
Arshal menghela napas melangkah masuk kedalam rumahnya. Ia melirik seseorang yang tengah duduk disofa mengamati berkas-berkas dimejanya.
"akhirnya kau pulang juga Arshal." serunya lalu berbalik menatap Arshal. Orang itu adalah tak lain adalah Muaz,ayah Arshal.
"Pa,aku pulang." ucapnya sambil mencium tangan Papanya. Muaz mengangguk pelan,lalu melirik kearah belakang Arshal, "kau sendiri? dimana Daiyan?" tanya Muaz tidak melihat anak bungsunya.
"Daiyan ada urusan pa,makanya nggak bisa datang." jelas Arshal sedikit berbohong, tidak mungkinkan ia bilang sama papanya jika saudara kembarnya itu tengah menjaga anaknya. Entah berapa banyak pertanyaan nanti yang muncul. Muaz pun mengangguk pelan lalu duduk kembali ke tempatnya tadi,menyesap kopi kesukaannya.
Arshal pun ikut duduk sambil celingak-celinguk mencari seseorang," Pa,mama mana?" tanyanya menatap rumah terlihat sepi.
"Mama lagi belanja, sebentar lagi pulang." ucap Muaz lalu menyerahkan berkas ditangannya pada Arshal. Arshal mengerut kening menatap berkas yang ada ditangannya saat ini,sambil menghela napas ia membuka berkas tersebut.
Deg.
Arshal berusaha menetralkan gugupnya agar tidak membuat papanya curiga. Arshal menelan saliva tidak menatap papanya.
"ini apa nak?" tanya Muaz,dari nada bicaranya terlihat dingin dan mencengkam.
"hmm? i-inii foto siapa pa?" tanya Arshal pura-pura tidak mengenali orang yang ada didalam foto tersebut.
"ck,masa kau tidak tau nak? ini adalah foto calon istrimu." jelas Muaz membuat Arshal melongo menatap papanya.
Hah? apa maksudnya??. Arshal bertanya-tanya dalam hatinya. Belum Arshal mengeluarkan suaranya kini teralihkan kearah orang yang baru saja pulang dari suatu tempat.
"ya ampun anak mama sudah pulang!!!" seru Hazel dari luar,ia berlari kecil menemui Arshal dan Muaz.
"ck,kalian ini mirip sekali,untung Daiyan lebih banyak mirip denganku." gumam Hazel memandang secara bergantian antara Arshal dan Muaz.
"ck, sayang jangan kau bandingkan aku dengan bocah licik ini. Aku ini lebih tampan darinya." kilah Muaz. Arshal hanya menatap datar kearah orang tuanya itu. Hazel pun hanya mengedik bahu tidak menanggapi suaminya.
"oh,ini foto calon istrimu yaa??" seru Hazel merampas foto yang ada didalam berkas tersebut.
"cantik,kau suka nak?" tanya Hazel duduk disamping Arshal.
"hmm aku tidak tau ma." ucap Arshal pelan. Saat ini ia dilanda kebingungan menghadapi kedua orang tuanya. Jelas ia sangat menolak dijodohkan dengan seorang wanita apalagi wanita yang ada didalam foto tersebut.
__ADS_1
"ayolah,coba kamu temui dia sebentar. Kalau cocok gas nikah. Tapi kalau kamu nggak suka,fine aja. Mama sama papa hanya ngikut kamu aja,lagian kami nggak maksa kok."
Fyuuh Syukurlah. ucap Arshal lega dalam hati.
"kenapa kalian tiba-tiba mulai menjodohkanku seperti ini?" tanya Arshal heran.
"cih,kau itu sangat jarang dekati perempuan." ketus Hazel.
Jleb
"hanya fokus dengan pekerjaan itu itu ajaa."
Jleb
"nggak tau cara memikat wanita." sambungnya lagi. Semua perkataan Hazel menohok Arshal. Arshal hanya menampakkan deretan giginya tersenyum kikuk kearah orang tuanya.
Tapi,semua itu sudah terbantahkan setelah bertemu dengan Adara Ma,tapi sekarang dia tidak bisa lagi bertemu dengan kalian. lirih Arshal mengingat sosok istrinya.
"huft,sudah lama aku tidak menggendong bayi. Arshal cepatlah nikah,biar mama bisa menggendong bayi." seru Hazel membuat Arshal tersedak pelan.
Arshal ingin menenangkan pikirannya,ia pun berdiri lalu pamit ke kamarnya. Arshal membuka kamarnya yang masih sama seperti dulu,Arshal menghempaskan badannya ke kasur memandang langit kamar dengan tatapan kosong.
