How Matcha Love You

How Matcha Love You
Teater?


__ADS_3

”Ada apa? Kamu tidak suka ketupat?” Tari merasa bingung melihat Malik terlihat memikirkan sesuatu.


“Bukan begitu, kamu tidak perlu memberikannya padaku.” Malik mengembalikan hidangan ketupat itu pada Tari.


“Aku ingin memberikan padamu, aku berharap kamu menerimanya.”


“Oh baiklah.”


“Terima kasih.” Lanjut Malik.


“Sama-sama.” Balas Tari sembari tersenyum lalu keluar ruangan.


Melihat Tari tersenyum, Malik pun membalas.


Entah kesekian kalinya, Malik yang sekarang masih berusaha untuk melupakan Salma, kembali mengingat cinta pertamanya itu. Hanya karena mendengar ketupat, hatinya yang mendengar malah bernostalgia menelusuri kenangan manis bersama Salma. Menyadari dirinya yang lemah karena belum bisa melupakan seseorang sesuai keinginannya, Malik menghempuskan napas dengan kasar.


‘’’’’


Hari ini, Fiki akan mulai bekerja di tempat barunya. Dia memimpin dan memberikan arahan kepada beberapa dokter untuk operasi pertamanya disini yang akan dilaksanakan sekitar dua jam lagi.


“Mohon kerjasamanya.” Ucap Fiki diakhir pengarahan.


“Baik.” Jawab dokter lainnya.


Setelah mendengarkan pengarahan dari Fiki, para dokter diminta kembali ke ruangannya masing-masing untuk beristirahat sejenak dan mempersiapkan diri agar dapat melaksanakan tugas dengan baik.


“Dokter Nanda.” Fiki menghentikan Nanda yang ingin keluar ruangannya.


Mendengar itu, sontak saja membuat Nanda dan beberapa dokter lain yang juga mendengarnya menghentikan langkah mereka, lalu bersama-sama melihat ke arah Fiki.


“Maaf, ada yang ingin aku bicarakan dengan dokter Nanda.” Lanjut Fiki dengan ramah.


Setelah semua dokter keluar ruangan, kini hanya tersisa Fiki dan Nanda. Nanda merasa penasaran apa yang akan Fiki katakan padanya, apa dia akan kembali memintanya untuk mengetahuan keadaan Salma? Mungkinkah Fiki masih belum bisa melupakan teman baiknya itu?. Nanda hanya bisa menyimpan semua pertanyaan itu di kepalanya. Kali ini dia tidak ingin memulai bertanya dan ingin mendengar terlebih dahulu.


‘’’’’


Gani sudah memikirkan apa yang akan dia lakukan untuk kakaknya. Meski sudah dari lama memperjuangkan hubungan Salma dengan Malik, namun nampaknya itu tidak akan berhasil karena usahanya. “Aku juga tidak bisa melakukan apa-apa” Pikirnya.


Gani bahkan memikirkan kemungkinan, jika Salma akan menikah dengan orang lain dan saat itu tiba dia masih menyukai Sarah. Dia akan berusaha merelakan perasaannya seperti yang kakaknya lakukan pada Malik. Dia sadar bahwa perasaanya bukan apa-apa, Salma dan Malik yang sudah dari lama dia perhatikan yang nampaknya saling menyukai dari waktu yang lama sedang berusaha merelakan perasaan masing-masing, “Aku pasti bisa.” Gani bergumam menyemangati diri sendiri.


“Ada apa?” Salma mendengar Gani yang berbicara sendiri.


“Aku sedang berlatih.” Gani menjawab asal-asalan.


“Teater?”


“Haha.”


Gani menjawab tak karuan.

__ADS_1


‘’’’’


Salma sekarang sudah merasa lebih baik. Meski beberapa saat yang lalu dia kembali mengecewakan orang tuanya karena ulahnya yang membuat Fadil membatalkan pernikahannya. Salma ingin hidup lebih baik dan tidak ingin mengulangi hal seperti itu lagi. “Aku harus mencoba mencintai orang lain.” Pikirnya. Salma ingin mencoba untuk menerima orang lain, dia menyadari kemungkinan hingga sampai saat ini tidak bisa melupakan Malik karena dia belum menemukan penggantinya.


Mengingat Malik yang mengabaikan, membuat Salma merasa dia tidak harus mempertahankan perasaannya selamanya. Dia ingin merubah cara pikirnya saat akan melupakan Malik. Sebelumnya dia selalu terganggu kerena mengingat kenangan singkat manis bersama cinta pertamanya itu. Tapi mulai sekarang, Salma akan mencoba untuk mengingat saat Malik mengabaikannya. “Dia mengabaikanku setelah memberi harapan, aku seharusnya marah karena itu.” Salma tersenyum sinis seolah membenci orang yang sedang dipikirkan. “Tapi bukankah dia seperti itu karena mendengar perkataan Bapa?Ahh” Salma kembali merasa bersalah dan ingin memperjuangkan cintanya kembali.


