How Matcha Love You

How Matcha Love You
Tidak Sanggup


__ADS_3

“Ada apa? Kenapa menangis?” Lanjut Gani.


“Siapa? Kakak tidak menangis” Balas Salma seolah dia baik-baik saja. Salma berbalik sembari mengeluarkan beberapa barang dari dalam tasnya di meja rias, lalu menarik kursi belajarnya dan memilih duduk di depan meja riasnya ini.


Gani merasa ada sesuatu yang terjadi pada kakaknya, dia tak begitu yakin dengan apa yang baru dikatakan kakaknya. “Kenapa kakak menyuruhku ke sini?” Ucap Gani seperti sedang mengintrogasi, dia beranjak untuk menghadap kakaknya ini.


“Kakak hanya tak ingin ibu dan bapak mendengar omong kosong mu dan menjadi khawatir.” Balas Salma setelah menghembuskan nafasnya perlahan.


Gani memilih duduk di tempat tidur Salma dia melihat layar ponsel yang ada di tangannya.


“Kamu sudah boleh keluar dan jangan mengatakan hal aneh pada ibu dan bapak, oke?” Pinta Salma sembari melepaskan hijabnya.


Gani masih di tempatnya, dia mengabaikan apa yang diucapkan Salma.


Gani teringat apa yang Sarah katakan padanya tadi sore. Sarah mengatakan kalau ibunya tak merestui permintaan Malik untuk kembali melamar kakaknya. Seketika wajah Gani berubah, dia merasa cukup yakin, nampaknya Salma memang telah benar-benar menangis, menangis karena Malik.


“Kakak yakin baik-baik saja?” Ucap Gani setelah beberapa saat nampak menghiraukan Salma yang tak jauh darinya.


Salma hanya mengangguk.


“Apa kakak baru bertemu Malik?”


Seketika wajah Salma berubah, rasa sakit yang sekuatnya dia tahan dan abaikan, sepertinya dirinya akan goyah. Salma tak mampu mengendalikan mimik wajahnya.


“Tadi sore aku bertemu Sarah.”


Salma hanya menatap dirinya di depan cermin.


“Sabar kak, tapi kalau kakak merasa lelah menurutku kakak bisa saja mencoba melupakannya dan melihat orang lain.” Lanjut Gani.


“Salma berbalik dan melihat Gani.

__ADS_1


“Apa maksud mu? Kenapa kakak harus bersabar? Apa yang kamu ketahui?” Perasaannya mulai tak nyaman, Salma bertanya pada Gani seakan dia telah melupakan keinginannya untuk menutupi kesedihannya.


“Sarah mengatakan semuanya, kakak tak perlu menutupinya dariku.” Gani terlihat begitu tenang, meski sebenarnya dia merasa sangat sedih melihat kakaknya pasti tersakiti karena hal ini. Namun, Gani tak ingin itu dilihat oleh Salma, dia ingin kakaknya mempercayai dirinya bisa dijadikan sebagai seseorang yang bisa menerima semua keluh kesah kakaknya ini.


“Memangnya Sarah mengatakan apa?”


“Kak, ayo makan.” Terdengar ibu meminta Salma untuk juga segera ke dapur untuk makan malam, sedangkan Gani baru menyelesaikan makannya sebelum Salma menyeretnya ke sini.


Gani beranjak dan ingin keluar kamar.


Salma segera menahan Gani dengan memegang pergelangan tangan adiknya ini.


“Jawab kakak, apa yang dikatakan Sarah?” Pinta Salma meminta Gani menjawab pertanyaannya. Dia tak mengerti mengapa adiknya seolah mengetahui kondisi dirinya yang baru bertemu dan terluka karena Malik.


“Ibunya tak merestui Malik yang ingin melamar kakak.” Balas Gani sembari melihat kakaknya.


“Apa?” Salma merasa begitu terkejut, dia tak menyangka kalau ternyata apa yang terjadi beberapa saat yang lalu mungkin hanya rekaan dari Malik agar dirinya memilih untuk meninggalkan cinta pertamanya itu.


Melihat kakaknya yang begitu terkejut membuat Gani mengurungkan niatnya untuk segera keluar kamar. Dia merasa penasaran dengan apa yang membuat kakaknya seperti baru saja menangis.


“Nanti.” Salma bergegas untuk kembali memakai hijabnya dan memasukkan beberapa barang yang baru dia keluarkan ke dalam tasnya. Salma dengan terburu-buru keluar kamar dan kembali pergi.


