
Arshal mengerem mendadak saat melihat Adara sedang berjalan keluar dari rumah. Ada perasaan lega yang dirasakan pria itu saat melihat istrinya baik-baik saja.
"syukurlah." gumamnya memandang istrinya. Arshal dengan cepat ia turun dari mobil dan berjalan kearah Adara yang tengah menelpon dengan seseorang.
"okee aku nanti datang." ucap Adara mematikan ponselnya. Lalu ia berbalik terkejut mendapati bosnya berada disini.
"maaf pak,saya tidak tau." ucap Adara sedikit membungkuk kearah Arshal.
Baru saja Arshal hendak mengatakan 'tidak apa-apa' spontan membuat idenya langsung terlintas. Ia menggunakan kesempatan itu agar istrinya tunduk kepadanya.
"bagus,kau mengerti posisimu Adara. Apalagi kejadian yang kemarin kau harus bertanggung jawab juga kan?" seru Arshal sambil menunjukkan foto yang ia ambil semalam.
Adara terdiam sekaligus malu,ia memang merutuki kesalahannya. Tetapi,ia juga teringat dengan file yang sempat membuat hatinya terombang-ambing itu. Lalu dengan memberanikan diri ia melihat wajah bosnya.
Arshal tertegun melihat Adara memandang dirinya,sontak salah tingkah. Ia pun berdeham pelan.
"ehem,kenapa kau melihatku?" tanya Arshal sedikit dingin.
"eh? maaf sekali tuan." ucap Adara merutuki kebodohannya.
"cih,karena kau banyak melakukan pelanggaran. Aku ingin me—"
"maafkan aku tuan,tolong jangan memecatku!!" seru Adara berlutut di kaki Arshal. Sontak Arshal langsung menghindar, "apa yang kau lakukan?!" sentaknya.
"saya minta maaf tuan,tolong jangan memecat saya." lirih Adara pelan.
Nice,kena kau sayang. gumam Arshal bersorak riang dalam hati.
"ehem,kalau gitu kau harus menerima hukumannya bukan?"
"iyaa tuan,saya akan menerima hukuman yang tuan berikan."
"bagus,kalau begitu mulai besok pagi kau datang kerumahku." seru Arshal lagi.
"apa?"
__ADS_1
"kau tidak dengar yang aku katakan?" tanya Arshal menatap dingin kearah Adara. Padahal dalam hatinya begitu gemas dengan wajah istrinya.
Ingin rasanya ku makan dia. gumam Arshal.
"de-dengar tuan,besok subuh-subuh saya datang." ucap Adara spontan.
Arshal tersenyum tipis, "nah bagus,jam lima subuh kau sudah datang di tempatku." ucap Arshal melenggang pergi. Adara menghela napas, Lagi-lagi merutuki kesalahannya.
"oh ya ampun, ngapain pula aku bilang subuh-subuh sih. Cih,apalagi rumah dia jauh pula. Gimana mau bangun cepat." gerutunya lalu melenggang kembali masuk kedalam rumahnya.
***
"ya ampun hampir saja aku telat!" seru Adara tergesa memegang pagar rumah Arshal. Apalagi kedatangannya membuat satpam yang berjaga dirumah bosnya itu terkejut bukan main.
"astaga!" kejutnya sambil memegang dadanya. Ia berjalan kearah Adara.
"apa yang nona lakukan disini? Anda mau mencari siapa?" tanya satpam itu. Satpam itu tidak tau jika sebenarnya Adara adalah nyonya dari rumah besar ini tetapi,dirinya masih baru bekerja di tempat kediaman Arshal.
"sa-saya mencari tuan Arshal!" serunya mengatur napasnya pelan. Berlari-lari dipagi hari itu adalah hal gila yang pernah ia lakukan.
"iyaa." jawab Adara.
"ya ampun nona,anda salah waktu. Kalau anda nemuin tuan sepagi ini bisa-bisa saya yang disemprot tuan. kalau nggak gini aja, berikan nomor ponsel nona nanti saya akan berikan pada tuan Arshal. Atau nona bisa datang lagi jam sembilan." terang satpam yang sudah mulai mengenal watak sang bos.