‘’’’’


Fiki mengeluarkan dua botol kopi dari laci kerjanya.


“Sini” Fiki mempersilakan Nanda untuk duduk di sampingnya.


Mendengar perintah Fiki, tanpa mengatakan apapun Nanda segera menuruti. “Apa yang akan dia lakukan?” Pikirnya.


Fiki membuka salah satu tutup botol minuman yang diambilnya. Setelah berhasil membukanya, dia menyerahkannya pada Nanda.


“Ini, Aku pikir akan lebih baik membaginya padamu karena kamu adalah orang yang paling aku kenal disini.” Ucap Fiki sembari tersenyum.


“Oke baiklah.” Balas Nanda dengan senang hati.


Nanda merasa senang karena Fiki tidak kembali memintanya untuk menanyakan keadaan Salma seperti yang pernah dia lakukan beberapa bulan yang lalu. Dia bukan merasa terbebani dengan itu, tapi hanya merasa kasihan karena dia sudah lama mengenal Salma. Dari awal dia bersamanya, Salma tidak pernah dekat dan membicarakan lelaki manapun selain Malik. Dia tidak ingin harapan Fiki sia-sia. Meski tidak begitu peduli, Nanda hanya tidak ingin orang yang dikenalnya merasa kecewa terlebih karena sahabatnya sendiri.


“Apa aku mengganggumu?”.


“Tidak.”


“Sudah cukup lama kita tidak bertemu dan mengobrol.” Fiki mencoba memecah keheningan.


“Iya.”


“Haha apa kakak merasa begitu.”


“Iya, menurutmu?”


Nanda mengangguk.


“Aku merasa senang dengan hari-hariku sekarang. Aku berhasil mencapai cita-citaku jadi dokter.” Nanda tersenyum bahagia.


“Alhamdulillah, itu karena kamu berusaha.” Fiki juga merasa senang.


“Terima kasih karena kakak banyak membantuku dan sekarang kita kembali bertemu aku rasa aku akan membutuhkan bantuan kakak lagi hehe.”


“Aku rasa saatnya kamu yang membantuku.”


Nanda hanya menatap Fiki menunjukan kebingungannya seolah berkata bagaimana mungkin?.


“Aku akan merepotkanmu tunggu saja.” Fiki menggoda Nanda.


“Aku tidak mau.”

__ADS_1


“Harus haha.”


“…..”


‘’’’’


Salma sedang duduk di kursi lorong rumah sakit sembari menikmati kopinya, melepaskan penat setelah melakukan operasi.


Salma kembali memikirkan cara agar dia bisa melupakan Malik, dia mulai tertarik dan ingin mencoba idenya untuk mencari lelaki pengganti yang bisa membuatnya bahagia. “Aku harus memulainya dengan apa? Haruskah kali ini aku yang terlebih dahulu mendekati seseorang?” Pikirnya sembari menyerap kopi di tangannya.


“Salma, kamu menunggu seseorang?” Tanya Resya mengampiri Salma.


“Tidak aku hanya istirahat.”


“Boleh aku duduk di sampingmu?”


“Boleh, tentu saja.”


Meski saling mengenal, namun Salma dan Resya belum pernah dekat dan berbicara selain untuk kepentingan pasien. Resya merupakan dokter umum yang bekerja lebih dahulu daripada Salma di rumah sakit ini.


“Aku dengar kamu lulusan universitas negeri di kota ini, lulusan tahun berapa?” Tanya Resya.


Salma mengatakan bahwa dia baru saja lulus.


“Apa kamu mengenal Fiki?”


“Iya.”


Resya satu angkatan dengan Fiki, namun berbeda jurusan. Resya dokter umum, sedang Fiki dokter bedah sama seperti Salma. Resya menceritakan awal dia mengenal Fiki. meski berbeda jurusan, dia sering melihat dan cukup mengenalnya. Fiki yang merupakan mahasiswa aktif dalam beberapa organisasi kampus membuatnya banyak dikenali mahasiswa dari berbagai jurusan.


“Dia keren.” Resya memuji Fiki.


“Kamu tahu banyak tentangnya.”


“Kamu tidak dekat kan dengannya?.”


“Iya tidak, kamu bahkan terdengar lebih mengenalnya hehe.”


“Hehe, aku pikir tidak masalah kalau aku mengatakan ini.”


“Mengatakan apa?” Salma penasaran.


“Ah nanti saja”


“Wah kamu membuatku penasaran.”


“Haha aku akan mengatakannya nanti.”


“Aku tidak yakin bisa menunggu nanti.”

__ADS_1


“Haha”


Salma menyadari dia harus membuka diri terhadap orang lain dan memerlukan teman.


__ADS_2