“Kakak mau ke mana?” Tanya Gani.


“Beritahu ibu dan bapak, ada hal yang harus kakak selesaikan.” Salma pun pergi tanpa melihat orang tuanya yang masih makan malam di dapur.


‘’’’’


Malik juga baru kembali. Setelah membersihkan diri, dia bersandar di atas tempat tidurnya. Rasa sesak dalam hatinya masih Malik rasakan. Malik menunduk mengingat Salma yang menangis beberapa waktu lalu karena dirinya. Malik menutup wajah dengan kedua tangannya, dia menumpahkan segala rasa sakitnya.


Di tengah Malik meratapi kesedihannya, ponselnya berbunyi. Dia pun segera meraih ponsel itu dan membuka layar ponselnya yang terkunci. Bukan hal yang istimewa, ini hanyalah pesan di grup guru tempatnya mengajar yang mengingatkan kalau dari senin depan kelas 6 akan mulai les untuk persiapan ujian. Malik menghela nafasnya, lalu tersadar sesuatu.

__ADS_1


“Apakah aku harus melakukan hal itu?” Pikir Malik sembari satu tangannya menekan dadanya yang terasa begitu sesak. Malik berpikir kalau dia sungguh akan melupakan Salma dan harus menutup segala sesuatu yang menghubungkan dirinya dengan seseorang yang selama ini membuatnya begitu bahagia sekaligus terluka. Malik berpikir untuk memblokir semua hal yang berkaitan dengan Salma baik itu nomor ponsel maupun media sosial. Malik ingin dirinya benar-benar fokus kali ini. Dia tak ingin dirinya menderita dalam waktu yang lama. dia harus segera melupakan cinta pertamanya itu dan mencoba untuk membuka hati pada orang lain.


“Maaf.” Rintih Malik saat menekan blokir pada nomor Salma di layar ponselnya.


Malik melepaskan ponselnya dan memeluk erat kedua kakinya yang ditekuk. Malik menunduk, dia menangis dalam diam karena tak ingin kesedihannya di dengar oleh siapa pun.


‘’’’’


Setelah beberapa saat di kafe, Nanda dan Tari memilih untuk segera mengakhiri pertemuan mereka hari ini.


“Aku pergi.” Ucap Nanda saat beranjak dari duduknya sembari mengulurkan tangannya.


Tari menerima uluran tangan Nanda, mereka berjabat tangan.


“Pasti sulit bagi Salma, tolong bantu dia.” Ucap Tari.


Nanda mengangguk, dia masih merasa sangat mengkhawatirkan Salma terlebih dia memilih untuk pulang lebih dulu.”Apa saat ini dia menangis?” Pikir Nanda.


“Aku juga ingin pulang, mari.” Lanjut Tari yang juga berdiri lalu berjalan mengiringi Nanda yang sedikit mendahului dirinya.


Langkah Nanda tiba-tiba terhenti, hatinya tiba-tiba terasa sakit, dan jantungnya menjadi berdetak lebih kencang. Nanda begitu setelah melihat Salma memasuki kafe yang juga sedang melihatnya.


“Salma.” Lirih Tari merasakan sesuatu yang tak jauh berbeda dari Nanda. Dia begitu terkejut melihat kedatangan Salma.


Salma berhenti saat melihat temannya itu menyadari kedatangan dirinya. Salma menutup matanya yang terasa sembab, entah berapa banyak air mata yang telah dia tumpahkan. Kali ini dia tak ingin goyah, Salma menguatkan langkahnya kembali melanjutkan keinginannya untuk memastikan apa yang sebenarnya telah terjadi.


“Kenapa kalian bersama? Malik mana?” Tanya Salma setenang mungkin, dia tak ingin terlihat seperti langsung menyalahkan dan menyudutkan kedua temannya ini.


“Malik pulang lebih dahulu karena ada urusan mendadak.” Balas Nanda juga mencoba dengan setenang mungkin, dia tak ingin memperlihatkan dirinya yang sebenarnya sangat gugup karena merasa takut kalau ketahuan telah melakukan kebohongan.


“Salma, maaf.” Ucap Tari.

__ADS_1


Nanda melihat Tari, memberi kode untuk tidak melakukan hal yang tak seharusnya.


“Maaf, kami telah melakukan kesalahan. Kalian saling mencintai, aku tidak sanggup.” Lanjut Tari.


__ADS_2