
Melihat Malik keluar rumah, Salma segera kembali melihat ke depan dan tetap melajukan motornya. Meski tatapan kedua mata mereka sempat bertemu, namun Salma yang menyadari itu segera mengalihkan pandangannya dan memilih fokus ke depan sesuai dengan rencana sebelumnya yang ingin mengabaikan Malik jika bertemu.
Salma menyadari, sebesar apapun keinginannya dan Malik untuk bersama, jika orang tua tak merestui, itu tak akan mungkin. Sebenarnya sudah dari dulu Salma menyadari hal itu, namun kali ini dia tak akan memperumit keadaan yang sudah sulit. Dia akan mencoba mengabaikan perasaanya dan seseorang yang seharusnya menerima perasaaanya itu.
Malik menghela nafas, baru berkeinginan untuk tak menjumpai Salma, namun dalam keadaan yang tak disangka-sangka dia kembali melihat seseorang ingin dijauhinya itu. Apa ini takdir? Malik masih melihat Salma yang semakin menjauh darinya. Namun mengapa tak bisa bersama? Dia kembali menghela nafasnya lalu menghembuskannya dengan kasar. Malik bukan menyalahkan takdirnya, hanya saja sekarang dia merasa mengeluh karena selalu merasakan sakit saat melihat Salma. Dia masih mencintai Salma, namun tak bisa untuk mendekatinya apalagi memintanya untuk bersama. Malik merasa tersiksa karena itu.
Malik kembali masuk ke rumah, membawa kayu bakar sesuai perintah ibunya.
“Ini untuk apa bu?” Tanya Malik saat meletakkan kayu bakar di samping Bu Siti yang sedang membersihkan ikan.
“Membakar ikan.”
“Oh aku coba membuat arang.” Malik beranjak membawa kayu bakar ke luar halaman belakang rumahnya.
Malik memotong kayu bakar menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, lalu dengan bantuan kertas kering, dia menghidupkan api dan menyelipkannya di bawah tumpukan kayu bakar. Setelah beberapa saat, kayu bakar yang ada di sekitar kertas juga ikut terbakar. Malik terus menjaga api tersebut dengan meniup ujung bambu yang diarahkan ke api agar terus menyala.
Bu Siti sudah selesai membersihkan dan membumbui ikan. Sekarang dia sedang duduk di depan pintu sembari memperhatikan Malik yang tak jauh darinya.
“Sepertinya sudah cukup.” Ucap Bu Siti melihat bara api yang di buat anaknya sudah banyak dan cukup untuk membakar ikan.
“Sini.” Malik mengambil ikan yang sudah disiapkan ibunya.
Setelah meletakkan ikan di atas anyaman kawat yang berfungsi agar ikan tak langsung mengenai arang, Malik memperhatikan bara api agar terus menyala. Sementara Bu Siti hanya melihat anaknya sesekali tersenyum karena merasa beruntung memiliki anak lelaki yang baik, sholeh dan juga tampan. Namun di tengah-tengah itu, dia tiba-tiba teringat saat Malik mengatakan bahwa dia ditolak orang tua Salma ketika meminta izin untuk melamar. Mengingat itu, ekspresi Bu Siti berubah karena anaknya sampai sekarang tak kunjung meminta izin untuk melakukan hal serupa pada perempuan lain.
“Bagaimana kabar nenek rekan kerjamu itu? Apa sampai sekarang masih di rumah sakit?” Tanya Bu Siti.
“Sudah lebih baik. Iya masih di rumah sakit” Jawab Malik singkat, tanpa menoleh ibunya karena sedang sibuk meniup ujung bambu untuk menjaga bara api.
“Tari? Dia perempuan?” Tanya Bu Siti, meski sebenarnya dia sudah menyadari saat pertama kali Malik menceritakan padanya, namun kali ini dia hanya ingin sedikit mengorek informasi mengenai hubungan anaknya dan Tari secara tidak langsung.
“Iya.” Malik mengangguk.
“Kamu membawa seorang perempuan?”
“Maafkan aku bu, aku hanya membantunya.” Malik melihat ibunya.