"rumit sekali kehidupanku." lirihnya lalu melirik berkas yang ditangannya,Arshal membuka berkas itu lalu mengambil foto yang ada didalam sana. Dipandanginya foto tersebut sebentar,ada rasa marah menyeruak melihat wanita itu. Wanita yang bisa dibilang kakak tiri istrinya.
Tunggu. Arshal merasa ada yang menjanggal,ia lalu mencari ponselnya dan menelpon sekretarisnya.
"hallo tuan?" sapa Ezra dari seberang sana.
"bagaimana keadaan disana? aman?"
"hmm perusahaan aman tuan."
"bagus,lalu Raid ada dimana sekarang?" tanya Arshal pelan sambil melirik kearah pintu kamarnya. Memastikan tidak ada yang menguping pembicaraannya.
"tuan muda kini bersama tuan Daiyan kerumah sakit tuan." ucap Ezra membuat Arshal terkejut.
__ADS_1
"hah? siapa yang sakit? sialan kenapa anakku masuk ke rumah sakit???" sarkas Arshal menggertak rahangnya.
"maaf tuan bukan tuan muda yang sakit,tapi tadi ada seorang wanita sepertinya karyawan perusahaan kita bersama Batsyua ditaman. Trus mereka bertemu dengan tuan Daiyan dan tuan muda,perempuan itu dengan senang hati membantu tuan muda untuk mengganti popoknya. Hanya saja,terjadi sesuatu yang membuat saya tidak tau kenapa perempuan itu tiba-tiba pusing lalu pingsan. Hanya Batsyua dan tuan Daiyan yang tau tuan." jelasnya panjang lebar,Jantungnya berlari seperti dikejar setan saat mendengar suara Arshal. Menghadapi orang seperti Arshal memang membutuhkan stok kesabaran yang banyak.
"apa maksudnya itu? hubungi Batsyua sekarang! aku mau dengar yang lebih detail lagi!" titahnya
"baik Tuan,akan saya hubungi Batsyua."
Arshal langsung menutup teleponnya dan mengerut bingung menatap layar ponselnya yang sudah hitam. Tidak mau ambil pusing,ia segera menyambar handuk dan membersihkan dirinya.
Arshal yang baru saja selesai dengan kegiatan mandinya,ia melirik kearah ponselnya yang tengah berdering. Sudah tiga kali sekretarisnya itu menelponnya.
"katakan." ucapnya saat menerima telepon itu.
"maaf tuan,saya menghubungi anda berkali-kali. Tadi,Ezra bilang sama saya jika tuan ingin menelpon saya,ada apa tuan?"
"kenapa kalian ke rumah sakit?" tanya Arshal to do point.
"maaf tuan,teman saya tiba-tiba pingsan."
"oo trus kenapa kalian membawa anakku sekalian kesana,segera pulang!" tukasnya tidak bisa terbantah lalu mematikan ponsel itu, Batsyua dengan berat hati melaksanakan tugas yang diperintahkan Arshal. Ia menoleh kearah Adara yang masi terbaring dan belum sadarkan diri.
Batsyua langsung menghampiri Daiyan.
"tuan,sebaiknya anda pulang. Biar saya yang menjaga teman saya disini. Sekali lagi terimakasih." ucap Batsyua sopan. Daiyan hanya mengangguk pelan lalu melirik sekilas kearah Adara.
Masih ada terbesit dihatinya yang menjadi tanda tanya besar tentang wanita itu.
Dimana aku melihatnya? kenapa rasanya tidak asing?.
Daiyan tidak ingin membuat kepalanya pusing,langsung memutuskan pulang membawa Raid. Sedangkan Batsyua dan Ezra masih berdiri didepan pintu ruang Adara.
"kau sebaiknya pulang Ra,kau harus mengawasi Raid bukan?" seru Batsyua menepuk pelan bahu Ezra. Ezra sedikit terkejut,bagaimana wanita itu bisa tau jika dirinya tengah mengawasi tuan muda.
"kau tidak perlu terkejut begitu,aku tau tadi kau mengawasi penuh ditaman. Tapi,tenang saja aku tidak akan membeberkannya dengan tuan Daiyan kok." seloroh Batsyua lalu meninggalkan Ezra sendirian didepan lorong.
__ADS_1
Ezra menatap sekilas kearah Adara,lalu menghela napas pelan, "kenapa kamu bisa ada disini Ra? kenapa baru muncul sekarang?" lirih Ezra menatap nanar kearah Adara lalu melenggang pergi begitu saja.