How Matcha Love You

How Matcha Love You
Lulus


__ADS_3

“Hahaha” Salma tertawa.


“Apa yang lucu?.” Gani nampak serius.


“Kamu sudah besar.” Salma tersenyum.


“Aku tahu kakak benar menyukainya kan?”


“Entahlah.” Balas Salma tidak yakin.


“Sudah beberapa tahun terakhir aku memperhatikan kalian, sepertinya Malik juga menyukai kakak.”


“Sungguh kamu memperhatikan kami?”


“Aku lihat kakak suka memperhatikannya diam-diam.”


“oh hehe.” Salma terlihat malu.


“Tapi adikku, mungkin kamu juga tahu keadaannya tanpa kakak beritahu.” Lanjutnya.


“Maka dari itu aku ingin membantu karena aku juga menyukainya karena aku tahu dia orang baik, jujur aku mendukung kalian.”


“Kamu tidak perlu melakukan itu, fokus saja dengan sekolahmu.” Ucap Salma melihat adiknya dengan tatapan tidak percaya.


“Membantu tidak akan mengganggu sekolahku.” Gani yakin.


“Dik, kakak yakin sama Allah, kalau kami memang berjodoh nanti pasti ada jalannya, kamu tidak perlu repot.” Ucap Salma tersenyum.


“….”


Saat ini Salma sudah lebih bisa menerima dan mengendalikan perasaannya, meski rasa rindu dan cintanya belum juga hilang pada orang yang masih sama. Dia sekarang memasrahkan pada takdir cinta yang akan membawanya, walaupun terdapat rasa berharap akan berakhir bersama orang yang dicintainya ini suatu saat nanti.


‘’’’’


Bu Siti duduk sendiri di rumahnya karena Sarah masih di sekolah. Dia mengingat betapa bahagianya saat Malik mengatakan memilih Salma. Sudah dari lama Bu Siti menyukai Salma karena kepribadian baiknya. Namun ada hal yang disesali, mengapa saat itu dia tidak memikirkan siapa Salma? Bagaimana keluarganya? Pantaskah dia mendukung anaknya yang masih merintis untuk hidup layak bersama dengan anak kepala desa yang terpandang dan berada?. Bu Siti merasa dirinya sungguh serakah saat itu dan membuat Malik lebih berharap karena dukungannya. Saat ini tidak ada yang bisa dia lakukan untuk Malik selain mendoakannya agar mendapatkan yang terbaik.


‘’’’


Tinggal beberapa hari lagi, Salma akan melaksanakan sidang skripsi yang merupakan tugas akhirnya untuk menjadi seorang sarjana kedokteran. Dia banyak menghabiskan waktu untuk belajar, membaca buku dan menyiapkan hal-hal lain yang diperlukan untuk kelancaraan sidangnya.


Dalam proses persiapan sidang ini pada beberapa kesempatan Salma belajar bersama Fiki. Kehadiran Fiki banyak membantunya. Sekarang mereka jadi sering bersama dan terlihat lebih dekat.


Fiki merasa sangat bahagia bisa sering bersama dengan Salma. Dia berharap Salma juga akan jatuh hatinya padanya. Dalam beberapa kesempatan saat bersama ingin rasanya Fiki menyatakan perasaanya, namun karena Salma terlihat begitu fokus untuk sidangnya, dia memutuskan menunda dan berencana untuk melakukannya setelah Salma menyelesaikan sidang skripsinya.

__ADS_1


‘’’’’


Malik melihat kiriman Salma yang memperlihatkan bahwa dia sedang berada di perpustakaan. Malik yang melihat itu merasa lega karena akhirnya Salma kembali melakukan aktifitasnya. Dalam kiriman tersebut Salma tidak sedikitpun menunjukan dia merasa terluka. Itu cukup membuat Malik merasa lebih tenang.


Namun ada hal yang berbeda pada kiriman Salma kali ini, Malik tidak memberikan like-nya. Bagi Malik melihatnya sehat saja itu sudah cukup, dia tidak perlu melakukan hal yang seperti dulu dia lakukan karena takut membuat Salma kembali berharap padanya. Untuk saat ini dia hanya akan memperhatikan Salma dalam diam dan mendoakan demi kebaikan orang yang masih dia cintai ini. Dia sebisa mungkin harus bisa melewati dan mengendalikan perasaannya agar dapat menahan diri melakukan hal-hal yang bisa kembali membuatnya menderita.


,,,,,


Hari ini akhirnya hari yang telah lama ditunggu-tunggu dan dipersiapkan tiba, Salma akan melaksanakan sidang skripsi. Sebelum berangkat ke kampus, Salma terlebih dahulu meminta izin dan doa kepada kedua orang tuanya, selain itu kemarin dia juga sudah mengunjungi rumah neneknya untuk meminta doa agar sidangnya berjalan dengan lancar dan dapat diselesaikan dengan baik.


Sesampainya di kampus, teman-temannya banyak memberikan semangat pada Salma. Salma yang melihat dukungan dari banyak temannya merasa bahagia dan lebih bersemangat untuk melakukan yang terbaik.


Sekitar kurang lebih satu jam lima belas menit akhirnya Salma menyelesaikan sidang skripsinya. Tangis haru bahagia sedang menyelimutinya. Banyak teman-temannya mengucapkan selamat dan begitu pun dengan Gani dan Ibu, mereka juga datang ke kampus untuk memberikan selamat atas keberhasilan Salma. Ibu memeluk erat putrinya.


