendengar temannya itu telah sukses, dia berniat untuk mengajaknya keluar untuk makan siang bersama.
“Tidakkah kita harus merayakannya.” Ucap Resya.
“Boleh.”
Sekarang Salma menyadari bahwa dia harus menikmati hidupnya. Berbeda dari dia yang dulu yang sangat jarang menerima ajakan seseorang untuk pergi keluar.
“Kamu kan sudah boleh keluar, sedang aku sudah selesai melayani pasienku hari ini. Mari kita cari restoran yang terkenal enak.”
Salma menyetujui saran Resya.
Resya mengatakan bahwa dia pernah mendengar satu restoran yang terkenal dengan makanannya yang enak dan tempatnya yang 'instagramable'. Resya menginginkan untuk pergi ke sana.
“Bukankah itu cukup jauh?” Salma memastikan.
“Iya. Apa sebaiknya kita cari yang lebih dekat saja?”
“Yang jauh pun tak masalah.” Salma sangat bersemangat.
“Baiklah.” Nanda melajukan motornya sedang Salma di belakangnya sembari memperhatikan arah jalan yang akan mereka tuju dari layar ponselnya.
Setelah kurang lebih setengah jam menempuh perjalanan. Akhirnya Resya dan Salma sampai ke restoran yang dituju. Mereka segera turun dari motor dan memasuki restoran.
“Fiki.” Ucap Resya melihat Fiki yang juga melihat ke arahnya.
Salma mengikuti pandangan Resya dan mendapati Fiki bersama Nanda sedang makan berdua.
__ADS_1