"tapi pak,tuan Arshal sendiri yang meminta saya untuk datang jam segini." jelas Adara agar boleh dibiarkan masuk. Apagi,mengingat pekerjaannya terancam hilang.
"maaf nona,saya tidak bisa. Saya takut nanti tuan marah. Nanti pekerjaan saya terancam non."
"fyuuh saya harus gimana sekarang pak?" gumam Adara bingung.
"saya tidak tau juga nona. Apa darurat sekali nona? Anda siapanya tuan?"
"saya hanya karyawannya pak,lumayan darurat sih pak masalahnya."
"hmm gitu ya non,aduh gimana yaa?? saya juga bingung non apalagi tuan kayaknya sedang tidur." ucap Satpam itu.
__ADS_1
Adara menghela napas pelan,bingung dengan apa yang akan dilakukannya saat ini.
"benaran nggak boleh masuk nih pak?" tanyanya lagi.
Satpam tadi menggeleng pelan, "maaf non,saya nggak bisa buka pagarnya tanpa seizin tuan."
"huft,baiklah kalau gitu. Saya permisi dulu yaa." ucap Adara pasrah. Ia berjalan lunglai menjauh dari pagar rumah Arshal.
Namun,terlintas ide gila diotaknya. Adara menggeleng pelan, "heh nggak boleh." gerutunya menyadarkan diri sendiri. Tetapi adrenalinnya terpacu untuk melakukannya.
"tidak,ini demi pekerjaanku. Aku tidak boleh menyerah!" serunya,ia pun langsung memutuskan untuk melakukan ide gilanya. Adara melirik kearah dinding pembatas yang membentengi rumah Arshal.
"untung aku pakai celana jogger,mudah deh manjat dinding itu." serunya semangat. Mengendap-endap ia berjalan mendekati dinding pembatas rumah Arshal. Ia pun melirik kearah pohon dari dalam perkarangan rumah bosnya yang tak jauh dari pembatas dinding. Adara melirik sekitar kompleks tersebut,mencari sesuatu yang bisa di gantung dipohon itu supaya dirinya bisa memanjat melewati pembatas dinding itu.
Matanya melirik kearah barang rongsokan yang ada diseberang jalan, ia pun dengan cepat berjalan kearah sana.
"ish siapa sih yang membuat kain-kain ini?! seenaknya aja membuang padahal kain ini mahal." gerutu Adara menatap ada beberapa helai kain yang tergeletak didekat sampah.
"bagus aku yang menggunakannya." ucap Adara senang,lalu ia memungut batu yang lumayan besar. Dengan cepat Adara menggulung kain itu lalu memasukkan batu kedalam kain tersebut dan diikat. Begitu juga dengan seterusnya ia mengingat semua kain yang ia dapatkan tadi menjadi tali yang kuat.
"nice." serunya girang,lalu bersiap-siap mengayunkan kain tadi untuk disangkut di ranting pohon besar itu.
Hup.
Adara bersorak riang saat melihat kain itu sudah terikat di pohon. Adara menarik kuat memastikan kain itu kokoh. Setelah merasa aman,baru lah dirinya bersiap-siap untuk memanjat.
"fyuuh kau siap Adara?" tanyanya pada diri sendiri. Untung saja didaerah sana terlihat sepi dan masih subuh.
"ayo kau bisa!" serunya lagi,dengan hitungan satu dua tiga,ia langsung memanjat dinding itu dengan cepat. Sesampai diatas ia pun perlahan berjalan mendekati pohon dan loncat kearah sana.
Namun sayang,tempo lompatnya tidak sesuai perkiraannya membuat dirinya tergelincir. Adara memejamkan matanya saat tubuhnya sudah terhuyung kebawah.
Sedetik kemudian,Adara tidak merasakan sakit apapun, tubuhnya harusnya sudah menyentuh tanah,tetapi ia merasa tubuhnya kini melayang. Dengan perlahan ia membuka matanya dan terkejut saat melihat netra elang yang ditunjukkan pria itu. Sontak Adara terpekik pelan.
"akkkh!" serunya,karena sangking paniknya ia tidak sadar tengah digendong dan ia Kasak-kusuk membuat Arshal sedikit tidak seimbang menggendong Adara,alhasil mereka berdua jatuh.
__ADS_1
Bruuuk.