Di tengah kebahagiaan yang sedang dirasakan Salma, dia merasa ingin ke toilet untuk buang air kecil. Dia pun berjalan menuju toilet. Setelah selesai dia kembali untuk mendatangi Ibu dan teman-temannya. Saat berada di lorong kampusnya Salma tidak sengaja mendengar Nanda yang sedang menelpon. Dia menghiraukan, namun Salma menghentikan langkahnya karena mendengar namanya di sebut.


“Salma sudah selesai sidang, sekarang dia masih di kampus.” Ucap Nanda saat menelepon.


Salma yang mendengar namanya di sebut berhenti dan menjadi penasaran dengan siapa temannya itu menelpon.


“Oke sudah dulu ya kak Fiki nanti aku kabari lagi kalau Salma pulang, Wassalamu’alaikum.” Nanda terdengar menutup telepon.


“Kak Fiki?” Gumam Salma yang juga di dengar oleh Nanda.


“Salma.” Nanda terkejut.


“Oh tadi kak Fiki menanyakan tentang kamu hehe.” Jawab Nanda sedikit khawatir Salma akan marah padanya.


“Nanti aku kabari lagi? Apa kamu sudah lama melakukan hal seperti ini?”


Salma curiga Nanda terus memberikan informasi tentang keberadaannya pada Fiki. Setelah mengingat beberapa pertemuannya bersama Fiki beberapa waktu lalu, kemanapun dia pergi Fiki selalu ada.


“Apa kamu terus melaporkan keberadaanku padanya?” Tanya Salma lagi.


Nanda mengatakan yang sebenarnya bahwa dia diminta untuk melakukannya, tapi dia mau begitu juga untuk kebaikan Salma. Nanda memberitahu bahwa Fiki menyukainya, karena dia tahu Fiki orang yang baik, menurutnya tidak ada yang salah untuk membuat temannya dekat dengan orang baik.


“Nan aku masih menyukai Malik bukankah kamu juga mengetahui itu?.”


“Tapi kemarin kamu bilang ingin melupakannya.”


Salma hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar, dia ingat kejadiannya dengan Malik kemarin tidak diceritakan pada Nanda. Dia memilih untuk diam dan melupakan hal ini lalu berlalu pergi.


“Apa kamu marah padaku?” Tanya Nanda.

__ADS_1


“Tidak” Balas Salma sembari tersenyum.


Meski sebenarnya Salma tidak suka dengan apa yang telah dilakukan Nanda untuk Fiki namun dia menyadari niat baik temannya yang ingin membuatnya bahagia. Selain itu, dia juga tidak mungkin marah di saat seperti sekarang, dia sungguh merasa senang dengan keberhasilannya yang telah menyelesaikan sidang skripsi. Berkat dukungan Nanda juga salah satunya dia bisa mencapai di titik ini. Mereka pun kembali menghampiri teman-teman yang lain bersama.


Tidak lama setelah itu, nampak Fiki datang dengan membawa buket bunga mawar. Dia segera menyerahkan buket tersebut kepada Salma sebagai ucapan selamat.


“Terima kasih kak.” Salma tersenyum.


Fiki membalas senyum Salma.


Beberapa meter dari kerumunan orang-orang yang memberikan ucapan selamat pada Salma, Ibu dan Gani memperhatikan Fiki yang menjadi salah satunya. Ibu melihat Fiki nampak menyukai anaknya dan merasa senang, berharap anaknya akan segera melupakan Malik dan berpaling pada Fiki. Berbeda dengan Gani, dia melihat kakaknya biasa-biasa saja, dia berpikir Salma tidak tertarik dengan Fiki karena ketika Salma melihat Fiki itu terlihat biasa saja tidak seperti saat dia melihat Malik. Wajar saja Gani mengetahui karena sudah sering memperhatikan kakaknya saat melihat Malik orang yang disukainya.


“Kak kami pulang duluan.” Ucap Gani.


“Oh baiklah.” Balas Salma melihat ke arah Ibu dan Gani sembari tersenyum menunjukkan dia sedang merasa bahagia.


“Ibumu?” Tanya Fiki pada Salma yang berdiri di sampingnya.


“Iya”


Fiki pun menghampiri Ibu dan menjabat tangannya dengan hormat.


“Kamu temannya Salma?” Tanya Ibu.


“Iya aku Fiki, kakak tingkat Salma bu.” Jawab Fiki.


“Kak Fiki sudah lulus dan sudah menjadi dokter bu.” Sambung Salma.


Ibu merasa senang melihat anaknya yang nampak dekat dengan Fiki. Ibu dan Gani beranjak pulang.


Setelah berfoto-foto dengan beberapa temannya secara bergantian, Nanda meminta Fiki untuk membantu mengambil foto mereka semua. Fiki dengan senang hati melakukannya.


“Terima kasih.” Ucap Nanda pada Fiki.


“Oiya, boleh kamu juga ambilkan foto kami?” Pinta Fiki pada Nanda.


“Tentu saja.”


Fiki dan Salma berfoto bersama beberapa kali.


‘’’’’


Setelah selesai, Salma berencana untuk langsung pulang kerumah namun tiba-tiba Fiki memanggilnya saat dia menuju parkiran.

__ADS_1


“Iya ada apa kak?”


“Boleh bicara sebentar?” Ucap Fiki.


__ADS_2