Dari jawaban Malik, Bu Siti tak bisa menemukan sesuatu antara Malik dan Tari selain hubungan rekan kerja. Dan dari cara anaknya bercerita, terlihat ekspresinya yang nampak biasa-biasa saja saat membahas Tari. Meski Bu Siti bukan seorang ahli atau lulusan sekolah yang mempelajari arti dari mimik wajah, namun sedikit banyaknya dia dapat mengerti apa yang dirasakan anaknya.
__ADS_1
“Baiklah.” Bu Siti tak mau memperpanjang dan tak ingin juga menanyakan lebih jauh. Dia tahu Malik akan menceritakan apapun padanya jika memang dia sudah siap untuk bercerita.
“Sarah ke mana bu?” Setelah pulang dari rumah sakit Malik tak melihat adiknya.
“Katanya dia sedang melakukan wawancara kerja.”
“Kerja, dia tidak kuliah?” Tanya Malik memastikan, walaupun dia sudah punya sedikit bayangan kalau Sarah memilih untuk tak melanjutkan kuliahnya dari Gani beberapa waktu yang lalu.
“Iya, katanya untuk setahun ke depan dia memilih bekerja dahulu sembari memikirkan akan kuliah atau tidak.”
“Mengapa begitu? Kalau dia mau kuliah insya Allah aku bisa membantunya.”
“Adikmu bingung mau melanjutkan kuliah apa, dia tak sepertimu yang sudah punya cita-cita sejak kecil.” Balas Bu Siti sembari tersenyum pada Malik. Dia mengatakan secara asal agar Malik tak berpikir Sarah memilih bekerja karena tak ingin menambah bebannya.
“Oh begitu.” Malik mengangguk tanda mengerti. Sembari berbincang pada ibunya, Malik terus memperhatikan bara api agar terus menyala.
‘’’’’
Setibanya di rumah, Salma kali ini tak langsung membersihkan diri. Setelah mencuci tangan, Salma menghampiri ibu yang duduk di ruang tamu yang sedang memainkan ponsel sembari memakan cemilan.
“Apa itu bu?” Tanya Salma melihat cemilan yang dimakan ibunya.
“Beli?”
“Bu Yanti yang memberi tadi saat ibu mendatangi bapamu di kelurahan.”
Salma ikut memakan cemilan itu.
Gani keluar kamarnya, lalu menghampiri ibu dan bersalaman untuk pamit keluar.
“Kemana?” Tanya Ibu pada Gani.
“Hanya jalan-jalan sekitar sini.”
“Kok pakai motor?” Tanya Salma melihat tangan Gani yang memegang kunci motor.
“Hanya malas jalan kaki.”
__ADS_1
“…”
Salma sudah membuka mulut untuk mengatakan sesuatu,namun Ibu menghentikannya.
“Dia sebentar lagi akan kuliah, biarkan dia melakukan yang dia inginkan selagi di sini.” Ucap Ibu pelan di telinga Salma yang duduk di sampingnya.
“Dah. Assalamu’alaikum.” Gani keluar rumah.
“Wa’alaikumussalam.”
Salma tersenyum melihat ibunya.
,,,,,
Gani melajukan motornya dengan santai sembari melihat-lihat kalau ada temannya atau seorang kenalannya. Gani hanya butuh teman karena merasa suntuk sering berdiam di rumah setelah kelulusan kemarin.
Gani berada di depan pos, namun tak melihat siapapun di sana. Dia pun kembali melajukan motornya, berencana untuk ke rumah Riki. Setelah beberapa saat, dia pun tiba di depan rumah Riki yang juga terlihat sepi. “Kemana perginya mereka.” Gumam Gani karena tak melihat satu pun temannya.
Setelah sejenak menghentikan motornya di depan rumah Riki, Gani memilih kembali ke rumahnya.
“Gani.” Sapa Malik yang berada di depan rumahnya.
Gani menghentikan motornya.
“Dari mana?” Tanya Malik.
“Rumah Riki, tapi sepertinya dia tak ada di rumah.”
“Oh.” Malik mengangguk dan kembali melanjutkan aktifitasnya yang sedang menata kayu bakar.
Melihat Gani tak pergi, Malik kembali bertanya.
“Kamu melanjutkan kuliah?”
“Iya, aku ingin kuliah di tempat pamanku.” Balas Gani sembari tersenyum.
“Pamanmu?” Tanya Sarah yang baru datang.
__ADS_1
Gani tak menyadari keberadaan Sarah yang mendengar perkataannya.