
Adara membuka matanya pelan,dirinya merasa berat dan susah menggerakkan tubuhnya. Perlahan ia melihat sekeliling kamar tampak terasa asing baginya. Tangannya tanpa sengaja menyentuh lengan seseorang. Seketika dirinya terdiam,mengerjap pelan dan tersentak menyadari ada yang tidak beres.
Deg. Ingin rasanya Adara menenggelamkan dirinya dilautan samudra Pasifik. Bagaimana dirinya bisa tidur bersama bosnya?
Adara tidak ingin membangunkan manusia yang satu itu,dengan perlahan ia memindahkan tangan Arshal yang melingkar cantik dipinggangnya. Baru saja Adara mengangkat tangan itu, tiba-tiba tangan itu kembali memeluknya erat dan membuat Adara terkejut membentur dada bidang Arshal.
Sial,matilah aku. Kalau dia bangun abislah. gumam Adara merutuki dirinya kini terjebak dalam pelukan Arshal. Tanpa Adara sadari, Arshal tersenyum tipis sambil memejamkan matanya menghirup aroma rambut istrinya yang begitu harum. Arshal sangat bersyukur,dirinya dipertemukan lagi dengan istrinya.
Kali ini,ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan dan membuat Adara jauh darinya. Cukup satu tahun penyesalan yang ia sesali selama ini,tugas yang ia lakukan pertama adalah membuat istrinya mengingat kembali siapa dirinya? dan ingat tentang Raid.
Walaupun Arshal bukan anak kedokteran,tetapi dirinya cukup tau mengenai masalah yang dialami istrinya. Amnesia ringan,tentu tidak bisa sembarang memaksa mengingat siapa dirinya dan lingkungannya bukan? butuh proses atau pemicu untuk mengingat kembali ingatannya.
Cukup lama Adara berdiam diri,tetapi ia malah merasa nyaman dalam dekapan Arshal. Walaupun tidak sengaja,tetapi dirinya begitu bahagia bisa dekat dengan bosnya yang sulit dijangkau. Aroma maskulin pria itu menenangkan dirinya, sampai-sampai ia tidak sadar jika dirinya kembali tidur.
Mendengar suara dengkuran Adara,membuat Arshal sedikit melonggarkan pelukannya. Ditatapnya lekat wajah istrinya yang sudah lama ia tidak lihat. Arshal mengelus pelan kepala istrinya, "aku akan membuatmu kembali Ra," gumamnya pelan. "kita harus waktu yang tepat,dan menemukan pelaku yang sebenarnya. Aku tidak ingin kejadian itu terulang lagi,aku tidak ingin kehilanganmu lagi." lirih menatap sendu Wajah istrinya.
Arshal tidak ingin larut dengan perasaannya,dengan hati-hati ia beranjak dari kasur dan melepaskan pakaiannya. Ia pun berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah itu ia pun memakai kimono sambil menunggu sekretarisnya datang membawa pakaiannya.
Arshal sekali lagi melirik istrinya,akhirnya ia dapat tersenyum seperti dulu lagi. Senyum yang tidak dipaksakan melainkan senyum yang tulus. Terlena dengan wajah Adara membuat Arshal tersentak mendengar suara bel yang berbunyi nyaring.
Arshal dengan cepat membukakan pintu sedikit,ia tidak ingin membuat sekretarisnya tau jika dirinya bersama dengan Adara. Mengingat jika pria itu suka dengan istrinya.
"tuan,ini pakaian anda." ucap Ezra sopan. Arshal mengangguk, "terimakasih." ucapnya lalu menutup pintu. Arshal dengan segera memakai pakaiannya dan berjalan menuju Adara.
"Ra,bangun!" serunya membuat siempunya nama terkejut,lalu dengan cepat duduk ditempat padahal nyawanya masih belum terkumpul semua.
"astagfirullah,tuan?!" pekiknya langsung dibekap Arshal.
"jangan teriak,kau mau aku tertuduh sebagai pria mesum hah?" sarkasnya menatap kearah Adara.
"maaf tuan,saya tidak sengaja. Saya hanya terkejut mendapati tuan ada disini." cicitnya pelan,lalu ia menatap pakaiannya,tanpa sadar ia bernapas lega karena pakaiannya masih lengkap dan tidak berubah dari semalam.
__ADS_1
"kenapa? kau takut aku porak poranda hah?" tanya Arshal tahu yang dipikirkan Adara.
"eh,ng-nggak tuan. Sa-saya hanya bingung aja bagaimana bisa saya ada disini." kilahnya pelan. Tidak terbayang olehnya pikiran kotor mulai muncul menggerogoti otaknya.
Ya ampun,malu kali aku. gerutu Adara dalam hati.
"apa lagi yang kau tunggu? atau kau mengharapkan sesuatu?" tanya Arshal tersenyum miring,Adara langsung turun dari kasur dan bergegas berlari ke kamar mandi. Arshal menggeleng-geleng kepalanya melihat tingkah Adara. Lalu ia melirik ponsel Adara yang tergeletak dinakas.
Tidak sulit membuat pria tampan itu membuka password ponsel Adara. Ia pun langsung memasukkan nomornya dan memindahkan foto-foto yang ia ambil tadi malam dan foto pernikahannya. Setelah itu ia meletakkan semula ponsel Adara pada tempatnya.
***
Daiyan menggerutu pelan menatap bocah kecil yang mirip dengan Arshal. Bocah itu berceloteh panjang tidak jelas,apalagi air liurnya sudah menetes banyak. Daiyan begitu kesal dengan saudara kembarnya itu yang seenaknya menyuruh menjaga Raid. Padahal waktu kemarin,ia menjaga Raid seminggu penuh.
"dasar saudara laknat,kau meninggalkanku dengan bayi menjengkelkan ini."
"siapa yang kau bilang menjengkelkan hah?!" seru seseorang membuat Daiyan terdiam menelan salivanya. Dengan perlahan ia berbalik badan dan tersenyum cengir menatap Arshal berkacak pinggang menatapnya.
"kau udah pulang?" tanya Daiyan santai,mengalihkan perhatian.
"kenapa? kau tidak suka aku pulang?"ketus Arshal lagi,ia pun menggedong Raid dalam pelukannya.
"ya kan aku cuma nanya doang,kau tidak perlu mengegas juga kali." ucap Daiyan.
"terserahlah aku nggak peduli." ucap Arshal kembali memindahkan Raid dengan Daiyan.
"heh Shal,aku ini bukan baby sister bayi ini. Aku ada banyak urusan,suruh aja orang lain!"
"sudah berkali-kali aku bilang,nggak ada yang dapat aku percayai Yan selain kau." tekan Arshal lagi. Ia pun duduk diruang tengah menatap langit rumahnya.
"kau kayaknya tidur nyenyak Shal." ucap Daiyan tiba-tiba sudah berada dibelakang Arshal. Arshal menyerngit heran, "apa maksudmu?"
__ADS_1
Daiyan menghela napas,lalu menggeleng pelan, "wajahmu sedikit ceria bro." ucap Daiyan
"berisik,sanalah." ketus Arshal, Daiyan berdecak kesal pun mengangkat bocah kecil itu pergi keluar. "Arshal aku bawa anakmu ke taman yaa!!" teriak Daiyan.
"iyaa nggak usah teriak juga sialan!!!" gerutu Arshal.
***
Adara tidak ingin bertanya tentang tadi malam,mungkin masih ambigu baginya. Ia hanya diam dan tidak mengganggu Leta. Ia pun langsung masuk kedalam kamarnya. Apalagi dalam sehari ia banyak mengalami hal yang tak terduga dengan orang yang sangat susah digapai wanita manapun.
"fyuuh Adara kau seperti mendapatkan lotre lah. Bisa bisanya bertemu dengan tuan Arshal dan—" Adara memegang pipinya yang mulai bersemu merah.
"kau bahkan tidur bersama dengannya... Adara kau gila yaa." ucapnya tak percaya jika malam tadi bukanlah mimpi. "fyuuh semoga cuma tidur doang aja,tuan Arshal tidak mungkin melakukan hal diluar batas." gumamnya lagi.
Tetapi,senyum yang mengembang tadi mulai menyusut mengingat Leta begelayut manja dengan seorang pria asing.
"gila,seumur hidupku baru kali ini aku liat orang senekat itu. Ah ya tuhan,aku memang tidak menyukainya tapi setidaknya dia kakak tiriku. Ibunya pasti sedih melihat hal ini." lirih Adara mengingat sosok Bibi Elnara yang menurutnya sangat luar biasa itu. Tanpa menyadari jika bibinya itu hampir membuat dirinya seperti wanita kotor.
Adara melirik kearah ponselnya,lalu ia mendapati pesan dari teman kantornya untuk meminta file yang akan digunakan rapat nanti.
"oh iyaa aku lupa kirim,bentar dimana file itu yaa??" gumamnya sambil mencari file didalam ponselnya. Namun saat ditengah ia mencari,ada satu file asing yang membuatnya menyerngit bingung. Penasaran,ia pun membuka file itu.
Deg. Matanya membulat sempurna,membuka seluruh foto yang ada didalam file itu dengan tatapan tidak percaya.
"nggak mungkin." gumamnya pelan,ia bersikeras tidak mempercayai apa yang dilihatnya. Foto dalam file itu seakan membuat perasaannya berkecamuk tidak karuan. Kepalanya seketika merasa pusing dan tidak berdiri keseimbangan.
Adara terduduk dilantai,air matanya mulai mengalir membasahi pipinya,ditambah kepalanya terasa pusing yang semakin kuat.
"aaargh sakiiit!!!" keluhnya memegang kuat kepalanya. Adara memegang ujung kasur mencoba untuk berdiri dan duduk diatas kasur.
"apa ini? ini apa maksud dari semuanya?? siapa dia? kenapa dia sangat mirip denganku??"
__ADS_1